Perjalanan hidup adalah berkaitan dengan waktu. Waktu tak akan pernah kembali. Walau hanya sedetik pun.
Kali ini aku ingin menceritakan sepenggal kisah dari perjalanan hidup kku. Kisah di mana persahabatan tak harus bermula dari saling kenal.
Genap sudah 3 taun kku selesaikan pendidikan kku di bangku SLTA. Sebuah Madrasah Aliyah yang berdiri di bawah naungan Ponpes Karangasem di daerah Paciran-Lamongan, di sanalah ku ukir seluruh kenangan masa abu-abu putih. MAM 01 karangasem. Thanks 4 all.
Tapi bukan itu yang akan kku critakan.
Setelah lulus, tentu saatnya untuk melanjutkan pendidikan di bangku kuliah. Itupun bagi yang berkenan. Karna ada beberapa teman kku yang memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hidupnya di pelaminan.
Tentu aku tidak berniat untuk menyusul mereka dengan waktu secepat ini.Yang terbesit dalam pikiran ku adalah memasuki jurusan psikologi yang memang sudah kku idamkan sejak dahulu. Kku coba juga untuk mengikuti tes program beasiswa , namun tidak lolos. Sempat kku utarakan niat kku kepada orangtua untuk melanjutkan kuliah di jurusan Psikologi. Lagipula rumahku juga dekat dengan sebuah universitas bergengsi di Jawa Timur. Tetapi kedua orangtua ku hanya resenyum. Ah, aku semakin gelisah. Padahal waktu pendaftaran universitas-universitas akan segera di tutup.
Hingga suatu hari, orangtua menyodorkan sebuah formulir berukuran A4. Coba ku baca. Program Beasiswa Sekolah Tinggi Pemikiran dan Peradaban Islam. Berlokasi di Klaten – Jawa Tengah. Jawa Tengah? Apakah ini berarti aku harus menempuh pendidikan jauh dari rumah lagi? Dan ini bukan program psikologi yang aku idamkan. Lalu apa maksud semua ini?
Malamnya orangtua ku menjelaskan, bahwa mereka berdua menginginkan aku untuk melanjutkan pendidikan di situ. Sebuah Universitas yang akan menempa aku untuk menjadi seorang yang sukses dunia akhirat.
Aku hanya diam. Hati ini masih di liputi keraguan. Bagaimana dengan jurusan Psikologi itu? Bagaimana dengan impian ku untuk menjadi seorang Psikolog ternama? Begitu menyesakkan berada dalam keombang-ambingan. Tapi aku harus menentukan keputusan secepatnya. Akhirnya dengan setengah hati, ku pilih untuk menuruti kemauan kedua orangtua ku. Ku mulai untuk belajar dan mengulang hafalan. Karena yang akan di ujikan pada saat test adalah pelajaran keislaman dan hafalan al-qur’an.
Sehari sebelum hari test, aku dan ayah ku berangkat dari Malang pukul 9 malam. Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Pukul 3 pagi, setelah setengah jam mencari alamat yang kami tuju, akhirnya tebentang di hadapan kku. Sebuah bangunan asrama yang begitu megah. Warna hijau dan arsitek yang apik membuat bangunan itu terkesan mewah. Belakangan ku ketahui itu adalah asrama putri.
Setelah bersih diri dan bersiap, pukul 8 pagi , ku langkahkan kaki menuju tempat tezt. Hati ini berdegup kencang. Bismillah..
Setelah duduk dan berkenalan dengan beberapa peserta tez yang lain , ku edarkan pandangan ke sekeliling ruangan. 4 orang yang duduk di bangku belakang adalah para ustadzah yang juga akan mengikuti tezt. 4 orang lainnya adalah para akhwat yang berasal dari berbagai daerah.
Soal pun di bagikan. Astaghfirullah. Apa ini?! Menggunakan bahasa arab seluruhnya. Hati ku semakin menciut ketika terdengar gumaman dari blakang bahwa soalnya mudah. Ah, harus ku isi apa kertas kosong ini? Ku pejamkan mata dan ku tenangkan hati. Bismillah. Aku pasti bisa. Mulai ku goreskan kata demi kata. Meskipun aku tidak yakin akan benar tidaknya, aku tidak peduli. Yang ku lakukan adalah menulis dan terus menulis. Setelah satu jam, lembar tes psikologi yang di bagikan. Kali ini ku kerjakan dengan lebih cepat dan lebih ringan tentunya.
Setelah selesai, seorang ustadz memberitahukan bahwa selanjutnya adalah test lisan alias wawancara. Duduk menanti panggilan. Ketika nama ku di panggil , ku langkahkan kaki dengan jantung yang kembali berdegup kencang. Seorang ustadz mewawancarai ku. Menanyakan ini itu. Meminta ku mengulang hafalanku. Bisa di pastikan dalam keadaan grogi yang pasti aku tidak bisa mengulang dengan lancar. Akhirnya, 45 menit yang terasa panjang itu selesai. Panitia memberitahukan bahwa pengumuman dapat di lihat melalui internet 2 minggu kemudian.
Siang itu juga, aku dan ayah langsung pulang menuju Malang. Perjalanan yang melelahkan lagi.
Dua minggu ku lalui dengan perasaan biasa saja. Dengan tetap melanjutkan aktivitas ku seperti biasa. Hingga akhirnya hari yang di tentukan pun tiba. Ku buka website resmi Ibnu Abbas. Ku coba cari nama ku di antara deretan nama yang tertera di sana. Yap , akhirnya ku temukan namaku. Tapi ternyata yang tertulis di sana adalah ‘cadangan’. Aku berstatus cadangan. Sedangkan teman-teman akhwat yang di terima hanya 4 orang itupun para ustadzah. Ku lihat wajah orangtua ku. Mereka terdiam. Hingga akhirnya memutuskan agar aku mengikuti pendaftaran gelombang dua. Karena walaupun berstatus cadangan itu tidak menjamin aku akan di terima. Sebenarnya aku agak kecewa. Lagi-lagi mengapa orantua tidak mengizinkan mengikuti pendaftaran jurusan psikologi saja. Tapi ku pendam semua kekecewaan ku itu. Aku yakin , mereka berdua tau mana yang terbaik untukku.
Hingga akhirnya kembali ku siapkan diri ku untuk mengikuti tezt gelombang dua. Kali ini persiapan yang ku lakukan lebih besar ketimbang sebelumnya. Ku ikuti lez berbagai pelajaran keagamaan. Ku ikuti pula liqo’ dengan salah satu ustadzah di Malang untuk menyetorkan hafalan. Demikian seterusnya hingga berjalan satu bulan setengah.
Seusai sholat , slalu ku panjatkan do’a kepada Sang Kholiq. Sang Maha Kuasa atas segalanya. Berdo’a untuk segala keputusan yang ku ambil. Berdo’a untuk kelemahan diri ini di bawah kuasa-Nya. Berdo’a agar di beri yang terbaik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar