Sabtu, 10 Oktober 2015

Cintaku Sepedas Sambal





Tumpah ruah tak mengenal kata ampun. 
Menukik tajam tiada ragu. Membentur kesana kemari. 
Dedaunan, atap rumah, aspal. Meresap hilang ke dalam tanah. 
Hawa dingin menyergap seluruh persendian. 
Meleleh sudah benteng pertahanan itu. 
Meleleh dan mengalir. 
Sembari mata ini menyapa dari balik jendela. 
Menekuri setiap sudut kenangan yang terhempas bersama butiran-butiran itu. 
Dan akhirnya hujan pun bersenandung.


* * *


Hari minggu yang cerah. Rumah mungil ini pecah oleh renyah tawamu. Menciptakan gores-gores kebahagiaan di usia pernikahan kitayang masih muda.

“Haha, muka bunda udah merah tuh,” ujarnya tertawa seraya menunjuk mukaku.

“Tapi punya bunda udah mau habis nih, ayah kan masih banyak. Pasti bunda menang lagi deh!” balasku mengerling mata padanya.

Meja makan mungil kami penuh. Penuh dengan binar kebahagiaan. Penuh juga dengan aneka masakan. 
Seperti biasanya, setiap hari minggu kami berlomba untuk makan sambal. Dan tentu saja menu utamanya Sambal Hijau buatanku. 
Resep yang kuperoleh dari ibu seminggu sebelum menikah itu rupanya menjadi menu favorit suamiku. Sang pemenang boleh meminta hadiah apapun. 
Dan akulah sang juara bertahan.

Tiba-tiba, Huek Huek. Secepat kilat aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanan-makanan yang sudah tak berbentuk itu dari perutku. Suamiku mengikutiku dan memijat tengkukku dari belakang.

“Kebanyakan makan sambal ya bun? Sekarang bunda istirahat dulu ya” ujarnya khawatir.

“Ayah buatin teh hangat untuk bunda ya?”tanyanya.

Aku mengangguk lemah dan tersenyum padanya.

“Tunggu sebentar ya bunda? “ dia beranjak keluar kamar. Dan seketika berbalik badan,

“Oiya bun, berarti kali ini ayah yang menang ya! Hehe,”candanya.

“Iya ayah yang menang,” aku tersenyum lemah. Dan dia pun membalas senyumku. Senyum semanis madu itu terukir di wajah rupawannya.
 Ah suamiku, aku mencintaimu saat ini dan selamanya.

* * *

Rabu pagi, ayah mengecup keningku dan mulai memisahkan raga sejenak dariku untuk menjemput nafkah di luar sana. Kembali sepi rumah mungil kami. 
Perut ini semakin rumit rasanya. Bercampur aduk tak karuan. 
Kuputuskan untuk pergi ke dokter dan membeli obat di apotek.

* * *

Terimakasih Ya Robb. Terimakasih Ya Allah.

Mengalir bulir bening dari kedua mataku. Sujudku yang lama terasa begitu mengharukan. 
Kunikmati detik demi detik ketenangan ini.
Kedamaian menyelami seluruh peredaran darahku.
Di usai salamku, kupanjatkan do’a dengan lelehan air mata yang semakin deras.

Terimakasih Ya Robb. Terimakasih. 
Telah kau izinkan aku dan suamiku untuk menjadi keluarga yang sempurna. 
Terimakasih telah kau hadirkan dia yang akan menghangatkan rumah kecil kami. 
Dhuha yang indah setelah 2 tahun penantianku dan Mas Radit.

* * *

Malam telah menampakkan pesonanya. Menunggu mas Radit pulang adalah detik-detik yang mendebarkan. Tak sabar ingin melihat senyumnya ketika kuceritakan kabar ini. 
Tiba-tiba mataku menangkap sebuah lingkaran merah goresan spidol pada kalender bulan ini. Mataku terbelalak dan senyumku melebar.

Ya! 2 minggu lagi adalah ulangtahun pernikahan kami. Kalau begitu kabar ini akan kusampaikan padanya 2 minggu lagi. Ehm, sepertinya aku harus membuat surprise untuk Mas Radit.

* * *

Dan beginilah, ide dari kedua sahabatku untuk membuat surprise dengan cara membuat Mas Radit cemburu. 
Mereka berdua menyamar sebagai mantan pacarku di SMA dulu. 
Mulai dari mengirim pesan singkat, mengirim paket bunga, bahkan mengirim pesan mesra ketika aku sedang berduaan dengan Mas Radit. 
Hingga Mas Radit pun marah besar ketika mengetahuinya. 

Sebenarnya teriris hati ini, ingin sekali mengatakan yang sesungguhnya. Tapi kedua sahabatku segera mencegahnya. 
Mereka membujukku untuk bersabar lebih lama agar surprise berjalan dengan lancar. Niat banget mereka ngerjain suamiku, batinku.
 
* * *

Malam itu, mendung menggelayut manja. Rembulan pun enggan menampakkan keanggunannya. Hanya tersembul sebilas senyum renta diantara kelabunya. 
Aku duduk dihadapan sebuah meja bundar di sebuah restoran. Wangi bunga sedap malam membelai-belai hatiku yang gundah gulana. 
Kulirik jam tangan. Sudah hampir satu jam Mas Radit belum datang. 

Skenario yang dirancang kedua sahabatku adalah memberitahu mas Radit bahwa aku sedang bersama mantan pacar di restoran ini. Dia pun bersegera menuju kemari. Dan akan kuberi kejutan sesampainya disini.

Lamunanku terbuyar ketika handphone bergetar. 
Segera kuangkat telepon dari nomor tak dikenal tersebut. 
Baru beberapa detik si penelpon berbicara, jantungku serasa melompat. 
Seluruh tulangku seakan merosot dan luruh ke tanah. 
Semuanya gelap.

* * *

Hujan masih menyenandungkan harmoni indahnya. 
Dedaunan masih menari riang. 
Basah. 
Air mata ini sudah lama kering. 
Tetapi muara kesedihan masih menggelayut di pelupuk mataku. 

Malam itu Mas Radit kecelakaan, dan aku belum sempat memberinya kabar bahagia itu.
Semua sirna, seperti butiran debu yang luruh bersama tetesan air hujan. 

Tetapi kenangan bersama Mas Radit akan selalu ada. 
Bagaikan bunga-bunga yang menengadah seraya tersenyum bermandikan air hujan.



Aku suka sambal. 

Karna sambal mengingatkanku tentangnya. 

Tentang tetes peluhnya ketika asyik menikmati sambal hijau buatanku. 

Aku suka sambal. 
Karna sambal membuatku faham tentang arti melengkapi. 

Dan Mas Radit adalah pelengkap yang terindah.

Aku suka sambal. 

Karna sambal memberiku arti, bahwa dibalik kesederhanaan cinta ada begitu banyak makna yang terurai.

#LA – 151212



Tidak ada komentar:

Posting Komentar