Oleh
: Nafisah Nida’ Asy-Syahidah
(Mahasiswi
Sekolah Tinggi Pemikiran dan Peradaban Islam)
Hipnosis atau hipnotis?
Sebuah pertanyaan yang akan memulai ulasan penulis tentang hipnosis. Ya,
penulis menyebut hipnosis. Tapi ada sebagian orang yang menyebut hipnotis.
Mereka yang menyebut dengan istilah hipnosis mungkin hanya mengikuti kebiasaan
orang lain di sekitar mereka yang juga menyebutkan dengan istilah hipnosis.
Lalu, manakah yang benar?
Para praktisi hipnosis di Indonesia sering memberikan
jawaban yang berbeda-beda. Sebagian praktisi menganggap bahwa hipnosis dan
hipnotis, pada prinsipnya memiliki kesesuaian makna yang di ambil dari kosakata
bahasa Inggris yakni hypnosis. Akan
tetapi sebagian lagi menolak untuk menggunakan kata hipnotis karena kata
hipnotis juga di adaptasi dari bahasa inggris Hypnotist yang memiliki arti “pelaku kegiatan hipnosis”. [1]
Jika merujuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata
hipnosis memiliki arti “keadaan seperti tidur karena sugesti, yang pada taraf
permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya,
tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali”. Sementara itu,
kata hipnotis memiliki makna “membuat atau menyebabkan seseorang berada dalam
keadaan hipnosis “. [2] Jadi untuk makna dari hipnosis dan hipnotis
apabila di telusuri lebih lanjut yakni berbeda. Dan dapat kita pahami bahwa
hipnosis adalah proses hipnosis itu sendiri. Sedangkan hipnotis adalah pelaku
yang melakukan hipnosis tersebut.
Realita di dalam masyarakat Indonesia adalah memiliki persepsi
yang cenderung negatif ketika menyangkut istilah hipnosis. Persepsi tersebut
berkembang begitu pesat dikarenakan maraknya praktik kejahatan bermodus
hipnosis. Dapat berupa hipnosis di tempat umum, gendam, atau praktek sihir dan
perdukunan. Penulis prihatin karena persepsi negatif masyarakat terus
berkembang dengan tidak dibarengi pengetahuan tentang proses hipnosis yang
alamiah dalam kehidupan sehari-hari.
Apakah anda pernah dihipnosis? Bagi sebagian orang yang
mendengar kata ini pasti langsung mundur. Jangankan dihipnosis, mendengar
tentangnya saja nyali sudah ciut. Takut dicelakai, takut rahasianya terbongkar,
atau takut akan adanya ilmu hitam yang terkandung dalam proses hipnosis. Penulis
maklum dengan segala ketakutan masyarakat akan ilmu hipnosis. Jikalau mereka
mengerti dan memahami bahwa hipnosis yang murni sama sekali tidak menggunakan
ilmu hitam dan tidak digunakan untuk kejahatan.Bahkan ilmu hipnosis seiring
perkembangan zaman mengalami kemajuan dan inovasi. Seperti hypnoteraphy, hypnoselling, hypnolearning, hypnotivator,
hypnoparenting, hypnoteaching, dan sebagainya.
Terkait dengan ilmu hipnosis yakni NLP (Neuro Linguistic
Programming), sebuah ilmu yang sangat powerfull dalam aktivitas komunikasi,
ilmu psikologi dan terapis yang pertama ditemukan oleh Dr. Richard Bandler dan
Prof.Dr.John Grinder. Jika kita telusuri lebih dalam tentang ilmu NLP ataupun
hipnosis dapat kita temui bahwa sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Beliau telah mempraktekkan dalam
kehidupan sehari-hari begitu juga dalam perjalanan dakwahnya. Salah satunya,
dalam NLP dikenal istilah pacing yang memiliki arti “memahami, mengerti,
menyamakan, atau meyesuaikan. Dalam tuturan Rasulullah kita sering mendengar, “Berbahasalah sebagaimana bahasa kaumnya” .
Makna dari ucapan Rasulullah tersebut adalah agar kita semua mau memahami,
mengerti, menyamakan, dan menyesuaikan diri dengan objek dakwah atau
masyarakat.[3]
Subhanallah, Maha Suci Allah Subhanallahu
wa Ta’ala.
Jika kita mempelajari ilmu NLP dan ilmu hipnosis kita
tentu akan merasakan kedahsyatan pikiran manusia yang telah Allah Subhanallahu wa Ta’ala ciptakan. Allah Subhanallahu wa Ta’ala memberikan akal
kepada manusia untuk di gunakan sebaik-baiknya. Sekaligus untuk membedakan manusia
dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain. Serta supaya manusia menggunakan
akalnya untuk memikirkan dan merenungkan segala ciptaan Allah yang ada di langit
dan bumi, sebagai modal untuk mengemban amanah sebagai kholifah di bumi. Dengan
memikirkan dan merenungkan segala ciptaan Allah Subhanallahu wa Ta’ala,akan timbul keimanan yang kuat dalam diri
kita. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanallahu
wa Ta’ala,
” Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam
dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam
keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi
(seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan semua ini
sia-sia, Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” [4]
Di luar sana banyak kaum muslim yang menentang ilmu
hipnosis dengan alasan adanya praktik sihir atau perdukunan. Bagi penulis ini
adalah hal yang wajar karena sebelum mengenal ilmu hipnosis penulis juga
bepikiran seperti itu. Akan tetapi jika kita renungkan, sebuah keputusan harus
di dasari oleh ilmu. Memang pada dasarnya setiap orang memiliki definisi dan
pendapat yang berbeda terhadap suatu hal. Setiap orang memiliki gaya fikir yang
berbeda-beda. [5]
Tetapi harus ada benang merah dari semua perbedaan itu agar dapat dicapai satu
kata sepakat untuk kebaikan bersama dan untuk menghindari kesalahpahaman
terhadap suatu hal tersebut. Atas dasar inilah penulis mulai mempelajari ilmu
hipnosis. Dan setelah penulis
mempelajari, tidak di temukan satupun unsur sihir di dalamnya.
Penulis
ingin bertanya kepada pembaca, “Apakah anda pernah terhipnosis?”. Bagi para
pembaca yang menjawab belum, penulis akan mengajak anda untuk merenungkan
kembali setiap episode kehidupan anda. Apakah anda pernah menonton sebuah film
beradegan sedih lalu anda ikut sedih? Apakah anda pernah melihat perilaku anak
berusia enam tahun ketika sedang bermain dengan teman seusia mereka, tiba-tiba
terjadi perubahan perilaku yang mengejutkan anda? Seperti marah yang
berlebihan, perkataan kotor, atau perilaku-perilaku aneh lainnya? Mengapa bisa
begitu? Karena mereka telah terpengaruh oleh pikiran mereka. Pikiran adalah
kekuatan paling dahsyat. Begitu pula dalam dunia anak. Segala bentuk pikiran
yang terlintas dalam pikiran mereka setiap hari akan mempengaruhi semua aspek
kehidupan mereka. Sikap, pilihan, kepribadian dan siapa mereka sebagai
individu, adalah produk dari pikiran-pikiran tersebut.[6]
Aktivitas-aktivitas
di atas itulah yang di sebut sebagai aktivitas hipnosis. Secara tidak sadar
anda pernah melakukan praktik hipnosis dan anda juga pernah menjadi korban
hipnosis. Sangat sederhana, kan? Ya,
sangat sederhana. Hanya saja anda belum mengetahui secara teori tentang hipnosis. Tak kenal maka
tak sayang. Sebuah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan persepsi masyarakat
tentang hipnosis. Oleh karena itu, mari kita bahas lebih rinci tentang apa itu
hipnosis.
Asal
mula hipnosis
Pada tahun 1841,
seorang dokter Inggris bernama James Braid menyaksikan pertunjukan mesmerisme
yang dilakukan seorang pria Prancis bernama La Fontaine. Dia sangat terkesan.
Lalu, mulai menggunakan teknik mesmerisme [7]
dalam praktiknya sendiri. Dia menggunakan sarung pisau bedah yang berkilauan
untuk membuat pasiennya mengalami tidur hipnosis yang nyenyak. Dalam keadaan
itu, pasien menerima sugestinya. Dia menyebutnya dengan istilah neurypnology (tidur saraf). Kata
“hypnos” yang berarti dewa tidur orang Yunani kemudian menjadi istilah
“hypnosis”. Inilah pertama kali kata hipnosis digunakan.
Dr.
Braid tidak menyukai magnetisme. Sebaliknya, dia meyakini “keterpukauan dan
sugesti verbal. Dia juga menggunakan hipnosis sebagai obat bius dalam operasi
kecil maupun besar. Lalu, pada tahun 1884, Dr. Ambroise-August Liebeault dari
Prancis mengumumkan bahwa dia bisa menyembuhkan orang dalam keadaan terhipnosis
lewat sugesti. Pada tahun 1886, dia bersama Profesor Bernheim menerbitkann De
La Suggestion, yang semakin menolak teori magnetisme.
Setelah
Perang Dunia II, Milton Erickson, seorang hipnotis (praktisi dan ahli hipnosis)
paling terkenal sepanjang masa, memberikan pengaruh besar pada praktik dan
pemahaman hipnosis, serta pikiran. Hipnosis adalah keadaan pikiran secara
spontan yang bisa dialami siapa pun. Setelah karya Erickson, hipnosis menjadi
praktik yang sangat dihormati, yang digunakan para dokter, psikolog, pelaku
bisnis, penegak hukum, metode pembelajaran. Hipnosis juga digunakan untuk
peningkatan dan pengembangan diri, mengelola stres, gangguan gigi dan medis,
memberikan rasa nyaman saat melahirkan, dan aneka permasalahan lainnya.
Hipnosis telah diakui oleh American Medical Assosiation sejak dekade 1950-an.
Akhirnya, hipnosis digunakan oleh beragam orang dengan beraneka masalah, dari
masalah psikologis sampai fisik.[8]
Mengenal
kondisi otak
Manusia sejak lahir
memiliki tiga level pikiran, yaitu pikiran sadar, pikiran bawah sadar, dan
pikiran tidak sadar.[9]
Bagian pertama dari pikiran yang wajib kita kenal adalah pikiran sadar. Pikiran
sadar merupakan bagian pikiran yang kita sadari penggunaannya dan
pemanfaatannya sehari-hari. Pikiran sadar sendiri memiliki beberapa bagian. Di
antaranya adalah bagian analitis. Analitis adalah bagian dari pikiran sadar
yang berfungsi menganalisis masalah dan mencari pemecahan masalah tersebut
untuk manusia. Contoh dari penggunaan bagian analitis ini adalah ketika
berlangsungnya ujian. Dari satu soal yang sama terdapat berbagai macam jawaban
berbeda yang diberikan oleh masing-masing peserta ujian. Mengapa? Tentu saja
karena masing-masing peserta ujian memiliki bagian analitis yang berbeda.
Tiap-tiap manusia memiliki perbedaan pada bagian analitis tergantung pada
jumlah, tipe, dan jenis sumber pengetahuan yang dimiliki manusia secara
individu.[10]
Bagian selanjutnya adalah bagian rasio. Bagian ini adalah
bagian dari pikiran sadar manusia yang tidak punya pilihan selain memberi
alasan kepada seseorang tentang mengapa seseorang tersebut memutuskan melakukan
atau tidak melakukan sesuatu.[11]
Jika dalam hidupnya seseorang tidak menggunakan bagian rasionya, maka orang
tersebut akan hidup dalam keadaan cemas, tertekan, ketakutan, dan bingung.
Apabila keadaan tersebut berlangsung lama, tetunya mudah menyebabkan seseorang
untuk tidak memiliki alasan hidup. Sehingga terjadi perbuatan-perbuatan yang
tidak disukai oleh Allah subhanallahu wa
ta’ala seperti bunuh diri. Ada sebuah
pernyataan yang cukup mengejutkan tentang rasio manusia, yaitu 75% atau
seringkali100% alasan yang diberikan oleh rasio pikiran sadar manusia adalah
SALAH. Oleh karena itu, kembali kepada pribadi masing-masing bagaimana
menggunakan dan memanfaatkan rasio tersebut dengan baik.
Ingatan sementara adalah bagian selanjutnya. Yakni bagian
dari pikiran sadar yang berfungsi mempertahankan informasi yag dibutuhkan dalam
jangka pendek pada masa tertentu. Memori yang dipertahankan adalah memori yang
dianggap penting pada masa sekarang. Sedangkan memori lainnya yang belum
dibutuhkan segera disimpan pada pikiran bawah sadar. Karena itulah apabila
sedang dalam kondisi pikiran sadar, kita seringkali susah untuk mengingat suatu
hal dalam jangka waktu lama. Tetapi jika sudah dalam kondisi pikiran bawah
sadar, hal tersebut akan mudah untuk diingat.
Kemudian ada area kritik yang berfungsi membandingkan
informasi baru dengan kepercayaan serta pengetahuan pada masa lampau yang masih
diyakini dan tersimpan dalam ingatan permanen pikiran bawah sadar. Jika
informasi baru itu menguntungkan bagi orang yang bersangkutan, pasti langsung
bisa diterima dengan mudah oleh pikiran sadar dan sebaliknya. Yang telah
tersebut di atas adalah bagian dari pikiran sadar manusia. Dapat kita lihat ada
beberapa bagian yang kurang menguntungkan kecuali apabila orang yang
bersangkutan memasuki pikiran bawah sadar. Oleh karena itu, kondisi pikiran
seseorang dalam keadaan bawah sadar ternyata penting. Dan cara memasuki kondisi
bawah sadar yaitu dengan cara hipnosis.
Di atas tadi adalah
bagian-bagian dari kondisi pikiran sadar. Sedangkan bagian-bagian pikiran sadar
adalah ingatan permanen, emosi, kebiasaan, malas, dan perlindungan diri.
Ingatan disimpan kurang lebih tiga minggu sejak organ otak pada bayi terbentuk
di dalam rahim.[12]
Dalam keadaan hipnosis, seseorang dapat mengalami hipermnesia yaitu terbukanya
akses pada bagian memori permanen dari pikiran bawah sadarnya. Jadi orang
tersebut bisa mendapatkan ingatan tentang hal-hal yang tidak bisa diingat pada
kondisi pikiran sadar.
Bagian pikiran bawah sadar selanjutnya adalah emosi.
Kebenaran fakta bahwa secara verbal seseorang secara alamiah lebih senang
menyembunyikan emosi negatifnya. Tetapi pada kondisi pikiran bawah sadar
seluruh emosinya baik yang positif maupun yang negatif dapat keluar. Kebiasaan
yang selalu terjadi dalam keseharian kita merupakan bagian dari kondisi bawah
sadar. Sehingga saat kita dituntut untuk melakukan sesuatu yang sudah menjadi
kebiasaan kita, otak tak perlu berlama-lama untuk mengambil keputusan. Karena
kondisi pikiran bawah sadar akan langsung memberikan perintah untuk melakukan
sesuai kebiasaan kita.
Pikiran bawah sadar adalah yang mempunyai sifat sangat
malas. Pikiran bawah sadar menolak sugesti positif dalam dua hal, yaitu jika
sugesti tersebut adalah hal baru atau sudah ada program pendahulunya. Jika
sebelumnya sudah ada sugesti serupa baik negatif maupun positif tetapi tidak
lebih daripada sugesti yang baru, kecenderungan untuk menolak tetap dominan
karena sudah merasa nyaman dengan program sugesti terdahulu.[13]
Bagian yang sangat positif dalam fungsi bagian bawah sadar adalah keinginan
untuk melindungi diri kita. Misalnya ketika melintas ular di depan kita. Yang
kita lakukan jika tidak menjerit, berlari, atau segera membunuh ular itu.
Karena dalam kondisi bawah sadar kita tertanam keinginan untuk melidungi diri.
Lain lagi ceritanya jika ular tersebut melintas di depan pawang ular. Maka
dengan sigap sang pawang ular seketika menangkap ular tersebut. Karena dalam
kondisi bawah sadar pawang ular tertanam bahwa ular adalah sumber rezeki. Jadi
dia tak perlu melindungi dirinya.
Pikiran
bawah sadar merupakan pikiran yang paling dominan dalam memengaruhi hidup dan
tindakan kita. Penelitian tentang pikiran sadar dan bawah sadarmenghasilkan
kesimpulan bahwa kendali otak bawah sadar terhadap keseluruhan tubuh berkisar
88%, sisanya (12%) adalah kendali otak sadar. Inilah yang mengakibatkan tubuh
kita lebih bereaksi terhadap pola dan gambaran yang ada di bawah sadar.[14] Jika
diibaratkan kondisi pikiran sadar dan bawah sadar seperti gunung es. Bagian
atas gunung es adalah kondisi sadar. Sedangkan bagian bawah gunung es yang
lebih besar adalah kondisi bawah sadar.
Berbagai
riset dan penelitian telah dilakukan dan menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa
saat kondisi trans (kondisi hipnosis) mulai dicapai terjadi perubahan gelombang
otak.[15] Berdasarkan
hasil pengukuran dengan menggunakan alat EEG (Elektroensefalograph) yang
ditemukan oleh Hans Berger pada tahun 1929, gelombang otak dibedakan menjadi
empat gelombang. Empat gelombang ini adalah Gelombang ‘Beta’, ‘Alpha’, ‘Theta’
dan Delta. Keempat gelombang ini memiliki perbedaan yang unik.
Pada
frekuensi ‘Beta’ kita berada dalam kondisi sadar terpenuh. Inilah kondisi
normal yang kita alami saat kita sedang terjaga (tidak tidur). Dalam frekuensi
ini kerja otak cenderung memantik munculnya rasa cemas, khawatir, stres dan
marah. Sedang ‘Alpha’ adalah gelombang otak yang menghasilkan kondisi emosi
khusyuk, rileks, nyaman, tenang. Hormon pada gelombang otak ini menghasilkan
emosi bahagia. Dan pada gelombang otak inilah saat paling ideal bagi otak kita
untuk menyerap berbagai informasi. Pada gelombang inilah kondisi pikiran bawah
sadar seseorang ketika dihipnosis.
Namun
tidak menutup kemungkinan kondisi pikiran orang yang sedang dihipnosis memasuki
gelombang ‘Theta’. Gelombang dengan
frekuensi rendah inilah yang sering memunculkan sisi kreatif dan intuitif kita.[16] Secara
emosi seseorang akan berada dalam kondisi sangat khusyuk, keheningan yang
mendalam. Kondisi inilah yang diraih oleh para ulama ketika sedang khusyuk
beribadah kepada Allah subhanallahu wa
ta’ala. Terakhir adalah gelombang otak ‘Delta’. Gelombang ini muncul pada
saat kita sedang tertidur pulas tanpa mimpi. Dalam frekuensi ini tubuh
menghasilkan hormon perumbuhan yang baik bagi kesehatan. Jika seseorang tidur
dalam kualitas ‘Delta’ yang stabil, meskipun hanya sebentar, jika ia bangun
akan merasakan segar kembali.
Seorang
profesor Amerika bernama Ned Herman pernah melakukan penelitian tentang otak
manusia. Dalam penelitiannya tersebut, sang Profesor menemukan bahwa aktifitas
otak manusia pada setiap detik berubah-ubah dalam setiap fasenya.[17] Tetapi
meskipun masing-masing kondisi gelombang pikiran memunculkan emosi-emosi
tertentu, otak kita tidak serta-merta hanya memancarkan satu macam gelombang
pikiran dalam satu waktu. Berdasarkan alat EEG yang ditempelkan di kepala
seseorang melalui elektroda-elektroda, tercatat bahwa dalam satu waktu otak
bisa memunculkan lebih dari satu macam gelombang. Hanya, selalu ada satu macam gelombang
yang lebih dominan.
Mengenal
potensi otak
Seperti kita telah
ketahui dari pembahasan di atas bahwasanya kondisi bawah sadar lebih besar
pengaruhnya terhadap tubuh ketimbang kondisi sadar. Akan tetapi jika saat
kondisi sadar itu dimanfaatkan dengan baik, tentu kedahsyatan kondisi sadar
tidak kalah dengan kondisi bawah sadar. Contohnya kita ambil dari ilmuwan barat
yakni Albert Einstain. Siapa yang tak mengenal tokoh cerdas ini. Keahliannya
dalam bidang sains telah memberi banyak manfaat kepada orang lain lewat
penemuan-penemuannya. Konon, Albert rela mendonorkan otaknya untuk diteliti.
Hingga sesaat setelah kematiannya, para ilmuwan syaraf segera mengambil ota si
genius ini utuk diteliti. Kira-kira apa yang membedakan otak Albert dengan otak
manusia lainnya?
Ketika diteliti sesuai fisiknya tidak ada perbedaan. Otak
manusia pada umumnya dengan otak Albert Einstein memiliki berat, warna, bentuk
yang sama. Setelah diteliti sel neuronnya ternyata jumlahnya juga sama yakni
satu triliyun sel neuron. Sel-sel neuron ini kemudian diteliti lebih lanjut
kemudian barulah ditemukan perbedaanya. Sel neuron dalam otak Albert sudah
banyak yang terkoneksi dengan sel neuron lainnya, sedangkan ota rata-rata sel
neuronnya belum banyak yang terkoneksi. Lebih mengejutkan, ternyata sel neuron
Albert Einstein yang sudah terkoneksi tidak lebih dari 3% dari keseluruhan
jumalah sel neuron. Kalau Albert Einstein yang sedemikian genius baru 3% potensi otaknya yang dia gunakan, lalu seberapa
besar potensi otak kita? Saking
besarnya potensi otak kita, para ilmuwan syraf mengatakan, “Kapasitas memori otak untuk menyimpan informasi itu setara dengan
seluruh perpustakaan di muka bumi”.
Betapa dahsyatnya otak manusia. Terlebih lagi bila
dimanfaatkan untuk kebaikan. Maha Besar Allah Subhanallahu wa ta’ala yang telah
memberi kita karunia dan limpahan nikmat-Nya berupa otak. Allah telah
memuliakan akal pikiran dan menjadikannya sebagai salah satu syarat pemikul
beban syariat. Islam menjadikannya sebagai faktor adanya kewajiban dalam
menjalankan syariat agama dan memerintahkan nya untuk selalu meneliti,
menganalisis, dan berpikir .[18]
Seperti dalam firman-Nya ;
“Katakanlah,’Perhatikanlah apa yang
ada di langit dan di bumi!’ Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah)
dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman” [19]
“Maka,
tidakkah mereka memerhatikan langit yang ada di atas mereka, bagaimana cara
Kami membangunnya dan menghiasinya, dan tidak terdapat retak-retak sedikitpun?
Dan bumi yang Kami hamparkan dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang
kukuh, dan Kami tumbuhkan di atasnya tanaman-tanaman yang indah, untuk menjadi
pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (tunduk kepada Allah).
Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan
dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat di panen,
dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun,
(sebagai) rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan (air) itu
negeri yang mati (tandus). Seperti itulah terjadinya kebangkitan (dari kubur).”[20]
Di dalam agama islam manusia tidak dihalangi untuk
berpikir dan tidak dipenjara akalnya. Namun dibimbing untuk berkomitmen
terhadap batas kemampuannya, menyadari kekerdilan ilmunya, dan diperintah untuk
terus menambah pengetahuan. Allah dan Rasul-Nya tentu tidak menghendaki umatnya
untuk sekedar membaca, tapi juga dipikirkan. Dengan memikirkan tentang
kebesaran Allah maka akan muncul pemahaman. Pemahaman yang baik akan
mengantarkan pada keyakinan yang kuat. Proses membaca, memikirkan, memahami dan
meyakini adalah sebuah proses kerja dari pikiran sadar kepada pikiran bawah
sadar. Ketika kita sedang membaca, memikirkan, maka pikiran sadar kitalah yang
sedang bekerja. Dari hasil membaca dan memikirkan, akan tercipta keyakinan yang
akan disimpan di memori pikiran bawah sadar sehingga akan tercipta keyakinan yang
kokoh dan kuat. Inilah sebaik-baik aqidah manusia.
Proses
terjadinya hipnosis
Proses
terjadinya hipnosis sangatlah sederhana. Tidak ada unsur magic atau sihir di dalamnya. Saat terjadinya penembusan critical area dan diterimanya suatu
pemikiran tertentu, pada saat itulah telah terjadi hipnosis. Dengan demikian,
kondisi hipnosis bukanlah kondisi seseorang yang tertidur. Justru pada kondisi
hipnosis tersebut seseorang berada dalam satu titik fokus ide atau pemikiran.
Jadi, tidak benar jika saat dalam kondisi hipnosis pikiran seseorang bisa
dikuasai, ditaklukkan atau tidak sadar. Justru dalam kondisi hipnosis pikiran
seseorang menjadi sangat fokus terhadap intensitas yang sangat tinggi.
Setiap upaya masuk ke dalam kondisi hipnosis pasti harus
mempunyai tiga komponen. Pertama,
orang yang meng-hipnosis harus mempunyai kepercayaan diri dan yakin bahwa ia
mampu melakukan itu. Dan setidaknya ia adalah orang yang ahli dalam bidang
tersebut. Karena ini adalah langkah awal untuk menembus atau membuka critical area pada pikiran sadar.
Setelah berhasil, dibutuhkan komponen kedua
untuk membuat critical area bersedia
menerima informasi yang disampaikan. Setelah itu baru komponen ketiga ketiga digunakan yaitu membanjiri
pikiran dengan sangat banyak infomasi sehingga pikiran bawah sadar menjadi
penuh. Tentunya informasi yang dimasukkan harus yang baik dan bermanfaat.
Masukkan informasi itu terus menerus sebanyak-banyaknya hingga pikiran penuh.
Setelah penuh dia akan melakukan salah satu dari dua tindakan. Yang pertama
adalah lari dari kepenuhan pikiran itu.
Jika
seseorang tidak mau menerima informasi maupun sugesti yang diberikan pada saat
proses hipnosissedang berlangsung, maka otomatis seluruh tubuh dan pikiran
sadarnya akan menolak sehingga proses hipnosis tidak bisa dilanjutkan. Akan
tetapi sebaliknya, jika seseorang mau menerima informasi maupun sugesti
tersebut, maka iaakan masuk ke dalam kondisi hipnosis yang labih dalam. Dan
disinilah puncak dari kondisi hipnosis. Di mana orang yang dihipnosis merasakan
ketenangan dan kedamaian yang luar biasa. Dia hanya mendengar dan memahami
informasi maupun sugesti yang telah diberikan. Oleh karna itu, sekali lagi
penulis mengingatkan bahwa informasi maupun sugesti yang dimasukkan harus berupa
informasi dan sugesti positif.
Demikian
halnya dengan anak-anak. Setiap hari otak anak-anak bergelut dengan berbagai
macam pikiran.Cara efektif untuk mengarahkan tujuan mereka pada satu tujuan
tertentu yaitu dengan cara afirmasi. Ialah pernyataan sederhana yang
diulang-ulang baik dengan cara internal maupun internal. Dengan suara lembut
maupun dengan suara keras. Anak-anak senang mendengar pernyataan-pernyataan
positiftentang kecakapan ataupun kemampuan mereka. Khususnya jika diucapkan
keras oleh orang yang mereka cintai.
Kita
juga bisa membantu anak-anak mengatasi keraguan dan kekhawatiran mereka
terhadap suatu hal dengan kekuatan kata. Cukup dengan mengulang kata-kata
tersebut sebanyak-banyaknya. Jangan biarkan anak menerima ucapan serupa. Ambil
pikiran dan konsentrasi anak dengan kata yang terus kita ucapkan. Selain itu
dengan menunjukkan kepada mereka bagaimana mengubah kata-kata negatif menjadi
kata-kata positif yang memberikan semangat pada anak.[21]
Kondisi
hipnosis adalah kondisi alamiah pada kehidupan sehari-hari. Misalnya saja saat
kita sedang kebingungan mencari suatu barang padahal barang tersebut sudah
berada di depan kita. Atau ketika sedang mandi tiba-tiba kita merasakan peih
pada suatu bagian tubuh. Ternyata di situ terdapat sebuah luka yang kita tidak
menyadarinya sedari tadi. Ya, itulah kondisi hipnosis. Saat kita sedang masuk
ke dalam suatu hal dengan keadaan yang sangat fokus. Karena itu jelas salah
persepsi orang bahwa ilmu hipnosis memakai sihir. Bagi yang sudah tau, maka
bisa di pahami betapa dahsyatnya pikiran bawah sadar kita. Mungkin kita kurang
menyadarinya selama ini.
Penutup
Setelah begitu banyak
kita bahas tentang rahasia di balik hipnosis, kita mengetahui bahwa sebelum
berkata harus di teliti terlebih dahulu. Sebelum mengatakan bahwa hipnosis
adalah sihir, maka kenali dulu apa itu hipnosis.
Ilmu
hipnosis tersebar ke banyak cabang ilmu seperti yang saya sebutkan di atas.
Oleh karena itu, kita sebagai umat islam yang telah di perintahkan Allah untuk
menggunakan akal pikiran kita sebaik-baiknya, maka akan lebih baik jika kita
mulai mengembangkan ilmu hipnosis di dunia islam dengan begitu banyak manfaat
yang bisa di ambil. Sekian dari penulis. Apabila ada salah kata mohon di
maklumi. Karna kebenaran hanya milik Allah semata. Dan apabila ada informasi
yang berguna mohon di manfaatkan untuk kebaikan kita semua. Amiin.
[1] Muhammad Abduh, Spiritual Hypnosis, (Jakarta: Robbani
Press, 2010) p.1
[2] Depdiknaskamus
besar bahasa indonesia, Kamus Besar
Bahasa Indonesia jilid 3, (: Balai Pustaka, 2002)
[3] Muhammad Abduh, Spiritual Hypnosis, (Jakarta: Robbani
Press, 2010) p.4
[4] Lihat : Qs. Ali Imran
190-191
[5] John Afifi, Hypnoselling, (Jogjakarta: Buku Biru,
2011) p.274
[6] John Kehoe
& Nancy Fischer, Mind Power For
Children, (Jogjakarta: THINK, 2006) p.13
[7] Penggunaan
magnet dan sugesti yang dipopulerkan oleh Franz Anton Mesmer pada tahun 1765
[8] Farida Yunita
Sari & Mukhlis, Hypnolearning,
(Jakarta: Visimedia, 2011) p.4
[9] Saiful Anam, 4 Jam Pintar Hipnosis, (Jakarta:
Visimedia, 2010) p.19
[10] Saiful Anam, 4 Jam Pintar Hipnosis, (Jakarta:
Visimedia, 2010) p.20
[11]Saiful Anam, 4 Jam Pintar Hipnosis, (Jakarta:
Visimedia, 2010) p.21
[12] Saiful Anam, 4 Jam Pintar Hipnosis, (Jakarta:
Visimedia, 2010) p.26
[13]Saiful Anam, 4 Jam Pintar Hipnosis, (Jakarta:
Visimedia, 2010) p.29
[14] Farida Yunita
Sari & Mukhlis, Hypnolearning,
(Jakarta: Visimedia, 2011) p.22
[15] Muhammad Abduh, Spiritual Hypnosis, (Jakarta: Robbani
Press, 2010) p.14
[16]Farida Yunita
Sari & Mukhlis, Hypnolearning,
(Jakarta: Visimedia, 2011) p.26
[17] John Afifi, Hypnoselling, (Jogjakarta: Buku Biru,
2011) p.100
[18] Muhammad Abduh, Spiritual Hypnosis, (Jakarta: Robbani
Press, 2010) p.17
[19] Lihat: Qs Yunus: 101
[20] Lihat: Qs Qaaf : 6-11
[21] John Kehoe &
Nancy Fischer, Mind Power For Children,
(Jogjakarta: THINK, 2006) p.49


Tidak ada komentar:
Posting Komentar