Sabtu, 15 September 2018

Bahasa Arab. Pentingkah?

بسم الله الرحمن الرحيم
في هذه الفرصة أريد أن أتكلم عن اللغة العربية

Bisakah membaca tulisan di atas?
Bisakah memahami artinya?
Hehe. Tenang ini bukan ujian kok.

Arti dari kalimat di atas adalah : pada kesempatan kali ini saya akan membahas tentang bahasa Arab.

Wah. Kira-kira ada apa ya dengan bahasa Arab?
Bukankah itu pelajaran yang diajarkan di madrasah?
Lalu apa harus kita sebagai muslim belajar bahasa Arab?
Padahal kan bahasa yang mayoritas digunakan di dunia kan bahasa Inggris?

Sebelumnya izinkan saya menceritakan sedikit tentang pengalaman saya belajar bahasa Arab.

Setelah lulus dari salah satu MTs Negeri di kota Malang, orangtua memutuskan untuk menyekolahkan saya di pesantren. Meskipun di MTs dan MI dulu pernah belajar bahasa arab, namun ternyata pelajaran di pondok pesantren yang menggunakan bahasa Arab masih sulit saya pahami. Mungkin karena tingkat kesulitannya sudah berbeda ya.

Pondok pesantren  saya termasuk salah satu pesantren tertua di Jawa Timur. Usianya lebih dari 8 windu. Bahasa Arab di sana dipelajari erat dengan bahasa Jawa. Terbukti dari pelajaran-pelajaran agama yang kami terima setiap bada shubuh, terjemahannya menggunakan bahasa Jawa. Bisa dikenal dengan sebutan pelajaran kitab kuning. Misal kata في akan diartikan 'Ing Dalem' atau di dalam.

Dengan kemampuan yang pas-pasan ini, ternyata tidak membuat saya paham pelajaran-pelajaran tersebut. Terlebih guru-guru yang mengajar mayoritas sudah sepuh, metode yang digunakan pun sangat monoton. Hal itu membuat saya kesulitan mengerti, dan akhirnya lulus dari pesantren itu belum mampu memahami bahasa Arab dengan baik. Istilahnya 'lulus nggak bawa apa-apa'. Padahal saya jurusan agama lho SMA nya. Miris sekali kan :(

Semasa SMA, saya memang menyukai bahasa Arab. Tapi saya merasa kesulitan untuk mengaplikasikannya dalam setiap pelajaran. Bahkan ada kejadian yang masih teringat hingga saat ini. Hari itu ada ujian lisan tafsir, yang tentu saja menggunakan buku arab gundul. Perintahnya adalah para murid maju satu persatu kepada gurunya, kemudian membacakan sebuah teks arab gundul tanpa harokat itu di depan guru, setelah itu menerjemahkan dan menjelaskan artinya.

Tentu saja momen ujian itu menjadi momok yang menakutkan bagi saya dan sebagian teman lainnya. Akhirnya, ada salah seorang teman memberikan tips.

"Pokoknya baca harokat akhirnya dhommah semua ya, baca U semua akhirnya. Pasti benar!" ujarnya kepada kami.

Kami yang saat itu sedang kebingungan, begitu bahagia mendapat tips darinya. Bodohnya, kami praktekkan tips teman kami itu. Walhasil, sang guru garuk-garuk kepala, miris dengan kemampuan murid-muridnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar