Sabtu, 10 Oktober 2015

Bisakah Ikhlas ?





Hari itu hari jum’at. Masih teringat jelas dibenakku betapa cerahnya pagi itu. Mentari bersinar dengan penuh semangat. Hembusan angin pagi menerpa ujung kerudungku. Aku tertunduk bungkam. Tak ingin memandang suasana pagi yang begitu indah itu. Di pagi yang cerah itu aku merasa seperti tahanan yang akan dimasukkan ke dalam penjara. Bukan karena aku melakukan kesalahan. Tetapi karena aku harus menuruti keinginan kedua orangtuaku untuk memasukkan aku ke sebuah pondok pesantren.
Begitu sendu hari-hari yang kulewati ketika mendengar keputusan kedua orangtuaku. Ingin rasanya berteriak sekencang mungkin bahwa aku tidak suka dengan keinginan mereka. Tetapi lidah ini kelu, dan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk membantah mereka. Hingga pagi itu datang pun aku masih saja membungkam. Meratapi ketidakberdayaan ku.
Semua barang dan keperluanku untuk di pesantren sudah siap di teras rumah nenek. Pagi itu kakek dan nenek yang mengantarku ke pesantren. Kedua orangtuaku sedang ada urusan. Jadilah hari pertamaku memasuki penjara suci ini lengkap dengan penderitaan. Disepanjang jalan menuju pesantren, aku tak sanggup berkata apapun. Semakin dekat jarakku dengan pesantren itu, semakin sesak pula hati ini.
Aku hanya memandang pemandangan dari jendela mobil dengan tatapan kosong. Sawah-sawah dengan padi yang menguning tak mampu mengusik pikiranku. Pepohonan berjejer rapi di kanan kiri jalan dan rantingnya melengkung layaknya sebuah terowongan panjang. Kulirik sekilas. Nenek yang mencoba bicara dan bercanda denganku pun tak berhasil.
Pikiranku sedang melayang jauh menuju kota Malang. Kota dimana teman-teman SMP ku akan melanjutkan SMA disana. Sama seperti keinginanku selepas SMP. Aku dan teman-teman sudah berjanji akan masuk di SMA yang sama agar persahabatan kita semakin erat. Tapi janji itu harus musnah begitu saja. Tak terasa butir-butir air mataku mulai mengalir menuruni pipi. Sedih rasanya jauh dari keluarga dan teman-teman, serta harus berada dalam sebuah tempat asing.
Mobil mulai memasuki kecamatan Paciran, sebuah kecamatan yang terletak di pesisir Pantai Utara. Bau amis begitu menyengat ketika mobil melewati sebuah pasar tradisional. Pemandangan laut tampak eksotis di sisi kanan jalan. Warna biru air mengkilat diterpa sinar matahari. Kapal-kapal nelayan tampak menjamur memenuhi pantai.
Dan tak berapa lama mobil melewati sebuah tempat wisata bernama Wisata Bahari Lamongan. Sebuah tempat wisata yang begitu terkenal. Mungkin aku bisa sering-sering main kesini untuk menghibur hati, ujarku dalam hati. Akhirnya mobil membelok pada sebuah gang yang tidak begitu besar. Pemukiman penduduk begitu padat. Masyarakat tampak sedang menjalankan aktivitas sehari-hari. Mobil harus dikemudikan dengan ekstra hati-hati oleh kakek. Karna jalan begitu sempit dan lalu lalang kendaraan menjadikannya sangat padat.

“Pondok Pesantren Karangasem Muhammadiyah Lamongan”

 pintu masuk Ponpes Karangasem

Begitu tulisan yang tertera pada papan reklame di sebuah belokan. Dan akhirnya sampailah kami. Aku melihat sekeliling. Ramai oleh para santri baru yang sedang mengusungi barang-barangnya dibantu oleh keluarga masing-masing. Tak banyak kata, akupun membantu kakek dan nenek menurunkan bawaanku dari mobil. Kulangkahkan kaki pada sebuah pintu kaca yang tidak begitu besar. Dan ternyata itu adalah gerbang menuju asrama putri. Sebuah gedung yang sederhana kini tampak di depan mataku. Bangunannya yang kusam menyiratkan betapa tuanya bangunan itu. Nenek membantuku membawa barang menuju kamar yang telah ditetapkan untukku.
“Nid, mbahbuk ikut pertemuan wali murid dulu ya di aula. Kamu tata barang-barangmu di lemari. Nanti setelah perkumpulan mbahbuk kesini lagi” jelas nenekku seraya keluar kamar.
Kupandangi lemari berukuran sedang yang kini berada di depanku. Kakek membeli lemari ini untukku di koperasi pondok. Kukeluarkan barang-barangku dan mulai menatanya di lemari. Setelah selesai, aku duduk di depan lemari dan mengamati keadaan sekitar. Beberapa santri yang sudah datang sedang bercengkrama dengan para keluarganya di depa kamar. Di dalam kamar hanya ada aku yang sepertinya datang terlalu awal.
Tak berapa lama kemudian datang seorang gadis dengan ibunya. Mereka berdua sedang menggotong lemari. Setelah melihat-lihat keadaan di dalam kamar, mereka putuskan untuk menaruh lemari itu disebelahku. Kemudian kami berkenalan. Gadis itu memperkenalkan dirinya bernama Nana, dan ia berasal dari Bali. Tak kusangka teman pertamaku di pondok ini berasal dari Bali. Dan dia akan bersekolah di Aliyah. Yang itu artinya kami akan satu sekolahan.
Setelah mengobrol cukup lama, Nana minta izin untuk menemani ibunya turun ke bawah. Tinggallah aku sendiri lagi. Masih dengan hati yang sendu kukeluarkan buku diary dari dalam tas. Kutuliskan beberapa paragraf untuk mencurahkan isi hatiku. Menjelang dhuhur, nenek datang dan mengajakku untuk makan siang di kantin pondok. Setelah selesai makan nenek dan kakek pamit pulang karena ada sebuah acara yang harus mereka hadiri. Dengan berat hati aku melepas kepergian mereka, setelah nenek berjanji untuk menjengukku minggu depan. Kulangkahkan kaki dengan gontai menuju kamar. Sekarang aku benar-benar sendiri. Tak terasa air mataku menetes kembali. Tak banyak yang bisa kulakukan sepanjang siang itu. Hanya duduk terdiam di depan lemari seraya melihat keadaan sekitar.
Setelah sholat ashar, aku berniat untuk menyegarkan badan. Kukeluarkan peralatan mandi serta dompet. Aku tak mau mengambil resiko jika kutinggalkan dompet di dalam almari. Jadi dompet beserta kunci almari aku bawa ke kamar mandi. Baru beberapa menit aku mandi, tiba-tiba terdengar ketukan dengan kasar di pintu kamar mandi. Disusul sebuah teriakan keras.
“Wooy, cepetaan. Gantian nih lhoo,” teriak seseorang di depan kamar mandi.
Aku tentu saja sangat kaget. Huft, hampir saja jantungku copot. Siapa sih nggak sopan banget pakai acara teriak segala. Gerutuku dalam hati. Ketukan itu terdengar lagi. Begitu kasar.
“Cepetaan,”teriak suara itu lagi.
Akhirnya ku percepat mandiku. Yang pada awalnya aku ingin berlama-lama mandi agar bisa menyegarkan diri, jadinya malah harus tergesa-gesa karena takut disemprot oleh pemilik teriakan di luar. Setelah mandi kilat yang menegangkan itu, kuambil peralatan mandiku dan juga kunci almari. Kemudian kubuka pintu kamar mandi dengan takut, tak berani melihat ke arah pemilik suara tadi. Dengan sedikit berlari aku menuju kamar. Huff, akhirnya selesai juga.
Sesampai di kamar, aku meletakkan peralatan mandi pada tempatnya. Tampak Nana sedang membereskan lemarinya. Kusapa dia,
“Hai, besok kita berangkat sekolah bersama ya,” ajakku.
“Oke, sepulang sekolah kita jalan-jalan ke toko itu yuk, sambil beli peralatan sekolah,” jawabnya sambil menunjuk sebuah toko kecil di depan Aula yang terlihat dari jendela kamar kami.
“Oke, kebetulan aku juga mau beli buku tulis,” jawabku sambil tersenyum.
Beberapa menit kami asyik berbincang-bincang. Membicarakan bagaimana hari pertama kami di sekolah besok. Tiba-tiba aku terdiam, mencoba mengingat-ingat. Deg! Sepertinya dompetku tertinggal di kamar mandi. Segera ku bongkar semua barang-barangku di dalam almari. Tas juga ku obrak-abrik, siapa tahu sudah kuletakkan di tas. Tapi tetap saja tidak ada.
Dengan cemas, aku segera berlari menuju kamar mandi. Berharap dompet itu masih ada disana. Ketika sampai di kamar mandi, pintunya sedang terbuka menandakan tidak ada orang di dalamnya. Secepat kilat aku masuk, kemudian kuteliti di tempat aku menaruh dompet, dipinggiran bak mandi. Kuteliti jengkal demi jengkal. Tapi tak ada apapun disana. Kucoba mencari dilantai barangkali terjatuh. Tapi nihil. Aku coba tengok ke dalam bak mandi, juga tidak ada. Hatiku semakin diliputi rasa cemas. Kucoba mencari lagi dengan teliti, tetap saja hasilnya nihil. Dengan gontai, aku berjalan ke arah kamar.
Sesampainya di kamar kuceritakan pada Nana. Dia turut prihatin, tapi tak ada yang bisa dilakukan untuk membantuku. Aku sangat sedih, akhirnya aku turun menuju kantor ustadzah. Dengan takut-takut aku menjelaskan kepada ustadzah perihal hilangnya dompetku. Ustadzah pun berjanji akan berusaha agar dompetku bisa ditemukan. Air mataku meleleh, memikirkan bagaimana nasibku selanjutnya. Karna semua uangku ada di dalam situ.
Aku tersedu, sedih rasanya hati ini. Tak ada lagi tenaga untuk menatap hari esok. Kekecewaan dan amarah bercampur jadi satu. Baru beberapa jam aku menginjakkan kaki disini, tapi kenapa hal seperti ini sudah terjadi? Bukankah orang-orang selalu memuji bahwa pondok adalah tempat yang baik untuk pendidikan akhlaq?
Kuusap air mata yang membasahi wajah, kutata kembali hati ini. Astaghfirullah, aku tidak boleh lemah. Semua ini adalah kehendak-Nya. Mungkin kelak ada hikmah dan pelajaran yang dapat diambil. Dan rupanya kejadian ini karena kesalahanku juga. Aku tidak boleh menyesalinya. Aku harus belajar untuk ikhlas. Ikhlas melepas apa yang telah dititipkan oleh Sang Maha Pemberi Rizqi. Insyaallah, aku akan belajar untuk ikhlas.



laut paciran yang elok

Tidak ada komentar:

Posting Komentar