Tumpah ruah tak mengenal kata ampun.
Menukik tajam tiada
ragu. Membentur kesana kemari.
Dedaunan, atap rumah, aspal. Meresap hilang ke
dalam tanah.
Hawa dingin menyergap seluruh persendian.
Meleleh sudah benteng
pertahanan itu.
Meleleh dan mengalir.
Sembari mata ini menyapa dari balik
jendela.
Menekuri setiap sudut kenangan yang terhempas bersama butiran-butiran
itu.
Dan akhirnya hujan pun bersenandung.
* * *
Hari minggu yang cerah. Rumah
mungil ini pecah oleh renyah tawamu. Menciptakan gores-gores kebahagiaan di
usia pernikahan kitayang masih muda.
“Haha, muka bunda udah merah tuh,”
ujarnya tertawa seraya menunjuk mukaku.
“Tapi punya bunda udah mau habis
nih, ayah kan masih banyak. Pasti bunda menang lagi deh!” balasku mengerling
mata padanya.
Meja makan mungil kami penuh.
Penuh dengan binar kebahagiaan. Penuh juga dengan aneka masakan.
Seperti biasanya,
setiap hari minggu kami berlomba untuk makan sambal. Dan tentu saja menu utamanya
Sambal Hijau buatanku.
Resep yang
kuperoleh dari ibu seminggu sebelum menikah itu rupanya menjadi menu favorit
suamiku. Sang pemenang boleh meminta hadiah apapun.
Dan akulah sang juara
bertahan.
Tiba-tiba, Huek Huek. Secepat
kilat aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan makanan-makanan yang sudah tak
berbentuk itu dari perutku. Suamiku mengikutiku dan memijat tengkukku dari
belakang.
“Kebanyakan makan sambal ya bun?
Sekarang bunda istirahat dulu ya” ujarnya khawatir.
“Ayah buatin teh hangat untuk
bunda ya?”tanyanya.
Aku mengangguk lemah dan tersenyum
padanya.
“Tunggu sebentar ya bunda? “ dia
beranjak keluar kamar. Dan seketika berbalik badan,
“Oiya bun, berarti kali ini ayah
yang menang ya! Hehe,”candanya.
“Iya ayah yang menang,” aku tersenyum
lemah. Dan dia pun membalas senyumku. Senyum semanis madu itu terukir di wajah rupawannya.
Ah suamiku, aku mencintaimu saat ini dan selamanya.
* * *
Rabu pagi, ayah mengecup keningku dan mulai memisahkan raga
sejenak dariku untuk menjemput nafkah di luar sana. Kembali sepi rumah mungil
kami.
Perut ini semakin rumit rasanya. Bercampur aduk tak karuan.
Kuputuskan
untuk pergi ke dokter dan membeli obat di apotek.
* * *
Terimakasih Ya Robb. Terimakasih Ya Allah.
Mengalir bulir bening dari kedua mataku. Sujudku yang lama
terasa begitu mengharukan.
Kunikmati detik demi detik ketenangan ini.
Kedamaian
menyelami seluruh peredaran darahku.
Di usai salamku, kupanjatkan do’a dengan
lelehan air mata yang semakin deras.
Terimakasih Ya Robb. Terimakasih.
Telah
kau izinkan aku dan suamiku untuk menjadi keluarga yang sempurna.
Terimakasih
telah kau hadirkan dia yang akan menghangatkan rumah kecil kami.
Dhuha yang indah
setelah 2 tahun penantianku dan Mas Radit.
* * *
Malam telah menampakkan pesonanya. Menunggu mas Radit pulang
adalah detik-detik yang mendebarkan. Tak sabar ingin melihat senyumnya ketika
kuceritakan kabar ini.
Tiba-tiba mataku menangkap sebuah lingkaran merah
goresan spidol pada kalender bulan ini. Mataku terbelalak dan senyumku melebar.
Ya! 2 minggu lagi adalah ulangtahun pernikahan kami. Kalau begitu kabar ini
akan kusampaikan padanya 2 minggu lagi. Ehm, sepertinya aku harus membuat
surprise untuk Mas Radit.
* * *
Dan beginilah, ide dari kedua sahabatku untuk membuat
surprise dengan cara membuat Mas Radit cemburu.
Mereka berdua menyamar sebagai
mantan pacarku di SMA dulu.
Mulai dari mengirim pesan singkat, mengirim paket
bunga, bahkan mengirim pesan mesra ketika aku sedang berduaan dengan Mas Radit.
Hingga Mas Radit pun marah besar ketika mengetahuinya.
Sebenarnya teriris hati
ini, ingin sekali mengatakan yang sesungguhnya. Tapi kedua sahabatku segera
mencegahnya.
Mereka membujukku untuk bersabar lebih lama agar surprise berjalan
dengan lancar. Niat banget mereka
ngerjain suamiku, batinku.
* * *
Malam itu, mendung menggelayut manja. Rembulan pun enggan
menampakkan keanggunannya. Hanya tersembul sebilas senyum renta diantara
kelabunya.
Aku duduk dihadapan sebuah meja bundar di sebuah restoran. Wangi bunga
sedap malam membelai-belai hatiku yang gundah gulana.
Kulirik jam tangan. Sudah
hampir satu jam Mas Radit belum datang.
Skenario yang dirancang kedua sahabatku
adalah memberitahu mas Radit bahwa aku sedang bersama mantan pacar di restoran
ini. Dia pun bersegera menuju kemari. Dan akan kuberi kejutan sesampainya
disini.
Lamunanku terbuyar ketika handphone bergetar.
Segera
kuangkat telepon dari nomor tak dikenal tersebut.
Baru beberapa detik si
penelpon berbicara, jantungku serasa melompat.
Seluruh tulangku seakan merosot
dan luruh ke tanah.
Semuanya gelap.
* * *
Hujan masih menyenandungkan harmoni indahnya.
Dedaunan masih
menari riang.
Basah.
Air mata ini sudah lama kering.
Tetapi muara kesedihan
masih menggelayut di pelupuk mataku.
Malam itu Mas Radit kecelakaan, dan aku
belum sempat memberinya kabar bahagia itu.
Semua sirna, seperti butiran debu
yang luruh bersama tetesan air hujan.
Tetapi kenangan bersama Mas Radit akan
selalu ada.
Bagaikan bunga-bunga yang menengadah seraya tersenyum bermandikan
air hujan.
Aku suka sambal.
Karna sambal mengingatkanku tentangnya.
Tentang tetes peluhnya ketika asyik menikmati sambal hijau buatanku.
Aku suka sambal.
Karna sambal membuatku faham tentang arti
melengkapi.
Dan Mas Radit adalah pelengkap yang terindah.
Aku suka sambal.
Karna sambal memberiku arti, bahwa dibalik
kesederhanaan cinta ada begitu banyak makna yang terurai.
#LA – 151212


Tidak ada komentar:
Posting Komentar