Day 30!
Akhirnya sampai juga di penghujung jilid 14 ini.
Rasa-rasaya baru kemarin mulai day 1.
Aku ingin menjadi dandelion. Yang tetap tegar meski ia hidup jauh dari induknya. Yang tetap tersenyum indah ketika angin membawanya terbang entah kemana. Yang tetap percaya bahwa kehidupan di sana akan indah. Aku ingin menjadi dandelion. Kuat dan tegar. Aku ingin menjadi dandelion. Yang tetap tersenyum menatap dunia seraya berkata , "Aku bisa!"
Kamis, 20 September 2018
Rabu, 19 September 2018
Tidak Harus dengan Air Mata
Sebuah sore yang cerah di Kota Bogor. Sembari melangkahkan kaki keluar dari ruang guru, pandanganku menangkap aktivitas sore para santri. Sebagian ada yang duduk dan berkumpul di lapangan untuk menghafal ayat-ayat Qur'an lalu menyetorkannya kepada guru tahfidz masing-masing. Beberapa lainnya yang sudah selesai, nampak berjalan-jalan menikmati suasana sore sambil menunggu waktu berbuka puasa. Hari ini memang seluruh santri diwajibkan untuk puasa 9 Muharram. Tiba-tiba beberapa santri datang dan memelukku dari belakang. Celoteh riang mereka menyapa namaku, membuatku tak bisa menahan untuk tidak mengelus-elus kepala mereka.
"Ustadzah, menu buka puasanya apa yaa?" tanya Alula.
"Kayaknya ayam goreng kremes deh," jawabku tersenyum.
"Yaah ayam goreng lagi," jawab Keke, sambil memonyongkan bibir, tanda protes.
"Hei, memangnya kenapa kalau ayam lagi? Enak kan!" jawabku dengan sedikit tertawa, melihat mulut monyong Keke.
"Ah ustadzah, kita bosen menunya ayam lagi," jawab Audi.
"Lho sayang, ingat. Ustadzah pernah bilang apa tentang kunci menuntut ilmu?" tanyaku menyelidik.
"Tekun, sabar dan syukur ya Ustadzah?" celetuk Kayla.
"Nah itu tau. Benar sayang. Syukur itu membuat kita merasa bahagia. Syukur juga membuat kita nyaman menjalani hari-hari sebagai penuntut ilmu di pesantren," jelasku sembari menatap lembut mereka satu persatu.
"Hmm iya deh Ustadzah," jawab Adinda.
"Sekarang syukuri ya lauk apapun yang ada di dapur, barangkali di luar sana banyak orang yang nggak bisa makan lho malam ini," jelasku sambil mengelus punggung Kayla.
Mereka terdiam, berusaha mencerna setiap kata-kataku.
"Nah sekarang, ada kabar baik untuk murid-murid ustadzah yang pandai bersyukur," ujarku dengan merendahkan suara. Membuat mereka penasaran.
"Apa ustadzah?!" tanya mereka serempak.
Aku tertawa, gemas melihat tingkah laku mereka.
"Dua pekan lagi, setelah Ujian Tengah Semester selesai, kalian libur tiga hari dan boleh pulang ke rumah!" jawabku riang.
"Yeaaayy, Alhamdulillah! Sayang ustadzah Nida!" teriak mereka sambil memelukku bersamaan.
Aku tertawa. Menikmati serbuan pelukan mereka yang bertubi-tubi. Kuresapi kehangatan pelukan-pelukan ini.
"Hey! Istahmamtunna yaa Akhawat?" celetukku tiba-tiba.
"Hehe, Lam nastahim Ustadzah," jawab mereka sambil nyengir.
"Astaghfirullah. Mandi sekarang! Baunya sudah kemana-mana nih," candaku sembari menutup hidung dengan jemari.
Akhirnya mereka menyalimiku satu persatu, kemudian melesat cepat menuju kamar mandi untuk mulai mengantri. Kupandangi dari kejauhan jilbab-jilbab lebar mereka yang berkibar tertiup angin sore. Pikirku melayang.
"Ustadzah, menu buka puasanya apa yaa?" tanya Alula.
"Kayaknya ayam goreng kremes deh," jawabku tersenyum.
"Yaah ayam goreng lagi," jawab Keke, sambil memonyongkan bibir, tanda protes.
"Hei, memangnya kenapa kalau ayam lagi? Enak kan!" jawabku dengan sedikit tertawa, melihat mulut monyong Keke.
"Ah ustadzah, kita bosen menunya ayam lagi," jawab Audi.
"Lho sayang, ingat. Ustadzah pernah bilang apa tentang kunci menuntut ilmu?" tanyaku menyelidik.
"Tekun, sabar dan syukur ya Ustadzah?" celetuk Kayla.
"Nah itu tau. Benar sayang. Syukur itu membuat kita merasa bahagia. Syukur juga membuat kita nyaman menjalani hari-hari sebagai penuntut ilmu di pesantren," jelasku sembari menatap lembut mereka satu persatu.
"Hmm iya deh Ustadzah," jawab Adinda.
"Sekarang syukuri ya lauk apapun yang ada di dapur, barangkali di luar sana banyak orang yang nggak bisa makan lho malam ini," jelasku sambil mengelus punggung Kayla.
Mereka terdiam, berusaha mencerna setiap kata-kataku.
"Nah sekarang, ada kabar baik untuk murid-murid ustadzah yang pandai bersyukur," ujarku dengan merendahkan suara. Membuat mereka penasaran.
"Apa ustadzah?!" tanya mereka serempak.
Aku tertawa, gemas melihat tingkah laku mereka.
"Dua pekan lagi, setelah Ujian Tengah Semester selesai, kalian libur tiga hari dan boleh pulang ke rumah!" jawabku riang.
"Yeaaayy, Alhamdulillah! Sayang ustadzah Nida!" teriak mereka sambil memelukku bersamaan.
Aku tertawa. Menikmati serbuan pelukan mereka yang bertubi-tubi. Kuresapi kehangatan pelukan-pelukan ini.
"Hey! Istahmamtunna yaa Akhawat?" celetukku tiba-tiba.
"Hehe, Lam nastahim Ustadzah," jawab mereka sambil nyengir.
"Astaghfirullah. Mandi sekarang! Baunya sudah kemana-mana nih," candaku sembari menutup hidung dengan jemari.
Akhirnya mereka menyalimiku satu persatu, kemudian melesat cepat menuju kamar mandi untuk mulai mengantri. Kupandangi dari kejauhan jilbab-jilbab lebar mereka yang berkibar tertiup angin sore. Pikirku melayang.
Kuhitung hari, terasa begitu cepat perguliran waktu. Rasanya semakin hari semakin berat. Rutinitas yang biasanya terasa begitu menyenangkan, kini semakin berat kujalani. Bukan karena tak sanggup, justru karena kuingin terus menikmatinya. Namun apa daya, takdir telah tertulis. Perpisahan itu harus terjadi.
Siapa sangka yang tadinya kuingin habiskan beberapa tahun di sini, yang tadinya kuingin menemani santri-santri kelas 9 UNBK dan wisuda, ternyata semua itu harus terkubur dalam-dalam. Berat sekali rasanya. Waktu satu tahun telah membuatku begitu mencintai pesantren ini, setiap sudutnya, dan orang-orang di dalamnya.
Murid-muridnya, yang semua canda tawa mereka, peluk hangat mereka, celoteh-celoteh riang mereka, akan selalu terkenang. Guru-gurunya, teman-teman seperjuangan, yang dengan mereka aku belajar bagaimana menjadi guru yang baik. Dari mereka aku belajar bagaimana mendidik dengan hati. Kepala sekolahnya, yang sosoknya seumpama ibu bagiku, yang mengajariku untuk tangguh mengerjakan berbagai tugas.
Bahkan sudut kelas, lorong, tangga, lapangan, musholla, kamar santri, dapur, dan ruangan-ruangan lain di pesantren ini memiliki kisahnya masing-masing.
Kini, izinkan aku mengemas semua kisah indah itu dengan manis. Kemudian kuletakkan di relung hati terdalam. Menemaniku di tempat baru kelak, dengan murid-murid yang baru. Tentu takkan bisa terganti, karena pesantren ini sudah menempati sebuah sudut di relung hatiku.
Siapa sangka yang tadinya kuingin habiskan beberapa tahun di sini, yang tadinya kuingin menemani santri-santri kelas 9 UNBK dan wisuda, ternyata semua itu harus terkubur dalam-dalam. Berat sekali rasanya. Waktu satu tahun telah membuatku begitu mencintai pesantren ini, setiap sudutnya, dan orang-orang di dalamnya.
Murid-muridnya, yang semua canda tawa mereka, peluk hangat mereka, celoteh-celoteh riang mereka, akan selalu terkenang. Guru-gurunya, teman-teman seperjuangan, yang dengan mereka aku belajar bagaimana menjadi guru yang baik. Dari mereka aku belajar bagaimana mendidik dengan hati. Kepala sekolahnya, yang sosoknya seumpama ibu bagiku, yang mengajariku untuk tangguh mengerjakan berbagai tugas.
Bahkan sudut kelas, lorong, tangga, lapangan, musholla, kamar santri, dapur, dan ruangan-ruangan lain di pesantren ini memiliki kisahnya masing-masing.
Kini, izinkan aku mengemas semua kisah indah itu dengan manis. Kemudian kuletakkan di relung hati terdalam. Menemaniku di tempat baru kelak, dengan murid-murid yang baru. Tentu takkan bisa terganti, karena pesantren ini sudah menempati sebuah sudut di relung hatiku.
Nak, percayalah, perpisahan ini tidak harus dengan air mata kan?
Bisakah kita lalui ini semua dengan senyuman dan pelukan hangat?
Tolong peluk ustadzah sekali lagi.
Sebelum kelak pelukan kalian akan begitu ustadzah rindukan.
___________________
Bogor, 19 September 2018 / 9 Muharram 1440 H
Nida
Yang mencandui pelukan kalian
___________________
#day29
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis
____________________
Istahmamtunna yaa akhawat? = Sudahkah kalian mandi?
Lam nastahim = Kami belum mandi
____________________
___________________
#day29
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis
____________________
Istahmamtunna yaa akhawat? = Sudahkah kalian mandi?
Lam nastahim = Kami belum mandi
____________________
Peluk manjah
Selasa, 18 September 2018
Senin, 17 September 2018
Matahariku
Taukah kalian di manakah kota hujan itu? Ya! Bogor. Di sinilah aku sekarang. Di kota yang disebut kota hujan karena curah hujannya tinggi. Seperti pagi ini, hujan kembali mengguyur dengan derasnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.40. Itu artinya 20 menit lagi bel di sekolah tempatku mengajar akan berbunyi. Aku masih berdiri di depan pintu. Mematung memandang ke depan, jalanan basah. Rintik hujan itu terdengar merdu bagiku. Hujan memang selalu menyenangkan untuk dinikmati. Biasanya aku paling senang menghabiskan waktu di bawah tetesan air hujan. Membiarkan bulirnya membasahi diri ini sungguh menenangkan.
Namun, suasana pagi ini sangat tidak cocok untuk melakukan semua itu. Aku ada jadwal mengajar di jam pertama. Seharusnya saat ini diriku sudah berada di sekolah. Tapi hujan deras di luar sana menahanku untuk pergi. Jas hujan yang tergeletak di depanku hanya kulirik. Ada apa gerangan?
Kriiing. Dering handphone membuyarkan lamunanku.
Kulirik tulisan yang tertera di layar.
❤ Zawji ❤ memanggil.
"Halo, Assalamualaikum, mas!" ucapku setelah cepat-cepat mengangkat panggilannya.
"Waalaikumussalam, dek! Sudah di sekolah?" tanya suara di seberang.
"Belum nih mas! Hehe" jawabku.
"Loh lok belum dek? Bukannya semalam adek bilang ada mengajar di jam pertama?" tanyanya lagi.
"Iya mas. Tapi lagi hujan nih. Deres banget. Tadinya mau berangkat, tapi karena deres banget, makanya sampai sekarang belum berangkat deh," jelasku panjang.
"Loh, bukannya adek ada jas hujan?" tanyanya heran.
"Iya ada mas. Tapi nanti kalau adek kedinginan terus sakit gimana hayo?" balasku.
"Haha, adek nih bisa aja. Lagian kan sekolahnya dekat dek. Nggak sampai sepuluh menit kan?" jawabnya.
"Hmm iya sih. Tapi...hmmm," aku mulai ragu menjelaskan.
"Adek lagi nggak mood? Malas ngajar?," tanyanya. Seakan bisa membaca pikiranku.
"Hehe kok mas tahu sih?" jawabku nyengir.
"Iyalah. Pasti adek masih kebawa suasana bulan madu kita kemarin kan? Hayoo," tanyanya sambil menggodaku.
"Hihi mas ih. Adek kangeeen," jawabku manja. Pasti pipiku memerah saat itu.
"Adek sayang, kamu kan baru dua minggu ngajar setelah cuti hampir 3 minggu. Masak sekarang sudah malas ngajar lagi sih? Gini lho sayang, murid-muridmu itu kangen sama kamu. Kangen sama guru kesayangan mereka. Masak kamu tega sih bikin mereka nggak bisa belajar hari ini? Kan mereka pengen dapet ilmu dari kamu. Nanti, pulang sekolah kita video call ya. Terus akhir bulan nanti InsyaAllah mas kesana. Kita jalan-jalan di sana ya, melanjutkan bulan madu lagi hihi. Jadi, adek nggak boleh males ya. Gunakan kesempatanmu ini untuk berbagi ilmu dengan murid-muridmu. Sebelum nantinya kamu berbagi ilmu dengan anak-anak kita. Mas yakin kamu pasti bisa jadi guru yang hebat dan ibu yang baik. Ya sayang?" jelasnya panjang lebar.
Aku terdiam. Dadaku menghangat. Air mataku mulai meleleh perlahan, turun mengalir membasahi pipi.
"Halo dek? Kok diem? Dek?" panggilnya dari seberang.
"Hiks, hiks, hiks"
"Lho kenapa nangis sayangku? Mas ada salah kata ya? Maaf ya dek?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Nggak kok. Mas nggak salah. Adek cuma terharu. Tiada hentinya adek bersyukur Allah neri suami kayak mas untuk melengkapi adek. Makasih mas," jawabku terharu.
Ia adalah lelaki yang sudah resmi menjadi suamiku sejak satu bulan lalu.
Biarlah kota ini terus-terusan diguyur hujan dan dingin. Karena aku punya matahari. Ia yang selalu menghangatkanku dengan cara sederhananya mencintaiku. Ia, suamiku. Ia, matahariku.
#day27
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis
Minggu, 16 September 2018
Skenario dari Langit
Dunia maya khususnya Instagram tengah dilanda demam baper berjama'ah. Sumber kebaperan itu tak lain dan tak bukan adalah pernikahan dua selebgram yakni Anisa Rahma dan Anandito Dwi. Yang membuat sebagian besar warga instagram baper adalah karena kisah cinta mereka yang indah. Ditulis oleh Sang Sutradara terbaik di dunia ini.
Keduanya terlibat sebuah project #Singlelillah yang diproduseri oleh Kang Abay. Project itu berisikan single dan video clip yang mengisahkan tentang perjalanan seorang lelaki dan perempuan. Alik dan Nisa namanya. Keduanya memiliki jalan hidup masing-masing. Hingga akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan cara yang tak terduga.
Lalu, terjadilah sebuah skenario yang dibuat oleh Allah. Anisab dan Anandito menikah tepat bulan setelah project mereka selesai. Film pendek yang mereka mainkan ternyata menjadi kenyataan.
Indah bukan?
Ketika dua insan berusaha untuk saling menjaga lalu kemudian Allah satukan dengan cara-cara sederhana yang manis.
Oya, Anisa ternyata dulunya adalah seorang anggota girl band terkenal di Indonesia. Panggung bagaikan rumah keduanya. Rok mini tak jarang menjadi pakaian kesehariannya. Namun ternyata Allah mencintainya. Allah berikan hidayah yamg langsung dijemput oleh Anisa. Ia berhijrah. Kini, dalam balutan gamis dan kerudung yang menutup dada, kecantikannya semakin terpancar.
Anisa sendiri mengaku sangat nyaman dengan pakaian yang ia gunakan sekarang. Ia merasa begitu bahagia karena bisa mengenal Islam lebih dalam. Namun ternyata tidak cukup sampai disitu. Allah berikan lagi kebahagiaan untuk Anisa. Allah pertemukan Anisa dengan jodohnya. Seorang lelaki yang InsyaAllah baik nan sholeh, yang akan menemaninya, sama-sama memperbaiki diri, untuk kemudian bersama menuju surga-Nya. Lelaki itu adalah Anandito.
Anandito, lelaki yang InsyaAllah juga menjaga, berusaha untuk tetap menahan dirinya dari godaan wanita-wanita di sekitar. Ia yakin, suatu saat Allah datangkan bidadari untuknya, menemaninya, menguatkan langkahnya.
Akhirnya, skenario yang indah itu terjadi. Ratusan pasang mata menjadi saksi, bahwa keduanya disatukan Allah dalam ikatan suci penuh cinta.
Melihat semua itu, jujur membuat saya sedikit baper. Tentu saja kebaperan itu harus kita seimbangi dengan motivasi. Motivasi untuk berubah lebih baik lagi. Motivasi untuk terus menjaga.
Bersabarlah, Allah juga sedang menuliskan skenario untukmu. Nantikanlah. Kelak, temuilah pasanganmu dalam keadaan terbaikmu. Dampingi ia dengan sebaik-baiknya. Kemudian bersamailah ia, hingga kelak di tempat terbaik, tempat di mana seharusnya semua cinta bermuara, yaitu Jannah.
#day26
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis
Sabtu, 15 September 2018
Bahasa Arab. Pentingkah?
بسم الله الرحمن الرحيم
في هذه الفرصة أريد أن أتكلم عن اللغة العربية
Bisakah membaca tulisan di atas?
Bisakah memahami artinya?
Hehe. Tenang ini bukan ujian kok.
Arti dari kalimat di atas adalah : pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang bahasa Arab.
Wah. Kira-kira ada apa ya dengan bahasa Arab?
Bukankah itu pelajaran yang diajarkan di madrasah?
Lalu apa harus kita sebagai muslim belajar bahasa Arab?
Padahal kan bahasa yang mayoritas digunakan di dunia kan bahasa Inggris?
Sebelumnya izinkan saya menceritakan sedikit tentang pengalaman saya belajar bahasa Arab.
Setelah lulus dari salah satu MTs Negeri di kota Malang, orangtua memutuskan untuk menyekolahkan saya di pesantren. Meskipun di MTs dan MI dulu pernah belajar bahasa arab, namun ternyata pelajaran di pondok pesantren yang menggunakan bahasa Arab masih sulit saya pahami. Mungkin karena tingkat kesulitannya sudah berbeda ya.
Pondok pesantren saya termasuk salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. Usianya lebih dari 8 windu. Bahasa Arab di sana dipelajari erat dengan bahasa Jawa. Terbukti dari pelajaran-pelajaran agama yang kami terima setiap bada shubuh, terjemahannya menggunakan bahasa Jawa. Bisa dikenal dengan sebutan pelajaran kitab kuning. Misal kata في akan diartikan 'Ing Dalem' atau di dalam.
Dengan kemampuan yang pas-pasan ini, ternyata tidak membuat saya paham pelajaran-pelajaran tersebut. Terlebih guru-guru yang mengajar mayoritas sudah sepuh, metode yang digunakan pun sangat monoton. Hal itu membuat saya kesulitan mengerti, dan akhirnya lulus dari pesantren itu belum mampu memahami bahasa Arab dengan baik. Istilahnya 'lulus nggak bawa apa-apa'. Padahal saya jurusan agama lho SMA nya. Miris sekali kan :(
Semasa SMA, saya memang menyukai bahasa Arab. Tapi saya merasa kesulitan untuk mengaplikasikannya dalam setiap pelajaran. Bahkan ada kejadian yang masih teringat hingga saat ini. Hari itu ada ujian lisan tafsir, yang tentu saja menggunakan buku arab gundul. Perintahnya adalah para murid maju satu persatu kepada gurunya, kemudian membacakan sebuah teks arab gundul tanpa harokat itu di depan guru, setelah itu menerjemahkan dan menjelaskan artinya.
Tentu saja momen ujian itu menjadi momok yang menakutkan bagi saya dan sebagian teman lainnya. Akhirnya, ada salah seorang teman memberikan tips.
"Pokoknya baca harokat akhirnya dhommah semua ya, baca U semua akhirnya. Pasti benar!" ujarnya kepada kami.
Kami yang saat itu sedang kebingungan, begitu bahagia mendapat tips darinya. Bodohnya, kami praktekkan tips teman kami itu. Walhasil, sang guru garuk-garuk kepala, miris dengan kemampuan murid-muridnya.
في هذه الفرصة أريد أن أتكلم عن اللغة العربية
Bisakah membaca tulisan di atas?
Bisakah memahami artinya?
Hehe. Tenang ini bukan ujian kok.
Arti dari kalimat di atas adalah : pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang bahasa Arab.
Wah. Kira-kira ada apa ya dengan bahasa Arab?
Bukankah itu pelajaran yang diajarkan di madrasah?
Lalu apa harus kita sebagai muslim belajar bahasa Arab?
Padahal kan bahasa yang mayoritas digunakan di dunia kan bahasa Inggris?
Sebelumnya izinkan saya menceritakan sedikit tentang pengalaman saya belajar bahasa Arab.
Setelah lulus dari salah satu MTs Negeri di kota Malang, orangtua memutuskan untuk menyekolahkan saya di pesantren. Meskipun di MTs dan MI dulu pernah belajar bahasa arab, namun ternyata pelajaran di pondok pesantren yang menggunakan bahasa Arab masih sulit saya pahami. Mungkin karena tingkat kesulitannya sudah berbeda ya.
Pondok pesantren saya termasuk salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. Usianya lebih dari 8 windu. Bahasa Arab di sana dipelajari erat dengan bahasa Jawa. Terbukti dari pelajaran-pelajaran agama yang kami terima setiap bada shubuh, terjemahannya menggunakan bahasa Jawa. Bisa dikenal dengan sebutan pelajaran kitab kuning. Misal kata في akan diartikan 'Ing Dalem' atau di dalam.
Dengan kemampuan yang pas-pasan ini, ternyata tidak membuat saya paham pelajaran-pelajaran tersebut. Terlebih guru-guru yang mengajar mayoritas sudah sepuh, metode yang digunakan pun sangat monoton. Hal itu membuat saya kesulitan mengerti, dan akhirnya lulus dari pesantren itu belum mampu memahami bahasa Arab dengan baik. Istilahnya 'lulus nggak bawa apa-apa'. Padahal saya jurusan agama lho SMA nya. Miris sekali kan :(
Semasa SMA, saya memang menyukai bahasa Arab. Tapi saya merasa kesulitan untuk mengaplikasikannya dalam setiap pelajaran. Bahkan ada kejadian yang masih teringat hingga saat ini. Hari itu ada ujian lisan tafsir, yang tentu saja menggunakan buku arab gundul. Perintahnya adalah para murid maju satu persatu kepada gurunya, kemudian membacakan sebuah teks arab gundul tanpa harokat itu di depan guru, setelah itu menerjemahkan dan menjelaskan artinya.
Tentu saja momen ujian itu menjadi momok yang menakutkan bagi saya dan sebagian teman lainnya. Akhirnya, ada salah seorang teman memberikan tips.
"Pokoknya baca harokat akhirnya dhommah semua ya, baca U semua akhirnya. Pasti benar!" ujarnya kepada kami.
Kami yang saat itu sedang kebingungan, begitu bahagia mendapat tips darinya. Bodohnya, kami praktekkan tips teman kami itu. Walhasil, sang guru garuk-garuk kepala, miris dengan kemampuan murid-muridnya.
Jumat, 14 September 2018
Ungkapkan Cintamu
Cinta adalah topik yang tak pernah habis diperbincangkan. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, cinta merupakan satu hal yang tak boleh luput dari perhatian.
Mengapa begitu? Apakah penting?
Tentu saja penting!
Bagaimana bisa seorang guru mendidik dengan hati jika tak ada cinta untuk murid-muridnya. Bagaimana bisa murid memahami pelajaran jika tak ada cinta terhadap pelajarannya. Bagaimana bisa murid hormat dan segan terhadap guru jika tak ada cinta antar keduanya?
Cinta itu dibutuhkan. Cinta itu ditumbuhkan.
Bagi guru, cinta harus hidup dan selalu tumbuh berkembang di setiap harinya. Semakin lama berinteraksi dengan murid-murid, semakin besar pula cinta yang ia berikan.
Lalu, jika sudah cinta, apa lagi yang harus dilakukan seorang guru?
Ungkapkanlah!
Nyatakanlah!
Biarkan murid-muridmu mengetahui bahwa gurunya mencintainya?
Mungkin tindakan dan bahasa tubuh bisa mengungkapkannya.
Tapi sungguh, cinta yang diungkapkan akan terasa lebih nyata, sampai ke dalam diri para murid, dan singgah di sana.
Menghangat di dalam hati-hati para murid.
Sehingga setiap mereka melihat gurunya, ada perasaan gembira.
Jika sang guru tidak ada di depan mereka, rindu terasa.
Itulah cinta.
Sebagai ilustrasi, simaklah sedikit cuplikan kisah di bawah ini.
***
Bu Lia merupakan seorang guru di sebuah sekolah swasta tingkat Sekolah Dasar. Sekolah tempat bu Lia mengajar terletak di kaki gunung Kawi, tepatnya Kabupaten Malang. Tidak terlalu pelosok, namun juga tidak bisa dikatakan terletak di kota.
Setiap harinya bu Lia harus menempuh perjalanan kurang lebih 2 kilometer menggunakan sepeda onthel. Pagi ini, keringat bu Lia bercucuran sesampainya ia di gerbang sekolah. Setelah meletakkan barang-barang di kantor guru, bu Lia berjalan menuju kelas dengan menenteng buku-buku dan alat tulis. Anak-anak yang melihat sosoknya dari jauh, segera bersiap dan bersikap rapi.
Di pintu kelas, bu Lia mengucap salam, kemudian melangkah masuk dengan senyuman indahnya.
"Selamat pagi anak-anak!" ujarnya sambil berdiri di depan kelas.
"Selamat pagi juga bu!" jawab para murid.
"Apa kabarnya pagi ini?" tanya bu Lia dengan semangat.
"Alhamdulillah. Luar biasa bu!" jawab mereka serempak.
"Anak-anakku sayang, alhamdulillah pagi ini Allah masih memberikan kita kesempatan untuk menghirup udara segar dengan gratis," ujarnya sambil memperagakan mengambil nafas.
Anak-anak menirukan gayanya mengambil nafas.
"Nah anak-anak, itu semua karena Allah sayang pada kita. Makanya Allah memberi kesempatan untuk tetap hidup di dunia ini. Ibu juga sayang sama kalian. Makanya ibu memberi kesempatan pada kalian untuk menimba ilmu dari apa yang akan ibu sampaikan. Kiranya kita bisa mengambil manfaat darinya," jelas bu Lia.
Para murid terdiam mendengarkan dengan khusyuk.
"Kalian tau kan betapa ibu menyayangi kalian?" tanya bu Lia antusias.
"Tau bu!" jawab mereka serempak.
"Kami juga sayang bu Lia!" celetuk salah satu murid.
"Habis bu Lia cantik sih!" celetuk murid laki-laki yang duduk di ujung.
Sontak satu kelas penuh dengan gelak tawa. Bu Lia pun tersenyum bahagia melihat tawa mereka. Pelajaran hari itu siap dimulai.
***
Coba bayangkan jika suasana kelas di atas sama seperti suasana kelas milik kita. Bahagia, ceria dan menyenangkan. Tentunya pembelajaran akan berjalan lebih efektif.
Karenanya, jangan segan mengungkapkan rasa sayang kita sebagai guru kepada murid-murid. Semoga cinta tulus dan kasih sayang yang kita berikan, sampai kepada mereka, kemudian menetap dalam hati-hati mereka. Sehingga sejauh apapun jarak dan waktu memisahkan, niscaya akan selalu saling mengenang.
Bogor, 14 September 2018 / 22.50 wib
#day24
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis
Langganan:
Komentar (Atom)












