Aku terduduk di salah satu gerbong kereta yang sedang melaju dengan kencang. Membelah hamparan hijau persawahan yang terbentang sejauh mata memandang. Setelah hampir semalaman duduk di dalam kereta ini, pagi yang cerah ini merupakan pembuka hari yang sempurna.
Dan tahukah? Laki-laki yang sedang duduk di sebelahku ini membuat pagiku semakin sempurna. Kupandangi wajah teduhnya. Ternyata ia sedang tertidur. Wajahnya masih menyisakan air wudhu. Seba'da sholat shubuh tadi, ia memang mengadu kalau mengantuk. Hihi, sungguh gemas melihatnya tertidur.
Bulan depan genap satu tahun pernikahan kami. Setelah masa ta'aruf yang singkat, kami memutuskan untuk melangsungkan pernikahan sesegera mungkin. Karena itu setelah pernikahan adalah masa-masa kami untuk saling mengenal. Perjalanan menjadi salah satu cara kami untuk saling mengenal satu sama lain. Seperti perjalanan kali ini, Jogja kampung halaman Mas Bagus menjadi tujuan kami.
Tak terasa sejam lagi kereta kami akan sampai di tujuan. Kugoyang lembut bahu suamiku, mencoba membangunkannya. Ia pun bergerak dan mengerjapkan mata.
"Mas bangun," ujarku lembut sambil membelai pipinya.
"Ah adek. Mas sedang mimpi indah nih, jadi buyar kan," sahutnya sambil memonyongkan bibir. Aku gemas dibuatnya.
"Hihi, maaf mas ku sayang. Memangnya mas mimpi apa sih?" tanyaku sambil tersenyum melihat bibirnya yang masih monyong.
"Mimpi indaaah sekali. Mimpi kita bertiga sedang berada di tepi pantai dekat rumah Ibu. Berlarian di antara ombak dan burung camar," ujarnya sambil memejamkan mata seolah membayangkan.
"Hah? Bertiga? Sama siapa mas?" tanyaku heran.
"Tentu saja sama anak kita sayaaang," jawabnya sambil menjepit hidung pesekku dengan telunjuk dan jempolnya.
Aku tersenyum, lalu terdiam. Itu memang mimpi yang sangat indah. Namun sampai setahun ini, itu semua masih menjadi mimpi yang kami berdua rindukan. Ya, kami rindu tangisan dan tawa bayi melengkapi hari-hari kami.
#day17
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#temamimpi
#naniashmenulis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar