Jumat, 31 Agustus 2018

Surga yang Kurindukan - #pelangisehabishujanpart3




Sepertiga malam menjadi saksi bagaimana aku begitu hebatnya mendiskusikan sosokmu dengan Sang Pencipta. Bahkan derai air mata tak jarang mengiringi bisikan pintaku. Mengadu pada Allah menjadi hobiku, kusadari diri ini lemah tak berdaya. Karenanya kuasa Allah menjadi satu-satunya keajaiban yang bisa terjadi di hidupku.

Suatu pagi di hari libur, di saat aku sedang bersantai dengan sebuah novel dan secangkir kopi, ibu menelpon. Setelah saling bertanya kabar, ibu mengatakan sesuatu yang terdengar sangat serius. Ada seorang pria, datang dan ingin melamarku. Aku terdiam. Semua memori tentang masa lalu yang menyakitkan seketika berkelebat dalam ingatan. Ketakutan yang sempat kubayangkan tentang membangun rumah tangga, mulai bermunculan lagi.

Namun aku tahu, semuanya harus diakhiri di sini. Tak kuizinkan lagi masa lalu datang dan menghantui. Baiklah, sepertinya ada yang harus diakhiri dan dimulai di sini.

"Bu, sekarang Nia manut sama bapak ibu. Siapapun lelaki yang bapak dan ibu ridhoi, Nia juga ridho," ujarku lirih.

"InsyaAllah ini terbaik untukmu nak," Ibu menjawab. Kuyakin ia sambil tersenyum.

"Nanti ibu kirim foto dan biodata singkatnya. Kamu baca-baca ya Nia," lanjut Ibu.

Dan segala prosesnya pun dimulai. Kuserahkan segala alurnya kepada Allah. Biar Allah yang menentukan siapa yang terbaik untukku. Jika memang ia yang terbaik, Allah akan memberikan kemudahan.

Ia, seorang lelaki yang tak kutahu wajahnya. Seorang lelaki yang tak kutahu asalnya. Seorang lelaki yang tak kutahu bagaimana perangainya. Tapi aku yakin dan percaya kepada Allah. Jika dia baik untukku dan agamaku, Allah akan membuat semuanya mudah.

Ia seorang lelaki yang akan menjadi pendamping hidupku jika Allah izinkan. Ia seorang lelaki yang akan menjadi surgaku kelak. Ia, surga yang kurindukan.

#day10
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Kamis, 30 Agustus 2018

Menemukanmu di sepertiga malam - #pelangisehabishujan part 2




"Seperti rencana kita sebelumnya, setelah wisuda kita akan menikah. Benar kan?" tanyanya.

Aku terdiam, masih dengan menunduk dan memejamkan mata.

"Namun maaf ya Nia, semua rencana itu sepertinya tidak akan terlaksana. Maafkan aku," lanjutnya.

Kalimat-kalimat di atas berputar berulang kali secara otomatis di pikiranku. Tanpa aku bisa mencegahnya, bahkan menghentikannya pun terasa sangat susah. Rasa-rasanya semangat untuk menjalani hari-hari tak kumiliki lagi. Duniaku terasa menyempit, gerakku menjadi terbatas, dan anganku semakin meluas. Anganku semakin liar dan sibuk berandai-andai tentang berbagai macam kemungkinan.

Bayangan akan indahnya menjalin kehidupan rumah tangga dengannya masih saja menghampiri. Bayangan akan bangganya diriku memiliki seorang suami yang hafal al-qur'an masih bercokol hebat. Bayangan akan bahagianya kami berdua kesana kemari berdakwah dan menyebarkan agama Allah berdua. Bayangan akan canda tawa jundi-jundi kami yang menjadi penyejuk hari-hari. Semuanya itu masih terus memenuhiku.

Aku semakin tersiksa dengan semua ini. Hingga keluarga dan sahaba terdekat begitu prihatin melihatku. Mereka berusaha mencari solusi untuk keadaanku saat itu, hingga akhirnya ditemukanlah solusi itu. Atas rekomendasi salah satu saudara jauh, aku diberi kesempatan untuk mengajar di sebuah sekolah swasta di Bandung. Allah Maha Baik. Allah tidak ingin aku berlarut dalam kesedihan itu. Allah ingin aku sibuk dalam kebaikan, sehingga lupa akan kesedihan.

Akhirnya aku berangkat ke Bandung diantar kedua orangtuaku. Mereka melepasku dengan pilu, berharap aku lekas membaik. Hari-hari pertama ku di sekolah ini berjalan lancar. Aku yang memang menyukai pendidikan tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi. Murid-murid disini pun sangat menyenangkan. Mereka menerimaku dengan penerimaan yang baik. Hingga satu bulan keberadaanku disini, aku merasa begitu nyaman. Aku merasa semakin mencintai sekolah ini dan setiap sudutnya. Aku mencintai murid-muridku.

Pelukan hangat dari murid-murid di setiap pagi ketika aku datang memberikan kekuatan tersendiri bagiku. Aku semakin kuat dan mulai melupakan luka itu. Aku meyakini bahwa untuk apa terus berlarut dalam kesedihan jika ternyata kebahagiaan itu bisa kudapatkan dengan cara mudah dan sederhana. Cukup dengan aku menjadi guru disini, saling berbagi ilmu dengan mereka, saling bercanda tawa dengan mereka, itu sungguh membahagiakan.

Kedua orangtuaku juga bahagia mendengar kabar tentang perkembanganku di sini. Tak lupa di setiap panggilan telepon, mereka mengingatkanku untuk terus menjaga sholat tahajudku. Kuiyakan permintaan mereka. Maka hari demi hariku tak pernah alpa dari bermunajat padanya di sepertiga malam. Kuadukan semua permasalahan dan kesedihanku pada Allah. Aku yakin Allah Maha Baik. Allah akan selalu mendengar permasalahan hambanya.

Bahkan tak jarang pula kuadukan kegundahan hatiku perihal jodoh. Derai air mata mengiri bait-bait do'a yang kurapalkan kepada Allah. Aku tau masa lalu itu memang perih, tapi kuyakin Allah punya skenario yang indah. Maka kuharus bersabar, menanti skenario terbaik dari-Nya.

Yaa Rabb, maafkan hamba-Mu yang penuh dosa ini.
Yaa Rabb, hamba yakin Engkau adalah pembuat skenario terindah di dunia.
Maka biarlah kuserahkan jalan hidupku ini pada skenario-Mu.
Kuikhlaskan atas segala apapun yang Engkau kehendaki untukku.

Yaa Rabb, kini tak lagi kusebut sebuah nama.
Pilihkanlah siapapun yang menurut-Mu terbaik bagiku.
Engkau Maha Tau atas siapa yang terbaik bagiku.
Kuharap dia adalah laki-laki yang mampu membimbingku.
Kuharap dia adalah laki-laki yang dengannya, aku semakin dekat denganmu.
Kuharap dia adalah laki-laki yang dengannya, surga-Mu mampu terjangku.

Kuharap ia, mencintaiku, tak sebesar ia mencintai-Mu.


#day9
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1












Rabu, 29 Agustus 2018

Hujan bukan Luka




Sore ini hujan
Bulir-bulirnya bening
Menerpa wajahku
Mengaliri mata, hidung hingga dagu
Segar dan sejuk

Sore ini dingin
Genangan menciptakan cipratan
Angin memeluk sesekali
Langit kelabu

Aku menengadah
Menikmati setiap tukikan tajam bulir hujan
Aromanya sangat kuhafal
Khas mendayu menentramkan

Dia di bawah hujan kala itu
Menunduk menghidari pandanganku
Diam membisu bak patung
Tak mau menjawab tanyaku
Tak sanggup memandang tangisku

Dia masih di bawah hujan kala itu
Kalimat yang ia ucapkan tertelan
Tertelan oleh gemericik air hujan
Kalimat yang mampu meluluhlantakkan
Kalimat yang mampu mengobrak-abrik hatiku


#day8
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Selasa, 28 Agustus 2018

Duka Milik Lili - part 1




Sebut saja namanya Lili. Dia adalah muridku. Lili duduk di kelas 12 pada sebuah SMA swasta di Jogjakarta. Orangtuanya kaya dan terpandang di daerahnya. Sawahnya luas, tokonya besar, karyawannya banyak, rumahnya bak istana, lalu ia anak tunggal yang cantik dan pintar. Lengkap sudah seluruh kebahagiaan di dunia ini ia miliki, sempurna. Namun anehnya, Lili ternyata tidak bahagia. Dan kebahagiaan itulah yang membuatku menjadi dekat dengannya.

Di suatu sore, sekolah sudah sepi. Ruang guru hanya menyisakan aku dan tiga orang lainnya. Aku masih berkutat dengan tumpukan hasil ulangan siswa yang harus diperiksa. Karena AC ruang guru sangat dingin, aku merasa ingin buang air kecil ke kamar mandi. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi yang terletak di ujung lorong. Setelah menyelesaikan hajat, aku mencuci tangan di depan wastafel. Tiba-tiba terdengar bunyi tangisan lirih yang tertahan. Aku bergidik. Apa jangan-jangan itu hantu? Ah, segera kutepis jauh-jauh pikiran itu. Naluriku menggerakkanku mendekati asal suara, yaitu kamar mandi yang paling ujung. Saat tiba di depannya, kuketuk pintu secara perlahan.

"Siapa di dalam?" tanyaku was-was.

"...." suara tangisan itu seperti sedang berusaha keras ditahan.

"Halo, nak? Siapa? Ada apa?" tanyaku kembali.

Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka, keluar dari dalamnya Lili. Tampilannya sangat kacau. Rambut acak-acakan, air mata memenuhi wajahnya, kulitnya yang putih menampakkan hidung dan pipinya memerah. Ia melangkah ragu ke arahku, kemudian segera kubuka tanganku bersiap memeluknya. Tanpa pikir panjang ia menyeruduk ke pelukanku, kemudian memelukku erat, dan menangis kencang.

Setelah kurang lebih 30 menit di dalam kamar mandi, akhirnya aku kembali ke ruang guru. Terasa basah pundakku. Cukup lama Lili menangis di pelukanku. Setelah itu ia menceritakan hal yang membuatnya menangis. Adalah orangtuanya yang baru saja memutuskan untuk bercerai. Aku cukup terkejut, karena orangtua Lili terkenal sebagai pasangan yang serasi. Keduanya pun sama-sama berasal dari keturunan bangsawan yang terpandang di Jogjakarta. Rupanya hal itu juga membuat Lili terpukul. Ia merasa hidupnya kacau.

Aku menghela nafas. Aku memang bukan wali kelasnya, aku juga bukan guru BK, apalagi wakil kepala sekolah bagian kesiswaan. Tapi aku merasa perlu untuk ikut andil dalam kasus ini. Aku merasa Lili harus diselamatkan.

-bersambung-

#day7
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Senin, 27 Agustus 2018

Mati Bawa Apa?




Alkisah, ada seorang saudagar kaya yang sangat sholih. Ketika penyakit keras menyerangnya, dan ia merasa ajalnya telah dekat, ia pun memanggil anak-anak dan istrinya. Kemudian ia berwasiat: "Kelak ketika aku meninggal tolong pakaikan kaus kaki robek ini di kakiku, meski kaus kaki ini telah robek aku ingin tetap membawanya ketika jasadku dikuburkan". Seketika menangislah istri dan anak-anaknya karena merasa ajal sang saudagar telah dekat.

Setelah sang saudagar menghembuskan nafas terakhirnya, anak-anak dan istrinya ingin menjalankan wasiat tersebut, tetapi dilarang oleh sang ustadz yang akan membantu proses pemakaman.

Terjadilah perdebatan sengit, sang ustadz bersikeras bahwa tidak boleh memakaikan kaos kaki kepada jenazah itu. Tapi keluarga saudagar bersikeras untuk tetap menjalankan wasiat itu. Di tengah perdebatan sengit itu datanglah kuasa hukum sang saudagar yang membawa surat wasiat yang ditulis sebelum kematiannya. Isinya:

"Wahai istri dan anak-anak ku tercinta, pasti saat ini kalian dilanda kebingungan tentang persoalan kaus kaki itu. Lihatlah keluargaku tersayang, hartaku banyak, uangku berlimpah, asetku dimana-mana, tapi semua itu tidak dapat menemaniku di dalam kubur, bahkan sepotong kaus kaki butut yang penuh lubang pun tak bisa aku bawa. Hanya amalan-amalan yang aku perbuat di dunia lah yang saat ini menemaniku. Karena itu, kejarlah duniamu untuk akhiratmu, tanamkan pada diri kalian bahwa apa-apa di dunia ini tiada yang kekal kecuali amal perbuatan kita".

