Hari itu hari jum’at. Masih
teringat jelas dibenakku betapa cerahnya pagi itu. Mentari bersinar dengan
penuh semangat. Hembusan angin pagi menerpa ujung kerudungku. Aku tertunduk
bungkam. Tak ingin memandang suasana pagi yang begitu indah itu. Di pagi yang
cerah itu aku merasa seperti tahanan yang akan dimasukkan ke dalam penjara.
Bukan karena aku melakukan kesalahan. Tetapi karena aku harus menuruti
keinginan kedua orangtuaku untuk memasukkan aku ke sebuah pondok pesantren.
Begitu sendu hari-hari yang kulewati
ketika mendengar keputusan kedua orangtuaku. Ingin rasanya berteriak sekencang
mungkin bahwa aku tidak suka dengan keinginan mereka. Tetapi lidah ini kelu,
dan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk membantah mereka. Hingga pagi
itu datang pun aku masih saja membungkam. Meratapi ketidakberdayaan ku.
Semua barang dan keperluanku
untuk di pesantren sudah siap di teras rumah nenek. Pagi itu kakek dan nenek
yang mengantarku ke pesantren. Kedua orangtuaku sedang ada urusan. Jadilah hari
pertamaku memasuki penjara suci ini lengkap dengan penderitaan. Disepanjang
jalan menuju pesantren, aku tak sanggup berkata apapun. Semakin dekat jarakku
dengan pesantren itu, semakin sesak pula hati ini.
Aku hanya memandang pemandangan
dari jendela mobil dengan tatapan kosong. Sawah-sawah dengan padi yang
menguning tak mampu mengusik pikiranku. Pepohonan berjejer rapi di kanan kiri
jalan dan rantingnya melengkung layaknya sebuah terowongan panjang. Kulirik
sekilas. Nenek yang mencoba bicara dan bercanda denganku pun tak berhasil.
Pikiranku sedang melayang jauh
menuju kota Malang. Kota dimana teman-teman SMP ku akan melanjutkan SMA disana.
Sama seperti keinginanku selepas SMP. Aku dan teman-teman sudah berjanji akan
masuk di SMA yang sama agar persahabatan kita semakin erat. Tapi janji itu
harus musnah begitu saja. Tak terasa butir-butir air mataku mulai mengalir
menuruni pipi. Sedih rasanya jauh dari keluarga dan teman-teman, serta harus
berada dalam sebuah tempat asing.
Mobil mulai memasuki kecamatan
Paciran, sebuah kecamatan yang terletak di pesisir Pantai Utara. Bau amis
begitu menyengat ketika mobil melewati sebuah pasar tradisional. Pemandangan
laut tampak eksotis di sisi kanan jalan. Warna biru air mengkilat diterpa sinar
matahari. Kapal-kapal nelayan tampak menjamur memenuhi pantai.
Dan tak berapa lama mobil
melewati sebuah tempat wisata bernama Wisata Bahari Lamongan. Sebuah tempat
wisata yang begitu terkenal. Mungkin aku bisa sering-sering main kesini untuk
menghibur hati, ujarku dalam hati. Akhirnya mobil membelok pada sebuah gang
yang tidak begitu besar. Pemukiman penduduk begitu padat. Masyarakat tampak
sedang menjalankan aktivitas sehari-hari. Mobil harus dikemudikan dengan ekstra
hati-hati oleh kakek. Karna jalan begitu sempit dan lalu lalang kendaraan menjadikannya
sangat padat.
“Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah
Lamongan”
pintu masuk Ponpes Karangasem
Begitu tulisan yang tertera pada
papan reklame di sebuah belokan. Dan akhirnya sampailah kami. Aku melihat
sekeliling. Ramai oleh para santri baru yang sedang mengusungi barang-barangnya
dibantu oleh keluarga masing-masing. Tak banyak kata, akupun membantu kakek dan
nenek menurunkan bawaanku dari mobil. Kulangkahkan kaki pada sebuah pintu kaca
yang tidak begitu besar. Dan ternyata itu adalah gerbang menuju asrama putri.
Sebuah gedung yang sederhana kini tampak di depan mataku. Bangunannya yang
kusam menyiratkan betapa tuanya bangunan itu. Nenek membantuku membawa barang
menuju kamar yang telah ditetapkan untukku.
“Nid, mbahbuk ikut pertemuan wali murid dulu ya di aula.
Kamu tata barang-barangmu di lemari. Nanti setelah perkumpulan mbahbuk kesini
lagi” jelas nenekku seraya keluar kamar.
Kupandangi lemari berukuran sedang yang kini berada di
depanku. Kakek membeli lemari ini untukku di koperasi pondok. Kukeluarkan
barang-barangku dan mulai menatanya di lemari. Setelah selesai, aku duduk di
depan lemari dan mengamati keadaan sekitar. Beberapa santri yang sudah datang
sedang bercengkrama dengan para keluarganya di depa kamar. Di dalam kamar hanya
ada aku yang sepertinya datang terlalu awal.
Tak berapa lama kemudian datang seorang gadis dengan ibunya.
Mereka berdua sedang menggotong lemari. Setelah melihat-lihat keadaan di dalam
kamar, mereka putuskan untuk menaruh lemari itu disebelahku. Kemudian kami
berkenalan. Gadis itu memperkenalkan dirinya bernama Nana, dan ia berasal dari
Bali. Tak kusangka teman pertamaku di pondok ini berasal dari Bali. Dan dia
akan bersekolah di Aliyah. Yang itu artinya kami akan satu sekolahan.
Setelah mengobrol cukup lama, Nana minta izin untuk menemani
ibunya turun ke bawah. Tinggallah aku sendiri lagi. Masih dengan hati yang
sendu kukeluarkan buku diary dari dalam tas. Kutuliskan beberapa paragraf untuk
mencurahkan isi hatiku. Menjelang dhuhur, nenek datang dan mengajakku untuk
makan siang di kantin pondok. Setelah selesai makan nenek dan kakek pamit
pulang karena ada sebuah acara yang harus mereka hadiri. Dengan berat hati aku
melepas kepergian mereka, setelah nenek berjanji untuk menjengukku minggu
depan. Kulangkahkan kaki dengan gontai menuju kamar. Sekarang aku benar-benar
sendiri. Tak terasa air mataku menetes kembali. Tak banyak yang bisa kulakukan
sepanjang siang itu. Hanya duduk terdiam di depan lemari seraya melihat keadaan
sekitar.
Setelah sholat ashar, aku berniat untuk menyegarkan badan.
Kukeluarkan peralatan mandi serta dompet. Aku tak mau mengambil resiko jika
kutinggalkan dompet di dalam almari. Jadi dompet beserta kunci almari aku bawa
ke kamar mandi. Baru beberapa menit aku mandi, tiba-tiba terdengar ketukan
dengan kasar di pintu kamar mandi. Disusul sebuah teriakan keras.
“Wooy, cepetaan. Gantian nih lhoo,” teriak seseorang di
depan kamar mandi.
Aku tentu saja sangat kaget. Huft, hampir saja jantungku
copot. Siapa sih nggak sopan banget pakai acara teriak segala. Gerutuku dalam
hati. Ketukan itu terdengar lagi. Begitu kasar.
“Cepetaan,”teriak suara itu lagi.
Akhirnya ku percepat mandiku. Yang pada awalnya aku ingin
berlama-lama mandi agar bisa menyegarkan diri, jadinya malah harus tergesa-gesa
karena takut disemprot oleh pemilik teriakan di luar. Setelah mandi kilat yang
menegangkan itu, kuambil peralatan mandiku dan juga kunci almari. Kemudian
kubuka pintu kamar mandi dengan takut, tak berani melihat ke arah pemilik suara
tadi. Dengan sedikit berlari aku menuju kamar. Huff, akhirnya selesai juga.
Sesampai di kamar, aku meletakkan peralatan mandi pada
tempatnya. Tampak Nana sedang membereskan lemarinya. Kusapa dia,
“Hai, besok kita berangkat sekolah bersama ya,” ajakku.
“Oke, sepulang sekolah kita jalan-jalan ke toko itu yuk,
sambil beli peralatan sekolah,” jawabnya sambil menunjuk sebuah toko kecil di
depan Aula yang terlihat dari jendela kamar kami.
“Oke, kebetulan aku juga mau beli buku tulis,” jawabku
sambil tersenyum.
Beberapa menit kami asyik berbincang-bincang. Membicarakan
bagaimana hari pertama kami di sekolah besok. Tiba-tiba aku terdiam, mencoba
mengingat-ingat. Deg! Sepertinya dompetku tertinggal di kamar mandi. Segera ku
bongkar semua barang-barangku di dalam almari. Tas juga ku obrak-abrik, siapa
tahu sudah kuletakkan di tas. Tapi tetap saja tidak ada.
Dengan cemas, aku segera berlari menuju kamar mandi.
Berharap dompet itu masih ada disana. Ketika sampai di kamar mandi, pintunya
sedang terbuka menandakan tidak ada orang di dalamnya. Secepat kilat aku masuk,
kemudian kuteliti di tempat aku menaruh dompet, dipinggiran bak mandi. Kuteliti
jengkal demi jengkal. Tapi tak ada apapun disana. Kucoba mencari dilantai
barangkali terjatuh. Tapi nihil. Aku coba tengok ke dalam bak mandi, juga tidak
ada. Hatiku semakin diliputi rasa cemas. Kucoba mencari lagi dengan teliti,
tetap saja hasilnya nihil. Dengan gontai, aku berjalan ke arah kamar.
Sesampainya di kamar kuceritakan pada Nana. Dia turut
prihatin, tapi tak ada yang bisa dilakukan untuk membantuku. Aku sangat sedih,
akhirnya aku turun menuju kantor ustadzah. Dengan takut-takut aku menjelaskan
kepada ustadzah perihal hilangnya dompetku. Ustadzah pun berjanji akan berusaha
agar dompetku bisa ditemukan. Air mataku meleleh, memikirkan bagaimana nasibku
selanjutnya. Karna semua uangku ada di dalam situ.
Aku tersedu, sedih rasanya hati ini. Tak ada lagi tenaga
untuk menatap hari esok. Kekecewaan dan amarah bercampur jadi satu. Baru beberapa
jam aku menginjakkan kaki disini, tapi kenapa hal seperti ini sudah terjadi?
Bukankah orang-orang selalu memuji bahwa pondok adalah tempat yang baik untuk
pendidikan akhlaq?
Kuusap air mata yang membasahi wajah, kutata kembali hati
ini. Astaghfirullah, aku tidak boleh lemah. Semua ini adalah kehendak-Nya.
Mungkin kelak ada hikmah dan pelajaran yang dapat diambil. Dan rupanya kejadian
ini karena kesalahanku juga. Aku tidak boleh menyesalinya. Aku harus belajar
untuk ikhlas. Ikhlas melepas apa yang telah dititipkan oleh Sang Maha Pemberi
Rizqi. Insyaallah, aku akan belajar untuk ikhlas.
laut paciran yang elok




Tidak ada komentar:
Posting Komentar