Seperti
biasanya, jadwal pagi ini adalah memasang dan mengganti
koran dengan yang baru. Meski tak sendiri, namun entahlah pagi ini terasa
begitu berat melakukannya. Kupandangi koran yang masih tergeletak lemas diatas
meja, kubiarkan sebentar dan kuambil dengan paksa. Tak ku
hiraukan suara temanku yang hendak meminjamnya. Aku sangat sinis ketika ada
yang membaca koran sebelum di layangkan diantara kaca pembatas madding. Terus
saja berjalan keluar sambil mengayun-ayunkannya
lemas.
Pagi ini,
Nafisah (partner INFOKOM)[1]
belum datang dari diniyah[2]
dan itu artinya aku harus memasang koran sendirian.
Ku lihat, banyak santri yang duduk sepanjang mushola sambil membawa keranjang
menanti nasi datang dari DPU[3]. Terdengar suara-suara teriakan
dari kamar mandi, sedang berebut antrian mandi. Ada juga
yang bermain bulu tangkis dengan teman sebaya atau anggota kamarnya.
Pemandangan rutin selama 3 tahun yang selalu menjadi ciri
khas pagiku disini.
Aku mulai
membuka kaca mading pembatas dan mencabut koran lama. Berjalan melewati bawah asam dengan awas, takut roket kecil yang mereka
gunakan sebagai lemparan bulu tangkis mengenai kepalaku. Sesekali mataku
menciut dan dahiku mengkerut mengawasi cock yang mereka pukulkan begitu cepat
melesat. Gesit sekali mereka memainkannya. Kuraba lembaran koran-koran yang masih tergeletak pada tepian
mushola. Entahlah, sampai detik ini aku tak begitu suka membaca lembaran-lembaran yang selalu diagung-agungkan oleh temanku
agar bisa membacanya lebih awal. Aku lebih suka melihat potret tentang alam
atau membaca cerita bergambar yang terkadang ada di bagian bawah salah satu koran
Jawa Post. Dan . .
“Sekarang tanggal berapa ya, dek?”
Tanyaku pada santri yang kebetulan persis berada di sebelahku.
“Tanggal delapan, mbak.” Jawabnya
singkat tanpa melihat kearahku. Wah, aku semakin curiga. Dia juga termasuk
korban hipnosis dari koran ini.
“Tanggal delapan ya! Delapan
desember, ada apa ya. Delapan desember, delapan desember. Aduh ada apa sih di
tanggal ini.” Pikirku dalam hati. Menimbang, meraba, menerawang, seperti tak
asing bagiku dengan tanggal ini. Emm, apa ya!
Tak sungkan-sungkan aku berlari ke
dalam ruang OPPK[4]
dan menanyakan hal ini pada salah satu temanku.
“Ke, sekarang tanggal berapa sih? Ono sing ulang tahun to[5]?” Tanyaku pada Ikke dengan nada khas Paciran.
Kupandangi wajahnya yang juga terlihat sedang memikiran sesuatu.
“Lho, bukannya sekarang ulang tahun
OPPK periode kita ya, El? Kita pelantikannya kan tanggal 8 Desember to?”
“Iyo je.” Sahut salah satu
santri di sebelah kami. Sekedar informasi, kata-kata “je” yang dilontarkan pada
salah satu santri diatas tak ubahnya seperti penekanan yang berarti
meng-iya-kan. Tak ada arti resmi pada kamus Bahasa Indonesia, karena “je”
termasuk logat bahasa pada sebagian daerah di Lamongan. Seperti penambahan
partikel –a- pada setiap kata tanya di Malang. Contoh: Iyo’a?
“Ke, ikut aku yuk!”
“Kemana, El?
“Wes to!” Sambil mengambil 2 spidol
besar di atas meja.
Kami berjalan kearah perpustakaan
kecil yang beberapa bulan lalu di resmikan oleh Pak Nasrudin (Pimpinan Kepala
Pondok Karangasem) di pojok belakang mushola putri. Ku geser papan besar
pembatas perpustakaan kehadapan kami. Kujelaskan maksud dan tujuanku sampai
akhirnya Ikke paham atas apa yang ingin ku lakukan. Sampai akhirnya papan
almari ukuran 2x4 m itu penuh dengan coretan tangan kami
Tak lama setelah semuanya selesai,
kami menggeser papan besar itu pada tengah lapangan kecil yang kami sering
menyebutnya “Bawah Asam”, sehingga semua santri bisa melihatnya. Tak jarang
santri yang mendekat atau hanya memandang heran pada tingkah kami.
Sayup-sayup
terdengar langkah kaki pada pendopo dalam Asrama Putri, rupanya Nafisah dan
yang lain telah datang. Kaget melihat ada papan besar berada pada tengah Bawah
Asam, mereka langsung mendekat dan betapa beruntungnya si papan yang kini
menjadi pusat perhatian.
“Aneh-aneh
aja, El.” Kata sebagian teman sambil sesekali tersenyum kearahku.
Aku yang
mangut-mangut disamping mushola hanya diam dan membalas senyumnya. “Bukankah
sesuatu yang aneh itu menyengkan.” Batinku. Huff, pagi yang indah ternyata.
Papan itu masih disana hingga siang menjelang. Berdiri dengan tegaknya.
Menunjukkan coretan tangan kami kepada seluruh penghuni asrama. Menjadi saksi
bisu atas rasa bangga kami terhadap OPPK. Tak ada kegiatan khusus yang kami
rayakan hari itu. Hanya do’a bersama yang kami panjatkan seusai sholat maghrib.
Berdo’a untuk kemajuan pondok ini, untuk kebersamaan OPPK yang takkan pudar,
untuk seluruh pengabdian kami semoga selalu bermanfaat meski kelak kami tak
lagi berpijak di sana. Amiin.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar