Selasa, 28 Agustus 2018

Duka Milik Lili - part 1




Sebut saja namanya Lili. Dia adalah muridku. Lili duduk di kelas 12 pada sebuah SMA swasta di Jogjakarta. Orangtuanya kaya dan terpandang di daerahnya. Sawahnya luas, tokonya besar, karyawannya banyak, rumahnya bak istana, lalu ia anak tunggal yang cantik dan pintar. Lengkap sudah seluruh kebahagiaan di dunia ini ia miliki, sempurna. Namun anehnya, Lili ternyata tidak bahagia. Dan kebahagiaan itulah yang membuatku menjadi dekat dengannya.

Di suatu sore, sekolah sudah sepi. Ruang guru hanya menyisakan aku dan tiga orang lainnya. Aku masih berkutat dengan tumpukan hasil ulangan siswa yang harus diperiksa. Karena AC ruang guru sangat dingin, aku merasa ingin buang air kecil ke kamar mandi. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi yang terletak di ujung lorong. Setelah menyelesaikan hajat, aku mencuci tangan di depan wastafel. Tiba-tiba terdengar bunyi tangisan lirih yang tertahan. Aku bergidik. Apa jangan-jangan itu hantu? Ah, segera kutepis jauh-jauh pikiran itu. Naluriku menggerakkanku mendekati asal suara, yaitu kamar mandi yang paling ujung. Saat tiba di depannya, kuketuk pintu secara perlahan.

"Siapa di dalam?" tanyaku was-was.

"...." suara tangisan itu seperti sedang berusaha keras ditahan.

"Halo, nak? Siapa? Ada apa?" tanyaku kembali.

Tak berapa lama pintu kamar mandi terbuka, keluar dari dalamnya Lili. Tampilannya sangat kacau. Rambut acak-acakan, air mata memenuhi wajahnya, kulitnya yang putih menampakkan hidung dan pipinya memerah. Ia melangkah ragu ke arahku, kemudian segera kubuka tanganku bersiap memeluknya. Tanpa pikir panjang ia menyeruduk ke pelukanku, kemudian memelukku erat, dan menangis kencang.

Setelah kurang lebih 30 menit di dalam kamar mandi, akhirnya aku kembali ke ruang guru. Terasa basah pundakku. Cukup lama Lili menangis di pelukanku. Setelah itu ia menceritakan hal yang membuatnya menangis. Adalah orangtuanya yang baru saja memutuskan untuk bercerai. Aku cukup terkejut, karena orangtua Lili terkenal sebagai pasangan yang serasi. Keduanya pun sama-sama berasal dari keturunan bangsawan yang terpandang di Jogjakarta. Rupanya hal itu juga membuat Lili terpukul. Ia merasa hidupnya kacau.

Aku menghela nafas. Aku memang bukan wali kelasnya, aku juga bukan guru BK, apalagi wakil kepala sekolah bagian kesiswaan. Tapi aku merasa perlu untuk ikut andil dalam kasus ini. Aku merasa Lili harus diselamatkan.

-bersambung-

#day7
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar