Siang itu ,,di antara padat nya lalu lintas di tengah kota solo ,, akku terduduk di dalam sebuah mobil yang di kemudikan oleh pamanku ,, dengan pandangan mata kku yang menerawang jauh ke luar mobil .
Kendaraan beruntun menanti kemacetan segera pulih ,, bunyi klakson kendaraan semakin membuat riuh suasana siang itu . Asap dari knalpot memperkeruh pandangan mata . Terik matahari menyengat dan berusaha mengalahkan AC mobil yang sudah di hidupkan .
Ketika mobil ku sampai pada perempatan yang menjadi sumber kemacetan itu,, aku menghela nafas panjang . Fiuh ,, siang yang melelahkan . Tiba-tiba mata kku menangkap seseorang yang tengah berada di tengah perempatan itu . Kku picingkan mata kku untuk memperjelas penglihatan kku di antara kepulan asap kendaraan .
Dan kau tau apa yang kku lihat ? Seorang bapak berumur sekitar 50 tahun , berdiri dengan membawa peluit di tangan kirinya . Sedang tangan kanannya bergerak-gerak mengatur arus lalu lintas . Bapak itu sepertinya seorang sukarelawan yang terjun untuk membantu melancarkan arus lalu lintas . Kku perhatikan sosok kurusnya dengan seksama . Kaos oblongnya berwarna biru yang sudah memudar , dan di bagian kerahnya banyak sobekan seperti sudah lama dan usang .
Sandal jepitnya tampak lusuh dan kumal . Sedang celana panjangnya adalah celana panjang tua berwarna hitam dan agak memudar . Sebuah topi polos tak bergambar berwarna hitam kecoklatan melindungi wajahnya dari sengatan matahari . Tangannya terus bergerak dan badannya berputa ,, berusaha untuk mengatur arus lalu lintas .
Terkadang , di tiup peluit yang di genggamnya di tangan kiri . Priit Priit .. Majuu .. Stoop ..
Teriaknya di sela gemuruh mesin kendaraan . Sesekali ia hapus peluh yang menetes di dahinya . Tapi tak sedetikpun ia berhenti dan mengeluh . Dan sesekali di sunggingkannya senyum kepada pemilik tangan-tangan yang terulur dari kaca mobil dan meletakkan ribuan atau recehan .
Sesak dada kku,, bergumul pikiran dan kesedihan dalam diriku . Lelaki tua itu sepertinya mempunyai keluarga yang sangat menyayanginya di rumah . Itu jelas ,, karna ia adalah sosok pria yang bekerja keras demi keluarga . Dan pastinya ia sosok ayah yang begitu bersahaja di mata anak-anaknya .
Terlintas di benak kku ,, betapa mulia pekerjaannya jika di bandingkan dengan pengamen di jalan atau bahkan yang lebih rendah peminta-minta alias pengemis . Ia yang sudah berumur dan jelas kondisi badan yang sudah tidak terlalu fit ,, harus berkecamuk dalam dunia lalu lintas . Harus bersahabat dengan debu dan asap kendaraan . Harus bermandikan peluh dan makian orang .
Hai kalian para pengamen jalanan ,, para peminta-minta ,, apa kalian tak malu !? Lihatlah bapak ini,, di usia rentanya ia masih membantu orang lain .. Semua itu ia kerjakan dengan ikhlas .. Tanpa mengharap adanya gaji dari pmerintah dan kepolisian ..
Tapi kenapa kalian yang masih muda dan bertubuh bugar,, malah mengumbar suara kalian dan meminta belas kasihan orang . Bahkan tak jarang kalian sematkan sumpah serapah apabila uang yang kalian terima tak banyak .. Apa kalian tak malu !?
Sungguh ,, miris hati ini . Menatap bapak tua itu dengan semangatnya untuk menolong sesame . Di usia rentanya ia masih sangat bermanfaat bagi orang lain .. Beapa bangga anak-anaknya memiliki bapak berhati mulia itu ..
Mobil kku pun melaju ,, melewati bapak itu ,, ku julurkan tangan kku keluar dari kaca mobil dan meletakkan lembar puluhan di tangan bapak itu .. Senyumnyatersungging untuk kku dan di anggukkannya kepalanya tanda terimakasih .. Di selipkan lembaran uang tadidi saku bajunya yang lusuh . Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya .
Mobil bergerak perlahan ke depan ,, mulai meninggalkan kemacetan itu .. Ku lihat bapak tua itu,, semakin jauh ,, semakin jauh ..
Terimakasih Pak,,
Solo , 231211
#Untuk kalian para ayah dan pahlawan keluarga


Tidak ada komentar:
Posting Komentar