Sabtu, 14 Januari 2012

Ini yang terbaik - Part 2


Hari ujian penerimaan gelombang dua pun tiba. Dengan gugup dan keraguan aku mulai mengisi lembar soal. Satu persatu soal telah terjawab. Satu persatu peluh pun mulai menetes mengalir membasahi kening ku. Ruangan ber-AC ini terasa panas seiring dengan otakku yang terus bekerja mencari jawaban. Akhirnya, usai sudah.
Selanjutnya, ku lalui hari-hari dengan menunggu. Akankah itu menjadi yang terbaik untukku. Suatu hari, sepucuk surat berlabel STPPI Ibnu Abbas di sampaikan padaku oleh pak pos. Ku buka perlahan ujung sampul surat itu. Tertera di sana bahwa nama ku di nyatakan lulus seleksi! Hati ini serasa di tuangi segelas air es. Sejuk, damai. Ku lihat senyum mengembang di wajah kedua orang tua ku. Ya, inilah yang ku inginkan. Jalan untuk membahagiakan kedua orangtua ku mulai terbentang. Ku mantapkan hati dan mulai ku langkahkan kaki menapakinya. Aku ingin membuat mereka tersenyum dan slalu tersenyum. Senyum mereka lah semangatku.
29 September 2011 ,hari pertama aku menjejakkan kaki d asrama tempat ku menimba ilmu beberapa tahun ke depan. Berkenalan dengan teman-temanku yang baru. Ada Miftahul Jannah, Ainun Mardhiyah, Nurul Inayah. Keesokan paginya adalah soft opening. Dan kedua teman baruku datang lagi. Yakni Nurul Laily dan Nida’ul Haqq. Keakraban mulai menyentuh kami di awal perkenalan. Kami saling menukar senyum yang menyiratkan salam persahabatan. Hari demi hari pun kami lalui bersama. Jumlah mahasiswi putrid ada delapan. Empat orang terdiri dari para ustadzah. Dan jumlah mahasiswa ada sepuluh. Total delapanbelas.
Hari pertama memasuki kelas sudah tentu aku sangat gugup. Takut menjadi yang terbodoh di kelas. Karena memang kata pengantarnya langsung menggunakan bahasa arab. Setelah satu minggu berjalan, aku berputus asa. Aku merasa tidak sanggup untuk melanjutkan langkahku. Karena langkah ini tersendat oleh potongan kayu yang berserakan. Ya,aku memang tidak menguasai bahasa arab. Dan tidak menguasai baasa arab tentu saja kesulitan untuk mencerna dan mengolah pelajaran di kelas. Karnasemua full menggunakan bahasa arab. Kecuali pelajaran bahasa inggris tentunya. Dan hanya pada pelajaran bahasa inggris lah aku dapat bernafas lega. Sering kali air mata ini keluar dari temaptnya karena rasa sedih ku yang tak tertahan. Lagi-lagi kedua orangtua ku yang menjadi penyemangat. Mereka terus member motivasi. Menjelaskan manfaat dari menghafal qur’an dan mempelajari bahasa arab. Terus menerus mereka memberiku motivasi. Tak pernah lelah sedikitpun. Perlahan aku mulai bangkit dari keterpurukanku.
Ketika aku sudah mulai memiliki semangat kembali, tidak dengan teman-temanku yang lain. Mereka juga mulai menyerah satu persatu. Para ustadzah keluar dan menyisakan satu ustadzah. Ainun di terima beasiswa di Al-Azhar Cairo. Nurul ingin melanjutkan pendidikan di negeri Jiran , Malasyia. Laily, Nida’ dan Miftah pun sempat goyah. Sama sepertiku yang pernah berada di jurang ketepurukan.
Memang di sini tidak main-main. Masalah pengajaran di kelas kita memang di tuntut untuk serius dan terus belajar dengan giat. Selain itu target hafalan kami dalam 2 tahun adalah 30 juz. Karena itu kita di tuntut untuk bekerja keras! Untuk berusaha dan berjuang! Karena di sinilah kami akan di cetak menjadi Intelektual ulama dan ulama intelektual.
Jadi sekali lagi, keyakinan ku semakin bertambah. Ya, inilah yang tebaik. Ini yang telah di gariskan oleh Alla. Kini aku harus menekuninya dengan serius. Aku harus menunjukkan pada dunia bahwa aku bisa. Bahwa dengan keyakinan, keteguhan hati, dan usaha keras, serta do’a yang terus menerus. Semuanya pasti bisa.
TIDAK ADA YANG TIDAK MUNGKIN KALA MELANGKAH YAKIN DENGAN ALLAH Subhanaallahu Wa Ta’ala
Yang tersisa di kelas adalah mahasiswi lima orang dan mahasiswa 9 orang. Kami adalah orang-orang terpilih. Kami adalah orang-orang yang telah di beri kesemoatan oleh Allah untuk mengubah dunia Pemikiran dan Peradaban Islam.
Tak pernah ada kata menyerah dan berputus asa lagi dalam kamus kami. Insyaallah. Kami yakin, di depan sana, semua orangtua kami telah menanti keberhasilan kai.
Sekarang memang saatnya bersusah. Berangkat kuliah pukul 07.30 , pulang kuliah pukul 11.30.. Di lanjutkan dengan pelajaran sore. Malamnya ba’da isya’ sampai pukul 21.30 kami ekstra membaca kitab gundul. Setiap hari harus tetap menambah dan mengulang hafalan. Setiap minggu harus menyetor kepada Ustadz kami. Perjalanan menuju kelas pun tidak mudah. Harus di tempuh dengan melewati sawah yang terbentang luas, jalan bebatuan yang keras, hutan bamboo, dan juga menyebrangi sungai (hehe, lebay). Ahh, perjuangan yang berat memang. Tapi kami yakin pasi bisa melewatinya.
Keteguhan hati kami susun kembali dengan rapi dalam hati kami masing-masing. Keyakinan dan kepercayaan terus kami rangkai. Do’a menyusup dari lisan kami di setiap waktu. Saling berpegangan tangan dan menyatukan kekuatan untuk melangkah bersama.
Ya Allah, inilah kami para hamba-Mu yang akan terus berjuang mencari ilmu.
وَ عَسَى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئاً وَّ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ . وَ عَسَى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْئاً وَّ هُوَ شَرٌّ لَّكُمْ . وَاللهُ يَعْلَمُ وَ اَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ .
“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu” (al-Baqoroh : 216)

Ya, terkadang kita tidak menyukai sesuatu yang ternyata sesuatu itu baik untuk kita. Tapi kita tidak mengetahuinya. Terkadang juga kita menyukai sesuatu padahal sesuatu itu tidak baik bagi kita, Dan kita juga tidak mengetahuinya. Kita hanyalah manusia, tempat dari segala ketidaktahuan. Jadi banyak sekali yang tidak kita ketahui. Dan tantu rencana Allah terhadap diri kita juga kita tidak mengetahuinya. Tapi percayalah, Rencana Allah selalu indah.

Ini yang terbaik - Part 1


Perjalanan hidup adalah berkaitan dengan waktu. Waktu tak akan pernah kembali. Walau hanya sedetik pun.
Kali ini aku ingin menceritakan sepenggal kisah dari perjalanan hidup kku. Kisah di mana persahabatan tak harus bermula dari saling kenal.
Genap sudah 3 taun kku selesaikan pendidikan kku di bangku SLTA. Sebuah Madrasah Aliyah yang berdiri di bawah naungan Ponpes Karangasem di daerah Paciran-Lamongan, di sanalah ku ukir seluruh kenangan masa abu-abu putih. MAM 01 karangasem. Thanks 4 all.
Tapi bukan itu yang akan kku critakan.
Setelah lulus, tentu saatnya untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Itupun bagi yang berkenan. Karna ada beberapa teman kku yang memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya di pelaminan.
Tentu aku tidak berniat untuk menyusul mereka dengan waktu secepat ini.Yang terbesit dalam pikiran ku adalah memasuki jurusan psikologi yang memang sudah kku idamkan sejak dahulu. Kku coba juga untuk mengikuti tes program beasiswa , namun tidak lolos. Sempat kku utarakan niat kku kepada orangtua untuk melanjutkan kuliah di jurusan Psikologi. Lagipula rumahku juga dekat dengan sebuah universitas bergengsi di Jawa Timur. Tetapi kedua orangtua ku hanya resenyum. Ah, aku semakin gelisah. Padahal waktu pendaftaran universitas-universitas akan segera di tutup.
Hingga suatu hari, orangtua menyodorkan sebuah formulir berukuran A4. Coba ku baca. Program Beasiswa Sekolah Tinggi Pemikiran dan Peradaban Islam. Berlokasi di Klaten – Jawa Tengah. Jawa Tengah? Apakah ini berarti aku harus menempuh pendidikan jauh dari rumah lagi? Dan ini bukan program psikologi yang aku idamkan. Lalu apa maksud semua ini?
Malamnya orangtua ku menjelaskan, bahwa mereka berdua menginginkan aku untuk melanjutkan pendidikan di situ. Sebuah Universitas yang akan menempa aku untuk menjadi seorang yang sukses dunia akhirat.
Aku hanya diam. Hati ini masih di liputi keraguan. Bagaimana dengan jurusan Psikologi itu? Bagaimana dengan impian ku untuk menjadi seorang Psikolog ternama? Begitu menyesakkan berada dalam keombang-ambingan. Tapi aku harus menentukan keputusan secepatnya. Akhirnya dengan setengah hati, ku pilih untuk menuruti kemauan kedua orangtua ku. Ku mulai untuk belajar dan mengulang hafalan. Karena yang akan di ujikan pada saat test adalah pelajaran keislaman dan hafalan al-qur’an.
Sehari sebelum hari test, aku dan ayah ku berangkat dari Malang pukul 9 malam. Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Pukul 3 pagi, setelah setengah jam mencari alamat yang kami tuju, akhirnya tebentang di hadapan kku. Sebuah bangunan asrama yang begitu megah. Warna hijau dan arsitek yang apik membuat bangunan itu terkesan mewah. Belakangan ku ketahui itu adalah asrama putri.
Setelah bersih diri dan bersiap, pukul 8 pagi , ku langkahkan kaki menuju tempat tezt. Hati ini berdegup kencang. Bismillah..
Setelah duduk dan berkenalan dengan beberapa peserta tez yang lain , ku edarkan pandangan ke sekeliling ruangan. 4 orang yang duduk di bangku belakang adalah para ustadzah yang juga akan mengikuti tezt. 4 orang lainnya adalah para akhwat yang berasal dari berbagai daerah.
Soal pun di bagikan. Astaghfirullah. Apa ini?! Menggunakan bahasa arab seluruhnya. Hati ku semakin menciut ketika terdengar gumaman dari blakang bahwa soalnya mudah. Ah, harus ku isi apa kertas kosong ini? Ku pejamkan mata dan ku tenangkan hati. Bismillah. Aku pasti bisa. Mulai ku goreskan kata demi kata. Meskipun aku tidak yakin akan benar tidaknya, aku tidak peduli. Yang ku lakukan adalah menulis dan terus menulis. Setelah satu jam, lembar tes psikologi yang di bagikan. Kali ini ku kerjakan dengan lebih cepat dan lebih ringan tentunya.
Setelah selesai, seorang ustadz memberitahukan bahwa selanjutnya adalah test lisan alias wawancara. Duduk menanti panggilan. Ketika nama ku di panggil , ku langkahkan kaki dengan jantung yang kembali berdegup kencang. Seorang ustadz mewawancarai ku. Menanyakan ini itu. Meminta ku mengulang hafalanku. Bisa di pastikan dalam keadaan grogi yang pasti aku tidak bisa mengulang dengan lancar. Akhirnya, 45 menit yang terasa panjang itu selesai. Panitia memberitahukan bahwa pengumuman dapat di lihat melalui internet 2 minggu kemudian.
Siang itu juga, aku dan ayah langsung pulang menuju Malang. Perjalanan yang melelahkan lagi.
Dua minggu ku lalui dengan perasaan biasa saja. Dengan tetap melanjutkan aktivitas ku seperti biasa. Hingga akhirnya hari yang di tentukan pun tiba. Ku buka website resmi Ibnu Abbas. Ku coba cari nama ku di antara deretan nama yang tertera di sana. Yap , akhirnya ku temukan namaku. Tapi ternyata yang tertulis di sana adalah ‘cadangan’. Aku berstatus cadangan. Sedangkan teman-teman akhwat yang di terima hanya 4 orang itupun para ustadzah. Ku lihat wajah orangtua ku. Mereka terdiam. Hingga akhirnya memutuskan agar aku mengikuti pendaftaran gelombang dua. Karena walaupun berstatus cadangan itu tidak menjamin aku akan di terima. Sebenarnya aku agak kecewa. Lagi-lagi mengapa orantua tidak mengizinkan mengikuti pendaftaran jurusan psikologi saja. Tapi ku pendam semua kekecewaan ku itu. Aku yakin , mereka berdua tau mana yang terbaik untukku.
Hingga akhirnya kembali ku siapkan diri ku untuk mengikuti tezt gelombang dua. Kali ini persiapan yang ku lakukan lebih besar ketimbang sebelumnya. Ku ikuti lez berbagai pelajaran keagamaan. Ku ikuti pula liqo’ dengan salah satu ustadzah di Malang untuk menyetorkan hafalan. Demikian seterusnya hingga berjalan satu bulan setengah.
Seusai sholat , slalu ku panjatkan do’a kepada Sang Kholiq. Sang Maha Kuasa atas segalanya. Berdo’a untuk segala keputusan yang ku ambil. Berdo’a untuk kelemahan diri ini di bawah kuasa-Nya. Berdo’a agar di beri yang terbaik.

Minggu, 01 Januari 2012

Hafalan Shalat Delisa - The Movie

Hafalan Shalat Delisa The Movie
Produksi : StarVision
Sutradara : Sony Gaokasak
Penulis buku : Tere Liye
Pemain : Chantiq Schagerl , Nirina Zubir , Reza Rahadian , Mike Lewis , Loide Christina Teixeira , Fathir Muchtar , 

Di penghujung tahun 2011 , Dunia Film Indonesia kembali di guncangkan oleh salah satu film best sellernya yang mampu menyedot jutaan pasang mata di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. Film yang di adaptasi dari Novel Best Seller karya Penulis handal Tere Liye yang berjudul Hafalan Sholat Delisa ini mengisahkan perjuangan seorang gadis cilik di saat bencana Tsunami melanda Aceh 7 tahun silam.

Film yang di sutradarai oleh Sony Gaokasak ini memilih lokasi syuting di daerah ujung genting dan bogor. Pantai dengan keindahan yang masih alami sangat sesuai dengan latar belakang film. Meskipun tidak lokasi syuting tidak di tempat asli kejadian tsunami , tetapi latar belakang yang di hasilkan sangat pas.

Film ini di mulai dengan kisah kebersamaan seorang Ibu bernama Ummi Salamah (Nirina Zubir) dengan keempat bidadarinya. Fathimah (Ghina Salsabila) adalah anak pertama , Aisyah (Reska Tania Apriadi) dan Zahra (Riska Tania Apria) , dan si bungsu Delisa (Chantiq Schargel). Rumah kecil dan sederhana di pinggir pantai di desa Lhok Nga, Aceh,  itu menjadi saksi betapa bahagianya keluarga kecil itu. Meskipun Abi Usman (Reza Rahardian) ayah mereka , bekerja di luar negri dan jarang pulang tidak menjadikan mereka bersedih. Justru mereka berlima menjalani hari-hari dengan canda tawa dan tentunya dengan kasih sayang ummi mereka.

Hingga suatu hari tanggal 24 Desember , Di sekolah Delisa akan di adakan ujian praktek shalat dan tentunya wajib menghafalkan seluruh gerakan beserta bacaan-bacaan sholat. Di sinilah di mulai permasalahan. Delisa yang masih berumur 6 tahun masih sulit menghafal bacaan sholat itu, terkadang berhneti di tengah jalan, terkadang terbalik antara kata yang satu dengan kata yang lain. Ummi Salamah pun mengajak Delisa untuk membeli sebuah kalung dan Delisa sendiri yang memilihnya. Kalung dengan liontin huruf ‘D’ untuk Delisa. Ummi pun berjanji akan memberikan kalung itu sebagai hadiah apabila Delisa bisa menyelesaikan Hafalan Sholatnya dengan baik.

Keesokan paginya , Delisa pun makin semangat menghafalkan bacaan Sholatnya. Selepas maghrib setelah Ummi Salamah dan keempat bidadarinya sholat maghrib berjama’ah , tiba-tiba Delisa memeluk ummi dan berkata ‘Ummi, Delisa sayang Ummi karena Allah’. Mendengar perkataan si bungsunya, ummi salamah pun menangis. Dan akhirnya mereka berlima berpelukan dalam suasana yang haru. Malamnya,Ummi Salamah mendendangkan sebuah lagu sambil memeluk keempat buah hatinya. Seolah-olah itulah saat terakhir mereka bersama.

‘lembut kukenang,, kasihmu ibu ,, di dalam hati ku kini ,, menanggung rindu’

Pagi itu , 26 Desember 2004 , Delisa bersama ummi akan berangkat ke sekolah untuk ujian Hafalan Sholat Delisa. Tetapi sebelum mereka berangkat, ada sebuah gempa yang mengejutkan seluruh penduduk desa Lhok Nga. Gempa yang berlangsung beberapa menit itu sempat membuat Ummi dan keempat anaknya ketakutan. Tapi setelah gempa mereda , Ummi dan Delisa segera berangkat ke sekolah. Tanpa sepengetahuan mereka , air laut menyurut. Seolah menandakan bahwa akan terjadi sebuah bencana setelah ini.
Sesampai di sekolah, beberapa murid telah maju. Ketika akan tiba giliran Delisa, dia ingat akan pesan gurunya Ustadz Rahman (Fathir Muchtar) bahwa ketika sholat kita harus khusyuk dan tidak boleh memikirkan sekeliling kita. Tibalah giliran delisa maju, ia menoleh ke arah jendela. Ummi Salamah melambaikan tangannya dari balik jendela sambil tersenyum dan mengacungkan kalung ‘D’ untuk Delisa. Delisa pun maju dengan kemantapan hati dan memulai takbir dengan khidmat. Allahuakbar.

Bersamaan dengan itu ,gempa terjadi lagi dengan kekuatan yang lebih dahsyat. Ummi memanggil nama Delisa dan berusaha menyelamatkan Delisa. Tetapi Delisa tetap melanjutkan bacaan sholatnya. Karena kekhusyukannya, dia tidak memperhatikan panggilan ummi serta air laut yang datang dari arah pantai. Wuush.. Air pun menghantam segalanya.
Setelah seminggu lamanya , Delisa yang masih hidup dan terdampar di pantai di temukan oleh Pasukan Smith (Mike Lewis) dan akhirnya di rawat dengan penuh kasih sayang di rumah sakit oleh suster shofie (Loide Christina Teixeira). Setelah pulih dari komanya, delisa gadis manis ini harus menerima kenyataan bahwa ia harus kehilangan kaki kanannya. Di tambah lagi ia kehilangan ketiga kakaknya dan juga umminya. Bertambah pilu hati Delisa.

Lalu bagaimana kah kelanjutan kisahnya? Apakah Delisa bisa menghadapi berbagai cobaan yang di deritanya? Apakah Delisa bisa bertemu dengan Abi Usman? Di mana Ummi? Apakah dapat di temukan????
Untuk menjawab pertanyaan itu tentunya harus membeli tiket di bioskop-bioskop di kota anda :)

Tak apa kan menyisihkan sedikit uang yang biasanya terpakai secara sia-sia , untuk membeli tiket dari sebuah film yang sarat akan pesan moral dan hikmah :)

Anda akan menemukan apa itu sebuah kebahagiaan.
Anda akan menemukan arti dari kasih sayang seorang ibu dan ayah.
Anda akan menemukan betapa dahsyatnya bencana yang di berikan Sang Robb.
Anda akan menemukan sosok gadis kecil yang belajar tentang keikhlasan.
Anda akan menemukan kebesaran hati.

Di mana anda menemukan semua itu?? Tentunya hanya di HAFALAN SHALAT DELISA - THE MOVIE

CHECK IT PLEASE ::

# Untuk melihat trailer HSD >> http://www.youtube.com/watch?v=Rgg6jOFp9iY
# Untuk mendengar soundtrack HSD >> http://www.youtube.com/watch?v=yIRZuEYziqc
# Untuk mendownload ost. HSD >> http://mp3skull.com/mp3/lagu_ibu_ost_hafalan_shalat_delisa.html
# Apa benar ini sosok DELISA sebenarnya ?? >> http://equatorimages.com/photo.php?aid=24#9

KOMENT TENTANG NOVEL HSD ::

>> Buku yang indah ditulis dalam kesadaran ibadah. Buku ini mengajak kita mencintai kehidupan, juga kematian, mencintai anugerah juga musibah, dan mencintai indahnya hidayah. - Habiburrahman El Shirazy ( Novelis . Penulis Best Seller Ayat-ayat Cinta )

>> Novel ini disajikan dengan gaya sederhana namun sangat menyentuh. Penulis berhasil menghadirkan tokoh-tokoh dan suasana dengan begitu hidup. Islami dan luar biasa. Pantas dibaca oleh siapa saja yang ingin mendapatkan pencerahan rohani. - Ahmadun Yosi Herfanda ( Sastrawan dan Redaktur Sastra Republika )

>> oleh: asmeni
membaca buku ini,membuat sy iri pada delisa,karena sampai saat ini sy belum mampu mengatakan "aku sayang bunda"....

KOMENT TENTANG FILM HSD ::

>> Udah nonton pas 26 desember, persis waktu kejadian tsunami di aceh,...menyentuh, haru, bagussS banget,...aku +anak sulungku tak mampu menahan air mata, sip bagus
>>  aku udah nonton...... beneran seru banget ,,,,, membuat kita inggat kepaada yang mencipta kan kita
>> subhanallah... memaknai kehilangan.. ikhlas itu indah...
>>  Baru td bisa nonton. Hari ke 6 theatre msih full smp bwh. Disana sini trdengr isak trtahan, trmasuk aq dn anakku. Hiks hiks.

FAN PAGE HAFALAN SHALAT DELISA ::

http://www.facebook.com/pages/Hafalan-Shalat-DELISA/189217161163079

So ,, nggak ada alasan lagi untuk nggak nonton film ini kan ?? BURUAANN :’)

** KEIKHLASAN ADALAH DI SAAT KITA YAKIN BAHWA ITU ADALAH YANG TERBAIK UNTUK KITA **