Rintik hujan serentak
membasahi bumi Magetan. Suara katak bernyanyi menambah ramai suasana pagi ini.
Dedaunan merunduk kedinginan. Ku langkahkan kaki kecilku perlahan. Berusaha
untuk tidak menginjak genangan air. Kuarahkan tangan kananku untuk menutupi
kerudung putihku. Beberapa menit kemudian kelas kecilku tampak. Terdengar suara
teman-temanku membaca hadist bersama dari Kitab Shohih Bukhori.
“Assalamualaikum” Ucapku seraya melepas sandal dan melangkahkan
kaki ke dalam kelas. Pembacaan hadist pun berhenti.
“Waalaikumsalam
Warrahmatullahi Wabarakatuh”
jawab teman-teman dan Ustadz Fatih serentak.
“Lii madza
mutaakhor ya Ainun?” Tanya
Ustadz Fatih.
“Afwan Ustadz, Ana di
kunjungi” Jawabku dengan masih berdiri di depan pintu.
“Aywa, Tafadholli.”jawab
beliau. Akupun segera menuju tempat duduk yang bersebelahan dengan Shofia.
“Hei , dari mana
saja?” Tanya Shofia dengan berbisik ketika aku menghempaskan diri di kursi.
“Di kunjungi Abi.
Mengabarkan tentang pernikahan kakak minggu depan.” Jawabku dengan berbisik
pula.
Setelah itu akupun
mulai mengikuti teman-teman membaca hadist.
Sambil membaca
hadist, ku edarkan pandangan ke sekeliling kelas. Ya, inilah kelas kecil kami
yang berdiri di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Furqon . Terdiri dari 5
santriwan dan 7 santriwati. Kamilah para pencari ilmu yang tak pernah lelah
untuk memperluas ilmu kami. Suasana mendung pagi ini tidak mengurangi semangat
kami untuk memperbanyak ilmu. Ya Allah , berkahilah ilmu kami.
***
Mega merah di ufuk
barat mulai memudar. Sholat maghrib sudah selesai satu jam yang lalu. Akupun
sudah selesai muroja’ah di musholla putri. Kulipat mukenahku, kudekap erat
bersama AL-Qur’anku,ku langkahkan kaki menyusuri halaman kecil. Sekilas kulihat
sepasang kunang-kunang bercengkrama di pojok taman. Paduan suara jangkrik
terdengar nyaring memecah keheningan malam. Daun-daun pun masih basah.
Menyisakan bekas hujan sehari ini.
“Assalamualaikum”ujarku
sambil memasuki kamar. Tampak teman-teman sedang belajar untuk pelajaran
keesokan hari.
“Waalaikusalam,
Ainun”jawab mereka serempak sambil tidak menoleh dari kitab mereka.
Kudekati Shofia yang
sedang serius memerhatikan kitabnya. Hehe, dengan ekspresi serius seperti ini
wajahnya tampak lucu. Kedua alis yang melengkung indah saling betemu, pipi
tembemnya kembang kempis secara
bergantian, bibir bawahnya sedikit manyun dan bibir atas di gigitnya. Dia pun
menoleh karna sadar ku perhatikan.
“Hei, ngapain sih
ngeliatin ana? Naksir ya?”Tanyanya mengajak bercanda.
“Idih,pede banget
sahabatku yang satu ini. Wajah anti itu lho lucu banget. Lagi mikir apa sih
serius banget?”Jawabku sambil tersenyum.
“Haduuh, ini lho
sulit banget tugas Ustadz Abdullah. Anti sudah selesai ngerjain?”
“Kholas Shofia
sayang. Tadi siang sudah ana selesaikan.”
“Lho, kok ana nggak
di ajak sih?”tanyanya sambil cemberut.
“Hihi, lha wong tidur
anti tuh nyenyak banget. Di bangunin aja sampek nggak denger,”aku meringis
melihatnya cemberut.
“Yaah,jadi Cuma ana
nih yang belum selesai?”cemberutnya semakin menjadi.
“Ya udah ukhti, sini
ayo ana bantuin. Sekalian ana mengoreksi pekerjaan ana”ajakku.
“Alhamdulillah. Ainun
baik deh! Hehe”
“Deuu, kalo ada
maunya aja muji kayak gitu”cibirku.
“Hehe. Eh iya ukh,
emang kapan pernikahan Mas Sholeh?” Tanya Shofia.
“Minggu depan
tepatnya hari Jum’at. Kata Abi segala persiapan pernikahan sudah selesai. Jadi akadnya
di percepat saja,”jelasku.
“Wah, jadi sebentar
lagi anti punya keponakan dong! Eh, nggak pengen nyusul Mas Sholeh? Hehe.”canda
Shofia.
“Hush, masih belum waktunya.
Belajar sungguh-sungguh dulu. Mencari bekal untuk masa yang akan datang. Kelak
kita kan menjadi guru pertama bagi anak-anak kita. Oleh karenaitu kita harus
memiliki pengetahuan yang luas. Gitu ukh”ucapku pada Shofia.
“Iya iya. Eh, tapi
ana mau lho kalo di lamar sekarang sama Adam. Ya nanti menikahnya setelah lulus
dari ma’had kan bisa. Hehe,”canda Shofia.
“Lho, kok jadi bicara
Adam? Apa hubungannya? Wah,jangan-jangan anti ada apa-apa nih sama Adam.
Hayowh,”selidikku.
“Eh, anu ukh, bukan
begitu maksud ana. Bukan Adam. Eh, gini, anu,”jawab Shofia dengan terbata-bata
dan muka mulai memerah.
“Hehe, anti ketauan
tuh. Liat aja mukanya sampai merah gitu. Udahlah ngaku aja,”desakku.
“Sst. Jangan
keras-keras ukh,” bisiknya pada ku.
“Hayo ada apa?” aku
semakin senang menggodanya.
“Iya Iya ana ngaku. Ana emang ada perasaan sama
Adam. Sudah dari awal kita masuk ma’had. Tapi ana belum bilang siapa-siapa. Ana
simpan sendiri di dalam hati selama 3 tahun ini”jelas Shofia dengan muka yang
semakin memerah.
“Wah, masak sudah
selama itu anti nggak pernah bilang ke ana? Kita kan sudah bersahabat dari
dulu. Apa aku masih orang lain bagimu?”tanyaku berusaha meredam emosi yang
mulai muncul.
“Afwan ukhti. Bukan
maksud ana ingin menyembunyikan darimu. Tapi ana benar-benar takut untuk
menceritakan hal ini pada orang lain. Ana malu.”jawabnya dengan kepala
tertunduk.
“Ukhti sayang, Cinta
itu fitrah untuk kita. Allah tidak pernah melarang adanya cinta yang tumbuh
dari hati kita. Tapi Allah telah menjelaskan apa yang harus kita lakukan
apabila cinta itu datang belum pada waktunya. Allah juga telah memberikan jalan
keluar untuk permasalahan cinta itu. Ya,dengan cara pernikahan ukh. Dengan
itulah cinta akan menjadi lebih indah di dalam ridho-Nya. Eits, tapi pernikahan
juga bukan main-main lho. Harus ada kesiapan di antara keduanya. Oeh karena
itulah pernikahan sebaiknya di lakukan pada waktunya,”jelasku panjang sambil
menggenggam tangan Shofia.
Ia menunduk seketika. Terdiam beberapa saat.
Kemudian dengan tiba-tiba ia merangkulku erat.
“Jazakillah ukhti,
ana akan berusaha untuk menjaga cinta ini agar tidak keluar dari syariat
islam”ujarnya sambil sesenggukan di pundakku.
“Cup cup. Iya betul.
Kelak apabila waktunya datang, semua akan menjadi indah pada waktunya”
Ku elus lembut
punggungnya. Ku biarkan ia menumpahkan kegundahannya di pundakku. Cukup lama ia
menangis. Setelah beberapa lama, tangisnya mereda. Ia pun melepas pelukannya.
Kemudian mengusap sisa air mata di wajahnya dan memandangku.
“Gimana sekarang?”
tanyaku dengan seulas senyum.
“Alhamdulillah sudah
lega. Terimakasih ya Ainun. Shofia sayang Ainun,”bisiknya padaku.
“Sama-sama Shofia.
Ainun juga sayang Shofia. Eh, udahan ah sedihnya. Katanya tadi mau ngerjain
tugas, ayo sini ana bantuin,”ajakku.
“Ayo ayo,”jawabnya
dengan senyum. Sudah tidak ada sisa kesedihan di wajahnya.
Kamipun tenggelam
dalam tumpukan buku-buku. Malam di luar semakin dingin. Larutnya menciptakan
kehampaan dan kesunyian.
***
Beberapa hari setelah
itu , jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. Pagi itu matahari bersinar
begitu cerahnya.
“Ayo Shofia, cepat
jalannya. Nanti kita terlambat. Anti nggak mau kan dapat hukuman dari Ustadz
Yaqin?” tanyaku dengan langkah kaki yang semakin kupercepat.
“Iya ainun, tapi
jangan cepat-cepat gitu dong jalannya,”keluhnya di belakang sana. Ia tertinggal
beberapa meter di belakangku.
Tak kuhiraukan
teriakan kecil Shofia. Semakin kupercepat langkahku. Bahkan setengah berlari.
Setelah beberapa menit kelas pun tampak.
“Assalamualaikum,”ujarku
seraya menempati tempat dudukku.
Beberapa detik
kemudian Shofia menyusulku dengan nafas yang terengah-engah,
“Alhamdulillah,
Ustadz Yaqin belum datang’”bisikku kepada Shofia yang langsung duduk di
sebelahku.
“Huuh, pagi-pagi
sudah di ajak olahraga!” ujarnya sambil cemberut.
“Hehe, udah dong.
Jangan cemberut gitu. Nanti cantiknya luntur lho,”rayuku.
“Hemm,”ia masih kesal
rupanya.
Tiba-tiba terdengar
salam dari arah pintu.
“Assalamualaikum,”ujar
Ustadz Fatih.
“Waalaikumsalam,”serempak
jawaban dari kami.
Lho? Kok Ustadz
Fatih, bukankah pagi ini pelajaran Ustadz Yaqin? Ujarku dalam hati.
“Anak-anak, Afwan
saya meminta waktunya sebentar. Saya akan membeitahukan perihal perlombaan
Tahfidzul Qur’an yang diadakan di kabupaten dua minggu lagi. Lomba ini meliputi
Pondok Pesantren di seluruh Provinsi Jawa Tengah. Sesuai rapat Dewan Pembina
Pondok tadi malam, kami selaku Dewan Pembina akan mengikutkan Pondok Pesantren
kita dengan mewakilkan dua orang. Satu ikhwan, satu akhwat,”jelas Ustadz Fatih
panjang lebar.
Mulai terdengar kasak
kusuk di seantero kelas. Teman-teman mulai meributkan siapa yang akan menjadi
perwakilan. Pikiranku menerawang. Ah, betapa bahagianya jika dapat memenangkan
lomba itu. Betapa senangnya dapat melihat senyum di wajah Umi dan Abi.
“Tenang anak-anak,
Dewan Pebina sudah memutuskan siapa yang akan kami kirim untuk mewakili Pondok
ini,” Suara Ustadz Fatih memecah kasak-kusuk itu.
Hening, menantikan
kelanjutan ucapan Ustadz Fatih. Pikiranku kembali melayang membayangkan
perlombaan itu.
“Adam, Ainun, kalian
berdualah yang akan mewakili Pondok,” ujar Ustadz Fatih membuyarkan lamunan ku.
Lho? Apa aku tidak
salah dengar? Siapa tadi yang Ustadz Fatih bilang? Ainun? Aku? Shofia
merangkulku erat.
“Ukhti, Selamat ya!
Ma’an Najah!,” pekiknya kegirangan.
“Untuk Adam dan
Ainun, nanti sepulang sekolah kalian berdua ke kantor ya!” Perintah Ustadz
Fatih yang kemudian mengucap salam dan keluar dari kelas.
Tak berapa lama
Ustadz Yaqin masuk dan memulai pelajaran. Tetapi aku tidak bisa konsentrasi.
Pikiranku kembali melayang. Ah , benarkah ini nyata? Aku tidak mimpi? Aku
benar-benar ikut lomba? Jadi keinginanku untuk membuat Umi dan Abi bahagia bisa
terwujud? Tetapi, bisakah aku? Melawan sekian banyak orang dalam perlombaan
itu? Hey, Adam? Kenapa harus dengan dia? Kira-kira bagaimana ya perasaannya di
tunjuk mengikuti lomba ini? Kulirik ia sekilas. Tentu saja hanya terlihat
punggungnya dan rambut hitam legamnya itu. Ah, sudahlah. Aku harus yakin kalau
aku pasti bisa.
Jam pelajaran
terakhir pun usai. Santri-santri segera membereskan buku-bukunya.
“Shofia, anti duluan
ke kamar ya. Ana mau kumpul ke kantor nih,” ujarku dan kemudian berpisah dengan
Shofia di depan kelas.
“Oke. Ma’an Najah ya
ukhti!” ujar Shofia menyemangatiku.
Kulangkahkan kaki
menuju kantor dengan perasaan tak menentu. Kulihat di depan sana Adam sudah
berjalan dan berbelok memasuki kantor.
“Assalamualaikum,”
ucapku sambil memasuki kantor.
“Waalaikumsalam,”jawab
semua yang ada di kantor.
“Silahkan duduk
Ainun,”Ustadz Fatih mempersilahkan.
Aku menduduki sofa
dengan pelan. Hatiku di liputi berbagai perasaan. Bahagia, cemas, gelisah,
takut. Ah, sudahlah. Ku coba untuk menenangkan hati.
Di Sofa seberang
tampak Adam duduk dengan tenang. Ustadz Fatih pun segera duduk di sebelah Adam
dan memulai pembicaraan.
“Adam, Ainun, kalian
sudah tau kan maksud di panggil ke kantor?” Tanya Ustadz Fatih.
Aku dan Adam serempak
mengangguk.
“Jadi begini, sesuai
dengan rapat Dewan Pembina tadi malam, kalian berdualah yang di putuskan untuk
mewakili pondok kita. Adam, hafalan kamu yang paling banyak dan paling bagus di
antara para ikhwan. Dan kamu Ainun, hafalan dan bacaanmu juga yang paling bagus
di antara para akhwat. Kalian berdua sanggup kan membawa nama baik pondok ini?”
tanya Ustadz Fatih setelah menjelaskan panjang lebar.
“Insyaallah ana siap
, Ustadz,” jawab Adam mantap.
Aduh. Hatiku semakin
menciut. Sanggupkah aku?
“Ainun, bagaimana
denganmu?” tanya ustadz Fatih mengagetkanku.
Cukup lama aku
terdiam. Berusaha mengumpulkan keberanian. Akhirnya dengan kemantapan hati ku
jawab.
“Insyaallah ana juga
siap Ustadz,”ujarku yakin.
“Alhamdulillah. Nah,
mulai sekarang kalian berdua harus semakin sering mengulang hafalan ya. Jangan
lupa untuk memperbaiki bacaannya juga. Masih ada dua minggu untuk mempersiapkan
segalanya,” jelas Ustadz Fatih.
“Insyaallah ustadz,”
jawabku dan Adam serempak.
“Baiklah, kalian
berdua boleh keluar,”ujarnya.
“Assalamualaikum,”ujarku
dan Adam hampir bersamaan. Kami berdua pun bangkit dan keluar. Adam keluar
terlebih dahulu, baru kemudian aku. Sepanjang jalan menuju kamar pikiranku
kembali berkecamuk. Aku memegang amanah yang sangat berat. Dapatah aku
menjaganya? Dapatkah aku membuat Dewan Pembina dan yang lain bangga? Dapatkah
aku melihat senyum itu terukir di wajah Umi dan Abi. Ya Allah, berilah jalan
kemudahan pada hamba. Bisikku dalam hati.
***
Hari-hari setelah itu
di penuhi dengan kegiatanku menyendiri di musholla. Aku semakin sering
mengulang hafalan dan memperbaiki bacaanku. Terkadang Shofia aku minta untuk
menyimak hafalanku. Shofia juga yang terus memberi semangat untukku. Akupun
sudah member kabar kepada Umi dan Abi. Mereka berdua memberiku semangat dan
terus berdo’a untukku. Tak lupa kedua kakakku menitipkan salam cinta untukku.
Ya Allah, izinkan hamba membahagiakan mereka semua. Amiin.
Hari perlombaan pun
tiba. Ba’da Shubuh mobil pondok sudah melesat memecah jalan yang masih sunyi.
Selain Pak Sopir, ada Ustadz Fatih, Ustadz Abdullah,dan Ustadz Yaqin yang
menemani aku dan Adam. Sedangkan Pemimpin pondok Ustadz Furqon, menitipkan
salam semoga berhasil kepada aku dan Adam.
Pagi tadi Shofia
melepas kepergianku dengan sebuah pelukan hangat. Di bisikkannya kata-kata
semangat untukku. Bahkan dia yang memilihkan jubah biru muda ini untuk ku
kenakan. Tampak anggun di padu dengan jilbab biru muda yang ia pinjamkan
padaku. Ah, begitu perhatiannya ia padaku. Shofia memang sahabat terbaikku.
Setelah
hampir setengah jam, mobil mulai memasuki kawasan Kabupaten. Tak berapa lama
kemudian, kami memasuki sebuah masjid yang sangat besar dengan arsitektur
bangunan yang sangat indah. Warna biru menjadiwarna utama masjid itu. Wah, kok
pas ya dengan jubahku. Hehe.
Setelah
mobil di parkir, kita turun satu persatu. Oh , rupanya Adam memakai gamis warna
biru laut. Tadi di dalam mobil aku tidak begitu memerhatikannya. Lho, kenapa
serba biru? Hehe. Aku tersenyum kecil. Sedikit mengurangi keteganganku.
Pukul tujuh
lomba pun di mulai. Tampak ratusan peserta dari berbagai pondok pesantren. Aku
hampir saja di buat menciut karenanya. Tapi ucapan Ustadz Fatih kembali
mengiang di telingaku. Tadi sebelum kami duduk di kursi peserta, Beliau sempat
berbicara pada ku dan Adam.
“Yakinlah bahwa kalian bisa. Allah bersama kalian”
itu yang Beliau ucapkan.
Ku lihat
Adam yang duduk di baris depanku. Ia tampak begitu tenang. Harusnya akupun bisa
sepertinya. Sekilas aku teringat Shofia. Bukankah ia memendam cinta pada Adam.
Sedangkan saat ini aku sedang berdua dengannya mengikuti perlombaan? Ah, betapa
jahatnya aku. Dalam hati aku bertekad untuk meminta maaf padanya sepulang dari
perlombaan.
Ketika tiba
waktuku dan Adam maju, hati ini berdegup kencang. Permudahkanlah Ya Allah,
bisikku dalam hati.
Jarum jam
terus berdetak. Alhamdulillah, aku dan Adam berhasil membaca dengan lancar an
baik. Alhamdulillah, ucapku berkali-kali dalam hati. Kulihat sekilas ada senyum
kecil di wajah Adam. Kamipun kembali ke kursi peserta untuk menanti hasil
perlombaan.
Perlombaan pun selesai. Para Juri segera membacakan hasil
perlombaan. Detak jantungku semakin cepat.
“Juara
pertama diraih oleh Ponpes Al-Furqon dengan nama Adam dan Ainun!” keputusan
juri di bacakan.
Serentak
aku dan Adam sujud syukur. Dengan linangan air mata aku mengucap hamdalah
berulang kali. Terimakasih Ya Allah atas karunia-Mu. Terimakasih. Umi, Abi,
alhamdulillah Ainun menang.
Rengkuhan
kasih sayang-Nya seakan begitu dekat denganku.Masih terasa luapan bahagia ku di
antara bulir air mataku. Ya! Akhirnya aku bisa membahagiakan mereka semua.
Akhirnya aku bisa melihat senyum bahagia di wajah umi dan abi. Terimakasih Ya
Allah. Terimakasih atas nikmat ini.
***
Hari terus
berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tak terasa ini
sudah mendekati akhir tahun. Yang
artinya sebentar lagi kami santri para kelas tiga akan segera lulus. Semenjak
perlombaan itu, aku semakin rajin untuk menambah hafalanku.
Aku benar-benar
ingin membahagiakan umi dan abi. Aku ingin menjadi seorang Hafidzoh yang dapat
mempersembahkan jubah kehormatan pada umi dan abi di surga kelak.
Aku ingin
menjadi seorang mar’atus sholihah yang menjadi penyejuk hati suamiku kelak.
Ujian dua
bulan lagi. Aku semakin giat belajar. Tak jarang aku berdiskusi dengan Shofia.
Dia juga semakin semangat belajar. Katanya dia ingin menjadi ibu yang baik bagi
anak-anaknya. Subhanallah.
Eh, soal perasaannya itu, dia masih memendamnya
hingga sekarang. Shofia percaya , rencana Allah selalu lebih indah dari apa
yang dia bayangkan.
***
Dua tahun kemudian, di sebuah taman yang ditengahnya terdapat air mancur besar, aku sedang duduk memandang birunya langit yang sempurna. Sebuah usapan lembut di kepalaku membuatku menoleh.
Ah ya, birunya langit semakin terasa sempurna karena sang pemilik tangan itu. Suamiku. Allah menyatukan kami dalam kesakralan ijab qabul yang syahdu.
Tiba-tiba, sahutan lantang mengagetkan kami.
"Ainun!!"
Aku menoleh,
Ya, dia Shofia. Sahabatku tersayang.
Alasan mengapa aku dan suamiku duduk di taman sore ini. Kami memang sudah janjian untuk bertemu setelah sekian lama tak bertemu. Dia melangkahkan kakinya perlahan karena perutnya membesar. 6 bulan usia kehamilannya. Dan seseorang dengan sigap dan lembut menuntunnya berjalan. Adam. Suaminya.
Alasan mengapa aku dan suamiku duduk di taman sore ini. Kami memang sudah janjian untuk bertemu setelah sekian lama tak bertemu. Dia melangkahkan kakinya perlahan karena perutnya membesar. 6 bulan usia kehamilannya. Dan seseorang dengan sigap dan lembut menuntunnya berjalan. Adam. Suaminya.
Ah, rencana Allah selalu indah bukan? :)
Klaten, Feb 12












