Sabtu, 10 Oktober 2015

CINTAKU TELAH BERLABUH

Oleh: Nafisah Nida' Asy-Syahidah*
Malam ini hitam. Langit menggelap dengan khasnya yang mencekam. Rembulan tampak enggan menatap kehidupan di bawah sini. Sendiri kunikmati malam dengan handphone di tangan. Iseng kubuka salah satu grup whatsapp. Lama kutatap judul yang terpampang jelas di bagian atas. Ah, begitu jelas hati ini berbicara. Cintaku telah berlabuh pada deret huruf yang berbaris, membentuk sebuah kalimat, LDK AL FATIH 15-16.
Setahun yang lalu, kuhempaskan diri ini pada pelukan Sang Ibukota. Demi menatap gedung biru kembar itu, aku mati-matian bersaing melawan ratusan pendaftar lainnya. LIPIA. Dengan segala kabar beritanya yang mengangkasa ke seluruh pelosok negeri, menjadikannya salah satu dari impian ratusan pelajar Indonesia. Termasuk aku yang tanpa sungkan berani memimpikan gedung biru kembar itu.

Alhamdulillah, berkat karunia-Nya dan do'a segenap orang orang yang mengasihiku, namaku bertengger di antara deretan nama-nama lainnya di Qism Takmiliy. Pagi demi pagi pun kulalui dengan memasuki gerbang gedung biru kembar itu. Tak terasa sudah hampir 300 pagi kulalui gerbang itu. Sampailah di penghujung semester, dimana saat-saat yang menentukan untuk melanjutkan Qism Syari'ah.

Qodarullah, sebuah musibah menimpaku. Ketika sedang dibonceng oleh temanku, kami mengalami kecelakaan yang cukup parah. Hingga beberapa minggu pun kuhabiskan untuk melakukan perawatan karena kaki ini susah dipakai berjalan. Kecelakaan itu berdampak pada ujian tengah semesterku. Berdampak pula pada sisa-sisa semester yang harus kulalui. Pasrah. Berdo'a dan terus berusaha. Namun taqdir berkata lain. 

"Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui".

Penggalan ayat dari surat Al Baqoroh itu terus terngiang di kepalaku menemani bulir air mata yang membasahi pipiku saat menerima kabar tentang penerimaan Qism Syari'ah. Ya kawan, Allah belum menghendaki aku untuk duduk bersama teman-teman di Qism Syariah. 

Sedih? Tentu saja sedih! Kecewa? Sudah pasti! Tapi senyum masih bisa terukir di wajahku. Hati ini masih bisa untuk menerima. Dan akhirnya kuputuskan untuk mendaftar di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta Timur. Semua berjalan normal. Hingga akhirnya, sesuatu terjadi dan mengoyak batinku. Sesuatu apakah itu?
Tujuh hari yang lalu, matahari mengintip malu di balik kabut dingin kaki gunung Pangrango. Sepoi angin pagi menyapa  mesra segerombolan muda-mudi dengan senyum di wajah mereka. Ya, mereka adalah para pengurus LDK Al Fatih LIPIA. Tahukah mengapa  senyum melengkung indah di bibir-bibir mereka? Karena mereka sedang berbahagia. Tahukah mengapa mereka berbahagia? Karena kuncup cinta mulai merekah di antara mereka. Kuncup cinta apakah itu? Cinta yang dengannya para pengurus LDK Al Fatih itu menyerahkan segalanya untuk jalan dakwah. Cinta yang dengannya tak ada lagi waktu tidur. Cinta yang dengannya peluh keringat menjadi hal yang biasa. Cinta yang dengannya dakwah menjadi kebutuhan. Cinta yang tiada akhirnya.
Tepatnya hari Jum'at tanggal 4 September 2015, kami segenap pengurus LDK Al-Fatih LIPIA pergi bersama menuju Villa Gunung Lingkung yang berada di Puncak, Bogor, Jawa Barat. Ustadz Syukron selaku ketua umum LDK Al-Fatih LIPIA menginstruksikan kepada segenap pengurus untuk berangkat dan mengikuti acara ini. Yakni acara Lokakarya LDK Al-Fatih. Acara ini adalah sebuah perubahan yang diusung oleh Ketum LDK Al-Fatih LIPIA di awal kepemimpinannya. Kabinet Perubahan adalah kabinet yang pertama kali melakukan muker (musyawarah kerja) di luar Jakarta. Sebuah gebrakan besar di awal masa jabatannya. 

Tentu tidak sedikit kocek yang harus dirogoh untuk acara besar ini. Namun dengan semangat tinggi segenap pengurus, acara ini bisa terlaksana tanpa halangan suatu apapun.
Kalau kata akh Jauhari: "Kita bukan sedang menyewa villa untuk raker, tapi kita menyewa villa untuk membeli kebersamaan".
Sedang kata Ustadz Syukron: "Kasih tahu pada dunia, kalau mau melihat kejayaan Islam, tengoklah pengurus LDK Al-Fatih LIPIA"
Kalau kata akh Nafis: "Menurut ana grup itu isinya orang-orang langit. Para pemuda yang tak pernah lelah memberikan cinta untuk indonesia".
Sedang kata ukh Zahrah: "Kutemukan sepenggal firdaus di LIPIA, dan itu adalah LDK AL FATIH".
Kalau kata akh Faiq: "Ini adalah moment yang tepat untuk kita menghilangkan hambatan dan saling mencintai".
Dan masih begitu banyak kata demi kata terurai dari segenap para pengurus.
Kami sepakat bahwa acara lokakarya tersebut telah berhasil membeli kebersamaan kami. Telah berhasil merajut ukhuwwah yang sempat renggang di antara kami. Telah berhasil membuat kuncup cinta mulai merekah di antara kami.
Dan biarkan rumput hijau yang bergoyang, pohon pinus yang berjajar, saung-saung yang berdiri kokoh, Gunung Pangrango dan Gunuk Salak yang berwibawa, sepoi angin nan lembut, udara dingin yang membelai, matahari yang mengintip malu, bintang gemintang yang berkedip mesra, serta Allah yang selalu ada dalam setiap langkah kita,  menjadi saksi akan indahnya ukhuwwah ini.
Kawan, acara lokakarya ini berhasil mengoyak batinku. Bagaimana tidak? Dengan statusku yang kini bukan lagi sebagai mahasiswi LIPIA, sedang cintaku telah mengakar kepada Al-Fatih...
Kawan, kalaupun kelak keberadaanku tidak bisa berlanjut di Al-Fatih, akan aku kenang kalian semua sebagai kenangan yang terindah. Akan kuletakkan Al-Fatih di sudut hati terdalam dan kuberi label: "Yang Selalu Kucinta, LDK Al Fatih LIPIA" 
 
#SayangAlFatih
#AlumniDNDR2014Hebat
#KabinetPerubahan
#KerjaBesarUntukPerubahanBesar
#MedCenKece
#LikeNShare
Jakarta, 140915 / 0:29
*Anggota Dept. Media Centre Kabinet Perubahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar