Senin, 17 September 2018

Matahariku




Taukah kalian di manakah kota hujan itu? Ya! Bogor. Di sinilah aku sekarang. Di kota yang disebut kota hujan karena curah hujannya tinggi. Seperti pagi ini, hujan kembali mengguyur dengan derasnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 06.40. Itu artinya 20 menit lagi bel di sekolah tempatku mengajar akan berbunyi. Aku masih berdiri di depan pintu. Mematung memandang ke depan, jalanan basah. Rintik hujan itu terdengar merdu bagiku. Hujan memang selalu menyenangkan untuk dinikmati. Biasanya aku paling senang menghabiskan waktu di bawah tetesan air hujan. Membiarkan bulirnya membasahi diri ini sungguh menenangkan.

Namun, suasana pagi ini sangat tidak cocok untuk melakukan semua itu. Aku ada jadwal mengajar di jam pertama. Seharusnya saat ini diriku sudah berada di sekolah. Tapi hujan deras di luar sana menahanku untuk pergi. Jas hujan yang tergeletak di depanku hanya kulirik. Ada apa gerangan?

Kriiing. Dering handphone membuyarkan lamunanku.
Kulirik tulisan yang tertera di layar.
❤ Zawji ❤ memanggil.

"Halo, Assalamualaikum, mas!" ucapku setelah cepat-cepat mengangkat panggilannya.

"Waalaikumussalam, dek! Sudah di sekolah?" tanya suara di seberang.

"Belum nih mas! Hehe" jawabku.

"Loh lok belum dek? Bukannya semalam adek bilang ada mengajar di jam pertama?" tanyanya lagi.

"Iya mas. Tapi lagi hujan nih. Deres banget. Tadinya mau berangkat, tapi karena deres  banget, makanya sampai sekarang belum berangkat deh," jelasku panjang.

"Loh, bukannya adek ada jas hujan?" tanyanya heran.
"Iya ada mas. Tapi nanti kalau adek kedinginan terus sakit gimana hayo?" balasku.

"Haha, adek nih bisa aja. Lagian kan sekolahnya dekat dek. Nggak sampai sepuluh menit kan?" jawabnya.

"Hmm iya sih. Tapi...hmmm," aku mulai ragu menjelaskan.

"Adek lagi nggak mood? Malas ngajar?," tanyanya. Seakan bisa membaca pikiranku.

"Hehe kok mas tahu sih?" jawabku nyengir.

"Iyalah. Pasti adek masih kebawa suasana bulan madu kita kemarin kan? Hayoo," tanyanya sambil menggodaku.

"Hihi mas ih. Adek kangeeen," jawabku manja. Pasti pipiku memerah saat itu.

"Adek sayang, kamu kan baru dua minggu ngajar setelah cuti hampir 3 minggu. Masak sekarang sudah malas ngajar lagi sih? Gini lho sayang, murid-muridmu itu kangen sama kamu. Kangen sama guru kesayangan mereka. Masak kamu tega sih bikin mereka nggak bisa belajar hari ini? Kan mereka pengen dapet ilmu dari kamu. Nanti, pulang sekolah kita video call ya. Terus akhir bulan nanti InsyaAllah mas kesana. Kita jalan-jalan di sana ya, melanjutkan bulan madu lagi hihi. Jadi, adek nggak boleh males ya. Gunakan kesempatanmu ini untuk berbagi ilmu dengan murid-muridmu. Sebelum nantinya kamu berbagi ilmu dengan anak-anak kita. Mas yakin kamu pasti bisa jadi guru yang hebat dan ibu yang baik. Ya sayang?" jelasnya panjang lebar.

Aku terdiam. Dadaku menghangat. Air mataku mulai meleleh perlahan, turun mengalir membasahi pipi.

"Halo dek? Kok diem? Dek?" panggilnya dari seberang.

"Hiks, hiks, hiks"

"Lho kenapa nangis sayangku? Mas ada salah kata ya? Maaf ya dek?" tanyanya dengan nada khawatir.

"Nggak kok. Mas nggak salah. Adek cuma terharu. Tiada hentinya adek bersyukur Allah neri suami kayak mas untuk melengkapi adek. Makasih mas," jawabku terharu.

Ia adalah lelaki yang sudah resmi menjadi suamiku sejak satu bulan lalu. 

Biarlah kota ini terus-terusan diguyur hujan dan dingin. Karena aku punya matahari. Ia yang selalu menghangatkanku dengan cara sederhananya mencintaiku. Ia, suamiku. Ia, matahariku.

#day27
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis





Tidak ada komentar:

Posting Komentar