Sabtu, 10 Oktober 2015

Rahasia dibalik Hipnosis




Oleh : Nafisah Nida’ Asy-Syahidah
(Mahasiswi Sekolah Tinggi Pemikiran dan Peradaban Islam)

Hipnosis atau hipnotis? Sebuah pertanyaan yang akan memulai ulasan penulis tentang hipnosis. Ya, penulis menyebut hipnosis. Tapi ada sebagian orang yang menyebut hipnotis. Mereka yang menyebut dengan istilah hipnosis mungkin hanya mengikuti kebiasaan orang lain di sekitar mereka yang juga menyebutkan dengan istilah hipnosis. Lalu, manakah yang benar?
            Para praktisi hipnosis di Indonesia sering memberikan jawaban yang berbeda-beda. Sebagian praktisi menganggap bahwa hipnosis dan hipnotis, pada prinsipnya memiliki kesesuaian makna yang di ambil dari kosakata bahasa Inggris yakni hypnosis. Akan tetapi sebagian lagi menolak untuk menggunakan kata hipnotis karena kata hipnotis juga di adaptasi dari bahasa inggris Hypnotist yang memiliki arti “pelaku kegiatan hipnosis”.  [1]
            Jika merujuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata hipnosis memiliki arti “keadaan seperti tidur karena sugesti, yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya, tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali”. Sementara itu, kata hipnotis memiliki makna “membuat atau menyebabkan seseorang berada dalam keadaan hipnosis “. [2]  Jadi untuk makna dari hipnosis dan hipnotis apabila di telusuri lebih lanjut yakni berbeda. Dan dapat kita pahami bahwa hipnosis adalah proses hipnosis itu sendiri. Sedangkan hipnotis adalah pelaku yang melakukan hipnosis tersebut.
            Realita di dalam masyarakat Indonesia adalah memiliki persepsi yang cenderung negatif ketika menyangkut istilah hipnosis. Persepsi tersebut berkembang begitu pesat dikarenakan maraknya praktik kejahatan bermodus hipnosis. Dapat berupa hipnosis di tempat umum, gendam, atau praktek sihir dan perdukunan. Penulis prihatin karena persepsi negatif masyarakat terus berkembang dengan tidak dibarengi pengetahuan tentang proses hipnosis yang alamiah dalam kehidupan sehari-hari.
            Apakah anda pernah dihipnosis? Bagi sebagian orang yang mendengar kata ini pasti langsung mundur. Jangankan dihipnosis, mendengar tentangnya saja nyali sudah ciut. Takut dicelakai, takut rahasianya terbongkar, atau takut akan adanya ilmu hitam yang terkandung dalam proses hipnosis. Penulis maklum dengan segala ketakutan masyarakat akan ilmu hipnosis. Jikalau mereka mengerti dan memahami bahwa hipnosis yang murni sama sekali tidak menggunakan ilmu hitam dan tidak digunakan untuk kejahatan.Bahkan ilmu hipnosis seiring perkembangan zaman mengalami kemajuan dan inovasi. Seperti hypnoteraphy, hypnoselling, hypnolearning, hypnotivator, hypnoparenting, hypnoteaching, dan sebagainya.
            Terkait dengan ilmu hipnosis yakni NLP (Neuro Linguistic Programming), sebuah ilmu yang sangat powerfull dalam aktivitas komunikasi, ilmu psikologi dan terapis yang pertama ditemukan oleh Dr. Richard Bandler dan Prof.Dr.John Grinder. Jika kita telusuri lebih dalam tentang ilmu NLP ataupun hipnosis dapat kita temui bahwa sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau telah mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari begitu juga dalam perjalanan dakwahnya. Salah satunya, dalam NLP dikenal istilah pacing yang memiliki arti “memahami, mengerti, menyamakan, atau meyesuaikan. Dalam tuturan Rasulullah kita sering mendengar, “Berbahasalah sebagaimana bahasa kaumnya” . Makna dari ucapan Rasulullah tersebut adalah agar kita semua mau memahami, mengerti, menyamakan, dan menyesuaikan diri dengan objek dakwah atau masyarakat.[3] Subhanallah, Maha Suci Allah Subhanallahu wa Ta’ala.
            Jika kita mempelajari ilmu NLP dan ilmu hipnosis kita tentu akan merasakan kedahsyatan pikiran manusia yang telah Allah Subhanallahu wa Ta’ala ciptakan. Allah Subhanallahu wa Ta’ala memberikan akal kepada manusia untuk di gunakan sebaik-baiknya. Sekaligus untuk membedakan manusia dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain. Serta supaya manusia menggunakan akalnya untuk memikirkan dan merenungkan segala ciptaan Allah yang ada di langit dan bumi, sebagai modal untuk mengemban amanah sebagai kholifah di bumi. Dengan memikirkan dan merenungkan segala ciptaan Allah Subhanallahu wa Ta’ala,akan timbul keimanan yang kuat dalam diri kita. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala,
Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” [4]
            Di luar sana banyak kaum muslim yang menentang ilmu hipnosis dengan alasan adanya praktik sihir atau perdukunan. Bagi penulis ini adalah hal yang wajar karena sebelum mengenal ilmu hipnosis penulis juga bepikiran seperti itu. Akan tetapi jika kita renungkan, sebuah keputusan harus di dasari oleh ilmu. Memang pada dasarnya setiap orang memiliki definisi dan pendapat yang berbeda terhadap suatu hal. Setiap orang memiliki gaya fikir yang berbeda-beda. [5] Tetapi harus ada benang merah dari semua perbedaan itu agar dapat dicapai satu kata sepakat untuk kebaikan bersama dan untuk menghindari kesalahpahaman terhadap suatu hal tersebut. Atas dasar inilah penulis mulai mempelajari ilmu hipnosis.  Dan setelah penulis mempelajari, tidak di temukan satupun unsur sihir di dalamnya.
Penulis ingin bertanya kepada pembaca, “Apakah anda pernah terhipnosis?”. Bagi para pembaca yang menjawab belum, penulis akan mengajak anda untuk merenungkan kembali setiap episode kehidupan anda. Apakah anda pernah menonton sebuah film beradegan sedih lalu anda ikut sedih? Apakah anda pernah melihat perilaku anak berusia enam tahun ketika sedang bermain dengan teman seusia mereka, tiba-tiba terjadi perubahan perilaku yang mengejutkan anda? Seperti marah yang berlebihan, perkataan kotor, atau perilaku-perilaku aneh lainnya? Mengapa bisa begitu? Karena mereka telah terpengaruh oleh pikiran mereka. Pikiran adalah kekuatan paling dahsyat. Begitu pula dalam dunia anak. Segala bentuk pikiran yang terlintas dalam pikiran mereka setiap hari akan mempengaruhi semua aspek kehidupan mereka. Sikap, pilihan, kepribadian dan siapa mereka sebagai individu, adalah produk dari pikiran-pikiran tersebut.[6]
Aktivitas-aktivitas di atas itulah yang di sebut sebagai aktivitas hipnosis. Secara tidak sadar anda pernah melakukan praktik hipnosis dan anda juga pernah menjadi korban hipnosis. Sangat sederhana, kan? Ya, sangat sederhana. Hanya saja anda belum mengetahui  secara teori tentang hipnosis. Tak kenal maka tak sayang. Sebuah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan persepsi masyarakat tentang hipnosis. Oleh karena itu, mari kita bahas lebih rinci tentang apa itu hipnosis.

Asal mula hipnosis
Pada tahun 1841, seorang dokter Inggris bernama James Braid menyaksikan pertunjukan mesmerisme yang dilakukan seorang pria Prancis bernama La Fontaine. Dia sangat terkesan. Lalu, mulai menggunakan teknik mesmerisme [7] dalam praktiknya sendiri. Dia menggunakan sarung pisau bedah yang berkilauan untuk membuat pasiennya mengalami tidur hipnosis yang nyenyak. Dalam keadaan itu, pasien menerima sugestinya. Dia menyebutnya dengan istilah neurypnology (tidur saraf). Kata “hypnos” yang berarti dewa tidur orang Yunani kemudian menjadi istilah “hypnosis”. Inilah pertama kali kata hipnosis digunakan.
Dr. Braid tidak menyukai magnetisme. Sebaliknya, dia meyakini “keterpukauan dan sugesti verbal. Dia juga menggunakan hipnosis sebagai obat bius dalam operasi kecil maupun besar. Lalu, pada tahun 1884, Dr. Ambroise-August Liebeault dari Prancis mengumumkan bahwa dia bisa menyembuhkan orang dalam keadaan terhipnosis lewat sugesti. Pada tahun 1886, dia bersama Profesor Bernheim menerbitkann De La Suggestion, yang semakin menolak teori magnetisme.
Setelah Perang Dunia II, Milton Erickson, seorang hipnotis (praktisi dan ahli hipnosis) paling terkenal sepanjang masa, memberikan pengaruh besar pada praktik dan pemahaman hipnosis, serta pikiran. Hipnosis adalah keadaan pikiran secara spontan yang bisa dialami siapa pun. Setelah karya Erickson, hipnosis menjadi praktik yang sangat dihormati, yang digunakan para dokter, psikolog, pelaku bisnis, penegak hukum, metode pembelajaran. Hipnosis juga digunakan untuk peningkatan dan pengembangan diri, mengelola stres, gangguan gigi dan medis, memberikan rasa nyaman saat melahirkan, dan aneka permasalahan lainnya. Hipnosis telah diakui oleh American Medical Assosiation sejak dekade 1950-an. Akhirnya, hipnosis digunakan oleh beragam orang dengan beraneka masalah, dari masalah psikologis sampai fisik.[8]

Mengenal kondisi otak
Manusia sejak lahir memiliki tiga level pikiran, yaitu pikiran sadar, pikiran bawah sadar, dan pikiran tidak sadar.[9] Bagian pertama dari pikiran yang wajib kita kenal adalah pikiran sadar. Pikiran sadar merupakan bagian pikiran yang kita sadari penggunaannya dan pemanfaatannya sehari-hari. Pikiran sadar sendiri memiliki beberapa bagian. Di antaranya adalah bagian analitis. Analitis adalah bagian dari pikiran sadar yang berfungsi menganalisis masalah dan mencari pemecahan masalah tersebut untuk manusia. Contoh dari penggunaan bagian analitis ini adalah ketika berlangsungnya ujian. Dari satu soal yang sama terdapat berbagai macam jawaban berbeda yang diberikan oleh masing-masing peserta ujian. Mengapa? Tentu saja karena masing-masing peserta ujian memiliki bagian analitis yang berbeda. Tiap-tiap manusia memiliki perbedaan pada bagian analitis tergantung pada jumlah, tipe, dan jenis sumber pengetahuan yang dimiliki manusia secara individu.[10]
            Bagian selanjutnya adalah bagian rasio. Bagian ini adalah bagian dari pikiran sadar manusia yang tidak punya pilihan selain memberi alasan kepada seseorang tentang mengapa seseorang tersebut memutuskan melakukan atau tidak melakukan sesuatu.[11] Jika dalam hidupnya seseorang tidak menggunakan bagian rasionya, maka orang tersebut akan hidup dalam keadaan cemas, tertekan, ketakutan, dan bingung. Apabila keadaan tersebut berlangsung lama, tetunya mudah menyebabkan seseorang untuk tidak memiliki alasan hidup. Sehingga terjadi perbuatan-perbuatan yang tidak disukai oleh Allah subhanallahu wa ta’ala seperti bunuh diri. Ada sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan tentang rasio manusia, yaitu 75% atau seringkali100% alasan yang diberikan oleh rasio pikiran sadar manusia adalah SALAH. Oleh karena itu, kembali kepada pribadi masing-masing bagaimana menggunakan dan memanfaatkan rasio tersebut dengan baik.
            Ingatan sementara adalah bagian selanjutnya. Yakni bagian dari pikiran sadar yang berfungsi mempertahankan informasi yag dibutuhkan dalam jangka pendek pada masa tertentu. Memori yang dipertahankan adalah memori yang dianggap penting pada masa sekarang. Sedangkan memori lainnya yang belum dibutuhkan segera disimpan pada pikiran bawah sadar. Karena itulah apabila sedang dalam kondisi pikiran sadar, kita seringkali susah untuk mengingat suatu hal dalam jangka waktu lama. Tetapi jika sudah dalam kondisi pikiran bawah sadar, hal tersebut akan mudah untuk diingat.
            Kemudian ada area kritik yang berfungsi membandingkan informasi baru dengan kepercayaan serta pengetahuan pada masa lampau yang masih diyakini dan tersimpan dalam ingatan permanen pikiran bawah sadar. Jika informasi baru itu menguntungkan bagi orang yang bersangkutan, pasti langsung bisa diterima dengan mudah oleh pikiran sadar dan sebaliknya. Yang telah tersebut di atas adalah bagian dari pikiran sadar manusia. Dapat kita lihat ada beberapa bagian yang kurang menguntungkan kecuali apabila orang yang bersangkutan memasuki pikiran bawah sadar. Oleh karena itu, kondisi pikiran seseorang dalam keadaan bawah sadar ternyata penting. Dan cara memasuki kondisi bawah sadar yaitu dengan cara hipnosis.
Di atas tadi adalah bagian-bagian dari kondisi pikiran sadar. Sedangkan bagian-bagian pikiran sadar adalah ingatan permanen, emosi, kebiasaan, malas, dan perlindungan diri. Ingatan disimpan kurang lebih tiga minggu sejak organ otak pada bayi terbentuk di dalam rahim.[12] Dalam keadaan hipnosis, seseorang dapat mengalami hipermnesia yaitu terbukanya akses pada bagian memori permanen dari pikiran bawah sadarnya. Jadi orang tersebut bisa mendapatkan ingatan tentang hal-hal yang tidak bisa diingat pada kondisi pikiran sadar.
            Bagian pikiran bawah sadar selanjutnya adalah emosi. Kebenaran fakta bahwa secara verbal seseorang secara alamiah lebih senang menyembunyikan emosi negatifnya. Tetapi pada kondisi pikiran bawah sadar seluruh emosinya baik yang positif maupun yang negatif dapat keluar. Kebiasaan yang selalu terjadi dalam keseharian kita merupakan bagian dari kondisi bawah sadar. Sehingga saat kita dituntut untuk melakukan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan kita, otak tak perlu berlama-lama untuk mengambil keputusan. Karena kondisi pikiran bawah sadar akan langsung memberikan perintah untuk melakukan sesuai kebiasaan kita.
            Pikiran bawah sadar adalah yang mempunyai sifat sangat malas. Pikiran bawah sadar menolak sugesti positif dalam dua hal, yaitu jika sugesti tersebut adalah hal baru atau sudah ada program pendahulunya. Jika sebelumnya sudah ada sugesti serupa baik negatif maupun positif tetapi tidak lebih daripada sugesti yang baru, kecenderungan untuk menolak tetap dominan karena sudah merasa nyaman dengan program sugesti terdahulu.[13] Bagian yang sangat positif dalam fungsi bagian bawah sadar adalah keinginan untuk melindungi diri kita. Misalnya ketika melintas ular di depan kita. Yang kita lakukan jika tidak menjerit, berlari, atau segera membunuh ular itu. Karena dalam kondisi bawah sadar kita tertanam keinginan untuk melidungi diri. Lain lagi ceritanya jika ular tersebut melintas di depan pawang ular. Maka dengan sigap sang pawang ular seketika menangkap ular tersebut. Karena dalam kondisi bawah sadar pawang ular tertanam bahwa ular adalah sumber rezeki. Jadi dia tak perlu melindungi dirinya.
Pikiran bawah sadar merupakan pikiran yang paling dominan dalam memengaruhi hidup dan tindakan kita. Penelitian tentang pikiran sadar dan bawah sadarmenghasilkan kesimpulan bahwa kendali otak bawah sadar terhadap keseluruhan tubuh berkisar 88%, sisanya (12%) adalah kendali otak sadar. Inilah yang mengakibatkan tubuh kita lebih bereaksi terhadap pola dan gambaran yang ada di bawah sadar.[14] Jika diibaratkan kondisi pikiran sadar dan bawah sadar seperti gunung es. Bagian atas gunung es adalah kondisi sadar. Sedangkan bagian bawah gunung es yang lebih besar adalah kondisi bawah sadar.
Berbagai riset dan penelitian telah dilakukan dan menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa saat kondisi trans (kondisi hipnosis) mulai dicapai terjadi perubahan gelombang otak.[15] Berdasarkan hasil pengukuran dengan menggunakan alat EEG (Elektroensefalograph) yang ditemukan oleh Hans Berger pada tahun 1929, gelombang otak dibedakan menjadi empat gelombang. Empat gelombang ini adalah Gelombang ‘Beta’, ‘Alpha’, ‘Theta’ dan Delta. Keempat gelombang ini memiliki perbedaan yang unik.
Pada frekuensi ‘Beta’ kita berada dalam kondisi sadar terpenuh. Inilah kondisi normal yang kita alami saat kita sedang terjaga (tidak tidur). Dalam frekuensi ini kerja otak cenderung memantik munculnya rasa cemas, khawatir, stres dan marah. Sedang ‘Alpha’ adalah gelombang otak yang menghasilkan kondisi emosi khusyuk, rileks, nyaman, tenang. Hormon pada gelombang otak ini menghasilkan emosi bahagia. Dan pada gelombang otak inilah saat paling ideal bagi otak kita untuk menyerap berbagai informasi. Pada gelombang inilah kondisi pikiran bawah sadar seseorang ketika dihipnosis.
Namun tidak menutup kemungkinan kondisi pikiran orang yang sedang dihipnosis memasuki gelombang ‘Theta’.  Gelombang dengan frekuensi rendah inilah yang sering memunculkan sisi kreatif dan intuitif kita.[16] Secara emosi seseorang akan berada dalam kondisi sangat khusyuk, keheningan yang mendalam. Kondisi inilah yang diraih oleh para ulama ketika sedang khusyuk beribadah kepada Allah subhanallahu wa ta’ala. Terakhir adalah gelombang otak ‘Delta’. Gelombang ini muncul pada saat kita sedang tertidur pulas tanpa mimpi. Dalam frekuensi ini tubuh menghasilkan hormon perumbuhan yang baik bagi kesehatan. Jika seseorang tidur dalam kualitas ‘Delta’ yang stabil, meskipun hanya sebentar, jika ia bangun akan merasakan segar kembali.
Seorang profesor Amerika bernama Ned Herman pernah melakukan penelitian tentang otak manusia. Dalam penelitiannya tersebut, sang Profesor menemukan bahwa aktifitas otak manusia pada setiap detik berubah-ubah dalam setiap fasenya.[17] Tetapi meskipun masing-masing kondisi gelombang pikiran memunculkan emosi-emosi tertentu, otak kita tidak serta-merta hanya memancarkan satu macam gelombang pikiran dalam satu waktu. Berdasarkan alat EEG yang ditempelkan di kepala seseorang melalui elektroda-elektroda, tercatat bahwa dalam satu waktu otak bisa memunculkan lebih dari satu macam gelombang. Hanya, selalu ada satu macam gelombang yang lebih dominan.  
Mengenal potensi otak
Seperti kita telah ketahui dari pembahasan di atas bahwasanya kondisi bawah sadar lebih besar pengaruhnya terhadap tubuh ketimbang kondisi sadar. Akan tetapi jika saat kondisi sadar itu dimanfaatkan dengan baik, tentu kedahsyatan kondisi sadar tidak kalah dengan kondisi bawah sadar. Contohnya kita ambil dari ilmuwan barat yakni Albert Einstain. Siapa yang tak mengenal tokoh cerdas ini. Keahliannya dalam bidang sains telah memberi banyak manfaat kepada orang lain lewat penemuan-penemuannya. Konon, Albert rela mendonorkan otaknya untuk diteliti. Hingga sesaat setelah kematiannya, para ilmuwan syaraf segera mengambil ota si genius ini utuk diteliti. Kira-kira apa yang membedakan otak Albert dengan otak manusia lainnya?
            Ketika diteliti sesuai fisiknya tidak ada perbedaan. Otak manusia pada umumnya dengan otak Albert Einstein memiliki berat, warna, bentuk yang sama. Setelah diteliti sel neuronnya ternyata jumlahnya juga sama yakni satu triliyun sel neuron. Sel-sel neuron ini kemudian diteliti lebih lanjut kemudian barulah ditemukan perbedaanya. Sel neuron dalam otak Albert sudah banyak yang terkoneksi dengan sel neuron lainnya, sedangkan ota rata-rata sel neuronnya belum banyak yang terkoneksi. Lebih mengejutkan, ternyata sel neuron Albert Einstein yang sudah terkoneksi tidak lebih dari 3% dari keseluruhan jumalah sel neuron. Kalau Albert Einstein yang sedemikian genius baru 3% potensi otaknya yang dia gunakan, lalu seberapa besar potensi otak kita? Saking besarnya potensi otak kita, para ilmuwan syraf mengatakan, “Kapasitas memori otak untuk menyimpan informasi itu setara dengan seluruh perpustakaan di muka bumi”.
            Betapa dahsyatnya otak manusia. Terlebih lagi bila dimanfaatkan untuk kebaikan. Maha Besar Allah Subhanallahu wa ta’ala yang telah memberi kita karunia dan limpahan nikmat-Nya berupa otak. Allah telah memuliakan akal pikiran dan menjadikannya sebagai salah satu syarat pemikul beban syariat. Islam menjadikannya sebagai faktor adanya kewajiban dalam menjalankan syariat agama dan memerintahkan nya untuk selalu meneliti, menganalisis, dan berpikir .[18] Seperti dalam firman-Nya ;
            “Katakanlah,’Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!’ Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman” [19]
“Maka, tidakkah mereka memerhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara Kami membangunnya dan menghiasinya, dan tidak terdapat retak-retak sedikitpun? Dan bumi yang Kami hamparkan dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kukuh, dan Kami tumbuhkan di atasnya tanaman-tanaman yang indah, untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah). Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat di panen, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, (sebagai) rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan (air) itu negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).”[20]
            Di dalam agama islam manusia tidak dihalangi untuk berpikir dan tidak dipenjara akalnya. Namun dibimbing untuk berkomitmen terhadap batas kemampuannya, menyadari kekerdilan ilmunya, dan diperintah untuk terus menambah pengetahuan. Allah dan Rasul-Nya tentu tidak menghendaki umatnya untuk sekedar membaca, tapi juga dipikirkan. Dengan memikirkan tentang kebesaran Allah maka akan muncul pemahaman. Pemahaman yang baik akan mengantarkan pada keyakinan yang kuat. Proses membaca, memikirkan, memahami dan meyakini adalah sebuah proses kerja dari pikiran sadar kepada pikiran bawah sadar. Ketika kita sedang membaca, memikirkan, maka pikiran sadar kitalah yang sedang bekerja. Dari hasil membaca dan memikirkan, akan tercipta keyakinan yang akan disimpan di memori pikiran bawah sadar sehingga akan tercipta keyakinan yang kokoh dan kuat. Inilah sebaik-baik aqidah manusia.
Proses terjadinya hipnosis
            Proses terjadinya hipnosis sangatlah sederhana. Tidak ada unsur magic atau sihir di dalamnya. Saat terjadinya penembusan critical area dan diterimanya suatu pemikiran tertentu, pada saat itulah telah terjadi hipnosis. Dengan demikian, kondisi hipnosis bukanlah kondisi seseorang yang tertidur. Justru pada kondisi hipnosis tersebut seseorang berada dalam satu titik fokus ide atau pemikiran. Jadi, tidak benar jika saat dalam kondisi hipnosis pikiran seseorang bisa dikuasai, ditaklukkan atau tidak sadar. Justru dalam kondisi hipnosis pikiran seseorang menjadi sangat fokus terhadap intensitas yang sangat tinggi.
            Setiap upaya masuk ke dalam kondisi hipnosis pasti harus mempunyai tiga komponen. Pertama, orang yang meng-hipnosis harus mempunyai kepercayaan diri dan yakin bahwa ia mampu melakukan itu. Dan setidaknya ia adalah orang yang ahli dalam bidang tersebut. Karena ini adalah langkah awal untuk menembus atau membuka critical area pada pikiran sadar. Setelah berhasil, dibutuhkan komponen kedua untuk membuat critical area bersedia menerima informasi yang disampaikan. Setelah itu baru komponen ketiga ketiga digunakan yaitu membanjiri pikiran dengan sangat banyak infomasi sehingga pikiran bawah sadar menjadi penuh. Tentunya informasi yang dimasukkan harus yang baik dan bermanfaat. Masukkan informasi itu terus menerus sebanyak-banyaknya hingga pikiran penuh. Setelah penuh dia akan melakukan salah satu dari dua tindakan. Yang pertama adalah lari dari kepenuhan pikiran itu.
Jika seseorang tidak mau menerima informasi maupun sugesti yang diberikan pada saat proses hipnosissedang berlangsung, maka otomatis seluruh tubuh dan pikiran sadarnya akan menolak sehingga proses hipnosis tidak bisa dilanjutkan. Akan tetapi sebaliknya, jika seseorang mau menerima informasi maupun sugesti tersebut, maka iaakan masuk ke dalam kondisi hipnosis yang labih dalam. Dan disinilah puncak dari kondisi hipnosis. Di mana orang yang dihipnosis merasakan ketenangan dan kedamaian yang luar biasa. Dia hanya mendengar dan memahami informasi maupun sugesti yang telah diberikan. Oleh karna itu, sekali lagi penulis mengingatkan bahwa informasi maupun sugesti yang dimasukkan harus berupa informasi dan sugesti positif.
Demikian halnya dengan anak-anak. Setiap hari otak anak-anak bergelut dengan berbagai macam pikiran.Cara efektif untuk mengarahkan tujuan mereka pada satu tujuan tertentu yaitu dengan cara afirmasi. Ialah pernyataan sederhana yang diulang-ulang baik dengan cara internal maupun internal. Dengan suara lembut maupun dengan suara keras. Anak-anak senang mendengar pernyataan-pernyataan positiftentang kecakapan ataupun kemampuan mereka. Khususnya jika diucapkan keras oleh orang yang mereka cintai.
Kita juga bisa membantu anak-anak mengatasi keraguan dan kekhawatiran mereka terhadap suatu hal dengan kekuatan kata. Cukup dengan mengulang kata-kata tersebut sebanyak-banyaknya. Jangan biarkan anak menerima ucapan serupa. Ambil pikiran dan konsentrasi anak dengan kata yang terus kita ucapkan. Selain itu dengan menunjukkan kepada mereka bagaimana mengubah kata-kata negatif menjadi kata-kata positif yang memberikan semangat pada anak.[21]
Kondisi hipnosis adalah kondisi alamiah pada kehidupan sehari-hari. Misalnya saja saat kita sedang kebingungan mencari suatu barang padahal barang tersebut sudah berada di depan kita. Atau ketika sedang mandi tiba-tiba kita merasakan peih pada suatu bagian tubuh. Ternyata di situ terdapat sebuah luka yang kita tidak menyadarinya sedari tadi. Ya, itulah kondisi hipnosis. Saat kita sedang masuk ke dalam suatu hal dengan keadaan yang sangat fokus. Karena itu jelas salah persepsi orang bahwa ilmu hipnosis memakai sihir. Bagi yang sudah tau, maka bisa di pahami betapa dahsyatnya pikiran bawah sadar kita. Mungkin kita kurang menyadarinya selama ini.
Penutup
Setelah begitu banyak kita bahas tentang rahasia di balik hipnosis, kita mengetahui bahwa sebelum berkata harus di teliti terlebih dahulu. Sebelum mengatakan bahwa hipnosis adalah sihir, maka kenali dulu apa itu hipnosis.
Ilmu hipnosis tersebar ke banyak cabang ilmu seperti yang saya sebutkan di atas. Oleh karena itu, kita sebagai umat islam yang telah di perintahkan Allah untuk menggunakan akal pikiran kita sebaik-baiknya, maka akan lebih baik jika kita mulai mengembangkan ilmu hipnosis di dunia islam dengan begitu banyak manfaat yang bisa di ambil. Sekian dari penulis. Apabila ada salah kata mohon di maklumi. Karna kebenaran hanya milik Allah semata. Dan apabila ada informasi yang berguna mohon di manfaatkan untuk kebaikan kita semua. Amiin.


[1] Muhammad Abduh, Spiritual Hypnosis, (Jakarta: Robbani Press, 2010) p.1

[2] Depdiknaskamus besar bahasa indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia jilid 3, (: Balai Pustaka, 2002)
[3] Muhammad Abduh, Spiritual Hypnosis, (Jakarta: Robbani Press, 2010) p.4
[4] Lihat : Qs. Ali Imran 190-191
[5] John Afifi, Hypnoselling, (Jogjakarta: Buku Biru, 2011) p.274
[6] John Kehoe & Nancy Fischer, Mind Power For Children, (Jogjakarta: THINK, 2006) p.13
[7] Penggunaan magnet dan sugesti yang dipopulerkan oleh Franz Anton Mesmer pada tahun 1765
[8] Farida Yunita Sari & Mukhlis, Hypnolearning, (Jakarta: Visimedia, 2011) p.4
[9] Saiful Anam, 4 Jam Pintar Hipnosis, (Jakarta: Visimedia, 2010) p.19
[10] Saiful Anam, 4 Jam Pintar Hipnosis, (Jakarta: Visimedia, 2010) p.20
[11]Saiful Anam, 4 Jam Pintar Hipnosis, (Jakarta: Visimedia, 2010) p.21

[12] Saiful Anam, 4 Jam Pintar Hipnosis, (Jakarta: Visimedia, 2010) p.26

[13]Saiful Anam, 4 Jam Pintar Hipnosis, (Jakarta: Visimedia, 2010) p.29
[14] Farida Yunita Sari & Mukhlis, Hypnolearning, (Jakarta: Visimedia, 2011) p.22
[15] Muhammad Abduh, Spiritual Hypnosis, (Jakarta: Robbani Press, 2010) p.14
[16]Farida Yunita Sari & Mukhlis, Hypnolearning, (Jakarta: Visimedia, 2011) p.26
[17] John Afifi, Hypnoselling, (Jogjakarta: Buku Biru, 2011) p.100
[18] Muhammad Abduh, Spiritual Hypnosis, (Jakarta: Robbani Press, 2010) p.17
[19] Lihat: Qs Yunus: 101
[20] Lihat: Qs Qaaf : 6-11
[21] John Kehoe & Nancy Fischer, Mind Power For Children, (Jogjakarta: THINK, 2006) p.49

Tidak ada komentar:

Posting Komentar