Sabtu, 10 Oktober 2015

Rencana-Nya yang indah




Rintik hujan serentak membasahi bumi Magetan. Suara katak bernyanyi menambah ramai suasana pagi ini. Dedaunan merunduk kedinginan. Ku langkahkan kaki kecilku perlahan. Berusaha untuk tidak menginjak genangan air. Kuarahkan tangan kananku untuk menutupi kerudung putihku. Beberapa menit kemudian kelas kecilku tampak. Terdengar suara teman-temanku membaca hadist bersama dari Kitab Shohih Bukhori. 

“Assalamualaikum” Ucapku seraya melepas sandal dan melangkahkan kaki ke dalam kelas. Pembacaan hadist pun berhenti.
“Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh” jawab teman-teman dan Ustadz Fatih serentak.
“Lii madza mutaakhor ya Ainun?” Tanya Ustadz Fatih.
“Afwan Ustadz, Ana di kunjungi” Jawabku dengan masih berdiri di depan pintu.
“Aywa, Tafadholli.”jawab beliau. Akupun segera menuju tempat duduk yang bersebelahan dengan Shofia.
“Hei , dari mana saja?” Tanya Shofia dengan berbisik ketika aku menghempaskan diri di kursi.
“Di kunjungi Abi. Mengabarkan tentang pernikahan kakak minggu depan.” Jawabku dengan berbisik pula.

Setelah itu akupun mulai mengikuti teman-teman membaca hadist.
Sambil membaca hadist, ku edarkan pandangan ke sekeliling kelas. Ya, inilah kelas kecil kami yang berdiri di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Furqon . Terdiri dari 5 santriwan dan 7 santriwati. Kamilah para pencari ilmu yang tak pernah lelah untuk memperluas ilmu kami. Suasana mendung pagi ini tidak mengurangi semangat kami untuk memperbanyak ilmu. Ya Allah , berkahilah ilmu kami.


***


Mega merah di ufuk barat mulai memudar. Sholat maghrib sudah selesai satu jam yang lalu. Akupun sudah selesai muroja’ah di musholla putri. Kulipat mukenahku, kudekap erat bersama AL-Qur’anku,ku langkahkan kaki menyusuri halaman kecil. Sekilas kulihat sepasang kunang-kunang bercengkrama di pojok taman. Paduan suara jangkrik terdengar nyaring memecah keheningan malam. Daun-daun pun masih basah. Menyisakan bekas hujan sehari ini.

“Assalamualaikum”ujarku sambil memasuki kamar. Tampak teman-teman sedang belajar untuk pelajaran keesokan hari.
“Waalaikusalam, Ainun”jawab mereka serempak sambil tidak menoleh dari kitab mereka.
Kudekati Shofia yang sedang serius memerhatikan kitabnya. Hehe, dengan ekspresi serius seperti ini wajahnya tampak lucu. Kedua alis yang melengkung indah saling betemu, pipi tembemnya  kembang kempis secara bergantian, bibir bawahnya sedikit manyun dan bibir atas di gigitnya. Dia pun menoleh karna sadar ku perhatikan.
“Hei, ngapain sih ngeliatin ana? Naksir ya?”Tanyanya mengajak bercanda.
“Idih,pede banget sahabatku yang satu ini. Wajah anti itu lho lucu banget. Lagi mikir apa sih serius banget?”Jawabku sambil tersenyum.
“Haduuh, ini lho sulit banget tugas Ustadz Abdullah. Anti sudah selesai ngerjain?”
“Kholas Shofia sayang. Tadi siang sudah ana selesaikan.”
“Lho, kok ana nggak di ajak sih?”tanyanya sambil cemberut.
“Hihi, lha wong tidur anti tuh nyenyak banget. Di bangunin aja sampek nggak denger,”aku meringis melihatnya cemberut.
“Yaah,jadi Cuma ana nih yang belum selesai?”cemberutnya semakin menjadi.
“Ya udah ukhti, sini ayo ana bantuin. Sekalian ana mengoreksi pekerjaan ana”ajakku.
“Alhamdulillah. Ainun baik deh! Hehe”
“Deuu, kalo ada maunya aja muji kayak gitu”cibirku.
“Hehe. Eh iya ukh, emang kapan pernikahan Mas Sholeh?” Tanya Shofia.
“Minggu depan tepatnya hari Jum’at. Kata Abi segala persiapan pernikahan sudah selesai. Jadi akadnya di percepat saja,”jelasku.
“Wah, jadi sebentar lagi anti punya keponakan dong! Eh, nggak pengen nyusul Mas Sholeh? Hehe.”canda Shofia.
“Hush, masih belum waktunya. Belajar sungguh-sungguh dulu. Mencari bekal untuk masa yang akan datang. Kelak kita kan menjadi guru pertama bagi anak-anak kita. Oleh karenaitu kita harus memiliki pengetahuan yang luas. Gitu ukh”ucapku pada Shofia.
“Iya iya. Eh, tapi ana mau lho kalo di lamar sekarang sama Adam. Ya nanti menikahnya setelah lulus dari ma’had kan bisa. Hehe,”canda Shofia.
“Lho, kok jadi bicara Adam? Apa hubungannya? Wah,jangan-jangan anti ada apa-apa nih sama Adam. Hayowh,”selidikku.
“Eh, anu ukh, bukan begitu maksud ana. Bukan Adam. Eh, gini, anu,”jawab Shofia dengan terbata-bata dan muka mulai memerah.
“Hehe, anti ketauan tuh. Liat aja mukanya sampai merah gitu. Udahlah ngaku aja,”desakku.
“Sst. Jangan keras-keras ukh,” bisiknya pada ku.
“Hayo ada apa?” aku semakin senang menggodanya.
“Iya  Iya ana ngaku. Ana emang ada perasaan sama Adam. Sudah dari awal kita masuk ma’had. Tapi ana belum bilang siapa-siapa. Ana simpan sendiri di dalam hati selama 3 tahun ini”jelas Shofia dengan muka yang semakin memerah.
“Wah, masak sudah selama itu anti nggak pernah bilang ke ana? Kita kan sudah bersahabat dari dulu. Apa aku masih orang lain bagimu?”tanyaku berusaha meredam emosi yang mulai muncul.
“Afwan ukhti. Bukan maksud ana ingin menyembunyikan darimu. Tapi ana benar-benar takut untuk menceritakan hal ini pada orang lain. Ana malu.”jawabnya dengan kepala tertunduk.
“Ukhti sayang, Cinta itu fitrah untuk kita. Allah tidak pernah melarang adanya cinta yang tumbuh dari hati kita. Tapi Allah telah menjelaskan apa yang harus kita lakukan apabila cinta itu datang belum pada waktunya. Allah juga telah memberikan jalan keluar untuk permasalahan cinta itu. Ya,dengan cara pernikahan ukh. Dengan itulah cinta akan menjadi lebih indah di dalam ridho-Nya. Eits, tapi pernikahan juga bukan main-main lho. Harus ada kesiapan di antara keduanya. Oeh karena itulah pernikahan sebaiknya di lakukan pada waktunya,”jelasku panjang sambil menggenggam tangan Shofia.
 Ia menunduk seketika. Terdiam beberapa saat. Kemudian dengan tiba-tiba ia merangkulku erat.
“Jazakillah ukhti, ana akan berusaha untuk menjaga cinta ini agar tidak keluar dari syariat islam”ujarnya sambil sesenggukan di pundakku.
“Cup cup. Iya betul. Kelak apabila waktunya datang, semua akan menjadi indah pada waktunya”
Ku elus lembut punggungnya. Ku biarkan ia menumpahkan kegundahannya di pundakku. Cukup lama ia menangis. Setelah beberapa lama, tangisnya mereda. Ia pun melepas pelukannya. Kemudian mengusap sisa air mata di wajahnya dan memandangku.
“Gimana sekarang?” tanyaku dengan seulas senyum.
“Alhamdulillah sudah lega. Terimakasih ya Ainun. Shofia sayang Ainun,”bisiknya padaku.
“Sama-sama Shofia. Ainun juga sayang Shofia. Eh, udahan ah sedihnya. Katanya tadi mau ngerjain tugas, ayo sini ana bantuin,”ajakku.
“Ayo ayo,”jawabnya dengan senyum. Sudah tidak ada sisa kesedihan di wajahnya.
Kamipun tenggelam dalam tumpukan buku-buku. Malam di luar semakin dingin. Larutnya menciptakan kehampaan dan kesunyian.


***

Beberapa hari setelah itu , jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. Pagi itu matahari bersinar begitu cerahnya.
“Ayo Shofia, cepat jalannya. Nanti kita terlambat. Anti nggak mau kan dapat hukuman dari Ustadz Yaqin?” tanyaku dengan langkah kaki yang semakin kupercepat.
“Iya ainun, tapi jangan cepat-cepat gitu dong jalannya,”keluhnya di belakang sana. Ia tertinggal beberapa meter di belakangku.
Tak kuhiraukan teriakan kecil Shofia. Semakin kupercepat langkahku. Bahkan setengah berlari. Setelah beberapa menit kelas pun tampak.
“Assalamualaikum,”ujarku seraya menempati tempat dudukku.
Beberapa detik kemudian Shofia menyusulku dengan nafas yang terengah-engah,
“Alhamdulillah, Ustadz Yaqin belum datang’”bisikku kepada Shofia yang langsung duduk di sebelahku.
“Huuh, pagi-pagi sudah di ajak olahraga!” ujarnya sambil cemberut.
“Hehe, udah dong. Jangan cemberut gitu. Nanti cantiknya luntur lho,”rayuku.
“Hemm,”ia masih kesal rupanya.
Tiba-tiba terdengar salam dari arah pintu.
“Assalamualaikum,”ujar Ustadz Fatih.
“Waalaikumsalam,”serempak jawaban dari kami.
Lho? Kok Ustadz Fatih, bukankah pagi ini pelajaran Ustadz Yaqin? Ujarku dalam hati.
“Anak-anak, Afwan saya meminta waktunya sebentar. Saya akan membeitahukan perihal perlombaan Tahfidzul Qur’an yang diadakan di kabupaten dua minggu lagi. Lomba ini meliputi Pondok Pesantren di seluruh Provinsi Jawa Tengah. Sesuai rapat Dewan Pembina Pondok tadi malam, kami selaku Dewan Pembina akan mengikutkan Pondok Pesantren kita dengan mewakilkan dua orang. Satu ikhwan, satu akhwat,”jelas Ustadz Fatih panjang lebar.
Mulai terdengar kasak kusuk di seantero kelas. Teman-teman mulai meributkan siapa yang akan menjadi perwakilan. Pikiranku menerawang. Ah, betapa bahagianya jika dapat memenangkan lomba itu. Betapa senangnya dapat melihat senyum di wajah Umi dan Abi.
“Tenang anak-anak, Dewan Pebina sudah memutuskan siapa yang akan kami kirim untuk mewakili Pondok ini,” Suara Ustadz Fatih memecah kasak-kusuk itu.
Hening, menantikan kelanjutan ucapan Ustadz Fatih. Pikiranku kembali melayang membayangkan perlombaan itu.
“Adam, Ainun, kalian berdualah yang akan mewakili Pondok,” ujar Ustadz Fatih membuyarkan lamunan ku.
Lho? Apa aku tidak salah dengar? Siapa tadi yang Ustadz Fatih bilang? Ainun? Aku? Shofia merangkulku erat.
“Ukhti, Selamat ya! Ma’an Najah!,” pekiknya kegirangan.
“Untuk Adam dan Ainun, nanti sepulang sekolah kalian berdua ke kantor ya!” Perintah Ustadz Fatih yang kemudian mengucap salam dan keluar dari kelas.
Tak berapa lama Ustadz Yaqin masuk dan memulai pelajaran. Tetapi aku tidak bisa konsentrasi. Pikiranku kembali melayang. Ah , benarkah ini nyata? Aku tidak mimpi? Aku benar-benar ikut lomba? Jadi keinginanku untuk membuat Umi dan Abi bahagia bisa terwujud? Tetapi, bisakah aku? Melawan sekian banyak orang dalam perlombaan itu? Hey, Adam? Kenapa harus dengan dia? Kira-kira bagaimana ya perasaannya di tunjuk mengikuti lomba ini? Kulirik ia sekilas. Tentu saja hanya terlihat punggungnya dan rambut hitam legamnya itu. Ah, sudahlah. Aku harus yakin kalau aku pasti bisa.
Jam pelajaran terakhir pun usai. Santri-santri segera membereskan buku-bukunya.
“Shofia, anti duluan ke kamar ya. Ana mau kumpul ke kantor nih,” ujarku dan kemudian berpisah dengan Shofia di depan kelas.
“Oke. Ma’an Najah ya ukhti!” ujar Shofia menyemangatiku.

Kulangkahkan kaki menuju kantor dengan perasaan tak menentu. Kulihat di depan sana Adam sudah berjalan dan berbelok memasuki kantor.
“Assalamualaikum,” ucapku sambil memasuki kantor.
“Waalaikumsalam,”jawab semua yang ada di kantor.
“Silahkan duduk Ainun,”Ustadz Fatih mempersilahkan.
Aku menduduki sofa dengan pelan. Hatiku di liputi berbagai perasaan. Bahagia, cemas, gelisah, takut. Ah, sudahlah. Ku coba untuk menenangkan hati.
Di Sofa seberang tampak Adam duduk dengan tenang. Ustadz Fatih pun segera duduk di sebelah Adam dan memulai pembicaraan.
“Adam, Ainun, kalian sudah tau kan maksud di panggil ke kantor?” Tanya Ustadz Fatih.
Aku dan Adam serempak mengangguk.
“Jadi begini, sesuai dengan rapat Dewan Pembina tadi malam, kalian berdualah yang di putuskan untuk mewakili pondok kita. Adam, hafalan kamu yang paling banyak dan paling bagus di antara para ikhwan. Dan kamu Ainun, hafalan dan bacaanmu juga yang paling bagus di antara para akhwat. Kalian berdua sanggup kan membawa nama baik pondok ini?” tanya Ustadz Fatih setelah menjelaskan panjang lebar.
“Insyaallah ana siap , Ustadz,” jawab Adam mantap.
Aduh. Hatiku semakin menciut. Sanggupkah aku?
“Ainun, bagaimana denganmu?” tanya ustadz Fatih mengagetkanku.
Cukup lama aku terdiam. Berusaha mengumpulkan keberanian. Akhirnya dengan kemantapan hati ku jawab.
“Insyaallah ana juga siap Ustadz,”ujarku yakin.
“Alhamdulillah. Nah, mulai sekarang kalian berdua harus semakin sering mengulang hafalan ya. Jangan lupa untuk memperbaiki bacaannya juga. Masih ada dua minggu untuk mempersiapkan segalanya,” jelas Ustadz Fatih.
“Insyaallah ustadz,” jawabku dan Adam serempak.
“Baiklah, kalian berdua boleh keluar,”ujarnya.
“Assalamualaikum,”ujarku dan Adam hampir bersamaan. Kami berdua pun bangkit dan keluar. Adam keluar terlebih dahulu, baru kemudian aku. Sepanjang jalan menuju kamar pikiranku kembali berkecamuk. Aku memegang amanah yang sangat berat. Dapatah aku menjaganya? Dapatkah aku membuat Dewan Pembina dan yang lain bangga? Dapatkah aku melihat senyum itu terukir di wajah Umi dan Abi. Ya Allah, berilah jalan kemudahan pada hamba. Bisikku dalam hati.

***

Hari-hari setelah itu di penuhi dengan kegiatanku menyendiri di musholla. Aku semakin sering mengulang hafalan dan memperbaiki bacaanku. Terkadang Shofia aku minta untuk menyimak hafalanku. Shofia juga yang terus memberi semangat untukku. Akupun sudah member kabar kepada Umi dan Abi. Mereka berdua memberiku semangat dan terus berdo’a untukku. Tak lupa kedua kakakku menitipkan salam cinta untukku. Ya Allah, izinkan hamba membahagiakan mereka semua. Amiin.

Hari perlombaan pun tiba. Ba’da Shubuh mobil pondok sudah melesat memecah jalan yang masih sunyi. Selain Pak Sopir, ada Ustadz Fatih, Ustadz Abdullah,dan Ustadz Yaqin yang menemani aku dan Adam. Sedangkan Pemimpin pondok Ustadz Furqon, menitipkan salam semoga berhasil kepada aku dan Adam.
Pagi tadi Shofia melepas kepergianku dengan sebuah pelukan hangat. Di bisikkannya kata-kata semangat untukku. Bahkan dia yang memilihkan jubah biru muda ini untuk ku kenakan. Tampak anggun di padu dengan jilbab biru muda yang ia pinjamkan padaku. Ah, begitu perhatiannya ia padaku. Shofia memang sahabat terbaikku.

Setelah hampir setengah jam, mobil mulai memasuki kawasan Kabupaten. Tak berapa lama kemudian, kami memasuki sebuah masjid yang sangat besar dengan arsitektur bangunan yang sangat indah. Warna biru menjadiwarna utama masjid itu. Wah, kok pas ya dengan jubahku. Hehe.

Setelah mobil di parkir, kita turun satu persatu. Oh , rupanya Adam memakai gamis warna biru laut. Tadi di dalam mobil aku tidak begitu memerhatikannya. Lho, kenapa serba biru? Hehe. Aku tersenyum kecil. Sedikit mengurangi keteganganku.
Pukul tujuh lomba pun di mulai. Tampak ratusan peserta dari berbagai pondok pesantren. Aku hampir saja di buat menciut karenanya. Tapi ucapan Ustadz Fatih kembali mengiang di telingaku. Tadi sebelum kami duduk di kursi peserta, Beliau sempat berbicara pada ku dan Adam. 
“Yakinlah bahwa kalian bisa. Allah bersama kalian” itu yang Beliau ucapkan.

Ku lihat Adam yang duduk di baris depanku. Ia tampak begitu tenang. Harusnya akupun bisa sepertinya. Sekilas aku teringat Shofia. Bukankah ia memendam cinta pada Adam. Sedangkan saat ini aku sedang berdua dengannya mengikuti perlombaan? Ah, betapa jahatnya aku. Dalam hati aku bertekad untuk meminta maaf padanya sepulang dari perlombaan.

Ketika tiba waktuku dan Adam maju, hati ini berdegup kencang. Permudahkanlah Ya Allah, bisikku dalam hati.
Jarum jam terus berdetak. Alhamdulillah, aku dan Adam berhasil membaca dengan lancar an baik. Alhamdulillah, ucapku berkali-kali dalam hati. Kulihat sekilas ada senyum kecil di wajah Adam. Kamipun kembali ke kursi peserta untuk menanti hasil perlombaan. 
Perlombaan pun selesai. Para Juri segera membacakan hasil perlombaan. Detak jantungku semakin cepat.

“Juara pertama diraih oleh Ponpes Al-Furqon dengan nama Adam dan Ainun!” keputusan juri di bacakan.

Serentak aku dan Adam sujud syukur. Dengan linangan air mata aku mengucap hamdalah berulang kali. Terimakasih Ya Allah atas karunia-Mu. Terimakasih. Umi, Abi, alhamdulillah Ainun menang. 

Rengkuhan kasih sayang-Nya seakan begitu dekat denganku.Masih terasa luapan bahagia ku di antara bulir air mataku. Ya! Akhirnya aku bisa membahagiakan mereka semua. Akhirnya aku bisa melihat senyum bahagia di wajah umi dan abi. Terimakasih Ya Allah. Terimakasih atas nikmat ini.

***

Hari terus berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tak terasa ini sudah mendekati akhir  tahun. Yang artinya sebentar lagi kami santri para kelas tiga akan segera lulus. Semenjak perlombaan itu, aku semakin rajin untuk menambah hafalanku. 
Aku benar-benar ingin membahagiakan umi dan abi. Aku ingin menjadi seorang Hafidzoh yang dapat mempersembahkan jubah kehormatan pada umi dan abi di surga kelak. 
Aku ingin menjadi seorang mar’atus sholihah yang menjadi penyejuk hati suamiku kelak.
Ujian dua bulan lagi. Aku semakin giat belajar. Tak jarang aku berdiskusi dengan Shofia. Dia juga semakin semangat belajar. Katanya dia ingin menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Subhanallah. 
Eh, soal perasaannya itu, dia masih memendamnya hingga sekarang. Shofia percaya , rencana Allah selalu lebih indah dari apa yang dia bayangkan.

***
 Dua tahun kemudian, di sebuah taman yang ditengahnya terdapat air mancur besar, aku sedang duduk memandang birunya langit yang sempurna. Sebuah usapan lembut di kepalaku membuatku menoleh.
Ah ya, birunya langit semakin terasa sempurna karena sang pemilik tangan itu. Suamiku. Allah menyatukan kami dalam kesakralan ijab qabul yang syahdu.
Tiba-tiba, sahutan lantang mengagetkan kami.
"Ainun!!"

Aku menoleh,
Ya, dia Shofia. Sahabatku tersayang. 
Alasan mengapa aku dan suamiku duduk di taman sore ini. Kami memang sudah janjian untuk bertemu setelah sekian lama tak bertemu. Dia melangkahkan kakinya perlahan karena perutnya membesar. 6 bulan usia kehamilannya. Dan seseorang dengan sigap dan lembut menuntunnya berjalan. Adam. Suaminya.

Ah, rencana Allah selalu indah bukan? :)


Klaten, Feb 12




Cintaku Sepedas Sambal





Tumpah ruah tak mengenal kata ampun. 
Menukik tajam tiada ragu. Membentur kesana kemari. 
Dedaunan, atap rumah, aspal. Meresap hilang ke dalam tanah. 
Hawa dingin menyergap seluruh persendian. 
Meleleh sudah benteng pertahanan itu. 
Meleleh dan mengalir. 
Sembari mata ini menyapa dari balik jendela. 
Menekuri setiap sudut kenangan yang terhempas bersama butiran-butiran itu. 
Dan akhirnya hujan pun bersenandung.


* * *


Hari minggu yang cerah. Rumah mungil ini pecah oleh renyah tawamu. Menciptakan gores-gores kebahagiaan di usia pernikahan kitayang masih muda.

“Haha, muka bunda udah merah tuh,” ujarnya tertawa seraya menunjuk mukaku.

“Tapi punya bunda udah mau habis nih, ayah kan masih banyak. Pasti bunda menang lagi deh!” balasku mengerling mata padanya.

Meja makan mungil kami penuh. Penuh dengan binar kebahagiaan. Penuh juga dengan aneka masakan. 
Seperti biasanya, setiap hari minggu kami berlomba untuk makan sambal. Dan tentu saja menu utamanya Sambal Hijau buatanku. 
Resep yang kuperoleh dari ibu seminggu sebelum menikah itu rupanya menjadi menu favorit suamiku. Sang pemenang boleh meminta hadiah apapun. 
Dan akulah sang juara bertahan.

Tiba-tiba, Huek Huek. Secepat kilat aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanan-makanan yang sudah tak berbentuk itu dari perutku. Suamiku mengikutiku dan memijat tengkukku dari belakang.

“Kebanyakan makan sambal ya bun? Sekarang bunda istirahat dulu ya” ujarnya khawatir.

“Ayah buatin teh hangat untuk bunda ya?”tanyanya.

Aku mengangguk lemah dan tersenyum padanya.

“Tunggu sebentar ya bunda? “ dia beranjak keluar kamar. Dan seketika berbalik badan,

“Oiya bun, berarti kali ini ayah yang menang ya! Hehe,”candanya.

“Iya ayah yang menang,” aku tersenyum lemah. Dan dia pun membalas senyumku. Senyum semanis madu itu terukir di wajah rupawannya.
 Ah suamiku, aku mencintaimu saat ini dan selamanya.

* * *

Rabu pagi, ayah mengecup keningku dan mulai memisahkan raga sejenak dariku untuk menjemput nafkah di luar sana. Kembali sepi rumah mungil kami. 
Perut ini semakin rumit rasanya. Bercampur aduk tak karuan. 
Kuputuskan untuk pergi ke dokter dan membeli obat di apotek.

* * *

Terimakasih Ya Robb. Terimakasih Ya Allah.

Mengalir bulir bening dari kedua mataku. Sujudku yang lama terasa begitu mengharukan. 
Kunikmati detik demi detik ketenangan ini.
Kedamaian menyelami seluruh peredaran darahku.
Di usai salamku, kupanjatkan do’a dengan lelehan air mata yang semakin deras.

Terimakasih Ya Robb. Terimakasih. 
Telah kau izinkan aku dan suamiku untuk menjadi keluarga yang sempurna. 
Terimakasih telah kau hadirkan dia yang akan menghangatkan rumah kecil kami. 
Dhuha yang indah setelah 2 tahun penantianku dan Mas Radit.

* * *

Malam telah menampakkan pesonanya. Menunggu mas Radit pulang adalah detik-detik yang mendebarkan. Tak sabar ingin melihat senyumnya ketika kuceritakan kabar ini. 
Tiba-tiba mataku menangkap sebuah lingkaran merah goresan spidol pada kalender bulan ini. Mataku terbelalak dan senyumku melebar.

Ya! 2 minggu lagi adalah ulangtahun pernikahan kami. Kalau begitu kabar ini akan kusampaikan padanya 2 minggu lagi. Ehm, sepertinya aku harus membuat surprise untuk Mas Radit.

* * *

Dan beginilah, ide dari kedua sahabatku untuk membuat surprise dengan cara membuat Mas Radit cemburu. 
Mereka berdua menyamar sebagai mantan pacarku di SMA dulu. 
Mulai dari mengirim pesan singkat, mengirim paket bunga, bahkan mengirim pesan mesra ketika aku sedang berduaan dengan Mas Radit. 
Hingga Mas Radit pun marah besar ketika mengetahuinya. 

Sebenarnya teriris hati ini, ingin sekali mengatakan yang sesungguhnya. Tapi kedua sahabatku segera mencegahnya. 
Mereka membujukku untuk bersabar lebih lama agar surprise berjalan dengan lancar. Niat banget mereka ngerjain suamiku, batinku.
 
* * *

Malam itu, mendung menggelayut manja. Rembulan pun enggan menampakkan keanggunannya. Hanya tersembul sebilas senyum renta diantara kelabunya. 
Aku duduk dihadapan sebuah meja bundar di sebuah restoran. Wangi bunga sedap malam membelai-belai hatiku yang gundah gulana. 
Kulirik jam tangan. Sudah hampir satu jam Mas Radit belum datang. 

Skenario yang dirancang kedua sahabatku adalah memberitahu mas Radit bahwa aku sedang bersama mantan pacar di restoran ini. Dia pun bersegera menuju kemari. Dan akan kuberi kejutan sesampainya disini.

Lamunanku terbuyar ketika handphone bergetar. 
Segera kuangkat telepon dari nomor tak dikenal tersebut. 
Baru beberapa detik si penelpon berbicara, jantungku serasa melompat. 
Seluruh tulangku seakan merosot dan luruh ke tanah. 
Semuanya gelap.

* * *

Hujan masih menyenandungkan harmoni indahnya. 
Dedaunan masih menari riang. 
Basah. 
Air mata ini sudah lama kering. 
Tetapi muara kesedihan masih menggelayut di pelupuk mataku. 

Malam itu Mas Radit kecelakaan, dan aku belum sempat memberinya kabar bahagia itu.
Semua sirna, seperti butiran debu yang luruh bersama tetesan air hujan. 

Tetapi kenangan bersama Mas Radit akan selalu ada. 
Bagaikan bunga-bunga yang menengadah seraya tersenyum bermandikan air hujan.



Aku suka sambal. 

Karna sambal mengingatkanku tentangnya. 

Tentang tetes peluhnya ketika asyik menikmati sambal hijau buatanku. 

Aku suka sambal. 
Karna sambal membuatku faham tentang arti melengkapi. 

Dan Mas Radit adalah pelengkap yang terindah.

Aku suka sambal. 

Karna sambal memberiku arti, bahwa dibalik kesederhanaan cinta ada begitu banyak makna yang terurai.

#LA – 151212



EKSPEDISI GUNUNG GEDE

Perjalanan yang tak terlupakan bersama kalian :)






CINTAKU TELAH BERLABUH

Oleh: Nafisah Nida' Asy-Syahidah*
Malam ini hitam. Langit menggelap dengan khasnya yang mencekam. Rembulan tampak enggan menatap kehidupan di bawah sini. Sendiri kunikmati malam dengan handphone di tangan. Iseng kubuka salah satu grup whatsapp. Lama kutatap judul yang terpampang jelas di bagian atas. Ah, begitu jelas hati ini berbicara. Cintaku telah berlabuh pada deret huruf yang berbaris, membentuk sebuah kalimat, LDK AL FATIH 15-16.
Setahun yang lalu, kuhempaskan diri ini pada pelukan Sang Ibukota. Demi menatap gedung biru kembar itu, aku mati-matian bersaing melawan ratusan pendaftar lainnya. LIPIA. Dengan segala kabar beritanya yang mengangkasa ke seluruh pelosok negeri, menjadikannya salah satu dari impian ratusan pelajar Indonesia. Termasuk aku yang tanpa sungkan berani memimpikan gedung biru kembar itu.

Alhamdulillah, berkat karunia-Nya dan do'a segenap orang orang yang mengasihiku, namaku bertengger di antara deretan nama-nama lainnya di Qism Takmiliy. Pagi demi pagi pun kulalui dengan memasuki gerbang gedung biru kembar itu. Tak terasa sudah hampir 300 pagi kulalui gerbang itu. Sampailah di penghujung semester, dimana saat-saat yang menentukan untuk melanjutkan Qism Syari'ah.

Qodarullah, sebuah musibah menimpaku. Ketika sedang dibonceng oleh temanku, kami mengalami kecelakaan yang cukup parah. Hingga beberapa minggu pun kuhabiskan untuk melakukan perawatan karena kaki ini susah dipakai berjalan. Kecelakaan itu berdampak pada ujian tengah semesterku. Berdampak pula pada sisa-sisa semester yang harus kulalui. Pasrah. Berdo'a dan terus berusaha. Namun taqdir berkata lain. 

"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui".

Penggalan ayat dari surat Al Baqoroh itu terus terngiang di kepalaku menemani bulir air mata yang membasahi pipiku saat menerima kabar tentang penerimaan Qism Syari'ah. Ya kawan, Allah belum menghendaki aku untuk duduk bersama teman-teman di Qism Syariah. 

Sedih? Tentu saja sedih! Kecewa? Sudah pasti! Tapi senyum masih bisa terukir di wajahku. Hati ini masih bisa untuk menerima. Dan akhirnya kuputuskan untuk mendaftar di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Timur. Semua berjalan normal. Hingga akhirnya, sesuatu terjadi dan mengoyak batinku. Sesuatu apakah itu?
Tujuh hari yang lalu, matahari mengintip malu di balik kabut dingin kaki gunung Pangrango. Sepoi angin pagi menyapa  mesra segerombolan muda-mudi dengan senyum di wajah mereka. Ya, mereka adalah para pengurus LDK Al Fatih LIPIA. Tahukah mengapa  senyum melengkung indah di bibir-bibir mereka? Karena mereka sedang berbahagia. Tahukah mengapa mereka berbahagia? Karena kuncup cinta mulai merekah di antara mereka. Kuncup cinta apakah itu? Cinta yang dengannya para pengurus LDK Al Fatih itu menyerahkan segalanya untuk jalan dakwah. Cinta yang dengannya tak ada lagi waktu tidur. Cinta yang dengannya peluh keringat menjadi hal yang biasa. Cinta yang dengannya dakwah menjadi kebutuhan. Cinta yang tiada akhirnya.
Tepatnya hari Jum'at tanggal 4 September 2015, kami segenap pengurus LDK Al-Fatih LIPIA pergi bersama menuju Villa Gunung Lingkung yang berada di Puncak, Bogor, Jawa Barat. Ustadz Syukron selaku ketua umum LDK Al-Fatih LIPIA menginstruksikan kepada segenap pengurus untuk berangkat dan mengikuti acara ini. Yakni acara Lokakarya LDK Al-Fatih. Acara ini adalah sebuah perubahan yang diusung oleh Ketum LDK Al-Fatih LIPIA di awal kepemimpinannya. Kabinet Perubahan adalah kabinet yang pertama kali melakukan muker (musyawarah kerja) di luar Jakarta. Sebuah gebrakan besar di awal masa jabatannya. 

Tentu tidak sedikit kocek yang harus dirogoh untuk acara besar ini. Namun dengan semangat tinggi segenap pengurus, acara ini bisa terlaksana tanpa halangan suatu apapun.
Kalau kata akh Jauhari: "Kita bukan sedang menyewa villa untuk raker, tapi kita menyewa villa untuk membeli kebersamaan".
Sedang kata Ustadz Syukron: "Kasih tahu pada dunia, kalau mau melihat kejayaan Islam, tengoklah pengurus LDK Al-Fatih LIPIA"
Kalau kata akh Nafis: "Menurut ana grup itu isinya orang-orang langit. Para pemuda yang tak pernah lelah memberikan cinta untuk indonesia".
Sedang kata ukh Zahrah: "Kutemukan sepenggal firdaus di LIPIA, dan itu adalah LDK AL FATIH".
Kalau kata akh Faiq: "Ini adalah moment yang tepat untuk kita menghilangkan hambatan dan saling mencintai".
Dan masih begitu banyak kata demi kata terurai dari segenap para pengurus.
Kami sepakat bahwa acara lokakarya tersebut telah berhasil membeli kebersamaan kami. Telah berhasil merajut ukhuwwah yang sempat renggang di antara kami. Telah berhasil membuat kuncup cinta mulai merekah di antara kami.
Dan biarkan rumput hijau yang bergoyang, pohon pinus yang berjajar, saung-saung yang berdiri kokoh, Gunung Pangrango dan Gunuk Salak yang berwibawa, sepoi angin nan lembut, udara dingin yang membelai, matahari yang mengintip malu, bintang gemintang yang berkedip mesra, serta Allah yang selalu ada dalam setiap langkah kita,  menjadi saksi akan indahnya ukhuwwah ini.
Kawan, acara lokakarya ini berhasil mengoyak batinku. Bagaimana tidak? Dengan statusku yang kini bukan lagi sebagai mahasiswi LIPIA, sedang cintaku telah mengakar kepada Al-Fatih...
Kawan, kalaupun kelak keberadaanku tidak bisa berlanjut di Al-Fatih, akan aku kenang kalian semua sebagai kenangan yang terindah. Akan kuletakkan Al-Fatih di sudut hati terdalam dan kuberi label: "Yang Selalu Kucinta, LDK Al Fatih LIPIA" 
 
#SayangAlFatih
#AlumniDNDR2014Hebat
#KabinetPerubahan
#KerjaBesarUntukPerubahanBesar
#MedCenKece
#LikeNShare
Jakarta, 140915 / 0:29
*Anggota Dept. Media Centre Kabinet Perubahan

SURAT UNTUK UMMI




Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Apa kabar ummi ? Nanda harap rahmat dan limpahan karunia-Nya selalu tercurah di setiap hembusan nafas , detakan jantung , dan aliran darah ummi .
Sore ini , ketika alam sedang menunjukkan keanggunannya di balik rintik hujan , aku ingin menggoreskan pena untuk mu ummi .
Mungkin ini hanya sebuah surat , tapi Ummi harus tau , surat ini nanda buat dengan setiap katanya menyimpan rindu yang mendalam . Setiap kalimatnya mengandung maafku .  Setiap baitnya penuh dengan untaian terimakasih tiada akhir .
Ummi sayang , boleh nanda tanya?
Kira-kira 18 tahun yang lalu , di sore yang mendung seperti ini , apa yang ummi rasakan ketika ummi tergolek lemah tak berdaya dengan perut berisi bayi kecil itu ?
Apa ummi kesakitan ? Tapi apakah ummi bahagia ? Karna kulihat ada sedikit senyuman di balik rintihan mu.
Lalu , apa yang ummi rasakan ketika bayi itu mulai menendang . Bayi kecil itu tampaknya protes ingin segera keluar ya mi ?
Tapi kenapa rintihan ummi terdengar lebih keras ? Sakit ya mi ?
Lalu, nanda lihat nampaknya ummi sedang berjuang di tengah garis kematian dan kehidupan ya ? Nanda lihat ummi begitu menderita .
Tapi tak berapa lama , setelah ruangan ramai dengar tangisan bayi kecil yang merah , kenapa ummi tersenyum dengan air mata yang mengalir ? Senyum ummi tampak begitu tulus . Apa ummi bahagia ?
Ummi dekap mesra bayi kecil itu , seakan tak mau melepaskannya . Kenapa ummi berikan bertubi-tubi ciuman kepadanya ? Ummi menyayanginya ya ?
Ummi sayang , 18 tahun pun berlalu . Sekarang nanda tau bahwa bayi kecil yang merah itu adalah nanda .
Subhanallah , Maha Besar Allah yang telah menciptakan wanita kuat sepertimu ummi . Nanda tau perjuanganmu sangatlah berat . Kau lewati persimpangan antara hidup dan mati hanya agar dapat mendekapku erat .
Terimakasih ummi , kau telah mengizinkan nanda untuk merasakan indahnya islam dan nikmatnya iman . Kau telah memberi nanda kebahagiaan karena dapat melihat betapa jelitanya wajahmu.
Ummi sayang , hari terus berganti hari , seluruh kasih dan sayang kau curahkan kepada bayi kecil itu . Dengan cinta tulus yang kau berikan , bayi kecil itu tumbuh dengan sehat .
Pernah suatu malam , bayi kecil itu menangis tiada henti . Kau gelisah dan cemas di buatnya . Ketika kau raba dahinya , panas tinggi rupanya . Dengan air mata yang mulai mengalir , kau mulai merawat bayi kecil itu , kau bisikkan padanya “sayang, jangan menangis ya. Ummi selalu di sisimu” . Dan akhirnya bayi kecil itu diam dalam dekap hangatmu . Nanda tau dia begitu nyaman dan tentram di dalap dekapmu.
Ummi sayang , bayi kecil itu adalah nanda . Apa ummi tau ? Sampai saat ini nanda masih bisa merasakan hangatnya dekapanmu itu. Setiap badan nanda sakit, nanda ingin merasakan dekapmu lagi. Tapi apa daya jarak memisahkan kita mi . Yang bisa nanda lakukan hanya memejamkan mata , dan mulai merasakan hangat dekapmu menjalar di tubuh lemahku . Dengan itulah nanda masih kuat untuk menjalani hari-hari yang melelahkan itu .
Ummi sayang , nanda tau , kaulah yang selalu ada di setiap sakit dan lemahku . Kau bisikkan kata-kata sayang di kala tubuhku melemah . Kau ajak ku untuk selalu menyebut asma-Nya . Dan saat itulah nanda tau , bahwa engkaulah dokter terbaik di seluruh dunia .
Rasanya begitu banyak episode lemah dan sakit yang aku lewati . Aku tak bisa mengingatnya karena terlalu banyak . Tapi yang nanda ingat , di setiap episode itu selalu ada hadirmu di sisiku ummi . Walau terkadang nanda tak bisa merasakan belaian lembutmu , tapi sungguh , dekap hangatmu masih terasa di setiap sel-sel tubuhku . Terimakasih ummi .
Ummi sayang , di balik episode lemah itu , ada berjuta banyak episode bahagia bersama mu. Ah , tapi rasanya bukan berjuta mi . Karena terlalu banyak , nanda tak bisa menghitungnya .
Ketika ummi mengajak nanda untuk menyaksikan betapa indahnya mentari yang terbit , merasakan hangat sinarnya , nanda tersenyum . Karena nanda tau keindahan sinar hangat mentari terkalahkan oleh hangatnya sinar yang kau pancarkan dari kedua mata indah itu .
Ketika ummi mengajak nanda menikmati keindahan pantai dengan deburan ombaknya dan angin yang menerpa lembut , nanda tersenyum . Karena nanda tau lembutnya terpaan angin itu terkalahkan oleh lembutnya belaian tangan halus mu itu .
Ketika ummi mengajak nanda untuk melihat hamparan padang rumput hijau dengan bunga-bunga cantik di bertebaran, nanda tersenyum . Karena nanda tau kecantikan bunga-bunga itu terkalahkan oleh cantiknya wajah teduhmu itu .


Ummi sayang , semua keindahan itu terkalahkan oleh pesonamu . Pesona seorang wanita yang cinta dan kasihku hanya untuknya . Pesona seorang wanita yang namanya selalu tertera elok di palung hatiku .
Ummi sayang , begitu panjang untaian kasih dan sayang ingin ku persembahkan untukmu .
Tapi nampaknya meskipun pena dan kertas di seluruh dunia ini di kumpulkan , tetap tak cukup untuk menuliskannya.
18 tahun yang ku lalui bersama mu adalah saat terindah untukku .
Lisan dan sikap nanda sering menggores hati lembut mu . Bahkan membuat air mata mu tumpah membasahi bumi dengan sendu .
Ribuan bahkan jutaan maaf sepertinya tak mampu menebus segala dosa ku . Simpuhku di kaki mu sepertinya juga tak mampu menghapus noda dari salahku . Maav ummi .
Nanda minta maav atas smua khilaf ..
Rantaian terimakasih tak berujung nanda haturkan dari kediaman nanda di belahan bumi Allah ini .
Terimakasih atas smua kasih dan sayang yang tak pernah usai itu .
Terimakasih untuk belai lembut dan dekap hangat mu .
Terimakasih untuk nasihat dan kata bijak mu .
Terimakasih untuk hadirmu di setiap hari ku .
Terimakasih untuk do’amu yang senantiasa tertuju untukku .
Terimakasih untuk segala yang telah kau berikan selama 18 tahun ini .

Nanda ingin menjadi seorang ibu sepertimu .
Jangan pernah bosan mencintai nanda ya mi ?

Nanda ingin menjadi seorang ibu sepertimu .
Jangan pernah bosan mencintai nanda ya mi ?
Do'akan nanda selalu .

Ingin ku balas semua kasih syang mu itu dengan apa yang tak ada di dunia ini .
Ya , jubah kebanggaan di surga kelak .

Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, ‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab, ‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran.’” (Riwayat al-Hakim)

Ya Allah , izinkan hamba melihat bahagia mereka ketika hamba kenakan jubah kebanggaan pada ummi dan abi . amiin ya robbal alamiin

Nanda akan berusaha untuk slalu menjadi yang terbaik untukmu .
Nanda akan menjadi anak yang sholihah untukmu .
Nanda akan slalu menyayangi mu .
Nanda sayang ummi , karena Allah :’)

Klaten,031211
# Ku tulis di sudut air mata rindu
#SAYANGummi

Teruntuk: Bidadari ku, Laily Surveyesty


senyum bahagiaku karna mempunyai kau, ummi