Jumat, 24 Agustus 2018

Belajar dari Pohon Jeruk



Kota Malang hari ini dingin. Saking dinginnya, pukul 11 ketika aku dan ibu serta teman ibuku berangkat menuju kebun jeruk yang tak jauh dari rumah, kami masih kedinginan. Setelah menempuh 15 menit perjalanan, motor kami memasuki gapura yang bertuliskan 'Desa Wisata Selorejo'. Bagi sebagian warga Malang, kawasan ini sudah tak asing lagi. Terletak di dataran tinggi kecamatan Dau, desa Selorejo ini menjadi tempat yang cocok untuk menanam jeruk. 

Akhir-akhir ini memang pesona jeruk Malang mengalahkan pesona apel Malang yang sudah menjadi icon dari kota Malang sendiri. Bulirnya yang besar, rasanya yang manis dan segar serta harganya yang lebih murah dari apel, menjadikan jeruk sebagai oleh-oleh favorit para wisatawan yang berkunjung ke Malang. Jangankan para wisatawan, kami yang warga Malang saja ketagihan untuk mencicipi buah jeruk ini.

Seperti siang ini, ibu mengajakku pergi ke Selorejo untuk menemani temannya yang anaknya akan kembali ke pesantren. Buat oleh-oleh katanya. Setelah sampai di tujuan, ibu segera menyapa penjual jeruk di salah satu kios yang terletak di tepi jalan. Setelah tawar menawar harga, bapak tersebut akhirnya memberikan tarif sebesar Rp 15.000 kepada kami untuk memasuki kebun jeruk dan makan buah jeruk sepuasnya. Dengan berbekal pisau dan plastik, kami segera berpencar mencari pohon jeruk yang banyak buahnya.

Setelah sempat memilih beberapa pohon, aku menemukan sebuah pohon yang nampak ranum buahnya. Segera kupetik satu, lalu kubelah dengan pisau. Sari jeruk yang menetes dari celah-celah belahannya membuatku tak sabar ingin segera menyantapnya. Setelah mengucap basmallah, aku pun melahapnya. MasyaAllah nikmat. Tak terasa sudah habis satu buah kunikmati. 

Kuambil lagi buah kedua, kali ini tak sekuning yang pertama, tapi kuyakin rasanya pasti manis. Tak berlama-lama segera kugunakan pisau untuk membelahnya. Suapan pertama membuatku membelalak, alamak kecut!Saking asamnya rasa jeruk tersebut, aku sampai bergidik dibuatnya.
Heran ya! Bagaimana bisa dari satu pohon yang sama rasanya buahnya ada yang tidak sama.

Sepanjang perjalanan pulang dari kebun jeruk, aku merenungi kejadian tadi. Sebuah pohon jeruk yang diciptakan Allah begitu kokoh dan banyak buahnya, ternyata bisa memiliki rasa buah yang bermacam-macam. Entah apakah karena faktor tanah, udara, cahaya ataupun nutrisi yang diterima, yang jelas dari hal tersebut membuatku mendapat satu pelajaran.

Pelajaran tersebut selaras dengan kondisi yang terjadi pada sekolah tempatku mengajar. Sekolah kami yang baru berdiri 3 tahun lalu, Alhamdulillah sudah memiliki kurang lebih 240 siswi. Seluruh siswi di situ memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Jeruk yang tadinya berasal dari satu pohon yang sama saja bisa berbeda rasa. Para siswi ini berasal dari berbagai orangtua dan latar belakang keluarga yang berbeda, sudah tentu banyak terdapat perbedaan di antara mereka. Perbedaan-perbedaan itulah yang terkadang menjadi pemicu terjadinya masalah di antara mereka. Adalah suatu hal yang wajar menurut penulis. Karenanya menjudge anak yang melakukan kesalahan atau melabeli mereka dengan hal-hal yang buruk adalah sebuah kesalahan besar.

Posisiku sebagai wakil kepala sekolah bagian kesiswaan tentu saja sering berhadapan dengan berbagai macam kasus yang terjadi. Terlebih lagi sekolah ini bersistem boarding school. Sudah tentu permasalahan yang dihadapi lebih kompleks daripada sistem fullday.

Namun kupahamkan dalam diri ini dan juga kupahamkan pada seluruh guru di sekolah, bahwa setiap anak itu berbeda. Setiap anak itu indah dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing.
Karenanya tidak boleh seorang pendidik maupun orangtua dan masyarakat memberikan label atau judge kepada seorang anak. Apalagi label tersebut bermakna negatif. Pasti hal tersebut akan berdampak pada psikologi anak, tentu saja membuat anak merasa down.
InsyaAllah terkait hal ini akan penulis bahas lebih lanjut di lain kesempatan.

Akhirul kalam, hargailah setiap anak. Terimalah kekurangannya, dan berikanlah apresiasi terhadap kelebihannya. Setiap mereka sedang berproses, maka jadilah pihak yang membantu proses mereka tersebut. Rangkul mereka dan bimbinglah mereka untuk tetap berada dalam jalan yang benar pada setiap prosesnya.
InsyaAllah kelak, anak-anak itu akan tumbuh menjadi anak yang membanggakan, akan menjadi generasi penerus bangsa yang kita butuhkan.

#day3
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar