Cinta adalah topik yang tak pernah habis diperbincangkan. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pendidikan, cinta merupakan satu hal yang tak boleh luput dari perhatian.
Mengapa begitu? Apakah penting?
Tentu saja penting!
Bagaimana bisa seorang guru mendidik dengan hati jika tak ada cinta untuk murid-muridnya. Bagaimana bisa murid memahami pelajaran jika tak ada cinta terhadap pelajarannya. Bagaimana bisa murid hormat dan segan terhadap guru jika tak ada cinta antar keduanya?
Cinta itu dibutuhkan. Cinta itu ditumbuhkan.
Bagi guru, cinta harus hidup dan selalu tumbuh berkembang di setiap harinya. Semakin lama berinteraksi dengan murid-murid, semakin besar pula cinta yang ia berikan.
Lalu, jika sudah cinta, apa lagi yang harus dilakukan seorang guru?
Ungkapkanlah!
Nyatakanlah!
Biarkan murid-muridmu mengetahui bahwa gurunya mencintainya?
Mungkin tindakan dan bahasa tubuh bisa mengungkapkannya.
Tapi sungguh, cinta yang diungkapkan akan terasa lebih nyata, sampai ke dalam diri para murid, dan singgah di sana.
Menghangat di dalam hati-hati para murid.
Sehingga setiap mereka melihat gurunya, ada perasaan gembira.
Jika sang guru tidak ada di depan mereka, rindu terasa.
Itulah cinta.
Sebagai ilustrasi, simaklah sedikit cuplikan kisah di bawah ini.
***
Bu Lia merupakan seorang guru di sebuah sekolah swasta tingkat Sekolah Dasar. Sekolah tempat bu Lia mengajar terletak di kaki gunung Kawi, tepatnya Kabupaten Malang. Tidak terlalu pelosok, namun juga tidak bisa dikatakan terletak di kota.
Setiap harinya bu Lia harus menempuh perjalanan kurang lebih 2 kilometer menggunakan sepeda onthel. Pagi ini, keringat bu Lia bercucuran sesampainya ia di gerbang sekolah. Setelah meletakkan barang-barang di kantor guru, bu Lia berjalan menuju kelas dengan menenteng buku-buku dan alat tulis. Anak-anak yang melihat sosoknya dari jauh, segera bersiap dan bersikap rapi.
Di pintu kelas, bu Lia mengucap salam, kemudian melangkah masuk dengan senyuman indahnya.
"Selamat pagi anak-anak!" ujarnya sambil berdiri di depan kelas.
"Selamat pagi juga bu!" jawab para murid.
"Apa kabarnya pagi ini?" tanya bu Lia dengan semangat.
"Alhamdulillah. Luar biasa bu!" jawab mereka serempak.
"Anak-anakku sayang, alhamdulillah pagi ini Allah masih memberikan kita kesempatan untuk menghirup udara segar dengan gratis," ujarnya sambil memperagakan mengambil nafas.
Anak-anak menirukan gayanya mengambil nafas.
"Nah anak-anak, itu semua karena Allah sayang pada kita. Makanya Allah memberi kesempatan untuk tetap hidup di dunia ini. Ibu juga sayang sama kalian. Makanya ibu memberi kesempatan pada kalian untuk menimba ilmu dari apa yang akan ibu sampaikan. Kiranya kita bisa mengambil manfaat darinya," jelas bu Lia.
Para murid terdiam mendengarkan dengan khusyuk.
"Kalian tau kan betapa ibu menyayangi kalian?" tanya bu Lia antusias.
"Tau bu!" jawab mereka serempak.
"Kami juga sayang bu Lia!" celetuk salah satu murid.
"Habis bu Lia cantik sih!" celetuk murid laki-laki yang duduk di ujung.
Sontak satu kelas penuh dengan gelak tawa. Bu Lia pun tersenyum bahagia melihat tawa mereka. Pelajaran hari itu siap dimulai.
***
Coba bayangkan jika suasana kelas di atas sama seperti suasana kelas milik kita. Bahagia, ceria dan menyenangkan. Tentunya pembelajaran akan berjalan lebih efektif.
Karenanya, jangan segan mengungkapkan rasa sayang kita sebagai guru kepada murid-murid. Semoga cinta tulus dan kasih sayang yang kita berikan, sampai kepada mereka, kemudian menetap dalam hati-hati mereka. Sehingga sejauh apapun jarak dan waktu memisahkan, niscaya akan selalu saling mengenang.
Bogor, 14 September 2018 / 22.50 wib
#day24
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

우리카지노 우리카지노 fun88 soikeotot fun88 soikeotot planet win 365 planet win 365 온카지노 온카지노 카지노 카지노 bk8 bk8 rb88 rb88 william hill william hill 160
BalasHapus