Pagi masih seperti
biasanya. Dingin berembun, menyisakan udara semalam. Matahari malu-malu
menampakkan keangkuhannya. Terdengar bising suara langkah kaki. Mungkin
belasan orang sedang berjalan. Atau puluhan, atau bahkan ratusan.
Ratusan pasang kaki itu menerbangkan debu-debu halus di jalanan desa
paciran. Sebuah desa di pesisir pantai utara.
Ratusan pasang kaki itu berjalan searah, menuju sebuah bangunan yang sedang ditinggal oleh penghuninya. Bangunan itu adalah asrama putri pondok pesantren karangasem. Dan para pemilik ratusan pasang kaki itu adalah para santriwati yang baru saja pulang dari madrasah diniyah. Yaitu program pembelajaran kitab berbahasa arab yang diadakan setelah sholat shubuh sampai pukul setengah enam pagi. Kegiatan itu berlangsung setiap hari hingga lulus dari pondok pesantren. Tentunya kegiatan pembelajaran di madrasah diniyah tersebut sangat efektif untuk menambah pengetahuan para santriwan-santriwati tentang bahasa arab.
Debu-debu halus masih tersisa, menyatu diantara udara pagi. Para santriwati sudah memasuki asrama. Salah dua diantara ratusan santriwati itu adalah aku dan sang partner, lutfinsa. Kami berdua adalah rekan kerja dalam departement INFOKOM pada organisasi OPPK. Dan salah satu tugas yang kami emban adalah, memasang koran pada sebuah mading berlapiskan kaca. Koran hari kemarin yang sudah terpasang harus kami ganti dengan koran hari ini.
Mungkin terkesan ini adalah sebuah pekerjaan yang mudah. Tetapi sebenarnya ini adalah pekerjaanyang cukup rumit.
Kami harus memisah-misah lembar demi lembar, kemudian kami pilih halaman mana yang layak dipasang. Apabila terdapat informasi yang tidak layak dibaca ataupun gambar yang tidak layak dilihat, maka kami tdak akan memasangnya. Terkecuali jika pada lebar baliknya ada informasi yang berguna , maka kami harus menutupi alias menembel sesuatu yang tidak layak tersebut. Misalnya saja pada lembar yang satu adalah informasi tentang panorama alam Indonesia, tetapi pada lembar berikutnya adalah tentang ramalan zodiak, maka kami harus menembel pada bagian ramalan zodiak. Karena memang pada pesantren kami dibina untuk tidak mempercayai hal-hal seperti itu.
Mading yang terbuat dari kaca ini adalah madin tembus pandang pada bagian depan belakang, dengan paku kecil pada bagian atas untuk menancapkan lembar koran. Jadi dengan menancapkan ujung kertas koran pada paku-paku kecil koran akan berdiri tegak. Sehingga bisa dibaca oleh para santriwati baik di bagian depan maupun bagian belakang.
Hal yang menyenangkan tentunya ketika bisa berbagi ilmu dan pengetahuan kepada kawan-kawan dan adik-adik kelas. Meski terkadang harus ada kegaduhan yang terjadi ketika para santriwati berebut ingin membaca koran yang belum ditempel di mading. Karena memang merupakan kepuasan tersendiri ketika seseorang sudah membaca koran pertama kali sebelum para santriwati yang lain. Biasanya untuk menghadapi hal seperti itu, aku dan sang partner menata koran ketika belum banyak orang. Ketika halaman bawah asrama masih sepi, sehingga kami bisa leluasa melaksanakan tugas kami.
Senang rasanya melakukan tugas itu setiap hari tanpa libur. karena tentu akan ada banyak ilmu maupun hal yang bermanfaat tersalur dari luar untuk para santriwati di dalam asrama. Koran-koran itulah penghubung kami dengan dunia luar. Koran-koran itulah pemberi informasi tentang kejadian di luar asrama. Dari koran-koran itulah kami mengerti bahwa ilmu tidak harus mahal. Dan dari koran-koran itulah kami memahami, bahwa harta kami ada di balik kaca.
180912
harta dibalik kaca
Ratusan pasang kaki itu berjalan searah, menuju sebuah bangunan yang sedang ditinggal oleh penghuninya. Bangunan itu adalah asrama putri pondok pesantren karangasem. Dan para pemilik ratusan pasang kaki itu adalah para santriwati yang baru saja pulang dari madrasah diniyah. Yaitu program pembelajaran kitab berbahasa arab yang diadakan setelah sholat shubuh sampai pukul setengah enam pagi. Kegiatan itu berlangsung setiap hari hingga lulus dari pondok pesantren. Tentunya kegiatan pembelajaran di madrasah diniyah tersebut sangat efektif untuk menambah pengetahuan para santriwan-santriwati tentang bahasa arab.
Debu-debu halus masih tersisa, menyatu diantara udara pagi. Para santriwati sudah memasuki asrama. Salah dua diantara ratusan santriwati itu adalah aku dan sang partner, lutfinsa. Kami berdua adalah rekan kerja dalam departement INFOKOM pada organisasi OPPK. Dan salah satu tugas yang kami emban adalah, memasang koran pada sebuah mading berlapiskan kaca. Koran hari kemarin yang sudah terpasang harus kami ganti dengan koran hari ini.
Mungkin terkesan ini adalah sebuah pekerjaan yang mudah. Tetapi sebenarnya ini adalah pekerjaanyang cukup rumit.
Kami harus memisah-misah lembar demi lembar, kemudian kami pilih halaman mana yang layak dipasang. Apabila terdapat informasi yang tidak layak dibaca ataupun gambar yang tidak layak dilihat, maka kami tdak akan memasangnya. Terkecuali jika pada lebar baliknya ada informasi yang berguna , maka kami harus menutupi alias menembel sesuatu yang tidak layak tersebut. Misalnya saja pada lembar yang satu adalah informasi tentang panorama alam Indonesia, tetapi pada lembar berikutnya adalah tentang ramalan zodiak, maka kami harus menembel pada bagian ramalan zodiak. Karena memang pada pesantren kami dibina untuk tidak mempercayai hal-hal seperti itu.
Mading yang terbuat dari kaca ini adalah madin tembus pandang pada bagian depan belakang, dengan paku kecil pada bagian atas untuk menancapkan lembar koran. Jadi dengan menancapkan ujung kertas koran pada paku-paku kecil koran akan berdiri tegak. Sehingga bisa dibaca oleh para santriwati baik di bagian depan maupun bagian belakang.
Hal yang menyenangkan tentunya ketika bisa berbagi ilmu dan pengetahuan kepada kawan-kawan dan adik-adik kelas. Meski terkadang harus ada kegaduhan yang terjadi ketika para santriwati berebut ingin membaca koran yang belum ditempel di mading. Karena memang merupakan kepuasan tersendiri ketika seseorang sudah membaca koran pertama kali sebelum para santriwati yang lain. Biasanya untuk menghadapi hal seperti itu, aku dan sang partner menata koran ketika belum banyak orang. Ketika halaman bawah asrama masih sepi, sehingga kami bisa leluasa melaksanakan tugas kami.
Senang rasanya melakukan tugas itu setiap hari tanpa libur. karena tentu akan ada banyak ilmu maupun hal yang bermanfaat tersalur dari luar untuk para santriwati di dalam asrama. Koran-koran itulah penghubung kami dengan dunia luar. Koran-koran itulah pemberi informasi tentang kejadian di luar asrama. Dari koran-koran itulah kami mengerti bahwa ilmu tidak harus mahal. Dan dari koran-koran itulah kami memahami, bahwa harta kami ada di balik kaca.
180912
harta dibalik kaca
