Sabtu, 10 Oktober 2015

Anniversary OPPK





Seperti biasanya, jadwal pagi ini adalah memasang dan mengganti koran dengan yang baru. Meski tak sendiri, namun entahlah pagi ini terasa begitu berat melakukannya. Kupandangi koran yang masih tergeletak lemas diatas meja, kubiarkan sebentar dan kuambil dengan paksa. Tak ku hiraukan suara temanku yang hendak meminjamnya. Aku sangat sinis ketika ada yang membaca koran sebelum di layangkan diantara kaca pembatas madding. Terus saja berjalan keluar sambil mengayun-ayunkannya lemas.
Pagi ini, Nafisah (partner INFOKOM)[1] belum datang dari diniyah[2] dan itu artinya aku harus memasang koran sendirian. Ku lihat, banyak santri yang duduk sepanjang mushola sambil membawa keranjang menanti nasi datang dari DPU[3]. Terdengar suara-suara teriakan dari kamar mandi, sedang berebut antrian mandi. Ada juga yang bermain bulu tangkis dengan teman sebaya atau anggota kamarnya. Pemandangan rutin selama 3 tahun yang selalu menjadi ciri khas pagiku disini.
Aku mulai membuka kaca mading pembatas dan mencabut koran lama. Berjalan melewati bawah asam dengan awas, takut roket kecil yang mereka gunakan sebagai lemparan bulu tangkis mengenai kepalaku. Sesekali mataku menciut dan dahiku mengkerut mengawasi cock yang mereka pukulkan begitu cepat melesat. Gesit sekali mereka memainkannya. Kuraba lembaran koran-koran yang masih tergeletak pada tepian mushola. Entahlah, sampai detik ini aku tak begitu suka membaca lembaran-lembaran yang selalu diagung-agungkan oleh temanku agar bisa membacanya lebih awal. Aku lebih suka melihat potret tentang alam atau membaca cerita bergambar yang terkadang ada di bagian bawah salah satu koran Jawa Post. Dan . .
            “Sekarang tanggal berapa ya, dek?” Tanyaku pada santri yang kebetulan persis berada di sebelahku.
            “Tanggal delapan, mbak.” Jawabnya singkat tanpa melihat kearahku. Wah, aku semakin curiga. Dia juga termasuk korban hipnosis dari koran ini.
            “Tanggal delapan ya! Delapan desember, ada apa ya. Delapan desember, delapan desember. Aduh ada apa sih di tanggal ini.” Pikirku dalam hati. Menimbang, meraba, menerawang, seperti tak asing bagiku dengan tanggal ini. Emm, apa ya!
            Tak sungkan-sungkan aku berlari ke dalam ruang OPPK[4] dan menanyakan hal ini pada salah satu temanku.
            “Ke, sekarang tanggal berapa sih? Ono sing ulang tahun to[5]?” Tanyaku pada Ikke dengan nada khas Paciran. Kupandangi wajahnya yang juga terlihat sedang memikiran sesuatu.
            “Lho, bukannya sekarang ulang tahun OPPK periode kita ya, El? Kita pelantikannya kan tanggal 8 Desember to?”
            Iyo je.” Sahut salah satu santri di sebelah kami. Sekedar informasi, kata-kata “je” yang dilontarkan pada salah satu santri diatas tak ubahnya seperti penekanan yang berarti meng-iya-kan. Tak ada arti resmi pada kamus Bahasa Indonesia, karena “je” termasuk logat bahasa pada sebagian daerah di Lamongan. Seperti penambahan partikel –a- pada setiap kata tanya di Malang. Contoh: Iyo’a?
            “Ke, ikut aku yuk!”
            “Kemana, El?
            Wes to!” Sambil mengambil 2 spidol besar di atas meja. 
            Kami berjalan kearah perpustakaan kecil yang beberapa bulan lalu di resmikan oleh Pak Nasrudin (Pimpinan Kepala Pondok Karangasem) di pojok belakang mushola putri. Ku geser papan besar pembatas perpustakaan kehadapan kami. Kujelaskan maksud dan tujuanku sampai akhirnya Ikke paham atas apa yang ingin ku lakukan. Sampai akhirnya papan almari ukuran 2x4 m itu penuh dengan coretan tangan kami


            Tak lama setelah semuanya selesai, kami menggeser papan besar itu pada tengah lapangan kecil yang kami sering menyebutnya “Bawah Asam”, sehingga semua santri bisa melihatnya. Tak jarang santri yang mendekat atau hanya memandang heran pada tingkah kami.
Sayup-sayup terdengar langkah kaki pada pendopo dalam Asrama Putri, rupanya Nafisah dan yang lain telah datang. Kaget melihat ada papan besar berada pada tengah Bawah Asam, mereka langsung mendekat dan betapa beruntungnya si papan yang kini menjadi pusat perhatian.
“Aneh-aneh aja, El.” Kata sebagian teman sambil sesekali tersenyum kearahku.
Aku yang mangut-mangut disamping mushola hanya diam dan membalas senyumnya. “Bukankah sesuatu yang aneh itu menyengkan.” Batinku. Huff, pagi yang indah ternyata.
Papan itu masih disana hingga siang menjelang. Berdiri dengan tegaknya. Menunjukkan coretan tangan kami kepada seluruh penghuni asrama. Menjadi saksi bisu atas rasa bangga kami terhadap OPPK. Tak ada kegiatan khusus yang kami rayakan hari itu. Hanya do’a bersama yang kami panjatkan seusai sholat maghrib. Berdo’a untuk kemajuan pondok ini, untuk kebersamaan OPPK yang takkan pudar, untuk seluruh pengabdian kami semoga selalu bermanfaat meski kelak kami tak lagi berpijak di sana. Amiin.



[1] Informasi dan Komunikasi
[2] Sekolah pagi yang menjadi jadwal rutin di Pndok Pesantren Karangasem Paciran.
[3] Dapur Umum, Tempat penyediaan makanan sehari-hari
[4] Kepanjangan dari Organisasi Pondok Pesantren Karangasem
[5] Adakah yang ulang tahun?



#RinduKarangasem #Nostalgia #Cyrant #KangenKalian #OPPK

Tidak ada komentar:

Posting Komentar