Kamis, 20 September 2018

(Bukan) Akhir Cerita

Day 30!
Akhirnya sampai juga di penghujung jilid 14 ini.
Rasa-rasaya baru kemarin mulai day 1.

Rabu, 19 September 2018

Tidak Harus dengan Air Mata





Sebuah sore yang cerah di Kota Bogor. Sembari melangkahkan kaki keluar dari ruang guru, pandanganku menangkap aktivitas sore para santri. Sebagian ada yang duduk dan berkumpul di lapangan untuk menghafal ayat-ayat Qur'an lalu menyetorkannya kepada guru tahfidz masing-masing. Beberapa lainnya yang sudah selesai, nampak berjalan-jalan menikmati suasana sore sambil menunggu waktu berbuka puasa. Hari ini memang seluruh santri diwajibkan untuk puasa 9 Muharram. Tiba-tiba beberapa santri datang dan memelukku dari belakang. Celoteh riang mereka menyapa namaku, membuatku tak bisa menahan untuk tidak mengelus-elus kepala mereka.

"Ustadzah, menu buka puasanya apa yaa?" tanya Alula.

"Kayaknya ayam goreng kremes deh," jawabku tersenyum.

"Yaah ayam goreng lagi," jawab Keke, sambil memonyongkan bibir, tanda protes.

"Hei, memangnya kenapa kalau ayam lagi? Enak kan!" jawabku dengan sedikit tertawa, melihat mulut monyong Keke.

"Ah ustadzah, kita bosen menunya ayam lagi," jawab Audi.

"Lho sayang, ingat. Ustadzah pernah bilang apa tentang kunci menuntut ilmu?" tanyaku menyelidik.

"Tekun, sabar dan syukur ya Ustadzah?" celetuk Kayla.

"Nah itu tau. Benar sayang. Syukur itu membuat kita merasa bahagia. Syukur juga membuat kita nyaman menjalani hari-hari sebagai penuntut ilmu di pesantren," jelasku sembari menatap lembut mereka satu persatu.

"Hmm iya deh Ustadzah," jawab Adinda.

"Sekarang syukuri ya lauk apapun yang ada di dapur, barangkali di luar sana banyak orang yang nggak bisa makan lho malam ini," jelasku sambil mengelus punggung Kayla.

Mereka terdiam, berusaha mencerna setiap kata-kataku.

"Nah sekarang, ada kabar baik untuk murid-murid ustadzah yang pandai bersyukur," ujarku dengan merendahkan suara. Membuat mereka penasaran.

"Apa ustadzah?!" tanya mereka serempak.

Aku tertawa, gemas melihat tingkah laku mereka.

"Dua pekan lagi, setelah Ujian Tengah Semester selesai, kalian libur tiga hari dan boleh pulang ke rumah!" jawabku riang.

"Yeaaayy, Alhamdulillah! Sayang ustadzah Nida!" teriak mereka sambil memelukku bersamaan.

Aku tertawa. Menikmati serbuan pelukan mereka yang bertubi-tubi. Kuresapi kehangatan pelukan-pelukan ini.

"Hey! Istahmamtunna yaa Akhawat?" celetukku tiba-tiba.

"Hehe, Lam nastahim Ustadzah," jawab mereka sambil nyengir.

"Astaghfirullah. Mandi sekarang! Baunya sudah kemana-mana nih," candaku sembari menutup hidung dengan jemari.

Akhirnya mereka menyalimiku satu persatu, kemudian melesat cepat menuju kamar mandi untuk mulai mengantri. Kupandangi dari kejauhan jilbab-jilbab lebar mereka yang berkibar tertiup angin sore. Pikirku melayang.

Kuhitung hari, terasa begitu cepat perguliran waktu. Rasanya semakin hari semakin berat. Rutinitas yang biasanya terasa begitu menyenangkan, kini semakin berat kujalani. Bukan karena tak sanggup, justru karena kuingin terus menikmatinya. Namun apa daya, takdir telah tertulis. Perpisahan itu harus terjadi.

Siapa sangka yang tadinya kuingin habiskan beberapa tahun di sini, yang tadinya kuingin menemani santri-santri kelas 9 UNBK dan wisuda, ternyata semua itu harus terkubur dalam-dalam. Berat sekali rasanya. Waktu satu tahun telah membuatku begitu mencintai pesantren ini, setiap sudutnya, dan orang-orang di dalamnya.

Murid-muridnya, yang semua canda tawa mereka, peluk hangat mereka, celoteh-celoteh riang mereka, akan selalu terkenang. Guru-gurunya, teman-teman seperjuangan, yang dengan mereka aku belajar bagaimana menjadi guru yang baik. Dari mereka aku belajar bagaimana mendidik dengan hati. Kepala sekolahnya, yang sosoknya seumpama ibu bagiku, yang mengajariku untuk tangguh mengerjakan berbagai tugas.

Bahkan sudut kelas, lorong, tangga, lapangan, musholla, kamar santri, dapur, dan ruangan-ruangan lain di pesantren ini memiliki kisahnya masing-masing.

Kini, izinkan aku mengemas semua kisah indah itu dengan manis. Kemudian kuletakkan di relung hati terdalam. Menemaniku di tempat baru kelak, dengan murid-murid yang baru. Tentu takkan bisa terganti, karena pesantren ini sudah menempati sebuah sudut di relung hatiku.

Nak, percayalah, perpisahan ini tidak harus dengan air mata kan?
Bisakah kita lalui ini semua dengan senyuman dan pelukan hangat?
Tolong peluk ustadzah sekali lagi.
Sebelum kelak pelukan kalian akan begitu ustadzah rindukan.


___________________
Bogor, 19 September 2018 / 9 Muharram 1440 H
Nida
Yang mencandui pelukan kalian
___________________

#day29
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

____________________

Istahmamtunna yaa akhawat? = Sudahkah kalian mandi?
Lam nastahim = Kami belum mandi
____________________


Peluk manjah





Nyengir minta difoto


Suasana khusyuk tahfidz sore


Pelukan mereka


Dalam balutan seragam pink







Senin, 17 September 2018

Matahariku




Taukah kalian di manakah kota hujan itu? Ya! Bogor. Di sinilah aku sekarang. Di kota yang disebut kota hujan karena curah hujannya tinggi. Seperti pagi ini, hujan kembali mengguyur dengan derasnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.40. Itu artinya 20 menit lagi bel di sekolah tempatku mengajar akan berbunyi. Aku masih berdiri di depan pintu. Mematung memandang ke depan, jalanan basah. Rintik hujan itu terdengar merdu bagiku. Hujan memang selalu menyenangkan untuk dinikmati. Biasanya aku paling senang menghabiskan waktu di bawah tetesan air hujan. Membiarkan bulirnya membasahi diri ini sungguh menenangkan.

Namun, suasana pagi ini sangat tidak cocok untuk melakukan semua itu. Aku ada jadwal mengajar di jam pertama. Seharusnya saat ini diriku sudah berada di sekolah. Tapi hujan deras di luar sana menahanku untuk pergi. Jas hujan yang tergeletak di depanku hanya kulirik. Ada apa gerangan?

Kriiing. Dering handphone membuyarkan lamunanku.
Kulirik tulisan yang tertera di layar.
❤ Zawji ❤ memanggil.

"Halo, Assalamualaikum, mas!" ucapku setelah cepat-cepat mengangkat panggilannya.

"Waalaikumussalam, dek! Sudah di sekolah?" tanya suara di seberang.

"Belum nih mas! Hehe" jawabku.

"Loh lok belum dek? Bukannya semalam adek bilang ada mengajar di jam pertama?" tanyanya lagi.

"Iya mas. Tapi lagi hujan nih. Deres banget. Tadinya mau berangkat, tapi karena deres  banget, makanya sampai sekarang belum berangkat deh," jelasku panjang.

"Loh, bukannya adek ada jas hujan?" tanyanya heran.
"Iya ada mas. Tapi nanti kalau adek kedinginan terus sakit gimana hayo?" balasku.

"Haha, adek nih bisa aja. Lagian kan sekolahnya dekat dek. Nggak sampai sepuluh menit kan?" jawabnya.

"Hmm iya sih. Tapi...hmmm," aku mulai ragu menjelaskan.

"Adek lagi nggak mood? Malas ngajar?," tanyanya. Seakan bisa membaca pikiranku.

"Hehe kok mas tahu sih?" jawabku nyengir.

"Iyalah. Pasti adek masih kebawa suasana bulan madu kita kemarin kan? Hayoo," tanyanya sambil menggodaku.

"Hihi mas ih. Adek kangeeen," jawabku manja. Pasti pipiku memerah saat itu.

"Adek sayang, kamu kan baru dua minggu ngajar setelah cuti hampir 3 minggu. Masak sekarang sudah malas ngajar lagi sih? Gini lho sayang, murid-muridmu itu kangen sama kamu. Kangen sama guru kesayangan mereka. Masak kamu tega sih bikin mereka nggak bisa belajar hari ini? Kan mereka pengen dapet ilmu dari kamu. Nanti, pulang sekolah kita video call ya. Terus akhir bulan nanti InsyaAllah mas kesana. Kita jalan-jalan di sana ya, melanjutkan bulan madu lagi hihi. Jadi, adek nggak boleh males ya. Gunakan kesempatanmu ini untuk berbagi ilmu dengan murid-muridmu. Sebelum nantinya kamu berbagi ilmu dengan anak-anak kita. Mas yakin kamu pasti bisa jadi guru yang hebat dan ibu yang baik. Ya sayang?" jelasnya panjang lebar.

Aku terdiam. Dadaku menghangat. Air mataku mulai meleleh perlahan, turun mengalir membasahi pipi.

"Halo dek? Kok diem? Dek?" panggilnya dari seberang.

"Hiks, hiks, hiks"

"Lho kenapa nangis sayangku? Mas ada salah kata ya? Maaf ya dek?" tanyanya dengan nada khawatir.

"Nggak kok. Mas nggak salah. Adek cuma terharu. Tiada hentinya adek bersyukur Allah neri suami kayak mas untuk melengkapi adek. Makasih mas," jawabku terharu.

Ia adalah lelaki yang sudah resmi menjadi suamiku sejak satu bulan lalu. 

Biarlah kota ini terus-terusan diguyur hujan dan dingin. Karena aku punya matahari. Ia yang selalu menghangatkanku dengan cara sederhananya mencintaiku. Ia, suamiku. Ia, matahariku.

#day27
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis





Minggu, 16 September 2018

Skenario dari Langit

Dunia maya khususnya Instagram tengah dilanda demam baper berjama'ah. Sumber kebaperan itu tak lain dan tak bukan adalah pernikahan dua selebgram yakni Anisa Rahma dan Anandito Dwi. Yang membuat sebagian besar warga instagram baper adalah karena kisah cinta mereka yang indah. Ditulis oleh Sang Sutradara terbaik di dunia ini.

Keduanya terlibat sebuah project #Singlelillah yang diproduseri oleh Kang Abay. Project itu berisikan single dan video clip yang mengisahkan tentang perjalanan seorang lelaki dan perempuan. Alik dan Nisa namanya. Keduanya memiliki jalan hidup masing-masing. Hingga akhirnya Allah mempertemukan mereka dengan cara yang tak terduga.

Lalu, terjadilah sebuah skenario yang dibuat oleh Allah. Anisab dan Anandito menikah tepat  bulan setelah project mereka selesai. Film pendek yang mereka mainkan ternyata menjadi kenyataan.

Indah bukan?
Ketika dua insan berusaha untuk saling menjaga lalu kemudian Allah satukan dengan cara-cara sederhana yang manis.

Oya, Anisa ternyata dulunya adalah seorang anggota girl band terkenal di Indonesia. Panggung bagaikan rumah keduanya. Rok mini tak jarang menjadi pakaian kesehariannya. Namun ternyata Allah mencintainya. Allah berikan hidayah yamg langsung dijemput oleh Anisa. Ia berhijrah. Kini, dalam balutan gamis dan kerudung yang menutup dada, kecantikannya semakin terpancar.

Anisa sendiri mengaku sangat nyaman dengan pakaian yang ia gunakan sekarang. Ia merasa begitu bahagia karena bisa mengenal Islam lebih dalam. Namun ternyata tidak cukup sampai disitu. Allah berikan lagi kebahagiaan untuk Anisa. Allah pertemukan Anisa dengan jodohnya. Seorang lelaki yang InsyaAllah baik nan sholeh, yang akan menemaninya, sama-sama memperbaiki diri, untuk kemudian bersama menuju surga-Nya. Lelaki itu adalah Anandito.

Anandito, lelaki yang InsyaAllah juga menjaga, berusaha untuk tetap menahan dirinya dari godaan wanita-wanita di sekitar. Ia yakin, suatu saat Allah datangkan bidadari untuknya, menemaninya, menguatkan langkahnya.

Akhirnya, skenario yang indah itu terjadi. Ratusan pasang mata menjadi saksi, bahwa keduanya disatukan Allah dalam ikatan suci penuh cinta.

Melihat semua itu, jujur membuat saya sedikit baper. Tentu saja kebaperan itu harus kita seimbangi dengan motivasi. Motivasi untuk berubah lebih baik lagi. Motivasi untuk terus menjaga.

Bersabarlah, Allah juga sedang menuliskan skenario untukmu. Nantikanlah. Kelak, temuilah pasanganmu dalam keadaan terbaikmu. Dampingi ia dengan sebaik-baiknya. Kemudian bersamailah ia, hingga kelak di tempat terbaik, tempat di mana seharusnya semua cinta bermuara, yaitu Jannah.

#day26
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis





Sabtu, 15 September 2018

Bahasa Arab. Pentingkah?

بسم الله الرحمن الرحيم
في هذه الفرصة أريد أن أتكلم عن اللغة العربية

Bisakah membaca tulisan di atas?
Bisakah memahami artinya?
Hehe. Tenang ini bukan ujian kok.

Arti dari kalimat di atas adalah : pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang bahasa Arab.

Wah. Kira-kira ada apa ya dengan bahasa Arab?
Bukankah itu pelajaran yang diajarkan di madrasah?
Lalu apa harus kita sebagai muslim belajar bahasa Arab?
Padahal kan bahasa yang mayoritas digunakan di dunia kan bahasa Inggris?

Sebelumnya izinkan saya menceritakan sedikit tentang pengalaman saya belajar bahasa Arab.

Setelah lulus dari salah satu MTs Negeri di kota Malang, orangtua memutuskan untuk menyekolahkan saya di pesantren. Meskipun di MTs dan MI dulu pernah belajar bahasa arab, namun ternyata pelajaran di pondok pesantren yang menggunakan bahasa Arab masih sulit saya pahami. Mungkin karena tingkat kesulitannya sudah berbeda ya.

Pondok pesantren  saya termasuk salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. Usianya lebih dari 8 windu. Bahasa Arab di sana dipelajari erat dengan bahasa Jawa. Terbukti dari pelajaran-pelajaran agama yang kami terima setiap bada shubuh, terjemahannya menggunakan bahasa Jawa. Bisa dikenal dengan sebutan pelajaran kitab kuning. Misal kata في akan diartikan 'Ing Dalem' atau di dalam.

Dengan kemampuan yang pas-pasan ini, ternyata tidak membuat saya paham pelajaran-pelajaran tersebut. Terlebih guru-guru yang mengajar mayoritas sudah sepuh, metode yang digunakan pun sangat monoton. Hal itu membuat saya kesulitan mengerti, dan akhirnya lulus dari pesantren itu belum mampu memahami bahasa Arab dengan baik. Istilahnya 'lulus nggak bawa apa-apa'. Padahal saya jurusan agama lho SMA nya. Miris sekali kan :(

Semasa SMA, saya memang menyukai bahasa Arab. Tapi saya merasa kesulitan untuk mengaplikasikannya dalam setiap pelajaran. Bahkan ada kejadian yang masih teringat hingga saat ini. Hari itu ada ujian lisan tafsir, yang tentu saja menggunakan buku arab gundul. Perintahnya adalah para murid maju satu persatu kepada gurunya, kemudian membacakan sebuah teks arab gundul tanpa harokat itu di depan guru, setelah itu menerjemahkan dan menjelaskan artinya.

Tentu saja momen ujian itu menjadi momok yang menakutkan bagi saya dan sebagian teman lainnya. Akhirnya, ada salah seorang teman memberikan tips.

"Pokoknya baca harokat akhirnya dhommah semua ya, baca U semua akhirnya. Pasti benar!" ujarnya kepada kami.

Kami yang saat itu sedang kebingungan, begitu bahagia mendapat tips darinya. Bodohnya, kami praktekkan tips teman kami itu. Walhasil, sang guru garuk-garuk kepala, miris dengan kemampuan murid-muridnya.

Jumat, 14 September 2018

Ungkapkan Cintamu

Cinta adalah topik yang tak pernah habis diperbincangkan. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, cinta merupakan satu hal yang tak boleh luput dari perhatian. 
Mengapa begitu? Apakah penting?
Tentu saja penting!

Bagaimana bisa seorang guru mendidik dengan hati jika tak ada cinta untuk murid-muridnya. Bagaimana bisa murid memahami pelajaran jika tak ada cinta terhadap pelajarannya. Bagaimana bisa murid hormat dan segan terhadap guru jika tak ada cinta antar keduanya?

Cinta itu dibutuhkan. Cinta itu ditumbuhkan.

Bagi guru, cinta harus hidup dan selalu tumbuh berkembang di setiap harinya. Semakin lama berinteraksi dengan murid-murid, semakin besar pula cinta yang ia berikan.

Lalu, jika sudah cinta, apa lagi yang harus dilakukan seorang guru?

Ungkapkanlah!
Nyatakanlah!

Biarkan murid-muridmu mengetahui bahwa gurunya mencintainya?
Mungkin tindakan dan bahasa tubuh bisa mengungkapkannya.
Tapi sungguh, cinta yang diungkapkan akan terasa lebih nyata, sampai ke dalam diri para murid, dan singgah di sana.
Menghangat di dalam hati-hati para murid.
Sehingga setiap mereka melihat gurunya, ada perasaan gembira.
Jika sang guru tidak ada di depan mereka, rindu terasa.
Itulah cinta.

Sebagai ilustrasi, simaklah sedikit cuplikan kisah di bawah ini.
***
Bu Lia merupakan seorang guru di sebuah sekolah swasta tingkat Sekolah Dasar. Sekolah tempat bu Lia mengajar terletak di kaki gunung Kawi, tepatnya Kabupaten Malang. Tidak terlalu pelosok, namun juga tidak bisa dikatakan terletak di kota.

Setiap harinya bu Lia harus menempuh perjalanan kurang lebih 2 kilometer menggunakan sepeda onthel. Pagi ini, keringat bu Lia bercucuran sesampainya ia di gerbang sekolah. Setelah meletakkan barang-barang di kantor guru, bu Lia berjalan menuju kelas dengan menenteng buku-buku dan alat tulis. Anak-anak yang melihat sosoknya dari jauh, segera bersiap dan bersikap rapi.

Di pintu kelas, bu Lia mengucap salam, kemudian melangkah masuk dengan senyuman indahnya. 

"Selamat pagi anak-anak!" ujarnya sambil berdiri di depan kelas.

"Selamat pagi juga bu!" jawab para murid.

"Apa kabarnya pagi ini?" tanya bu Lia dengan semangat. 

"Alhamdulillah. Luar biasa bu!" jawab mereka serempak.

"Anak-anakku sayang, alhamdulillah pagi ini Allah masih memberikan kita kesempatan untuk menghirup udara segar dengan gratis," ujarnya sambil memperagakan mengambil nafas.

Anak-anak menirukan gayanya mengambil nafas.

"Nah anak-anak, itu semua karena Allah sayang pada kita. Makanya Allah memberi kesempatan untuk tetap hidup di dunia ini. Ibu juga sayang sama kalian. Makanya ibu memberi kesempatan pada kalian untuk menimba ilmu dari apa yang akan ibu sampaikan. Kiranya kita bisa mengambil manfaat darinya," jelas bu Lia.

Para murid terdiam mendengarkan dengan khusyuk.

"Kalian tau kan betapa ibu menyayangi kalian?" tanya bu Lia antusias.

"Tau bu!" jawab mereka serempak.

"Kami juga sayang bu Lia!" celetuk salah satu murid.

"Habis bu Lia cantik sih!" celetuk murid laki-laki yang duduk di ujung.

Sontak satu kelas penuh dengan gelak tawa. Bu Lia pun tersenyum bahagia melihat tawa mereka. Pelajaran hari itu siap dimulai.
***

Coba bayangkan jika suasana kelas di atas sama seperti suasana kelas milik kita. Bahagia, ceria dan menyenangkan. Tentunya pembelajaran akan berjalan lebih efektif.

Karenanya, jangan segan mengungkapkan rasa sayang kita sebagai guru kepada murid-murid. Semoga cinta tulus dan kasih sayang yang kita berikan, sampai kepada mereka, kemudian menetap dalam hati-hati mereka. Sehingga sejauh apapun jarak dan waktu memisahkan, niscaya akan selalu saling mengenang.


Bogor, 14 September 2018 / 22.50 wib

#day24
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Kamis, 13 September 2018

Semoga Ini Tulus

Menjadi guru adalah menjadi orangtua. Menjadi guru adalah menjadi kakak. Menjadi guru adalah menjadi teman. Menjadi guru adalah siap untuk selalu ada, bagaimanapun kondisinya.

Seperti hari ini, ketika tamu bulanan datang, sudah pasti mood tak karuan. Rasanya ingin marah, ingin bermalas-malasan di kasur yang empuk. Namun apa daya, jadwal mengajar di hari itu penuh. Dari jam pertama hingga jam terakhir.


Rabu, 12 September 2018

Cinta Sehebat Itu

Oktober 2011

Memasuki dunia pesantren di masa kuliah seperti ini terasa agak aneh. Bagaimana tidak, masa kuliah yang seharusnya menjadi ajang untuk mengespresikan diri dan mencari pengalaman, nyatanya hanya menjadi angan-angan. Orangtua ku berkeinginan agar aku kuliah sekaligus menghafal Al-Quran. Karenanya, sebuah sekolah tinggi dengan basis pesantren yang terletak di Jawa Tengah ini menjadi pilihan bagi ke dua orangtua ku. Mau tak mau, aku harus menurut. Awalnya aku begitu tertekan. Namun pelajaran semakin berat, membutuhkan pemikiran dan konsentransi tinggi. Tingginya tuntutan hafalan Quran juga menjadi beban tersendiri bagi para mahasiswa. Hal itu ternyata membuat kesehatanku menurun dan sering sakit. Orangtua yang berada di Jawa Timur begitu khawatir dengan keadaanku. Ayahku, yang kutau kesibukannya begitu banyak, ternyata mengorbankan waktunya untuk menjemputku setiap aku sakit. Menempuh perjalanan kurang lebih 8 jam menggunakan bis, bukanlah jarak yang dekat. Hal itu berulang berkali-kali, sampai aku tak tega melihat ayah dalam sebulan sudah dua kali bolak-balik ke Jawa Tengah menjemputku.

Senin, 10 September 2018

Minggu, 09 September 2018

Sebaik-baik Teman

Setiap dari kita tentu memiliki teman. Bahkan mereka tak jarang memilih dulu.

Sabtu, 08 September 2018

Mamah


Persahabatan di masa SMA memang indah. Semua indah dengan kisahnya masing-masing. Izinkan aku mengisahkan milikku.

*****

Namanya Sinta, sahabat baikku. Namun aku memanggilnya mamah sebagai panggilan sayang. Ia disiplin, sedangkan aku teledor. Ia rajin, sedangkan aku terkadang malas. Ia sopan dalam berbicara, sedangkan aku sering nyablak. Ia cantik, tinggi semampai dan anggun, sedangkan aku begini adanya. Begitulah kami, seperti dua kutub yang saling berseberangan bukan? Namun kami bersahabat, ke mana-mana berdua. Kami saling menunggu satu sama lain, berusaha kemana pun berdua.

Sinta memang disiplin. Namun ia terkadang mengorbankan kedisiplinannya itu untukku. Seperti pagi ini, lagi-lagi aku terlambat. Bel masuk sekolah 5 menit lagi berbunyi. Dengan terburu-buru kupakai sepatu tanpa mengikat talinya. Nanti saja di sekolah, pikirku. Kuraih tas yang tergeletak di samping, kemudian sedikit berlari menuju gerbang pesantren. Karena sekolah kami terletak di luar lingkungan asrama, maka kami harus berjalan kurang lebih 5 menit untuk sampai di sana.

Dengan sedikit terengah kulayangkan pandangan mencari Sinta. Akhirnya kutemukan ia sedang berdiri di bawah pohon, tersenyum dan melambai ke arahku. Aku yakin ia telah menungguku di sana setidaknya sudah 10 menit. Ia dengan kedisiplinannya tentu sudah siap sedari tadi. Tapi ia sahabat yang baik. Ia rela menantiku yang teledor ini untuk berangkat sekolah bersama. Sudah pasti kami akan terlambat. Syukur-syukur kepala sekolah tidak menghukum kami.

"Maaf ya mah, terlambat lagi deh hari ini," ujarku sambil memegang tangannya. Meminta maaf atas keteledoran pagi ini.

"Nggak apa need. Santai aja! Hehe," jawabnya sambil tersenyum dan terus melangkah di sebelahku.

Begitulah Sinta. Akan tetap menungguku, meski ia harus mengorbankan waktunya. Akan tetap menemaniku, meski itu terkadang membuatnya harus mengorbankan apapun. Pernah, di suatu waktu yang kelam bagiku, ia selalu ada dan tak pernah pergi.

Sinta begitu lembut dan halus tutur katanya. Namun ia bisa berubah menjadi galak. Seperti saat itu, saat ia melabrak pacarku. Pacar? Ya! Jangan kaget! Dunia pesantren tak selalu suci. Terkadang ada sisi kelam yang memang tak seharusnya ada. Namun siapa sangka justru di usia remaja, syaitan gemar menggoda? Masa putih abu-abu bagi kami adalah masa-masa untuk bersenang-senang. Aku yang tadinya tak mengenal apa itu cinta, akhirnya terjebak jua dalam jurang kemaksiatan. Namun rupanya Allah menghukumku. Sang pacar yang tadinya kupuja-puja dan membuat hari-hariku semakin berwarna, ternyata tergoda wanita lain. Seorang siswi cantik dari kelas IPA.

Rasanya duniaku gelap. Di saat baru mengenal cinta masa SMA yang oleh sebagian orang disebut masa indah, nyatanya aku terluka. Boro-boro merasakan bagai Milea dicintai oleh Dilan demikian hebatnya, yang ada malah aku dikecewakan. Namun aku beruntung. Allah kirimkan kekuatan berwujud sahabat yang memelukku di kala sedih, yang memberikan bahunya untukku menangis, yang mengingatkanku untuk selalu bersabar dan percaya akan skenario Allah. Setelah episode labrak-melabrak, Sinta terus menemaniku. Menghapus air mataku, melukiskan lagi senyum di wajahku. Meyakinkanku bahwa laki-laki itu tidak baik dan tidak pantas untukku. Akhirnya lama kelamaan lukaku membaik.

Sinta penyayang dan setia kawan. Bahkan ia tersedu-sedu ketika kami terpaksa marahan satu sama lain. Siang dan malam wajahnya tampak murung. Bahkan tak jarang ia menangis. Aku? Tentu saja bersedih! Yang tadinya kemana-mana berdua, sekarang harus berjauhan. Yang tadinya kami saling bercerita tentang segala hal, saat itu harus diam tak bertegur sapa. Namun ternyata kami memang ditakdirkan untuk bersahabat. Buktinya kami tak kuat jika harus berlama-lama marahan. Dua hari itu sangat menyiksa.

"Maafkan mamah yaa need," ujarnya terisak sambil memelukku erat.

"Maafkan aku juga ya mah," jawabku tersedu. Kurekatkan pelukanku.

Aku ingat, setelahnya tak pernah lagi ada kejadian marahan di antara kami. Kami berdua menghabiskan hari-hari di pesantren bersama. Tak terasa kisah kami di pesantren telah sampai di penghujung perjalanan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai yang memuaskan. Kini saatnya perpisahan harus terjadi. Sekuat apapun kami menolaknya, waktu dan jarak akan tetap memisahkan kami.

Jawa Timur dan Jawa Barat adalah jarak yang lumayan jauh untuk persahabatan kami. Aku dan Sinta percaya, sahabat itu layaknya bintang. Tak selalu nampak di mata, namun kita tau, ia selalu ada di sana. Ada kalanya tertutup mendung, ada kalanya terhalang awan, tapi ia tetap di sana.

Sinta, adalah bintang untukku. Sinta tak selalu nampak, tak selalu hadir wujudnya di sisiku. Namun aku tau, Sinta akan selalu ada untukku. Bahkan meski jarak masih memisahkan kita hingga saat ini.


Bogor, 8 September 2018


#day18
#30dwc
#30dwcjild14
#squad1
#naniashmenulis


Tulisan ini kudedikasikan sebagai hadiah pernikahan sahabatku, Sinta. Selamat mah, kamu pasti akan menjadi istri dan ibu yang baik. Kita akan tetap menjadi bintang ya? Love you mah ❤









Jumat, 07 September 2018

Ini Mimpi Kita

Aku terduduk di salah satu gerbong kereta yang sedang melaju dengan kencang. Membelah hamparan hijau persawahan yang terbentang sejauh mata memandang. Setelah hampir semalaman duduk di dalam kereta ini, pagi yang cerah ini merupakan pembuka hari yang sempurna.

Dan tahukah? Laki-laki yang sedang duduk di sebelahku ini membuat pagiku semakin sempurna. Kupandangi wajah teduhnya. Ternyata ia sedang tertidur. Wajahnya masih menyisakan air wudhu. Seba'da sholat shubuh tadi, ia memang mengadu kalau mengantuk. Hihi, sungguh gemas melihatnya tertidur.

Bulan depan genap satu tahun pernikahan kami. Setelah masa ta'aruf yang singkat, kami memutuskan untuk melangsungkan pernikahan sesegera mungkin. Karena itu setelah pernikahan adalah masa-masa kami untuk saling mengenal. Perjalanan menjadi salah satu cara kami untuk saling mengenal satu sama lain. Seperti perjalanan kali ini, Jogja kampung halaman Mas Bagus menjadi tujuan kami.

Tak terasa sejam lagi kereta kami akan sampai di tujuan. Kugoyang lembut bahu suamiku, mencoba membangunkannya. Ia pun bergerak dan mengerjapkan mata. 

"Mas bangun," ujarku lembut sambil membelai pipinya.

"Ah adek. Mas sedang mimpi indah nih, jadi buyar kan," sahutnya sambil memonyongkan bibir. Aku gemas dibuatnya.

"Hihi, maaf mas ku sayang. Memangnya mas mimpi apa sih?" tanyaku sambil tersenyum melihat bibirnya yang masih monyong.

"Mimpi indaaah sekali. Mimpi kita bertiga sedang berada di tepi pantai dekat rumah Ibu. Berlarian di antara ombak dan burung camar," ujarnya sambil memejamkan mata seolah membayangkan.

"Hah? Bertiga? Sama siapa mas?" tanyaku heran.

"Tentu saja sama anak kita sayaaang," jawabnya sambil menjepit hidung pesekku dengan telunjuk dan jempolnya.

Aku tersenyum, lalu terdiam. Itu memang mimpi yang sangat indah. Namun sampai setahun ini, itu semua masih menjadi mimpi yang kami berdua rindukan. Ya, kami rindu tangisan dan tawa bayi melengkapi hari-hari kami. 

#day17
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#temamimpi
#naniashmenulis

Kamis, 06 September 2018

Lupus

Suara klakson bersahutan di siang ini menambah semrawut suasana Ibu Kota. Kepalaku mulai pening mendengar rusuhnya sumpah serapah para supir angkot di tengah kemacetan ini. Mobil yang kami tumpangi menembus padatnya lalu lintas Jakarta dengan perlahan, Bu Indri mengemudikan mobil dengan penuh konsentrasi.

Aku dan kedua guru lainnya yakni Bu Indri dan Bu Gina sedang melakukan perjalanan dari Bogor menuju Jakarta Pusat. Perjalanan kami bukan tanpa suatu alasan. Fei, salah satu murid kami sedang mendapat musibah, sehingga kepala sekolah segera mengutus kami untuk ke sini.

15 menit kemudian bangunan yang kami tuju mulai terlihat. Letaknya yang berada di pinggir jalan memudahkan para pejalan membaca judul bangunan itu. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Mobil membelok dengan cepat, kemudian mencari tempat parkir. Setelah parkir dengan baik, kami berjalan menuju gedung A. Di sana kami menekan lift dan mulai menuju kaNmar tujuan.

Sesampainya di kamar nomor 324, kami mengetuk pintu dan memberi salam. Tak berapa lama pintu kamar dibuka oleh Fei, kami dipersilahkan masuk. Ketika kami sudah masuk kamar, nampak di ranjang berbaring Ibu Fei. 

Ya, itulah tujuan kedatangan kami ke sini. Untuk menjenguk Ibu Fei yang terkena penyakit lupus. Lupus adalah penyakit peradangan (inflamasi) kronis yang disebabkan oleh sistem imun atau kekebalan tubuh yang menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh sendiri. Lupus dapat menyerang berbagai bagian dan organ tubuh seperti kulit, sendi, sel darah, ginjal, paru-paru, jantung, otak, dan sumsum tulang belakang.

Ibu Fei berbaring di ranjang dan menyapa kami. Karena keramahannya, beberapa menit kemudian kami sudah menjadi sangat akrab. Dari perbincangan itu, kami jadi tahu bahwa penyakit lupus sudah diderita oleh Ibu Fei sejak usia SMA. Sejak itu pula lah Ibu Fei sering bolak-balik keluar masuk rumah sakit setiap penyakit itu menyerangnya kembali.

Setiap kalimat demi kalimat ia sampaikan dengan nada riang, dan senyuman hangat. Tak terasa mataku mulai memanas. Demi mendengar kisah perjuangan Ayah dan Ibu Fei bersabar terhadap penyakit ini, air mataku menetes perlahan.

Ia adalah seorang wanita hebat menurutku. Di tengah keterbatasan fisiknya melawan penyakit lupus ini, ia masih semangat dan penuh optimisme. Ia menyampaikan bahwa harapannya saat ini tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin bisa sembuh dan bercengkrama dengan keluarganya. Satu kalimat yang ia tegaskan kepada kami ialah, " kita hidup di dunia ini sudah penuh dengan kenikmatan. Kenapa harus mengeluh hanya dengan satu atau dua ujian?" tanya Ibu Fei. Kami mematung, tersentuh.

Setelah berbicara dan bertukar kisah dengan Ibunya, Fei datang dengan membawa tiga cangkir teh hangat. Setelah dipersilahkan, kami bertiga meminumnya sembari berbincang dengan Fei.

"Fei, ibu sudah membaik. Kamu mau kembali ke pesantren bersama kami?" tanyaku pelan.

Fei menatap ibunya meminta jawaban. Ibunya mengangguk dan tersenyum tipis.

Tak butuh waktu lama bagi Fei untuk berkemas. Pakaiannya dan barangnya juga sedikit. Setelah semua siap, kami berjejer di sebelah ranjang tempat Ibu Fei meminta izin pamit, sekaligus membawa anaknya ikut kembali bersama kami ke Bogor.

Setelah kami menyalami Ibu Fei, waktunya Fei dipeluk oleh bunda atau guru-gurunya. Tiba-tiba Fei dipeluk oleh ibunya erat.

"Fei, yang rajin ya nak! Doain mama terus setiap kamu selesai menghafal al Quran," pesan Ibu Fei sambil membelai lembut kepala anaknya.

Fei mengangguk tipis. Kepalanya ia benamkan di dada Ibunya. Pelukan keduanya cukup erat.

"Ustadzah, saya rela jika anak saya Fei masuk surga kelak karena baktinya kepada ibunya. Allah pun juga tahu betapa sayang dan hormatnya dia kepada Ibunya," ujar Sang Ibu dengan suara tertahan, masih dengan tangan membelai kepala Fei.

Kami satu ruangan terkejut mendengar kalimat tersebut. Kalimat yang keluar secara tulus dari mulut seorang Ibu. Kabulkan Yaa Allah.

Setelah selesai berpamitan, kami segera menuju parkiran. Tak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk menemukan mobil kami. Bu Indri kembali mengambil posisi dan siap mengarahkan mobil kami kembalu menuju Bogor.

Di tengah perjalanan, di antara desing kendaraan yang dipacu cepat di jalan tol, Fei bertanya.

"Ustadzah, apakah Ibuku akan selamat?" tanya Fei tiba-tiba. Matanya memandang lurus ke jalanan tol Jagorawi itu.

Kami bertiga terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing yang sedang mempersiapkan jawaban untuk Fei.

Rabu, 05 September 2018

Di antara Tumpukan Sampah

Jakarta sore itu mendung. Awan hitam menggelayut, terlihat besar dan berat. Nampaknya tidak sanggup menahan beban lebih lama lagi. Muatannya akan segera tumpah sebentar lagi.

Mendung pekat sore itu tak menghalangi kepadatan aktifitas di Ibukota. Para pegawai kantoran sedang sibuk mengemasi barang-barang dan bersiap pulang, sebelum hujan turun. Para ojek online sudah berjejer di depan gedung gedung tinggi di jalan protokol, siap menanti para customer.

Mendung pekat sore itu tak juga menghalangi para siswa dan siswi yang baru saja selesai melaksanakan pelajaran tambahan, untuk persiapan Ujian Nasional katanya. Sebagian dari mereka sudah dengan lincah menaiki metromini berdesak-desakan. Sebagian lainnya berdiri di depan sekolah, sibuk dengan smartphone, memesan ojek online. 

Di antara semua kegaduhan di sore itu, nampak dua gadis berlarian kecil menyeberangi jalanan yang padat. Kendaraan memenuhi seluruh jalur, tak beraturan. Asap dari knalpot-knalpot kendaraan memenuhi langit-langit Ibukota. Suara klakson yang bersahutan tak membuat gentar kedua gadis itu untuk tetap lincah.

Di punggung keduanya terdapat karung yang digendong dan ujungnya dipegangi erat. Sesampainya di seberang jalan, keduanya berhenti ngos-ngosan dengan muka riang dan tertawa.

"Aduh kak, jangan cepat-cepat dong larinya! Nanti sampah-sampah yang sudah kita kumpulkan susah payah ini jatuh," gerutu salah satu gadis kecil itu. 

"Hehe tenang aja dek, nggak akan jatuh. Kakak sudah mengikatnya erat," jawab gadis kecil satunya yang berbadan lebih besar.

"Kak, mendung nih," ujar gadis kecil itu lagi.

"Ayo segera kita kumpulkan ini pada Bang Suaeb, terus kita pulang deh! Siapa mau makan mie rasa soto ayam?" tanya sang kakak dengan muka berbinar.

"Yee asik! Aku lapar kak. Yuk!" jawab sang adik riang.

Keduanya kembali berjalan menyusuri jalanan Ibukota, dengan karung berisi sampah-sampah plastik yang berhasil mereka kumpulkan seharian ini. Dengan tanpa alas kaki, penampilan keduanya semakin terlihat dekil karena baju yang berantakan dan kotor, rambut dekil dan lepek. Kalau muka, keduanya masih tergolong manis, mungkin karena keturunan orang Jawa ya.

Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk sampai di rumah sang pengepul. Sesampainya di sana, sampah-sampah kami ditimbang, kemudian upah dibayar.

Tak banyak jumlahnya, hanya beberapa lembar ribuan, tak sampai puluhan ribu. Tapi keduanya menerima dengan antusias dan gembira. Setelah mengucap terimakasih, keduanya bersiap kembali ke rumah.

Setelah lima meter berjalan, tiba-tiba terdengar suara ramai. Semakin dekat suara semakin jelas terlihat apa penyebab suara itu. Nampak seorang laki-laki berlari dengan sangat cepat, menenteng sebuah tas wanita. Di belakangnya berlarian kerumanan orang sambil berteriak "Copet..copet.."

Kedua gadis itu tertegun. Laki-laki yang diteriaki copet tersebut sedang berlari menuju arah mereka, jaraknya 15 meter dari mereka. 

"Minggir kalian!" teriak laki-laki itu dengan kasar kepada kedua gadis itu. Matanya melotot. Tangan kirinya menenteng tas yang dicurinya, sedang tangan kirinya membawa sesuatu. Hey, itu pisau!

#day15
#30dwc
#30dwcjilid14
#temasampah
#squad1
#naniashmenulis

Selasa, 04 September 2018

Tips Menghilangkan Kantuk di Kelas.

Caca mengantuk di pelajaran jam pertama. Katanya karena jam pertama itu masih segar sehingga udara yang sejuk membuatnya mengantuk.

Pada jam pelajaran sehabis istirahat, Caca juga mengantuk. Katanya karena perutnya kenyang diisi makanan.

Pada jam pelajaran setelah Dhuhur, Caca juga mengantuk. Katanya sepoi angin pada jam-jam itu melenakan.

Jadi kenapa Caca bisa mengantuk di setiap waktu? Argh! Hal itu membuat guru kesal.

Guru mana yang tak kesal ketika sedang menerangkan pelajaran ternyata ada beberapa muridnya mengantuk atau bahkan tertidur.

Tapi mengantuk adalah hal yang wajar. Namanya juga manusia, pasti merasakan kantuk kan? Namun baiknya harus ada tips untuk mengatasi rasa kantuk seperti itu.

Nah, bagi guru, siswa mengantuk adalah sebuah tantangan. Bagaimana caranya supaya guru mampu membuat siswa tidak mengantuk lagi? Coba simak beberapa tips di bawah ini!

1. Cuci Muka
Cara paling sederhana tetapi paling ampuh. Dengan terkena air, muka menjadi segar, kantuk pun hilang. Cuci muka juga membuat siswa berjalan ke kamar mandi. Sehingga otot-otonya mengalami peregangan.

2. Berdiri dan Lakukan Peregangan
Kalau bisa ajak satu kelas berdiri, kemudian melakukan peregangan secara bersama. Meski tidak sampai latihan kebugaran otot, tapi peregangan itu selain menyehatkan, juga mampu menghilangkan kantuk.

3. Ajak Main Game
Game merupakan hal sepele namun ternyata memiliki banyak kelebihan. Selain menghilangkan kantuk, game yang diolah secara baik dan benar akan mampu menyeimbangkan otak kanan dan kiri. Tidak perlu game yang berat. Cobalah game-game ringan yang bisa dilakukan di dalam ruang kelas.

4. Berilah Tugas
Jika semua cara di atas tak mempan, nampaknya memberi tugas akan menjadi cara yang paling ampuh. Murid akan hilang kantuknya jika sudah menulis tugas yang kita berikan.

Selamat mencoba! Jika ada tips lain silahkan dishare yaa :)

#day14
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Senin, 03 September 2018

Air Matamu, Terlalu Berharga.

Sebuah siang di kota Hujan. Lagi-lagi terik mentari menemani aktifitas mengajarku di sekolah ini. Mendapatkan jadwal pelajaran di jam-jam terakhir merupakan sebuah ujian bagi para guru. 

Bagaimana tidak? Jam yang para murid lebih merindukan kasur dan bantal daripada wajah gurunya. Jam yang para murid sudah membayangkan betapa nikmatnya rebahan di kasur dengan AC di kamar.

Eits! Tapi justru ini serunya! Kita sebagai guru ditantang untuk mengajar sekreatif mungkin supaya para murid tidak mengantuk atau bahkan tertidur saat pelajaran kita. Kebetulan aku orangnya paling tidak suka jika ada murid yang tertidur saat aku sedang menjelaskan. Kok rasanya seperti tidak dihargai gitu ya? Hehe. Baper deh.

Jadilah siang itu, pelajaran bahasa arab kuisi dengan berbagai game yang berkaitan dengan musim-musim dalam bahasa arab. Di tengah keasyikan kami bermain game, tiba-tiba ponsel yang kuletakkan di atas meja berdering. Setelah meminta izin kepada anak-anak untuk mengangkat telepon itu, aku bergegas keluar kelas untuk mengangkatnya.

Setelah kuangkat dan mengucap salam, berbicaralah suara di seberang. Ternyata dari salah satu wali santri yang kebetulan akulah wali kelasnya. Beliau mengabarkan bahwa nenek dari Ana meninggal dunia, selain itu beliau meminta supaya aku menyampaikan pesan kepada Ana untuk bersiap karena sebentar lagi orangtuanya akan menjemputnya untuk menuju rumah sang nenek.

Setelah berbicara kurang lebih 3 menit dan kusampaikan bela sungkawa, telepon pun ditutup. Aku terdiam. Sedang berpikir bagaimana cara menyampaikan berita itu kepada Ana. Kulihat ke dalam kelas, Ana nampak sedang asyik bercanda dengan teman-temannya. Kupanggil ia dengan lambaian tangan.

Tak berapa lama Ana sudah berada di luar kelas bersamaku. Kugenggam kedua tangannya, kemudian ku tatap lembut wajahnya, sesekali kubelai pipinya. 

"Ana sayang, Ana tau kan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Allah?" tanyaku membuka percakapan.

"Tau ustadzah," Ana mengangguk pelan. Memandangku penuh keheranan.

"Ana juga tau kan sewaktu-waktu kita bisa saja dipanggil oleh Allah?" tanyaku lebih dalam.

"Tau ustadzah," jawabnya dengan mimik muka semakin keheranan.

"Ana shalihah. Do'akan nenek ya. Nenek dipanggil kembali kepada Allah. Do'akan semua amal ibadah nenek Ana diterima Allah dan dosanya diampuni," terangku dengan hati tak karuan. 

Ana terdiam. Aku semakin khawatir dengan kondisinya. Beberapa detik kemudian ia menangis dengan kencang. Ana berteriak memanggil neneknya dan meronta-ronta. Dengan usaha keras kucoba memeluknya. Semua teman-teman di kelas menoleh melihatnya. Ia tak peduli. Hanya nama neneknya yang ia serukan. Derai air matanya tak tertahan lagi.

Tak terasa air mataku ikut menetes. Aku merasakan kesedihan yang Ana rasakan. Kehilangan orang yang kita cintai merupakan hal yang sangat berat.

#day13
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Minggu, 02 September 2018

Peluk aku!




Kota hujan sepagian ini mendung, mentari nampak malu-malu, awan hitam menggantung.

Kupanasi motor matic yang selama ini setia menemaniku berangkat ke sekolah. Setelah dirasa cukup, aku segera memacunya dengan kecepatan sedang menuju sekolah.

Sepanjang jalan suasana hari Senin mulai terasa. Padatnya kendaraan di jalanan dan seliweran anak-anak berseragam sekolah yang berjejer menunggu angkot lewat. Pekerja kantoran nampak menaiki ojek online menuju kantor masing-masing. Setelah perjalanan kurang lebih 10 menit, motor yang kupacu memasuki sebuah gerbang tinggi. Satpam dengan sigap membukanya ketika mendengar suara motorku.

Ya, inilah sekolah tempatku mengajar. Setiap pagi harus kutempuh jarak kurang lebih 2 km untuk mencapainya. Setelah motor kuparkir, aku berjalan menuju ruang guru. Sesampai di pintu lorong, nampak segerombolan anak menyerbuku. 

"Ustadzaaaaah..." teriak mereka seraya menyerbuku.

Berebutan mereka memelukku satu persatu. Kubalas pelukan mereka dengan pelukan hangat juga. Tak lupa kubelai lembut kepala mereka dan mendoakan satu persatu. Mendoakan untuk kebaikan mereka, untuk kesehatan mereka, untuk keberkahan ilmu mereka.

Rutinitas pagi yang berlangsung selama beberapa menit itu begitu membekas di hatiku. Bagaimana tidak? Setiap pagi ada pelukan murid yang menyemangati untuk memulai hari. Senyum dan tawa mereka di pagi hari seakan memberikan suntikan semangat padaku. Wajah-wajah menggemaskan mereka membuatku jatuh cinta lagi di setiap paginya.

Pelukan-pelukan itu kebahagiaanku. 
Pelukan-pelukan itu semangatku.

Peluk aku nak! Peluk ustadzah!
Selalu dan selamanya.


#day12
#30dwcjilid14
#squad1

Sabtu, 01 September 2018

Cinta di Kota Hujan




Suatu sore yang cerah, sepoi angin memaksaku keluar dan menikmati suasananya. Dan disinilah aku, di sebuah lapangan kebanggan kota Bogor, sedang berlari-lari kecil menggunakan sepatu sport yang baru saja kubeli bulan lalu. Dengan menggunakan earphone, kuputar playlist dari dalam smartphone ku. Intro lagu Bukti milik Virgoun mengisi ruang pendengaranku. Sembari meneruskan lari kecilku mengelilingi lapangan sempur ini, sesekali kuperhatikan hal-hal di sekelilingku.

Nampak para pedagang jajanan kecil berderet di pinggir jalan. Anak-anak sekolah dengan masih berseragam nampak mengelilingi penjual telur gulung. Laris. Seorang pengamen anak kecil laki-laki sedang sibuk bernyanyi di depan dua gadis yang sedang duduk. Di sudut taman nampak dua sejoli sedang memadu kasih, mungkin sibuk bercerita tentang impian masa depan.

Saat putaran ke limaku hampir selesai, tiba-tiba terdengar sebuah tangisan kencang di sebelahku. Pemilik tangisan itu adalah seorang anak kecil perempuan yang sedang merajuk. Nampak di sebelahnya seorang ibu-ibu panik dan sibuk menenangkan anak itu. Namun usahanya tidak berhasil. Tangisan anak itu semakin kencang. Aku terhenti dan memerhatikan, orang-orang sekitar juga ikut memerhatikan, nampaknya suara tangisan anak tersebut menjadi pusat perhatian.

Sudut mataku menangkap penjual balon keliling. Sedikit berlari kuhampiri penjual balon tersebut, kemudian kupilih sebuah balon karakter kartun berwarna pink. Setelah itu bergegas ku menuju anak kecil yang masih menenangis itu. Aku jongkok di depannya, menyapanya, lalu kuberikan balon pink dari tanganku padanya. Awalnya ia ragu, namun akhirnya ia ambil balon tersebut, dan tangisnya pun mereda. Setelah tangisannya benar-benar reda, kuelus kepalanya, kemudian berdiri. Sang Ibu yang sedari tadi melihat gerak -gerik kami akhirnya menyapaku.

"Haturnuhun kang," ujarnya seraya tersenyum.

Eh tunggu, nampaknya ia terlalu muda untuk disebut ibu.

"Sami-sami teh. Sudah diam anaknya ya," ujarku seraya tersenyum santun.

"Oh ini bukan anak saya hehe. Ini keponakan saya," jawabnya sambil tersenyum lebar.

*****

Setahun kemudian.

Lapangan Sempur sejuk. Udara sehabis hujan membuat sepasang kekasih itu harus merapatkan jaketnya. Keduanya duduk berdampingan di sebuah bangku. Tangan mereka saling menggenggam, berusaha memberikan kehangatan satu sama lain. Mengenang pertemuan mereka satu tahun yang lalu, di situ. Karena pertemuan sore itulah, saat ini mereka menjadi suami istri.

Kota hujan menjadi saksi cinta sederhana mereka.

#day10
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis