Senin, 03 September 2018

Air Matamu, Terlalu Berharga.

Sebuah siang di kota Hujan. Lagi-lagi terik mentari menemani aktifitas mengajarku di sekolah ini. Mendapatkan jadwal pelajaran di jam-jam terakhir merupakan sebuah ujian bagi para guru. 

Bagaimana tidak? Jam yang para murid lebih merindukan kasur dan bantal daripada wajah gurunya. Jam yang para murid sudah membayangkan betapa nikmatnya rebahan di kasur dengan AC di kamar.

Eits! Tapi justru ini serunya! Kita sebagai guru ditantang untuk mengajar sekreatif mungkin supaya para murid tidak mengantuk atau bahkan tertidur saat pelajaran kita. Kebetulan aku orangnya paling tidak suka jika ada murid yang tertidur saat aku sedang menjelaskan. Kok rasanya seperti tidak dihargai gitu ya? Hehe. Baper deh.

Jadilah siang itu, pelajaran bahasa arab kuisi dengan berbagai game yang berkaitan dengan musim-musim dalam bahasa arab. Di tengah keasyikan kami bermain game, tiba-tiba ponsel yang kuletakkan di atas meja berdering. Setelah meminta izin kepada anak-anak untuk mengangkat telepon itu, aku bergegas keluar kelas untuk mengangkatnya.

Setelah kuangkat dan mengucap salam, berbicaralah suara di seberang. Ternyata dari salah satu wali santri yang kebetulan akulah wali kelasnya. Beliau mengabarkan bahwa nenek dari Ana meninggal dunia, selain itu beliau meminta supaya aku menyampaikan pesan kepada Ana untuk bersiap karena sebentar lagi orangtuanya akan menjemputnya untuk menuju rumah sang nenek.

Setelah berbicara kurang lebih 3 menit dan kusampaikan bela sungkawa, telepon pun ditutup. Aku terdiam. Sedang berpikir bagaimana cara menyampaikan berita itu kepada Ana. Kulihat ke dalam kelas, Ana nampak sedang asyik bercanda dengan teman-temannya. Kupanggil ia dengan lambaian tangan.

Tak berapa lama Ana sudah berada di luar kelas bersamaku. Kugenggam kedua tangannya, kemudian ku tatap lembut wajahnya, sesekali kubelai pipinya. 

"Ana sayang, Ana tau kan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Allah?" tanyaku membuka percakapan.

"Tau ustadzah," Ana mengangguk pelan. Memandangku penuh keheranan.

"Ana juga tau kan sewaktu-waktu kita bisa saja dipanggil oleh Allah?" tanyaku lebih dalam.

"Tau ustadzah," jawabnya dengan mimik muka semakin keheranan.

"Ana shalihah. Do'akan nenek ya. Nenek dipanggil kembali kepada Allah. Do'akan semua amal ibadah nenek Ana diterima Allah dan dosanya diampuni," terangku dengan hati tak karuan. 

Ana terdiam. Aku semakin khawatir dengan kondisinya. Beberapa detik kemudian ia menangis dengan kencang. Ana berteriak memanggil neneknya dan meronta-ronta. Dengan usaha keras kucoba memeluknya. Semua teman-teman di kelas menoleh melihatnya. Ia tak peduli. Hanya nama neneknya yang ia serukan. Derai air matanya tak tertahan lagi.

Tak terasa air mataku ikut menetes. Aku merasakan kesedihan yang Ana rasakan. Kehilangan orang yang kita cintai merupakan hal yang sangat berat.

#day13
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar