"Seperti rencana kita sebelumnya, setelah wisuda kita akan menikah. Benar kan?" tanyanya.
Aku terdiam, masih dengan menunduk dan memejamkan mata.
"Namun maaf ya Nia, semua rencana itu sepertinya tidak akan terlaksana. Maafkan aku," lanjutnya.
Kalimat-kalimat di atas berputar berulang kali secara otomatis di pikiranku. Tanpa aku bisa mencegahnya, bahkan menghentikannya pun terasa sangat susah. Rasa-rasanya semangat untuk menjalani hari-hari tak kumiliki lagi. Duniaku terasa menyempit, gerakku menjadi terbatas, dan anganku semakin meluas. Anganku semakin liar dan sibuk berandai-andai tentang berbagai macam kemungkinan.
Bayangan akan indahnya menjalin kehidupan rumah tangga dengannya masih saja menghampiri. Bayangan akan bangganya diriku memiliki seorang suami yang hafal al-qur'an masih bercokol hebat. Bayangan akan bahagianya kami berdua kesana kemari berdakwah dan menyebarkan agama Allah berdua. Bayangan akan canda tawa jundi-jundi kami yang menjadi penyejuk hari-hari. Semuanya itu masih terus memenuhiku.
Aku semakin tersiksa dengan semua ini. Hingga keluarga dan sahaba terdekat begitu prihatin melihatku. Mereka berusaha mencari solusi untuk keadaanku saat itu, hingga akhirnya ditemukanlah solusi itu. Atas rekomendasi salah satu saudara jauh, aku diberi kesempatan untuk mengajar di sebuah sekolah swasta di Bandung. Allah Maha Baik. Allah tidak ingin aku berlarut dalam kesedihan itu. Allah ingin aku sibuk dalam kebaikan, sehingga lupa akan kesedihan.
Akhirnya aku berangkat ke Bandung diantar kedua orangtuaku. Mereka melepasku dengan pilu, berharap aku lekas membaik. Hari-hari pertama ku di sekolah ini berjalan lancar. Aku yang memang menyukai pendidikan tidak mengalami kesulitan dalam beradaptasi. Murid-murid disini pun sangat menyenangkan. Mereka menerimaku dengan penerimaan yang baik. Hingga satu bulan keberadaanku disini, aku merasa begitu nyaman. Aku merasa semakin mencintai sekolah ini dan setiap sudutnya. Aku mencintai murid-muridku.
Pelukan hangat dari murid-murid di setiap pagi ketika aku datang memberikan kekuatan tersendiri bagiku. Aku semakin kuat dan mulai melupakan luka itu. Aku meyakini bahwa untuk apa terus berlarut dalam kesedihan jika ternyata kebahagiaan itu bisa kudapatkan dengan cara mudah dan sederhana. Cukup dengan aku menjadi guru disini, saling berbagi ilmu dengan mereka, saling bercanda tawa dengan mereka, itu sungguh membahagiakan.
Kedua orangtuaku juga bahagia mendengar kabar tentang perkembanganku di sini. Tak lupa di setiap panggilan telepon, mereka mengingatkanku untuk terus menjaga sholat tahajudku. Kuiyakan permintaan mereka. Maka hari demi hariku tak pernah alpa dari bermunajat padanya di sepertiga malam. Kuadukan semua permasalahan dan kesedihanku pada Allah. Aku yakin Allah Maha Baik. Allah akan selalu mendengar permasalahan hambanya.
Bahkan tak jarang pula kuadukan kegundahan hatiku perihal jodoh. Derai air mata mengiri bait-bait do'a yang kurapalkan kepada Allah. Aku tau masa lalu itu memang perih, tapi kuyakin Allah punya skenario yang indah. Maka kuharus bersabar, menanti skenario terbaik dari-Nya.
Yaa Rabb, maafkan hamba-Mu yang penuh dosa ini.
Yaa Rabb, hamba yakin Engkau adalah pembuat skenario terindah di dunia.
Maka biarlah kuserahkan jalan hidupku ini pada skenario-Mu.
Kuikhlaskan atas segala apapun yang Engkau kehendaki untukku.
Yaa Rabb, kini tak lagi kusebut sebuah nama.
Pilihkanlah siapapun yang menurut-Mu terbaik bagiku.
Engkau Maha Tau atas siapa yang terbaik bagiku.
Kuharap dia adalah laki-laki yang mampu membimbingku.
Kuharap dia adalah laki-laki yang dengannya, aku semakin dekat denganmu.
Kuharap dia adalah laki-laki yang dengannya, surga-Mu mampu terjangku.
Kuharap ia, mencintaiku, tak sebesar ia mencintai-Mu.
#day9
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1


Tidak ada komentar:
Posting Komentar