Sabtu, 10 Oktober 2015

Rencana-Nya yang indah




Rintik hujan serentak membasahi bumi Magetan. Suara katak bernyanyi menambah ramai suasana pagi ini. Dedaunan merunduk kedinginan. Ku langkahkan kaki kecilku perlahan. Berusaha untuk tidak menginjak genangan air. Kuarahkan tangan kananku untuk menutupi kerudung putihku. Beberapa menit kemudian kelas kecilku tampak. Terdengar suara teman-temanku membaca hadist bersama dari Kitab Shohih Bukhori. 

“Assalamualaikum” Ucapku seraya melepas sandal dan melangkahkan kaki ke dalam kelas. Pembacaan hadist pun berhenti.
“Waalaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh” jawab teman-teman dan Ustadz Fatih serentak.
“Lii madza mutaakhor ya Ainun?” Tanya Ustadz Fatih.
“Afwan Ustadz, Ana di kunjungi” Jawabku dengan masih berdiri di depan pintu.
“Aywa, Tafadholli.”jawab beliau. Akupun segera menuju tempat duduk yang bersebelahan dengan Shofia.
“Hei , dari mana saja?” Tanya Shofia dengan berbisik ketika aku menghempaskan diri di kursi.
“Di kunjungi Abi. Mengabarkan tentang pernikahan kakak minggu depan.” Jawabku dengan berbisik pula.

Setelah itu akupun mulai mengikuti teman-teman membaca hadist.
Sambil membaca hadist, ku edarkan pandangan ke sekeliling kelas. Ya, inilah kelas kecil kami yang berdiri di bawah naungan Pondok Pesantren Al-Furqon . Terdiri dari 5 santriwan dan 7 santriwati. Kamilah para pencari ilmu yang tak pernah lelah untuk memperluas ilmu kami. Suasana mendung pagi ini tidak mengurangi semangat kami untuk memperbanyak ilmu. Ya Allah , berkahilah ilmu kami.


***


Mega merah di ufuk barat mulai memudar. Sholat maghrib sudah selesai satu jam yang lalu. Akupun sudah selesai muroja’ah di musholla putri. Kulipat mukenahku, kudekap erat bersama AL-Qur’anku,ku langkahkan kaki menyusuri halaman kecil. Sekilas kulihat sepasang kunang-kunang bercengkrama di pojok taman. Paduan suara jangkrik terdengar nyaring memecah keheningan malam. Daun-daun pun masih basah. Menyisakan bekas hujan sehari ini.

“Assalamualaikum”ujarku sambil memasuki kamar. Tampak teman-teman sedang belajar untuk pelajaran keesokan hari.
“Waalaikusalam, Ainun”jawab mereka serempak sambil tidak menoleh dari kitab mereka.
Kudekati Shofia yang sedang serius memerhatikan kitabnya. Hehe, dengan ekspresi serius seperti ini wajahnya tampak lucu. Kedua alis yang melengkung indah saling betemu, pipi tembemnya  kembang kempis secara bergantian, bibir bawahnya sedikit manyun dan bibir atas di gigitnya. Dia pun menoleh karna sadar ku perhatikan.
“Hei, ngapain sih ngeliatin ana? Naksir ya?”Tanyanya mengajak bercanda.
“Idih,pede banget sahabatku yang satu ini. Wajah anti itu lho lucu banget. Lagi mikir apa sih serius banget?”Jawabku sambil tersenyum.
“Haduuh, ini lho sulit banget tugas Ustadz Abdullah. Anti sudah selesai ngerjain?”
“Kholas Shofia sayang. Tadi siang sudah ana selesaikan.”
“Lho, kok ana nggak di ajak sih?”tanyanya sambil cemberut.
“Hihi, lha wong tidur anti tuh nyenyak banget. Di bangunin aja sampek nggak denger,”aku meringis melihatnya cemberut.
“Yaah,jadi Cuma ana nih yang belum selesai?”cemberutnya semakin menjadi.
“Ya udah ukhti, sini ayo ana bantuin. Sekalian ana mengoreksi pekerjaan ana”ajakku.
“Alhamdulillah. Ainun baik deh! Hehe”
“Deuu, kalo ada maunya aja muji kayak gitu”cibirku.
“Hehe. Eh iya ukh, emang kapan pernikahan Mas Sholeh?” Tanya Shofia.
“Minggu depan tepatnya hari Jum’at. Kata Abi segala persiapan pernikahan sudah selesai. Jadi akadnya di percepat saja,”jelasku.
“Wah, jadi sebentar lagi anti punya keponakan dong! Eh, nggak pengen nyusul Mas Sholeh? Hehe.”canda Shofia.
“Hush, masih belum waktunya. Belajar sungguh-sungguh dulu. Mencari bekal untuk masa yang akan datang. Kelak kita kan menjadi guru pertama bagi anak-anak kita. Oleh karenaitu kita harus memiliki pengetahuan yang luas. Gitu ukh”ucapku pada Shofia.
“Iya iya. Eh, tapi ana mau lho kalo di lamar sekarang sama Adam. Ya nanti menikahnya setelah lulus dari ma’had kan bisa. Hehe,”canda Shofia.
“Lho, kok jadi bicara Adam? Apa hubungannya? Wah,jangan-jangan anti ada apa-apa nih sama Adam. Hayowh,”selidikku.
“Eh, anu ukh, bukan begitu maksud ana. Bukan Adam. Eh, gini, anu,”jawab Shofia dengan terbata-bata dan muka mulai memerah.
“Hehe, anti ketauan tuh. Liat aja mukanya sampai merah gitu. Udahlah ngaku aja,”desakku.
“Sst. Jangan keras-keras ukh,” bisiknya pada ku.
“Hayo ada apa?” aku semakin senang menggodanya.
“Iya  Iya ana ngaku. Ana emang ada perasaan sama Adam. Sudah dari awal kita masuk ma’had. Tapi ana belum bilang siapa-siapa. Ana simpan sendiri di dalam hati selama 3 tahun ini”jelas Shofia dengan muka yang semakin memerah.
“Wah, masak sudah selama itu anti nggak pernah bilang ke ana? Kita kan sudah bersahabat dari dulu. Apa aku masih orang lain bagimu?”tanyaku berusaha meredam emosi yang mulai muncul.
“Afwan ukhti. Bukan maksud ana ingin menyembunyikan darimu. Tapi ana benar-benar takut untuk menceritakan hal ini pada orang lain. Ana malu.”jawabnya dengan kepala tertunduk.
“Ukhti sayang, Cinta itu fitrah untuk kita. Allah tidak pernah melarang adanya cinta yang tumbuh dari hati kita. Tapi Allah telah menjelaskan apa yang harus kita lakukan apabila cinta itu datang belum pada waktunya. Allah juga telah memberikan jalan keluar untuk permasalahan cinta itu. Ya,dengan cara pernikahan ukh. Dengan itulah cinta akan menjadi lebih indah di dalam ridho-Nya. Eits, tapi pernikahan juga bukan main-main lho. Harus ada kesiapan di antara keduanya. Oeh karena itulah pernikahan sebaiknya di lakukan pada waktunya,”jelasku panjang sambil menggenggam tangan Shofia.
 Ia menunduk seketika. Terdiam beberapa saat. Kemudian dengan tiba-tiba ia merangkulku erat.
“Jazakillah ukhti, ana akan berusaha untuk menjaga cinta ini agar tidak keluar dari syariat islam”ujarnya sambil sesenggukan di pundakku.
“Cup cup. Iya betul. Kelak apabila waktunya datang, semua akan menjadi indah pada waktunya”
Ku elus lembut punggungnya. Ku biarkan ia menumpahkan kegundahannya di pundakku. Cukup lama ia menangis. Setelah beberapa lama, tangisnya mereda. Ia pun melepas pelukannya. Kemudian mengusap sisa air mata di wajahnya dan memandangku.
“Gimana sekarang?” tanyaku dengan seulas senyum.
“Alhamdulillah sudah lega. Terimakasih ya Ainun. Shofia sayang Ainun,”bisiknya padaku.
“Sama-sama Shofia. Ainun juga sayang Shofia. Eh, udahan ah sedihnya. Katanya tadi mau ngerjain tugas, ayo sini ana bantuin,”ajakku.
“Ayo ayo,”jawabnya dengan senyum. Sudah tidak ada sisa kesedihan di wajahnya.
Kamipun tenggelam dalam tumpukan buku-buku. Malam di luar semakin dingin. Larutnya menciptakan kehampaan dan kesunyian.


***

Beberapa hari setelah itu , jam menunjukkan pukul tujuh kurang lima menit. Pagi itu matahari bersinar begitu cerahnya.
“Ayo Shofia, cepat jalannya. Nanti kita terlambat. Anti nggak mau kan dapat hukuman dari Ustadz Yaqin?” tanyaku dengan langkah kaki yang semakin kupercepat.
“Iya ainun, tapi jangan cepat-cepat gitu dong jalannya,”keluhnya di belakang sana. Ia tertinggal beberapa meter di belakangku.
Tak kuhiraukan teriakan kecil Shofia. Semakin kupercepat langkahku. Bahkan setengah berlari. Setelah beberapa menit kelas pun tampak.
“Assalamualaikum,”ujarku seraya menempati tempat dudukku.
Beberapa detik kemudian Shofia menyusulku dengan nafas yang terengah-engah,
“Alhamdulillah, Ustadz Yaqin belum datang’”bisikku kepada Shofia yang langsung duduk di sebelahku.
“Huuh, pagi-pagi sudah di ajak olahraga!” ujarnya sambil cemberut.
“Hehe, udah dong. Jangan cemberut gitu. Nanti cantiknya luntur lho,”rayuku.
“Hemm,”ia masih kesal rupanya.
Tiba-tiba terdengar salam dari arah pintu.
“Assalamualaikum,”ujar Ustadz Fatih.
“Waalaikumsalam,”serempak jawaban dari kami.
Lho? Kok Ustadz Fatih, bukankah pagi ini pelajaran Ustadz Yaqin? Ujarku dalam hati.
“Anak-anak, Afwan saya meminta waktunya sebentar. Saya akan membeitahukan perihal perlombaan Tahfidzul Qur’an yang diadakan di kabupaten dua minggu lagi. Lomba ini meliputi Pondok Pesantren di seluruh Provinsi Jawa Tengah. Sesuai rapat Dewan Pembina Pondok tadi malam, kami selaku Dewan Pembina akan mengikutkan Pondok Pesantren kita dengan mewakilkan dua orang. Satu ikhwan, satu akhwat,”jelas Ustadz Fatih panjang lebar.
Mulai terdengar kasak kusuk di seantero kelas. Teman-teman mulai meributkan siapa yang akan menjadi perwakilan. Pikiranku menerawang. Ah, betapa bahagianya jika dapat memenangkan lomba itu. Betapa senangnya dapat melihat senyum di wajah Umi dan Abi.
“Tenang anak-anak, Dewan Pebina sudah memutuskan siapa yang akan kami kirim untuk mewakili Pondok ini,” Suara Ustadz Fatih memecah kasak-kusuk itu.
Hening, menantikan kelanjutan ucapan Ustadz Fatih. Pikiranku kembali melayang membayangkan perlombaan itu.
“Adam, Ainun, kalian berdualah yang akan mewakili Pondok,” ujar Ustadz Fatih membuyarkan lamunan ku.
Lho? Apa aku tidak salah dengar? Siapa tadi yang Ustadz Fatih bilang? Ainun? Aku? Shofia merangkulku erat.
“Ukhti, Selamat ya! Ma’an Najah!,” pekiknya kegirangan.
“Untuk Adam dan Ainun, nanti sepulang sekolah kalian berdua ke kantor ya!” Perintah Ustadz Fatih yang kemudian mengucap salam dan keluar dari kelas.
Tak berapa lama Ustadz Yaqin masuk dan memulai pelajaran. Tetapi aku tidak bisa konsentrasi. Pikiranku kembali melayang. Ah , benarkah ini nyata? Aku tidak mimpi? Aku benar-benar ikut lomba? Jadi keinginanku untuk membuat Umi dan Abi bahagia bisa terwujud? Tetapi, bisakah aku? Melawan sekian banyak orang dalam perlombaan itu? Hey, Adam? Kenapa harus dengan dia? Kira-kira bagaimana ya perasaannya di tunjuk mengikuti lomba ini? Kulirik ia sekilas. Tentu saja hanya terlihat punggungnya dan rambut hitam legamnya itu. Ah, sudahlah. Aku harus yakin kalau aku pasti bisa.
Jam pelajaran terakhir pun usai. Santri-santri segera membereskan buku-bukunya.
“Shofia, anti duluan ke kamar ya. Ana mau kumpul ke kantor nih,” ujarku dan kemudian berpisah dengan Shofia di depan kelas.
“Oke. Ma’an Najah ya ukhti!” ujar Shofia menyemangatiku.

Kulangkahkan kaki menuju kantor dengan perasaan tak menentu. Kulihat di depan sana Adam sudah berjalan dan berbelok memasuki kantor.
“Assalamualaikum,” ucapku sambil memasuki kantor.
“Waalaikumsalam,”jawab semua yang ada di kantor.
“Silahkan duduk Ainun,”Ustadz Fatih mempersilahkan.
Aku menduduki sofa dengan pelan. Hatiku di liputi berbagai perasaan. Bahagia, cemas, gelisah, takut. Ah, sudahlah. Ku coba untuk menenangkan hati.
Di Sofa seberang tampak Adam duduk dengan tenang. Ustadz Fatih pun segera duduk di sebelah Adam dan memulai pembicaraan.
“Adam, Ainun, kalian sudah tau kan maksud di panggil ke kantor?” Tanya Ustadz Fatih.
Aku dan Adam serempak mengangguk.
“Jadi begini, sesuai dengan rapat Dewan Pembina tadi malam, kalian berdualah yang di putuskan untuk mewakili pondok kita. Adam, hafalan kamu yang paling banyak dan paling bagus di antara para ikhwan. Dan kamu Ainun, hafalan dan bacaanmu juga yang paling bagus di antara para akhwat. Kalian berdua sanggup kan membawa nama baik pondok ini?” tanya Ustadz Fatih setelah menjelaskan panjang lebar.
“Insyaallah ana siap , Ustadz,” jawab Adam mantap.
Aduh. Hatiku semakin menciut. Sanggupkah aku?
“Ainun, bagaimana denganmu?” tanya ustadz Fatih mengagetkanku.
Cukup lama aku terdiam. Berusaha mengumpulkan keberanian. Akhirnya dengan kemantapan hati ku jawab.
“Insyaallah ana juga siap Ustadz,”ujarku yakin.
“Alhamdulillah. Nah, mulai sekarang kalian berdua harus semakin sering mengulang hafalan ya. Jangan lupa untuk memperbaiki bacaannya juga. Masih ada dua minggu untuk mempersiapkan segalanya,” jelas Ustadz Fatih.
“Insyaallah ustadz,” jawabku dan Adam serempak.
“Baiklah, kalian berdua boleh keluar,”ujarnya.
“Assalamualaikum,”ujarku dan Adam hampir bersamaan. Kami berdua pun bangkit dan keluar. Adam keluar terlebih dahulu, baru kemudian aku. Sepanjang jalan menuju kamar pikiranku kembali berkecamuk. Aku memegang amanah yang sangat berat. Dapatah aku menjaganya? Dapatkah aku membuat Dewan Pembina dan yang lain bangga? Dapatkah aku melihat senyum itu terukir di wajah Umi dan Abi. Ya Allah, berilah jalan kemudahan pada hamba. Bisikku dalam hati.

***

Hari-hari setelah itu di penuhi dengan kegiatanku menyendiri di musholla. Aku semakin sering mengulang hafalan dan memperbaiki bacaanku. Terkadang Shofia aku minta untuk menyimak hafalanku. Shofia juga yang terus memberi semangat untukku. Akupun sudah member kabar kepada Umi dan Abi. Mereka berdua memberiku semangat dan terus berdo’a untukku. Tak lupa kedua kakakku menitipkan salam cinta untukku. Ya Allah, izinkan hamba membahagiakan mereka semua. Amiin.

Hari perlombaan pun tiba. Ba’da Shubuh mobil pondok sudah melesat memecah jalan yang masih sunyi. Selain Pak Sopir, ada Ustadz Fatih, Ustadz Abdullah,dan Ustadz Yaqin yang menemani aku dan Adam. Sedangkan Pemimpin pondok Ustadz Furqon, menitipkan salam semoga berhasil kepada aku dan Adam.
Pagi tadi Shofia melepas kepergianku dengan sebuah pelukan hangat. Di bisikkannya kata-kata semangat untukku. Bahkan dia yang memilihkan jubah biru muda ini untuk ku kenakan. Tampak anggun di padu dengan jilbab biru muda yang ia pinjamkan padaku. Ah, begitu perhatiannya ia padaku. Shofia memang sahabat terbaikku.

Setelah hampir setengah jam, mobil mulai memasuki kawasan Kabupaten. Tak berapa lama kemudian, kami memasuki sebuah masjid yang sangat besar dengan arsitektur bangunan yang sangat indah. Warna biru menjadiwarna utama masjid itu. Wah, kok pas ya dengan jubahku. Hehe.

Setelah mobil di parkir, kita turun satu persatu. Oh , rupanya Adam memakai gamis warna biru laut. Tadi di dalam mobil aku tidak begitu memerhatikannya. Lho, kenapa serba biru? Hehe. Aku tersenyum kecil. Sedikit mengurangi keteganganku.
Pukul tujuh lomba pun di mulai. Tampak ratusan peserta dari berbagai pondok pesantren. Aku hampir saja di buat menciut karenanya. Tapi ucapan Ustadz Fatih kembali mengiang di telingaku. Tadi sebelum kami duduk di kursi peserta, Beliau sempat berbicara pada ku dan Adam. 
“Yakinlah bahwa kalian bisa. Allah bersama kalian” itu yang Beliau ucapkan.

Ku lihat Adam yang duduk di baris depanku. Ia tampak begitu tenang. Harusnya akupun bisa sepertinya. Sekilas aku teringat Shofia. Bukankah ia memendam cinta pada Adam. Sedangkan saat ini aku sedang berdua dengannya mengikuti perlombaan? Ah, betapa jahatnya aku. Dalam hati aku bertekad untuk meminta maaf padanya sepulang dari perlombaan.

Ketika tiba waktuku dan Adam maju, hati ini berdegup kencang. Permudahkanlah Ya Allah, bisikku dalam hati.
Jarum jam terus berdetak. Alhamdulillah, aku dan Adam berhasil membaca dengan lancar an baik. Alhamdulillah, ucapku berkali-kali dalam hati. Kulihat sekilas ada senyum kecil di wajah Adam. Kamipun kembali ke kursi peserta untuk menanti hasil perlombaan. 
Perlombaan pun selesai. Para Juri segera membacakan hasil perlombaan. Detak jantungku semakin cepat.

“Juara pertama diraih oleh Ponpes Al-Furqon dengan nama Adam dan Ainun!” keputusan juri di bacakan.

Serentak aku dan Adam sujud syukur. Dengan linangan air mata aku mengucap hamdalah berulang kali. Terimakasih Ya Allah atas karunia-Mu. Terimakasih. Umi, Abi, alhamdulillah Ainun menang. 

Rengkuhan kasih sayang-Nya seakan begitu dekat denganku.Masih terasa luapan bahagia ku di antara bulir air mataku. Ya! Akhirnya aku bisa membahagiakan mereka semua. Akhirnya aku bisa melihat senyum bahagia di wajah umi dan abi. Terimakasih Ya Allah. Terimakasih atas nikmat ini.

***

Hari terus berganti minggu. Minggu berganti bulan. Bulan berganti tahun. Tak terasa ini sudah mendekati akhir  tahun. Yang artinya sebentar lagi kami santri para kelas tiga akan segera lulus. Semenjak perlombaan itu, aku semakin rajin untuk menambah hafalanku. 
Aku benar-benar ingin membahagiakan umi dan abi. Aku ingin menjadi seorang Hafidzoh yang dapat mempersembahkan jubah kehormatan pada umi dan abi di surga kelak. 
Aku ingin menjadi seorang mar’atus sholihah yang menjadi penyejuk hati suamiku kelak.
Ujian dua bulan lagi. Aku semakin giat belajar. Tak jarang aku berdiskusi dengan Shofia. Dia juga semakin semangat belajar. Katanya dia ingin menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Subhanallah. 
Eh, soal perasaannya itu, dia masih memendamnya hingga sekarang. Shofia percaya , rencana Allah selalu lebih indah dari apa yang dia bayangkan.

***
 Dua tahun kemudian, di sebuah taman yang ditengahnya terdapat air mancur besar, aku sedang duduk memandang birunya langit yang sempurna. Sebuah usapan lembut di kepalaku membuatku menoleh.
Ah ya, birunya langit semakin terasa sempurna karena sang pemilik tangan itu. Suamiku. Allah menyatukan kami dalam kesakralan ijab qabul yang syahdu.
Tiba-tiba, sahutan lantang mengagetkan kami.
"Ainun!!"

Aku menoleh,
Ya, dia Shofia. Sahabatku tersayang. 
Alasan mengapa aku dan suamiku duduk di taman sore ini. Kami memang sudah janjian untuk bertemu setelah sekian lama tak bertemu. Dia melangkahkan kakinya perlahan karena perutnya membesar. 6 bulan usia kehamilannya. Dan seseorang dengan sigap dan lembut menuntunnya berjalan. Adam. Suaminya.

Ah, rencana Allah selalu indah bukan? :)


Klaten, Feb 12




1 komentar: