Suara klakson bersahutan di siang ini menambah semrawut suasana Ibu Kota. Kepalaku mulai pening mendengar rusuhnya sumpah serapah para supir angkot di tengah kemacetan ini. Mobil yang kami tumpangi menembus padatnya lalu lintas Jakarta dengan perlahan, Bu Indri mengemudikan mobil dengan penuh konsentrasi.
Aku dan kedua guru lainnya yakni Bu Indri dan Bu Gina sedang melakukan perjalanan dari Bogor menuju Jakarta Pusat. Perjalanan kami bukan tanpa suatu alasan. Fei, salah satu murid kami sedang mendapat musibah, sehingga kepala sekolah segera mengutus kami untuk ke sini.
15 menit kemudian bangunan yang kami tuju mulai terlihat. Letaknya yang berada di pinggir jalan memudahkan para pejalan membaca judul bangunan itu. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Mobil membelok dengan cepat, kemudian mencari tempat parkir. Setelah parkir dengan baik, kami berjalan menuju gedung A. Di sana kami menekan lift dan mulai menuju kaNmar tujuan.
Sesampainya di kamar nomor 324, kami mengetuk pintu dan memberi salam. Tak berapa lama pintu kamar dibuka oleh Fei, kami dipersilahkan masuk. Ketika kami sudah masuk kamar, nampak di ranjang berbaring Ibu Fei.
Ya, itulah tujuan kedatangan kami ke sini. Untuk menjenguk Ibu Fei yang terkena penyakit lupus. Lupus adalah penyakit peradangan (inflamasi) kronis yang disebabkan oleh sistem imun atau kekebalan tubuh yang menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh sendiri. Lupus dapat menyerang berbagai bagian dan organ tubuh seperti kulit, sendi, sel darah, ginjal, paru-paru, jantung, otak, dan sumsum tulang belakang.
Ibu Fei berbaring di ranjang dan menyapa kami. Karena keramahannya, beberapa menit kemudian kami sudah menjadi sangat akrab. Dari perbincangan itu, kami jadi tahu bahwa penyakit lupus sudah diderita oleh Ibu Fei sejak usia SMA. Sejak itu pula lah Ibu Fei sering bolak-balik keluar masuk rumah sakit setiap penyakit itu menyerangnya kembali.
Setiap kalimat demi kalimat ia sampaikan dengan nada riang, dan senyuman hangat. Tak terasa mataku mulai memanas. Demi mendengar kisah perjuangan Ayah dan Ibu Fei bersabar terhadap penyakit ini, air mataku menetes perlahan.
Ia adalah seorang wanita hebat menurutku. Di tengah keterbatasan fisiknya melawan penyakit lupus ini, ia masih semangat dan penuh optimisme. Ia menyampaikan bahwa harapannya saat ini tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin bisa sembuh dan bercengkrama dengan keluarganya. Satu kalimat yang ia tegaskan kepada kami ialah, " kita hidup di dunia ini sudah penuh dengan kenikmatan. Kenapa harus mengeluh hanya dengan satu atau dua ujian?" tanya Ibu Fei. Kami mematung, tersentuh.
Setelah berbicara dan bertukar kisah dengan Ibunya, Fei datang dengan membawa tiga cangkir teh hangat. Setelah dipersilahkan, kami bertiga meminumnya sembari berbincang dengan Fei.
"Fei, ibu sudah membaik. Kamu mau kembali ke pesantren bersama kami?" tanyaku pelan.
Fei menatap ibunya meminta jawaban. Ibunya mengangguk dan tersenyum tipis.
Tak butuh waktu lama bagi Fei untuk berkemas. Pakaiannya dan barangnya juga sedikit. Setelah semua siap, kami berjejer di sebelah ranjang tempat Ibu Fei meminta izin pamit, sekaligus membawa anaknya ikut kembali bersama kami ke Bogor.
Setelah kami menyalami Ibu Fei, waktunya Fei dipeluk oleh bunda atau guru-gurunya. Tiba-tiba Fei dipeluk oleh ibunya erat.
"Fei, yang rajin ya nak! Doain mama terus setiap kamu selesai menghafal al Quran," pesan Ibu Fei sambil membelai lembut kepala anaknya.
Fei mengangguk tipis. Kepalanya ia benamkan di dada Ibunya. Pelukan keduanya cukup erat.
"Ustadzah, saya rela jika anak saya Fei masuk surga kelak karena baktinya kepada ibunya. Allah pun juga tahu betapa sayang dan hormatnya dia kepada Ibunya," ujar Sang Ibu dengan suara tertahan, masih dengan tangan membelai kepala Fei.
Kami satu ruangan terkejut mendengar kalimat tersebut. Kalimat yang keluar secara tulus dari mulut seorang Ibu. Kabulkan Yaa Allah.
Setelah selesai berpamitan, kami segera menuju parkiran. Tak membutuhkan waktu lama bagi kami untuk menemukan mobil kami. Bu Indri kembali mengambil posisi dan siap mengarahkan mobil kami kembalu menuju Bogor.
Di tengah perjalanan, di antara desing kendaraan yang dipacu cepat di jalan tol, Fei bertanya.
"Ustadzah, apakah Ibuku akan selamat?" tanya Fei tiba-tiba. Matanya memandang lurus ke jalanan tol Jagorawi itu.
Kami bertiga terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing yang sedang mempersiapkan jawaban untuk Fei.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar