Persahabatan di masa SMA memang indah. Semua indah dengan kisahnya masing-masing. Izinkan aku mengisahkan milikku.
*****
Namanya Sinta, sahabat baikku. Namun aku memanggilnya mamah sebagai panggilan sayang. Ia disiplin, sedangkan aku teledor. Ia rajin, sedangkan aku terkadang malas. Ia sopan dalam berbicara, sedangkan aku sering nyablak. Ia cantik, tinggi semampai dan anggun, sedangkan aku begini adanya. Begitulah kami, seperti dua kutub yang saling berseberangan bukan? Namun kami bersahabat, ke mana-mana berdua. Kami saling menunggu satu sama lain, berusaha kemana pun berdua.
Sinta memang disiplin. Namun ia terkadang mengorbankan kedisiplinannya itu untukku. Seperti pagi ini, lagi-lagi aku terlambat. Bel masuk sekolah 5 menit lagi berbunyi. Dengan terburu-buru kupakai sepatu tanpa mengikat talinya. Nanti saja di sekolah, pikirku. Kuraih tas yang tergeletak di samping, kemudian sedikit berlari menuju gerbang pesantren. Karena sekolah kami terletak di luar lingkungan asrama, maka kami harus berjalan kurang lebih 5 menit untuk sampai di sana.
Dengan sedikit terengah kulayangkan pandangan mencari Sinta. Akhirnya kutemukan ia sedang berdiri di bawah pohon, tersenyum dan melambai ke arahku. Aku yakin ia telah menungguku di sana setidaknya sudah 10 menit. Ia dengan kedisiplinannya tentu sudah siap sedari tadi. Tapi ia sahabat yang baik. Ia rela menantiku yang teledor ini untuk berangkat sekolah bersama. Sudah pasti kami akan terlambat. Syukur-syukur kepala sekolah tidak menghukum kami.
"Maaf ya mah, terlambat lagi deh hari ini," ujarku sambil memegang tangannya. Meminta maaf atas keteledoran pagi ini.
"Nggak apa need. Santai aja! Hehe," jawabnya sambil tersenyum dan terus melangkah di sebelahku.
Begitulah Sinta. Akan tetap menungguku, meski ia harus mengorbankan waktunya. Akan tetap menemaniku, meski itu terkadang membuatnya harus mengorbankan apapun. Pernah, di suatu waktu yang kelam bagiku, ia selalu ada dan tak pernah pergi.
Sinta begitu lembut dan halus tutur katanya. Namun ia bisa berubah menjadi galak. Seperti saat itu, saat ia melabrak pacarku. Pacar? Ya! Jangan kaget! Dunia pesantren tak selalu suci. Terkadang ada sisi kelam yang memang tak seharusnya ada. Namun siapa sangka justru di usia remaja, syaitan gemar menggoda? Masa putih abu-abu bagi kami adalah masa-masa untuk bersenang-senang. Aku yang tadinya tak mengenal apa itu cinta, akhirnya terjebak jua dalam jurang kemaksiatan. Namun rupanya Allah menghukumku. Sang pacar yang tadinya kupuja-puja dan membuat hari-hariku semakin berwarna, ternyata tergoda wanita lain. Seorang siswi cantik dari kelas IPA.
Rasanya duniaku gelap. Di saat baru mengenal cinta masa SMA yang oleh sebagian orang disebut masa indah, nyatanya aku terluka. Boro-boro merasakan bagai Milea dicintai oleh Dilan demikian hebatnya, yang ada malah aku dikecewakan. Namun aku beruntung. Allah kirimkan kekuatan berwujud sahabat yang memelukku di kala sedih, yang memberikan bahunya untukku menangis, yang mengingatkanku untuk selalu bersabar dan percaya akan skenario Allah. Setelah episode labrak-melabrak, Sinta terus menemaniku. Menghapus air mataku, melukiskan lagi senyum di wajahku. Meyakinkanku bahwa laki-laki itu tidak baik dan tidak pantas untukku. Akhirnya lama kelamaan lukaku membaik.
Sinta penyayang dan setia kawan. Bahkan ia tersedu-sedu ketika kami terpaksa marahan satu sama lain. Siang dan malam wajahnya tampak murung. Bahkan tak jarang ia menangis. Aku? Tentu saja bersedih! Yang tadinya kemana-mana berdua, sekarang harus berjauhan. Yang tadinya kami saling bercerita tentang segala hal, saat itu harus diam tak bertegur sapa. Namun ternyata kami memang ditakdirkan untuk bersahabat. Buktinya kami tak kuat jika harus berlama-lama marahan. Dua hari itu sangat menyiksa.
"Maafkan mamah yaa need," ujarnya terisak sambil memelukku erat.
"Maafkan aku juga ya mah," jawabku tersedu. Kurekatkan pelukanku.
Aku ingat, setelahnya tak pernah lagi ada kejadian marahan di antara kami. Kami berdua menghabiskan hari-hari di pesantren bersama. Tak terasa kisah kami di pesantren telah sampai di penghujung perjalanan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai yang memuaskan. Kini saatnya perpisahan harus terjadi. Sekuat apapun kami menolaknya, waktu dan jarak akan tetap memisahkan kami.
Jawa Timur dan Jawa Barat adalah jarak yang lumayan jauh untuk persahabatan kami. Aku dan Sinta percaya, sahabat itu layaknya bintang. Tak selalu nampak di mata, namun kita tau, ia selalu ada di sana. Ada kalanya tertutup mendung, ada kalanya terhalang awan, tapi ia tetap di sana.
Sinta, adalah bintang untukku. Sinta tak selalu nampak, tak selalu hadir wujudnya di sisiku. Namun aku tau, Sinta akan selalu ada untukku. Bahkan meski jarak masih memisahkan kita hingga saat ini.
Bogor, 8 September 2018
#day18
#30dwc
#30dwcjild14
#squad1
#naniashmenulis
Tulisan ini kudedikasikan sebagai hadiah pernikahan sahabatku, Sinta. Selamat mah, kamu pasti akan menjadi istri dan ibu yang baik. Kita akan tetap menjadi bintang ya? Love you mah ❤
Sinta memang disiplin. Namun ia terkadang mengorbankan kedisiplinannya itu untukku. Seperti pagi ini, lagi-lagi aku terlambat. Bel masuk sekolah 5 menit lagi berbunyi. Dengan terburu-buru kupakai sepatu tanpa mengikat talinya. Nanti saja di sekolah, pikirku. Kuraih tas yang tergeletak di samping, kemudian sedikit berlari menuju gerbang pesantren. Karena sekolah kami terletak di luar lingkungan asrama, maka kami harus berjalan kurang lebih 5 menit untuk sampai di sana.
Dengan sedikit terengah kulayangkan pandangan mencari Sinta. Akhirnya kutemukan ia sedang berdiri di bawah pohon, tersenyum dan melambai ke arahku. Aku yakin ia telah menungguku di sana setidaknya sudah 10 menit. Ia dengan kedisiplinannya tentu sudah siap sedari tadi. Tapi ia sahabat yang baik. Ia rela menantiku yang teledor ini untuk berangkat sekolah bersama. Sudah pasti kami akan terlambat. Syukur-syukur kepala sekolah tidak menghukum kami.
"Maaf ya mah, terlambat lagi deh hari ini," ujarku sambil memegang tangannya. Meminta maaf atas keteledoran pagi ini.
"Nggak apa need. Santai aja! Hehe," jawabnya sambil tersenyum dan terus melangkah di sebelahku.
Begitulah Sinta. Akan tetap menungguku, meski ia harus mengorbankan waktunya. Akan tetap menemaniku, meski itu terkadang membuatnya harus mengorbankan apapun. Pernah, di suatu waktu yang kelam bagiku, ia selalu ada dan tak pernah pergi.
Sinta begitu lembut dan halus tutur katanya. Namun ia bisa berubah menjadi galak. Seperti saat itu, saat ia melabrak pacarku. Pacar? Ya! Jangan kaget! Dunia pesantren tak selalu suci. Terkadang ada sisi kelam yang memang tak seharusnya ada. Namun siapa sangka justru di usia remaja, syaitan gemar menggoda? Masa putih abu-abu bagi kami adalah masa-masa untuk bersenang-senang. Aku yang tadinya tak mengenal apa itu cinta, akhirnya terjebak jua dalam jurang kemaksiatan. Namun rupanya Allah menghukumku. Sang pacar yang tadinya kupuja-puja dan membuat hari-hariku semakin berwarna, ternyata tergoda wanita lain. Seorang siswi cantik dari kelas IPA.
Rasanya duniaku gelap. Di saat baru mengenal cinta masa SMA yang oleh sebagian orang disebut masa indah, nyatanya aku terluka. Boro-boro merasakan bagai Milea dicintai oleh Dilan demikian hebatnya, yang ada malah aku dikecewakan. Namun aku beruntung. Allah kirimkan kekuatan berwujud sahabat yang memelukku di kala sedih, yang memberikan bahunya untukku menangis, yang mengingatkanku untuk selalu bersabar dan percaya akan skenario Allah. Setelah episode labrak-melabrak, Sinta terus menemaniku. Menghapus air mataku, melukiskan lagi senyum di wajahku. Meyakinkanku bahwa laki-laki itu tidak baik dan tidak pantas untukku. Akhirnya lama kelamaan lukaku membaik.
Sinta penyayang dan setia kawan. Bahkan ia tersedu-sedu ketika kami terpaksa marahan satu sama lain. Siang dan malam wajahnya tampak murung. Bahkan tak jarang ia menangis. Aku? Tentu saja bersedih! Yang tadinya kemana-mana berdua, sekarang harus berjauhan. Yang tadinya kami saling bercerita tentang segala hal, saat itu harus diam tak bertegur sapa. Namun ternyata kami memang ditakdirkan untuk bersahabat. Buktinya kami tak kuat jika harus berlama-lama marahan. Dua hari itu sangat menyiksa.
"Maafkan mamah yaa need," ujarnya terisak sambil memelukku erat.
"Maafkan aku juga ya mah," jawabku tersedu. Kurekatkan pelukanku.
Aku ingat, setelahnya tak pernah lagi ada kejadian marahan di antara kami. Kami berdua menghabiskan hari-hari di pesantren bersama. Tak terasa kisah kami di pesantren telah sampai di penghujung perjalanan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai yang memuaskan. Kini saatnya perpisahan harus terjadi. Sekuat apapun kami menolaknya, waktu dan jarak akan tetap memisahkan kami.
Jawa Timur dan Jawa Barat adalah jarak yang lumayan jauh untuk persahabatan kami. Aku dan Sinta percaya, sahabat itu layaknya bintang. Tak selalu nampak di mata, namun kita tau, ia selalu ada di sana. Ada kalanya tertutup mendung, ada kalanya terhalang awan, tapi ia tetap di sana.
Sinta, adalah bintang untukku. Sinta tak selalu nampak, tak selalu hadir wujudnya di sisiku. Namun aku tau, Sinta akan selalu ada untukku. Bahkan meski jarak masih memisahkan kita hingga saat ini.
Bogor, 8 September 2018
#day18
#30dwc
#30dwcjild14
#squad1
#naniashmenulis
Tulisan ini kudedikasikan sebagai hadiah pernikahan sahabatku, Sinta. Selamat mah, kamu pasti akan menjadi istri dan ibu yang baik. Kita akan tetap menjadi bintang ya? Love you mah ❤


Ceritanya keren mba, semoga pertemanan nya bisa sampai surga
BalasHapus