Bercucuran deras air mata istri dan anak-anak sang saudagar setelah membaca surat itu, dan mereka berjanji akan menggunakan harta sang saudagar dijalan Allah.

Sahabat, hendaknya kisah diatas menyentuh batin kita. Betapa tidak berharganya harta yang kita miliki di dunia kecuali amal ibadah kita.

Stop bergalau-galau ria soal jodoh, baper melihat pasangan-pasangan selebgram posting foto mesra. Stop menuliskan status-status galau, berharap dilirik ikhwan sholih kemudian dinikahi. Stop sibuk kesana-kemari mengumpulkan pundi-pundi uang, berharap bisa membangun rumah bak istana dan memiliki mobil keluaran terbaru.

Jodoh adalah persoalan yang sudah dijamin oleh Allah, hanya saja Allah meminta bersabar untuk menunggu waktu dipertemukannya itu. Lalu soal kematian, Allah tidak bisa menjamin bagaimana kondisi kita ketika malaikat maut mencabut, seberapa banyak amalan-amalan yang sudah kita kumpulkan. Atau jangan-jangan kita mati hanya membawa dosa-dosa yang menggunung? Naudzubillah.

Jadi, mau mati bawa apa?

#day6
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Minggu, 26 Agustus 2018

Mas Joko Widodo - #pelangisehabishujan part 1



Kamarku wangi, bunga melati dan kelopak mawar bertaburan di kasurku. Seikat bunga sedap malam teronggok cantik dalam vas bunga di sudut kamar. Tumpukan kado beraneka ukuran dan warna memenuhi meja di samping lemari. Aku berdiri mematung, memandang seorang pria yang duduk di pinggiran kasurku. Wajah jawanya yang manis dan kulit sawo matangnya menahan mataku untuk tetap memandangnya lekat. Ia tersenyum padaku. Aih manisnya bak gula jawa. Jantungku berdegup semakin tak karuan. Dia adalah pria yang tadi pagi resmi menjadi suamiku. Dan malam ini, setelah lelah menerima tamu hingga larut, akhirnya kami berdua masuk ke dalam kamarku, kamar pengantin. Aku melangkah maju mendekatinya, sembari tersenyum menutupi kegugupanku.

"Hay, kenalan yuk! Namaku Nia. Siapa namamu?" celetukku tiba-tiba, sembari menjulurkan tangan ke arahnya, mencoba mencairkan suasana dengan candaanku.
Ia terkejut, namun detik berikutnya ia seakan menyadari leluconku. Ia sambut uluran tanganku, yang kemudian langsung kucium takzim.
"Namaku Joko, panggil saja Widodo," ujarnya datar, sembari berusaha menirukan logat Bapak Presiden RI.
"Wah! Hebat dong aku, nikah sama Presiden! Hahaha," tawaku lepas. Tak menduga jawabannya selucu itu bagiku.
Dia tertawa melihatku tertawa. Kami tertawa bahagia. Kebahagiaan hari itu yang belum usai, semakin bertambah seiring dengan syukurku memilikinya sebagai suamiku.

******

Dua tahun yang lalu.

Di dalam perpustakaan sebuah kampus swasta, aku duduk menatap layar laptop dengan serius. Barisan kata yang memenuhi layar laptop membuatku mengernyitkan dahi berkonsentrasi. Tiba-tiba sebuah salam dari belakang mengejutkanku.
"Assalamualaikum," suara pria dari belakang itu membuatku menoleh.
"Waalaikumussalam," jawabku tersipu malu ketika menyadari siapa yang mengucap salam.
"Gimana bab 4 nya?" tanya laki-laki itu.
"Sudah beres dong! Ini tinggal bab 5 ada beberapa kalimat yang aku hapus ya. Kamu sih nggak teliti banget nulisnya," jelasku panjang lebar.
"Haha yaudah aku ngikut aja," jawabnya sembari menarik kursi, lalu duduk di sampingku.
Lelaki itu terdiam dan memandangiku yang sedang sibuk mengedit revisian skripsi miliknya. Yap, skripsi miliknya.

Lelaki itu adalah lelaki yang beberapa bulan lalu menemui ayahku, lalu meminta untuk menikahiku. Lelaki itu adalah lelaki yang lamarannya diterima oleh ayahku, dengan syarat kami berdua harus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu, karena kami saat itu sedang dalam proses skripsi. Lelaki itu adalah lelaki yang aku membantunya menyelesaikan skripsinya, dengan harapan jalan kami untuk menikah semakin dekat. Lelaki itu adalah lelaki yang dua bulan lagi, akan menjadi suamiku.

Karena itu jantungku tak terkondisikan ketika ia memandangiku dari jarak dekat seperti saat ini. Kuyakin pipi gembulku ini sudah memerah karena malu. Hari ini kami memang berjanji untuk bertemu di perpustakaan kampus. Pekan lalu ia sudah sidang, jadi penyelesaian revisi dilakukan pekan ini, guna segera mendaftar wisuda. Karena itu, aku yang sedari tadi pagi sudah duduk manis di sini, sebentar lagi sudah selesai merampungkan revisi skripsinya.

Satu bulan kemudian, hari wisuda itu tiba. Hari yang sangat kutunggu-tunggu selama beberapa bulan ini. Hari di mana aku akan bertemu dengan orangtuanya yang datang dari luar pulau. Hari itu juga menjadi hari yang sangat membahagiakan bagiku. Bagaimana tidak? Aku dinobatkan menjadi mahasiswi terbaik di jurusanku, aku dipanggil maju ke depan sebagai perwakilan wisudawan untuk menyampaikan pesan dan kesan, seketika aku menjadi artis di hari itu. Setelah rangkaian proses wisuda berlangsung, aku menemui keluarga dan teman-teman untuk mengucapkan terimakasih atas kehadiran mereka. Berbagai macam boneka dan ucapan selamat kudapatkan dari orang-orang tersayang.

Di sela-sela kebahagiaanku mendapat pelukan dari orang-orang tersayang, kulihat laki-laki itu berdiri mematung memandang lurus ke arahku. Aku pun melambaikan tangan untuk menyapanya. Tak berlama-lama, segera kulangkahkan kaki menujunya.
"Hey, selamat ya! Akhirnya wisuda juga kita ya," ujarku seraya tersenyum lebar.
"Alhamdulillah," jawabnya singkat dengan ekspresi datar.
"Aku mau bicara sebentar, bisa ikut aku ke taman di luar gedung?" tanyanya.
"Mmm boleh," jawabku heran.

Aku merasa ada yang janggal dengan sikapnya. Akhirnya kulangkahkan kaki mengikutinya keluar dari gedung tempat wisuda. Kuabaikan panggilan dari teman-teman yang menyapaku.
Sesampainya di taman, ia berbalik badan dan menatap lurus ke arahku. Wajahnya sendu.
"Sebentar, ini mau ngomong apa?" refleks aku bertanya setelah melihat gelagatnya yang tak seperti biasanya.


"Sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih, atas semua kebaikanmu selama ini. Kamu sudah bantuin aku nyelesaikan skripsi dan revisinya," ujarnya membuka pembicaraan.
Aku terdiam, irama detak jantungku rasanya terdengar sampai luar. Aku takut dengan kalimat yang akan ia ucapkan selanjutnya. Aku menunduk, mencoba memejamkan mata dan bersiap mendengar kalimat selanjutnya.
"Seperti rencana kita sebelumnya, setelah wisuda kita akan menikah. Benar kan?" tanyanya.
Aku terdiam, masih dengan menunduk dan memejamkan mata.
"Namun maaf ya Nia, semua rencana itu sepertinya tidak akan terlaksana. Maafkan aku," lanjutnya.

Laksana disambar petir di siang bolong, kalimat yang ia ucapkan dengan nada datar tadi nyaris merontokkan tulang-tulangku, jantungku seakan merosot.
"Maksudnya?" tanyaku. Bodoh, aku menyumpah kebodohan diri ini. Sudah jelas kalimat yang diucapkannya tadi kudengar dengan seksama, aku paham itu.
"Maafkan aku. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku. Jika ada lelaki lain yang datang dan ia baik, terimalah Nia," ujarnya sambil menunduk
Kudongakkan kepalaku, air mata menetes perlahan membasahi pipi. Pipi yang dulu memerah ketika ia memandangku.

"Kenapa? Kenapa harus seperti ini?" tanyaku lirih. Aku mulai terisak.
"Maaf Nia. Orangtuaku memintaku melanjutkan kuliah lagi. Aku tidak diizinkan menikah dahulu. Dan aku tidak mau menyakitimu dengan memintamu menungguku," jawabnya dengan tetap menunduk.
"Kamu bohong," ujarku lirih. Dadaku sesak, seakan ingin mengeluarkan sesuatu yang besar. Sakit rasanya menahan semua itu.
"Nia, lupakanlah aku. Berbahagialah. Temukanlah lelaki terbaik itu," katanya.
"Aku maunya kamu," ujarku di sela air mata yang semakin deras mengalir.
"Ini pun berat bagiku Nia. Tapi aku tidak bisa melawan kehendak orangtuaku. Aku belum pernah membalas kebaikan mereka berdua selama ini. Biarlah keputusanku menerima keinginan mereka ini sebagai wujud baktiku pada mereka," jelasnya.
"Wujud baktimu? Dengan cara menyakitiku?" jawabku sinis. Aku mulai muak dengan semua ini.

Aku tak tahan lagi. Seiring dengan bulir air mata yang jatuh, aku berlari kencang. Tak kuhiraukan pandangan heran kawan-kawan melihatku berderai air mata. Satu yang ingin kutuju, Ibu. Kulihat sosok Ibu dari kejauhan, semakin kencang aku berlari menujunya. Seketika kupeluk Ibu dengan erat, kukeluarkan semua beban yang sedari tadi kutahan. Tak peduli make upku luntur, tak peduli sekeliling heran melihatku, aku hanya ingin menangis di pelukan Ibu.

******

Dan inilah aku, si gadis yang dua tahun lalu menangis hebat di pelukan ibu. Sekarang tangisan itu berganti menjadi senyuman. Aku duduk di samping sosok laki-laki yang dipilihkan orangtua untukku. Trauma mendalamku terhadap kegagalan pernikahanku lalu membuat orangtuaku khawatir. Akhirnya setelah menemukan yang tepat, mereka segera menikahkanku dengan pilihan mereka.
Inilah laki-laki pilihan itu, Joko namanya. Mas Joko saat ini tengah terduduk di pinggiran kasur bersamaku, tangan kirinya menggenggam tanganku, tangan kanannya sibuk membetulkan poniku yang berantakan.

"Dik, sholat dua rakaat yuk," ajaknya memecah lamunanku.
Aku tersenyum dan mengangguk. Ia bangkit dan mulai berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
"Mas, terimakasih untuk menjadi laki-laki pilihan Allah untukku. Terimakasih untuk bersedia menua bersamaku," ujarku tiba-tiba, mengagetkannya.
Ia berhenti, menoleh lalu tersenyum manis sekali.
"Uhibbuki fillah,dik!" serunya.

Yaa Rabb, aku mencintainya! Mencintai ia yang dengannya syurga-Mu terasa semakin dekat. Aku cinta Mas Joko, tapi bukan Joko Widodo. Hehe.


Tegal, di atas kereta menuju Jakarta
Ahad, 26 Agustus 2018

#day5
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Sabtu, 25 Agustus 2018

Pacaran itu Rugi!



Sabtu 25 Agustus 2018 adalah hari yang sangat bersejarah bagi salah satu sahabatku, sebut saja namanya El. Pada hari ini El resmi menjadi seorang istri dari lelaki pujaannya. Berangkat dari kota Malang pukul 3 pagi, akhirnya aku sampai di rumah El pada pukul 9 pagi. Rumah El terletak di sebuah desa di pesisir pantai utara Lamongan. Cuaca di desa itu cukup panas, sehingga membuatku bersegera masuk ke dalam rumah El.

Di dalam rumah El tampak jelas kesibukan yang ada. Mulai dari para koki, sanak saudara, juga kru studio foto yang riwa-riwi. Tak menunggu lama segera kupeluk El dan kuucapkan selamat atas pernikahannya. El tampak sangat cantik dan anggun dalam balutan gaun putih yang elegan.

Akad nikah yang direncanakan pukul 8 pagi harus diundur karena penghulunya antri, menikahkan pasangan-pasangan di desa-desa lain.
Sembari duduk dan menemani El menanti penghulu, aku mengajak El berbincang ringan.

"Hey, deg-degan ya kamu?" tanyaku.
"Iyaaa. Mulai deg-degan nih," jawab El.
"Akhirnya ya El. Nikah juga kamu. Hehe," candaku.
"Iya nih. Tau nggak? Kadang aku suka nyesel kenapa dulu-dulu itu aku pacaran ya. Toh ternyata jodohku bukan pacarku hehe," lanjut El.
"Wah iya juga ya. Udah berapa mantanmu?" tanyaku.
"Banyak hahaha. Makanya nyesel banget ih. Coba dari dulu aku tau nikahnya bakal sama siapa. Pasti aku nggak bakal pacaran sama orang lain," ujarnya bercanda.
"Haha masalahnya kita nggak tau jodoh kita siapa. Ya kan?" jawabku.
"Iya benar. Makanya nggak usah pacaran deh. Mending langsung nikah aja. Nanti pacarannya habis nikah aja," jelasnya.

Percapakan singkat antara aku dan El tersebut seketika membuatku termenung. Pikiranku mencerna seluruh perkataan El tadi. Dan El memang benar,  aku pun menyadari semua yang dikatakan El tadi benar adanya.

Berapa banyak waktu yang terbuang sia-sia hanya untuk pacaran? Berapa banyak uang yang terbuang mubadzir untuk pacar kita? Dan berapa banyak dosa yang sudah kita dapatkan dari berpacaran? Naudzubillah. Membayangkannya membuatku bergidik.

Di zaman modern ini, oleh sebagian masyarakat awam, berpacaran dianggap sebagai salah satu kewajiban yang harus dilakukan sebelum menikah. Katanya supaya saling mengenal antara keduanya. Hey, pacaran itu banyak palsunya. Ya kan? Ketika pacaran yang kelihatan terkadang hanya indahnya, hanya manisnya, hanya baiknya. Sifat-sifat aslinya muncul ketika setelah menikah. Iya lah, namanya juga cinta karena nafsu. Pasti akan banyak ketidakjujuran dan kepura-puraan.

Tapi kalau belum timbul cinta gimana? Harus pacaran dulu kan sebelum nikah untuk menimbulkan rasa cinta itu.
Apakah benar? Lantas kenapa ada pasangan yang sudah lama berpacaran ternyata putus dan nikahnya sama orang lain? Atau seperti kasus temanku, sudah berpacaran selama 8 tahun, kemudian menikah selama 5 tahun, akhirnya kini bercerai setelah banyak permasalahan dalam rumah tangganya.

Hey, pacaran itu tak menjamin cinta. Karena cinta ketika pacaran mayoritas penuh kepalsuan. Lain dengan menikah yang niatnya untuk beribadah. Jika tujuan menikah adalah untuk menyempurnakan agama, otomatis Allah menjadi tujuan bersama. Jika Allah sudah menjadi tujuan, niscaya segala permasalahan yang terjadi akan dikembalikan kepada Allah. Akan dicari solusi dan jalan yang terbaik sesuai syariat Islam. Benar begitu?

Wahai para jomblowan jomblowati, berbahagialah atas kesendirian kalian. Pertahankan itu. Jangan gunakan waktu kalian untuk pacaran, itu semua membuang-buang waktu.
Nikmatilah kesendirian kalian, jadikan kesendirian itu sebagai ladang untuk berbuat kebaikan dan beribadah sebanyak-banyaknya.
Mendekatlah kepada Allah, mintalah jodoh yang terbaik menurut Allah. Karena apa-apa yang baik bagimu belum tentu baik menurut Allah, begitupun sebaliknya. Allah lebih tau mana yang lebih baik untuk kita, dan kapan waktu yang pas untuk kita bertemu dengan sang jodoh.
Karenanya, teruslah menjadi semakin baik di setiap harinya. Kelak di waktu yang tepat, kau akan bertemu dengan jodohmu dengan keadaan yang terbaik pula.

Kata seorang ustadz, pernikahan itu adalah ibadah, mendapat pahala. Masa kita mau melakukan ibadah pakai cara maksiat dulu sih, pacaran? 

Untuk yang sudah pernah pacaran, bertaubatlah. Putuskan sekarang! Pacarmu belum tentu jodohmu.
Jika dia memang laki-laki yang baik dan menyayangimu, ia tidak akan mengajakmu dalam jurang kemaksiatan. Pasti ia akan secara gentle mendatangi orangtuamu, memintamu dengan baik dan santun. 

Percayalah, cinta karena Allah adalah sebaik-baiknya cinta. Ketika itu semua dikemas dalam bentuk pernikahan, niscaya akan mengalirlah pundi-pundi pahala bagi kita. Meraih cinta-Nya dengan cara mencintai hambanya karena Allah. :)

#day4
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Jumat, 24 Agustus 2018

Belajar dari Pohon Jeruk



Kota Malang hari ini dingin. Saking dinginnya, pukul 11 ketika aku dan ibu serta teman ibuku berangkat menuju kebun jeruk yang tak jauh dari rumah, kami masih kedinginan. Setelah menempuh 15 menit perjalanan, motor kami memasuki gapura yang bertuliskan 'Desa Wisata Selorejo'. Bagi sebagian warga Malang, kawasan ini sudah tak asing lagi. Terletak di dataran tinggi kecamatan Dau, desa Selorejo ini menjadi tempat yang cocok untuk menanam jeruk. 

Akhir-akhir ini memang pesona jeruk Malang mengalahkan pesona apel Malang yang sudah menjadi icon dari kota Malang sendiri. Bulirnya yang besar, rasanya yang manis dan segar serta harganya yang lebih murah dari apel, menjadikan jeruk sebagai oleh-oleh favorit para wisatawan yang berkunjung ke Malang. Jangankan para wisatawan, kami yang warga Malang saja ketagihan untuk mencicipi buah jeruk ini.

Seperti siang ini, ibu mengajakku pergi ke Selorejo untuk menemani temannya yang anaknya akan kembali ke pesantren. Buat oleh-oleh katanya. Setelah sampai di tujuan, ibu segera menyapa penjual jeruk di salah satu kios yang terletak di tepi jalan. Setelah tawar menawar harga, bapak tersebut akhirnya memberikan tarif sebesar Rp 15.000 kepada kami untuk memasuki kebun jeruk dan makan buah jeruk sepuasnya. Dengan berbekal pisau dan plastik, kami segera berpencar mencari pohon jeruk yang banyak buahnya.

Setelah sempat memilih beberapa pohon, aku menemukan sebuah pohon yang nampak ranum buahnya. Segera kupetik satu, lalu kubelah dengan pisau. Sari jeruk yang menetes dari celah-celah belahannya membuatku tak sabar ingin segera menyantapnya. Setelah mengucap basmallah, aku pun melahapnya. MasyaAllah nikmat. Tak terasa sudah habis satu buah kunikmati. 

Kuambil lagi buah kedua, kali ini tak sekuning yang pertama, tapi kuyakin rasanya pasti manis. Tak berlama-lama segera kugunakan pisau untuk membelahnya. Suapan pertama membuatku membelalak, alamak kecut!Saking asamnya rasa jeruk tersebut, aku sampai bergidik dibuatnya.
Heran ya! Bagaimana bisa dari satu pohon yang sama rasanya buahnya ada yang tidak sama.

Sepanjang perjalanan pulang dari kebun jeruk, aku merenungi kejadian tadi. Sebuah pohon jeruk yang diciptakan Allah begitu kokoh dan banyak buahnya, ternyata bisa memiliki rasa buah yang bermacam-macam. Entah apakah karena faktor tanah, udara, cahaya ataupun nutrisi yang diterima, yang jelas dari hal tersebut membuatku mendapat satu pelajaran.

Pelajaran tersebut selaras dengan kondisi yang terjadi pada sekolah tempatku mengajar. Sekolah kami yang baru berdiri 3 tahun lalu, Alhamdulillah sudah memiliki kurang lebih 240 siswi. Seluruh siswi di situ memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Jeruk yang tadinya berasal dari satu pohon yang sama saja bisa berbeda rasa. Para siswi ini berasal dari berbagai orangtua dan latar belakang keluarga yang berbeda, sudah tentu banyak terdapat perbedaan di antara mereka. Perbedaan-perbedaan itulah yang terkadang menjadi pemicu terjadinya masalah di antara mereka. Adalah suatu hal yang wajar menurut penulis. Karenanya menjudge anak yang melakukan kesalahan atau melabeli mereka dengan hal-hal yang buruk adalah sebuah kesalahan besar.

Posisiku sebagai wakil kepala sekolah bagian kesiswaan tentu saja sering berhadapan dengan berbagai macam kasus yang terjadi. Terlebih lagi sekolah ini bersistem boarding school. Sudah tentu permasalahan yang dihadapi lebih kompleks daripada sistem fullday.

Namun kupahamkan dalam diri ini dan juga kupahamkan pada seluruh guru di sekolah, bahwa setiap anak itu berbeda. Setiap anak itu indah dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Karenanya tidak boleh seorang pendidik maupun orangtua dan masyarakat memberikan label atau judge kepada seorang anak. Apalagi label tersebut bermakna negatif. Pasti hal tersebut akan berdampak pada psikologi anak, tentu saja membuat anak merasa down.
InsyaAllah terkait hal ini akan penulis bahas lebih lanjut di lain kesempatan.

Akhirul kalam, hargailah setiap anak. Terimalah kekurangannya, dan berikanlah apresiasi terhadap kelebihannya. Setiap mereka sedang berproses, maka jadilah pihak yang membantu proses mereka tersebut. Rangkul mereka dan bimbinglah mereka untuk tetap berada dalam jalan yang benar pada setiap prosesnya.
InsyaAllah kelak, anak-anak itu akan tumbuh menjadi anak yang membanggakan, akan menjadi generasi penerus bangsa yang kita butuhkan.

#day3
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Kamis, 23 Agustus 2018

Tips Supaya Kondangan Tidak Baper.



Bulan Dzulhijjah = Bulan Pernikahan.
Pernah dengar nggak sih kalimat di atas?
Kalau penulis sih sering banget. Hal itu didukung dengan terjadinya penumpukan undangan di bulan Dzulhijjah ini. Kamu juga kah? Hehe.

Tenang, slow, don't worry. Nggak usah panik dengan antrian undangan yang seakan mengusik batin kita, para jomblowan dan jomblowati. Haha.

Kali ini saya akan sedikit berbagi kisah tentang perjalanan hari ini, tepatnya Kamis 23 Agustus 2018 yang bertepatan dengan 11 Dzulhijjah 1439 H.

Sepagian itu aku sudah melaju dengan kecepatan tinggi di atas motor, membelah jalanan kota Malang yang masih sepi. Dinginnya udara menembus jaket dan membelai kejam kulitku. Setelah perjalanan sekitar 15 menit, sampailah aku di sebuah TK yang menjadi titik perkumpulan hari ini. Perkumpulan apa? Yap, hari ini aku dan teman-teman sengaja menyarter mobil beserta sopir (teman kami sendiri agar murah) untuk menuju Kediri. Sebuah kota yang berjarak kurang lebih 3 jam dari kota Malang. Sebuah kota yang akan kami tuju untuk mendatangi sebuah acara pernikahan teman kami di dalamnya.

Setelah semua rombongan lengkap, perjalanan pun dimulai. Sepanjang perjalanan menuju kediri, aku terlibat diskusi dengan seorang temanku yang sedang hamil. Kami bersahabat sejak kecil, karena orangtua kamipun saling dekat. Dia menceritakan bagaimana proses pernikahannya, diwarnai dengan tangis dan kegalauan, namun diakhiri dengan kebahagiaan. Dia juga menceritakan kehamilannya, yang katanya berat capek tapi bahagia. Terlihat wajahnya berseri-seri setiap bercerita episode hidupnya yang membahagiakan itu. Kami para jomblo akhirnya terbawa suasana dan ikut merasa bahagia juga.

Setelah perjalanan kurang lebih 3 jam, akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Nampak terop berwana pink dan hijau berdiri kokoh di depan rumah sang pengantin. Setelah merapikan baju yang agak kusut karena perjalanan, kami pun mulai memasuki tempat acara. Suasana kampung yang hangat terasa sejak kami masuk. Para penerima tamu yang merupakan tetangga dan keluarga mempelai mempersilahkan kami masuk dan memberi kami kudapan. Setelah mengucapkan terimakasih, kami segera menuju tempat pelaminan di mana kedua mempelai sedang duduk manis.

Aaah bahagia rasanya. Momen seperti itu mungkin sudah sering teman-teman alami. Atau bahkan di bulan ini jadi lebih sering teman-teman alami? Haha. Karena sudah masyhur di masyarakat bahwa bulan dzulhijjah atau bulan haji adalah bulannya nikah. Jadi jangan heran kalau di mana-mana bertebaran terop. Saya sendiri mendapat lebih dari lima undangan di bulan ini. Haha.
Lalu ada sebuah celetukan teman, "Emangnya nggak baper tuh datengin kondangan mulu? Sendirian lagi? Pasangannya mana?".
Celetukan seperti itu sering mampir di telinga para jomblowan dan jomblowati yang istiqomah dateng ke pernikahan teman-temannya. Apa jawabannya? Baper kah?
No! Jangan baper dong! Nggak perlu sedih nggak perlu baper dan meratapi nasib.

Di sini penulis akan coba bagi-bagi tips gimana sih supaya ketika datang kondangan terus menerus kita tidak baper :)

Tips ini didapat setelah penulis sudah mengalami tahun-tahun kebaperan setiap datang kondangan. Akhirnya setelah menjalankan tips-tips ini, penulis tak lagi baper.
Penasaran apa aja tipsnya? Simak yuk!

1. Perbaiki Niat
Nah, niat adalah hal yang paling penting dalam setiap perbuatan. Bahkan dalam kitab kumpulan hadits Arba'un Nawawi, hadits tentang niat diletakkan di awal. Ada yang tau kenapa? Yups. Karena setiap perbuatan kita berdasarkan niat. Jika niat kita tidak baik maka perbuatan yang kita lakukan meskipun itu baik pasti akan sia-sia. Misal nih ya, niat kita dateng ke nikahan teman hanya untuk ngehina dia karena suaminya jelek (Naudzubillah).

Atau misal kita dateng ke nikahan teman hanya karena pingin nyicipin makanannya (biasanya akhir bulan bagi anak kos, hehe). Ada juga nih dateng ke nikahan temen niatnya untuk foto ala-ala jomblo ngenes sama pengantin terus diupload di IG (hayoo yang narsis). Nah niat-niat yang kurang baik seperti itulah yang harus dihindari. Usahakan niat harus tertata rapi ketika akan berangkat dari rumah, misal niat datang karena untuk menghadiri undangan teman dan ingin mendo'akan kedua mempelai secara langsung. Wah dijamin deh, sepanjang acara kamu nggak akan gondok mikirin 'kapan ya saya nikah'. Hehe.

2. Usahakan Ajak Teman
Biasanya kesendirian itu membawa kegalauan, ya nggak sih? Soalnya pernah nih penulis beberapa kali mendatangi nikahan teman sendirian. Enaknya sih kalau di tempat nikahan ketemu juga dengan orang yang kita kenal. Lha kalo enggak? Yah walaupun tetap bisa menikmati hidangan, tapi hidangan berasa hambar gitu. Secara makan hidangannya sambil ngeliatin ke arah kursi pelaminan di mana kedua mempelai sedang bersenda gurau mesra, haha. Siomay yang biasanya kerasa lezat jadi hambar karena dimakannya sambil baper ngelihat manten mesra-mesraan.

Lain cerita kalau bawa teman, kita bisa makan sambil cerita-cerita. Terus mesra-mesraannya pasangan mempelai nggak begitu ngefek karena diselingi senda gurau sama teman. Eits, tapi jangan bawa teman yang baperan lho ya. Penting ini. Kalau bawa teman yang baperan sama aja bohong dong. Malah jadinya nanti baper berjama'ah. Hehehe.

3. Bersyukur
Hal ini terlihat sepele tapi efeknya sangat dahsyat. Pernah nggak sih ketika kita kondangan, kita bersyukur? Kayaknya jarang ya? Malah kadang sibuk mengeluh. 'Kenapa ya aku ngenes amat, belum nikah sampai sekarang'. 'Kapan ya aku nyusul mereka?' 'Ini kenapa sih makanannya kurang enak'.
Pernah nggak kita coba ganti keluhan-keluhan itu dengan ucapan syukur?
'Mungkin aku belum bertemu jodohku karena Allah ingin aku menyelesaikan skripsiku dulu ya, Alhamdulillah ada kesempatan menyelesaikan skripsi'. 'Alhamdulillah kesendirianku saat ini bisa kugunakan untuk mengembangkan hobiku. Kalau sudah menikah pasti harus lebih fokus dengan rumah tangga'. 'Alhamdulillah masih diberi kesempatan makan kebab dan siomay, biasanya makannya cuma indomie, maklum anak kos'.

Hal-hal sekecil apapun kalau kita syukuri pasti akan terasa besar. Pernah dengar kan firman Allah? Yang artinya "Jika kalian bersyukur, niscaya akan Aku tambah".
Nah, dengan kita bersyukur terhadap sebuah nikmat, niscaya Allah akan menambah nikmat-nikmat itu. Jika kita bersyukur atas kesendirian, lalu Allah melihat kesungguhan kita mensyukuri nikmat-nikmatNya, siapa tau akhirnya Allah memutuskan untuk mempertemukan kita dengan sang jodoh yang misterius. Hehe.

4. Perhatikan untuk jadi Referensi
Biasanya kaum jomblo ketika datang nikahan hanya fokus di beberapa hal tertentu, makanannya atau pelaminannya, atau jangan-jangan malah fokus cari incaran? Haha, jangan dong. Godhul bashor alias tundukkan pandangan. Tips dari penulis, untuk menghindari kebaperan, sebaiknya kamu gunakan waktu untuk memperhatikan detail-detail di acara pernikahan tersebut.

Silahkan dicoba beberapa tips di atas!
Semoga nggak baper lagi ya tiap kondangan.
Percayalah, kelak ada masanya kamu juga duduk di pelaminan itu dengan orang terbaik yang sudah dipilihkan Allah untukmu. :)

#day2
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Rabu, 22 Agustus 2018

Sudah kurban?




الله أكبر ، الله أكبر ، الله أكبر.
الله أكبر ولله الحمد.

Gema takbir bergaung di seantero kota Malang. Speaker-speaker masjid sudah bersautan sejak semalam, berlomba-lomba menyerukan asma Allah dan puji-pujian.  Seperti di pagi yang syahdu ini, asma Allah memenuhi langit-langit. Dinginnya kota Malang tak menyurutkan semangat para kaum muslimin untuk menuju lapangan atau masjid terdekat. Rasa malas di pagi hari harus disingkirkan jauh-jauh, karena di pagi ini para kaum muslimin ingin mendapatkan kesempatan melaksanakan shalat ied berjama'ah.

Aku dan orangtua memilih menggunakan sepeda motor menuju salah satu tempat penyelenggaraan sholat ied yaitu di lapangan Universitas Muhammadiyah Malang. Lautan manusia tampak memadati lapangan rumput dan jalanan kampus. Lantunan takbir dari pengeras suara mengiringi setiap langkah para jama'ah. 

Tak berapa lama, shalat dimulai dengan khusyuk. Nampak sang imam membacakan ayat tentang nabi Ibrahim dan Ismail. Setelah sholat dua rakaat berakhir, petugas yang ditunjuk untuk khutbah berdiri di mimbar, dan mulai menyampaikan khutbahnya. Isi khutbah diawali dengan pujian kepada Allah, rasa syukur atas nikmat yang diterima oleh kaum muslimin. Kemudian khutbah membahas tentang asal muasal disyariatkannya ibadah kurban, lalu hakikat dan makna kurban itu sendiri.

Di tengah-tengah khutbah, sembari memandangi langit biru yang bersih, pikiranku melayang. Membayangkan bagaimana perasaan para hewan kurban yang sebentar lagi akan dieksekusi. Membayangkan pisau tajam membelah urat di leher mereka. Membayangkan darah segar muncrat kemana-mana. Iihh. Membayangkan itu semua membuatku bergidik.

Aku memang takut dengan darah, otomatis setiap tahun selalu tidak tega melihat pengeksekusian para hewan kurban tersebut. Jadilah setiap hari raya Idul Adha, aku mengurung diri di rumah demi menghindari pemandangan-pemandangan horor, hehe.
Lepas dari semua itu, pikiranku mulai melayang lagi, kali ini tentang list hewan kurban yang semalam kubaca dari grup whatsapp sekolah tempatku mengajar. Alhamdulillah antusiasme para wali santri untuk berkurban bersama sekolah cukup tinggi. 

Lalu aku termenung, membayangkan betapa bahagianya orang-orang yang bisa berkurban tahun ini. Pastilah mereka senang karena bisa menjalankan syariat Allah, dan senang karena bisa berbagi. Aah ingin deh rasanya. Walaupun takut dengan eksekusi hewan kurban, tapi bukan berarti aku tidak mau berkurban lho. Mau kok! Mau banget malah! Semoga tahun depan ada rezeki, sepertinya harus mulai menabung dari sekarang nih.
Kalau kalian bagaimana?
Sudah berkurban kah tahun ini?
Jika belum, semoga Allah memberikan kemudahan agar tahun depan bisa berkurban ya!

Ngomong-ngomong soal kurban, aku jadi ingat dengan tulisan yang muncul di timeline instagram semalam. Bunyinya adalah : "Tahun ini kurban perasaan dulu deh, semoga tahun depan bisa kurban beneran".
Wah wah, tulisan-tulisan seperti itu diindikasi berasal dari para jomblo, haha.
Menurut kalian bagaimana dengan tulisan tadi? Atau jangan-jangan kalian juga korban perasaan ya? Hehe.

Daripada kurban perasaan, kenapa tak kita kurban waktu saja?
Iya kurban waktu! Kurbankan waktu kita untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat.
Maksudnya?

Gini lho, dalam sehari kita memiliki 24 jam. Sebenarnya itu waktu yang sedikit lho. Sedikit kalau kita bisa memanage-nya demi kebaikan-kebaikan. Bayangkan, 24 jam itu harus kita bagi-bagi untuk sekolah atau kuliah, sholat, membaca al-qur'an, berdzikir, mandi, makan, tidur. Itu baru hal-hal untuk diri kita sendiri. Belum lagi kita harus membantu orangtua, menemani adik belajar, menyelesaikan skripsi, atau kerja bagi yang sudah kerja. Sekolah, kuliah dan kerja sendiri membutuhkan waktu paling sedikit 6 jam dalam sehari. Aduh, rupanya banyak sekali yang harus kita lakukan dalam sehari ya. 

Nah, apakah 24 jam yang kita punya itu sudah bisa kita bagi untuk hal-hal tersebut?
Ingat lho, sebisa mungkin lakukan yang baik dan bermanfaat. Percuma kalau hanya baik tapi tidak ada manfaatnya bagi kita maupun orang lain. Usahakan juga hal-hal baik yang kita lakukan itu mampu membuat kita menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta.

Sepertinya terkait mengatur waktu butuh pembahasan tersendiri ya. Hehe.
InsyaAllah di lain waktu akan coba dibahas ya. Sebagai motivasi juga buat aku supaya bisa mengatur waktu. 

Hal baik belum tentu bermanfaat, tapi hal yang bermanfaat sudah tentu baik. Gunakan 24 jam kita untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat, bukan hanya untuk kita pribadi ataupun hubungan kita dengan manusia lainnya, tapi juga untuk hubungan kita dengan Allah.

Oya, semoga tahun depan kita semua bisa berkurban ya! Sebagai tips, coba sisihkan perhari dua ribu sampai lima ribu perhari. Silahkan dicoba :)

#day1
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Nulis itu bikin nagih!!!


بسم الله الرحمن الرحيم

Setelah jilid 13 yang bikin nagih, akhirnya ikutan jilid 14 😀

Tulisan-tulisan selama jilid 13 belum sempat di upload. Next yah!

Semoga 30dwc ini memberi perbaikan dalam diri ini sehingga terbiasa menulis bukan karena paksaan. Hehe.

InsyaAllah akan ada target baru di jilid 14 ini. Bismillah.

#declaration #30dwc #30dwcjilid14 #squad1