Rabu, 19 September 2018

Tidak Harus dengan Air Mata





Sebuah sore yang cerah di Kota Bogor. Sembari melangkahkan kaki keluar dari ruang guru, pandanganku menangkap aktivitas sore para santri. Sebagian ada yang duduk dan berkumpul di lapangan untuk menghafal ayat-ayat Qur'an lalu menyetorkannya kepada guru tahfidz masing-masing. Beberapa lainnya yang sudah selesai, nampak berjalan-jalan menikmati suasana sore sambil menunggu waktu berbuka puasa. Hari ini memang seluruh santri diwajibkan untuk puasa 9 Muharram. Tiba-tiba beberapa santri datang dan memelukku dari belakang. Celoteh riang mereka menyapa namaku, membuatku tak bisa menahan untuk tidak mengelus-elus kepala mereka.

"Ustadzah, menu buka puasanya apa yaa?" tanya Alula.

"Kayaknya ayam goreng kremes deh," jawabku tersenyum.

"Yaah ayam goreng lagi," jawab Keke, sambil memonyongkan bibir, tanda protes.

"Hei, memangnya kenapa kalau ayam lagi? Enak kan!" jawabku dengan sedikit tertawa, melihat mulut monyong Keke.

"Ah ustadzah, kita bosen menunya ayam lagi," jawab Audi.

"Lho sayang, ingat. Ustadzah pernah bilang apa tentang kunci menuntut ilmu?" tanyaku menyelidik.

"Tekun, sabar dan syukur ya Ustadzah?" celetuk Kayla.

"Nah itu tau. Benar sayang. Syukur itu membuat kita merasa bahagia. Syukur juga membuat kita nyaman menjalani hari-hari sebagai penuntut ilmu di pesantren," jelasku sembari menatap lembut mereka satu persatu.

"Hmm iya deh Ustadzah," jawab Adinda.

"Sekarang syukuri ya lauk apapun yang ada di dapur, barangkali di luar sana banyak orang yang nggak bisa makan lho malam ini," jelasku sambil mengelus punggung Kayla.

Mereka terdiam, berusaha mencerna setiap kata-kataku.

"Nah sekarang, ada kabar baik untuk murid-murid ustadzah yang pandai bersyukur," ujarku dengan merendahkan suara. Membuat mereka penasaran.

"Apa ustadzah?!" tanya mereka serempak.

Aku tertawa, gemas melihat tingkah laku mereka.

"Dua pekan lagi, setelah Ujian Tengah Semester selesai, kalian libur tiga hari dan boleh pulang ke rumah!" jawabku riang.

"Yeaaayy, Alhamdulillah! Sayang ustadzah Nida!" teriak mereka sambil memelukku bersamaan.

Aku tertawa. Menikmati serbuan pelukan mereka yang bertubi-tubi. Kuresapi kehangatan pelukan-pelukan ini.

"Hey! Istahmamtunna yaa Akhawat?" celetukku tiba-tiba.

"Hehe, Lam nastahim Ustadzah," jawab mereka sambil nyengir.

"Astaghfirullah. Mandi sekarang! Baunya sudah kemana-mana nih," candaku sembari menutup hidung dengan jemari.

Akhirnya mereka menyalimiku satu persatu, kemudian melesat cepat menuju kamar mandi untuk mulai mengantri. Kupandangi dari kejauhan jilbab-jilbab lebar mereka yang berkibar tertiup angin sore. Pikirku melayang.

Kuhitung hari, terasa begitu cepat perguliran waktu. Rasanya semakin hari semakin berat. Rutinitas yang biasanya terasa begitu menyenangkan, kini semakin berat kujalani. Bukan karena tak sanggup, justru karena kuingin terus menikmatinya. Namun apa daya, takdir telah tertulis. Perpisahan itu harus terjadi.

Siapa sangka yang tadinya kuingin habiskan beberapa tahun di sini, yang tadinya kuingin menemani santri-santri kelas 9 UNBK dan wisuda, ternyata semua itu harus terkubur dalam-dalam. Berat sekali rasanya. Waktu satu tahun telah membuatku begitu mencintai pesantren ini, setiap sudutnya, dan orang-orang di dalamnya.

Murid-muridnya, yang semua canda tawa mereka, peluk hangat mereka, celoteh-celoteh riang mereka, akan selalu terkenang. Guru-gurunya, teman-teman seperjuangan, yang dengan mereka aku belajar bagaimana menjadi guru yang baik. Dari mereka aku belajar bagaimana mendidik dengan hati. Kepala sekolahnya, yang sosoknya seumpama ibu bagiku, yang mengajariku untuk tangguh mengerjakan berbagai tugas.

Bahkan sudut kelas, lorong, tangga, lapangan, musholla, kamar santri, dapur, dan ruangan-ruangan lain di pesantren ini memiliki kisahnya masing-masing.

Kini, izinkan aku mengemas semua kisah indah itu dengan manis. Kemudian kuletakkan di relung hati terdalam. Menemaniku di tempat baru kelak, dengan murid-murid yang baru. Tentu takkan bisa terganti, karena pesantren ini sudah menempati sebuah sudut di relung hatiku.

Nak, percayalah, perpisahan ini tidak harus dengan air mata kan?
Bisakah kita lalui ini semua dengan senyuman dan pelukan hangat?
Tolong peluk ustadzah sekali lagi.
Sebelum kelak pelukan kalian akan begitu ustadzah rindukan.


___________________
Bogor, 19 September 2018 / 9 Muharram 1440 H
Nida
Yang mencandui pelukan kalian
___________________

#day29
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

____________________

Istahmamtunna yaa akhawat? = Sudahkah kalian mandi?
Lam nastahim = Kami belum mandi
____________________


Peluk manjah





Nyengir minta difoto


Suasana khusyuk tahfidz sore


Pelukan mereka


Dalam balutan seragam pink







Tidak ada komentar:

Posting Komentar