Rabu, 05 September 2018

Di antara Tumpukan Sampah

Jakarta sore itu mendung. Awan hitam menggelayut, terlihat besar dan berat. Nampaknya tidak sanggup menahan beban lebih lama lagi. Muatannya akan segera tumpah sebentar lagi.

Mendung pekat sore itu tak menghalangi kepadatan aktifitas di Ibukota. Para pegawai kantoran sedang sibuk mengemasi barang-barang dan bersiap pulang, sebelum hujan turun. Para ojek online sudah berjejer di depan gedung gedung tinggi di jalan protokol, siap menanti para customer.

Mendung pekat sore itu tak juga menghalangi para siswa dan siswi yang baru saja selesai melaksanakan pelajaran tambahan, untuk persiapan Ujian Nasional katanya. Sebagian dari mereka sudah dengan lincah menaiki metromini berdesak-desakan. Sebagian lainnya berdiri di depan sekolah, sibuk dengan smartphone, memesan ojek online. 

Di antara semua kegaduhan di sore itu, nampak dua gadis berlarian kecil menyeberangi jalanan yang padat. Kendaraan memenuhi seluruh jalur, tak beraturan. Asap dari knalpot-knalpot kendaraan memenuhi langit-langit Ibukota. Suara klakson yang bersahutan tak membuat gentar kedua gadis itu untuk tetap lincah.

Di punggung keduanya terdapat karung yang digendong dan ujungnya dipegangi erat. Sesampainya di seberang jalan, keduanya berhenti ngos-ngosan dengan muka riang dan tertawa.

"Aduh kak, jangan cepat-cepat dong larinya! Nanti sampah-sampah yang sudah kita kumpulkan susah payah ini jatuh," gerutu salah satu gadis kecil itu. 

"Hehe tenang aja dek, nggak akan jatuh. Kakak sudah mengikatnya erat," jawab gadis kecil satunya yang berbadan lebih besar.

"Kak, mendung nih," ujar gadis kecil itu lagi.

"Ayo segera kita kumpulkan ini pada Bang Suaeb, terus kita pulang deh! Siapa mau makan mie rasa soto ayam?" tanya sang kakak dengan muka berbinar.

"Yee asik! Aku lapar kak. Yuk!" jawab sang adik riang.

Keduanya kembali berjalan menyusuri jalanan Ibukota, dengan karung berisi sampah-sampah plastik yang berhasil mereka kumpulkan seharian ini. Dengan tanpa alas kaki, penampilan keduanya semakin terlihat dekil karena baju yang berantakan dan kotor, rambut dekil dan lepek. Kalau muka, keduanya masih tergolong manis, mungkin karena keturunan orang Jawa ya.

Tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk sampai di rumah sang pengepul. Sesampainya di sana, sampah-sampah kami ditimbang, kemudian upah dibayar.

Tak banyak jumlahnya, hanya beberapa lembar ribuan, tak sampai puluhan ribu. Tapi keduanya menerima dengan antusias dan gembira. Setelah mengucap terimakasih, keduanya bersiap kembali ke rumah.

Setelah lima meter berjalan, tiba-tiba terdengar suara ramai. Semakin dekat suara semakin jelas terlihat apa penyebab suara itu. Nampak seorang laki-laki berlari dengan sangat cepat, menenteng sebuah tas wanita. Di belakangnya berlarian kerumanan orang sambil berteriak "Copet..copet.."

Kedua gadis itu tertegun. Laki-laki yang diteriaki copet tersebut sedang berlari menuju arah mereka, jaraknya 15 meter dari mereka. 

"Minggir kalian!" teriak laki-laki itu dengan kasar kepada kedua gadis itu. Matanya melotot. Tangan kirinya menenteng tas yang dicurinya, sedang tangan kirinya membawa sesuatu. Hey, itu pisau!

#day15
#30dwc
#30dwcjilid14
#temasampah
#squad1
#naniashmenulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar