Minggu, 26 Agustus 2018

Mas Joko Widodo - #pelangisehabishujan part 1



Kamarku wangi, bunga melati dan kelopak mawar bertaburan di kasurku. Seikat bunga sedap malam teronggok cantik dalam vas bunga di sudut kamar. Tumpukan kado beraneka ukuran dan warna memenuhi meja di samping lemari. Aku berdiri mematung, memandang seorang pria yang duduk di pinggiran kasurku. Wajah jawanya yang manis dan kulit sawo matangnya menahan mataku untuk tetap memandangnya lekat. Ia tersenyum padaku. Aih manisnya bak gula jawa. Jantungku berdegup semakin tak karuan. Dia adalah pria yang tadi pagi resmi menjadi suamiku. Dan malam ini, setelah lelah menerima tamu hingga larut, akhirnya kami berdua masuk ke dalam kamarku, kamar pengantin. Aku melangkah maju mendekatinya, sembari tersenyum menutupi kegugupanku.

"Hay, kenalan yuk! Namaku Nia. Siapa namamu?" celetukku tiba-tiba, sembari menjulurkan tangan ke arahnya, mencoba mencairkan suasana dengan candaanku.
Ia terkejut, namun detik berikutnya ia seakan menyadari leluconku. Ia sambut uluran tanganku, yang kemudian langsung kucium takzim.
"Namaku Joko, panggil saja Widodo," ujarnya datar, sembari berusaha menirukan logat Bapak Presiden RI.
"Wah! Hebat dong aku, nikah sama Presiden! Hahaha," tawaku lepas. Tak menduga jawabannya selucu itu bagiku.
Dia tertawa melihatku tertawa. Kami tertawa bahagia. Kebahagiaan hari itu yang belum usai, semakin bertambah seiring dengan syukurku memilikinya sebagai suamiku.

******

Dua tahun yang lalu.

Di dalam perpustakaan sebuah kampus swasta, aku duduk menatap layar laptop dengan serius. Barisan kata yang memenuhi layar laptop membuatku mengernyitkan dahi berkonsentrasi. Tiba-tiba sebuah salam dari belakang mengejutkanku.
"Assalamualaikum," suara pria dari belakang itu membuatku menoleh.
"Waalaikumussalam," jawabku tersipu malu ketika menyadari siapa yang mengucap salam.
"Gimana bab 4 nya?" tanya laki-laki itu.
"Sudah beres dong! Ini tinggal bab 5 ada beberapa kalimat yang aku hapus ya. Kamu sih nggak teliti banget nulisnya," jelasku panjang lebar.
"Haha yaudah aku ngikut aja," jawabnya sembari menarik kursi, lalu duduk di sampingku.
Lelaki itu terdiam dan memandangiku yang sedang sibuk mengedit revisian skripsi miliknya. Yap, skripsi miliknya.

Lelaki itu adalah lelaki yang beberapa bulan lalu menemui ayahku, lalu meminta untuk menikahiku. Lelaki itu adalah lelaki yang lamarannya diterima oleh ayahku, dengan syarat kami berdua harus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu, karena kami saat itu sedang dalam proses skripsi. Lelaki itu adalah lelaki yang aku membantunya menyelesaikan skripsinya, dengan harapan jalan kami untuk menikah semakin dekat. Lelaki itu adalah lelaki yang dua bulan lagi, akan menjadi suamiku.

Karena itu jantungku tak terkondisikan ketika ia memandangiku dari jarak dekat seperti saat ini. Kuyakin pipi gembulku ini sudah memerah karena malu. Hari ini kami memang berjanji untuk bertemu di perpustakaan kampus. Pekan lalu ia sudah sidang, jadi penyelesaian revisi dilakukan pekan ini, guna segera mendaftar wisuda. Karena itu, aku yang sedari tadi pagi sudah duduk manis di sini, sebentar lagi sudah selesai merampungkan revisi skripsinya.

Satu bulan kemudian, hari wisuda itu tiba. Hari yang sangat kutunggu-tunggu selama beberapa bulan ini. Hari di mana aku akan bertemu dengan orangtuanya yang datang dari luar pulau. Hari itu juga menjadi hari yang sangat membahagiakan bagiku. Bagaimana tidak? Aku dinobatkan menjadi mahasiswi terbaik di jurusanku, aku dipanggil maju ke depan sebagai perwakilan wisudawan untuk menyampaikan pesan dan kesan, seketika aku menjadi artis di hari itu. Setelah rangkaian proses wisuda berlangsung, aku menemui keluarga dan teman-teman untuk mengucapkan terimakasih atas kehadiran mereka. Berbagai macam boneka dan ucapan selamat kudapatkan dari orang-orang tersayang.

Di sela-sela kebahagiaanku mendapat pelukan dari orang-orang tersayang, kulihat laki-laki itu berdiri mematung memandang lurus ke arahku. Aku pun melambaikan tangan untuk menyapanya. Tak berlama-lama, segera kulangkahkan kaki menujunya.
"Hey, selamat ya! Akhirnya wisuda juga kita ya," ujarku seraya tersenyum lebar.
"Alhamdulillah," jawabnya singkat dengan ekspresi datar.
"Aku mau bicara sebentar, bisa ikut aku ke taman di luar gedung?" tanyanya.
"Mmm boleh," jawabku heran.

Aku merasa ada yang janggal dengan sikapnya. Akhirnya kulangkahkan kaki mengikutinya keluar dari gedung tempat wisuda. Kuabaikan panggilan dari teman-teman yang menyapaku.
Sesampainya di taman, ia berbalik badan dan menatap lurus ke arahku. Wajahnya sendu.
"Sebentar, ini mau ngomong apa?" refleks aku bertanya setelah melihat gelagatnya yang tak seperti biasanya.


"Sebelumnya aku mau ngucapin terima kasih, atas semua kebaikanmu selama ini. Kamu sudah bantuin aku nyelesaikan skripsi dan revisinya," ujarnya membuka pembicaraan.
Aku terdiam, irama detak jantungku rasanya terdengar sampai luar. Aku takut dengan kalimat yang akan ia ucapkan selanjutnya. Aku menunduk, mencoba memejamkan mata dan bersiap mendengar kalimat selanjutnya.
"Seperti rencana kita sebelumnya, setelah wisuda kita akan menikah. Benar kan?" tanyanya.
Aku terdiam, masih dengan menunduk dan memejamkan mata.
"Namun maaf ya Nia, semua rencana itu sepertinya tidak akan terlaksana. Maafkan aku," lanjutnya.

Laksana disambar petir di siang bolong, kalimat yang ia ucapkan dengan nada datar tadi nyaris merontokkan tulang-tulangku, jantungku seakan merosot.
"Maksudnya?" tanyaku. Bodoh, aku menyumpah kebodohan diri ini. Sudah jelas kalimat yang diucapkannya tadi kudengar dengan seksama, aku paham itu.
"Maafkan aku. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku. Jika ada lelaki lain yang datang dan ia baik, terimalah Nia," ujarnya sambil menunduk
Kudongakkan kepalaku, air mata menetes perlahan membasahi pipi. Pipi yang dulu memerah ketika ia memandangku.

"Kenapa? Kenapa harus seperti ini?" tanyaku lirih. Aku mulai terisak.
"Maaf Nia. Orangtuaku memintaku melanjutkan kuliah lagi. Aku tidak diizinkan menikah dahulu. Dan aku tidak mau menyakitimu dengan memintamu menungguku," jawabnya dengan tetap menunduk.
"Kamu bohong," ujarku lirih. Dadaku sesak, seakan ingin mengeluarkan sesuatu yang besar. Sakit rasanya menahan semua itu.
"Nia, lupakanlah aku. Berbahagialah. Temukanlah lelaki terbaik itu," katanya.
"Aku maunya kamu," ujarku di sela air mata yang semakin deras mengalir.
"Ini pun berat bagiku Nia. Tapi aku tidak bisa melawan kehendak orangtuaku. Aku belum pernah membalas kebaikan mereka berdua selama ini. Biarlah keputusanku menerima keinginan mereka ini sebagai wujud baktiku pada mereka," jelasnya.
"Wujud baktimu? Dengan cara menyakitiku?" jawabku sinis. Aku mulai muak dengan semua ini.

Aku tak tahan lagi. Seiring dengan bulir air mata yang jatuh, aku berlari kencang. Tak kuhiraukan pandangan heran kawan-kawan melihatku berderai air mata. Satu yang ingin kutuju, Ibu. Kulihat sosok Ibu dari kejauhan, semakin kencang aku berlari menujunya. Seketika kupeluk Ibu dengan erat, kukeluarkan semua beban yang sedari tadi kutahan. Tak peduli make upku luntur, tak peduli sekeliling heran melihatku, aku hanya ingin menangis di pelukan Ibu.

******

Dan inilah aku, si gadis yang dua tahun lalu menangis hebat di pelukan ibu. Sekarang tangisan itu berganti menjadi senyuman. Aku duduk di samping sosok laki-laki yang dipilihkan orangtua untukku. Trauma mendalamku terhadap kegagalan pernikahanku lalu membuat orangtuaku khawatir. Akhirnya setelah menemukan yang tepat, mereka segera menikahkanku dengan pilihan mereka.
Inilah laki-laki pilihan itu, Joko namanya. Mas Joko saat ini tengah terduduk di pinggiran kasur bersamaku, tangan kirinya menggenggam tanganku, tangan kanannya sibuk membetulkan poniku yang berantakan.

"Dik, sholat dua rakaat yuk," ajaknya memecah lamunanku.
Aku tersenyum dan mengangguk. Ia bangkit dan mulai berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
"Mas, terimakasih untuk menjadi laki-laki pilihan Allah untukku. Terimakasih untuk bersedia menua bersamaku," ujarku tiba-tiba, mengagetkannya.
Ia berhenti, menoleh lalu tersenyum manis sekali.
"Uhibbuki fillah,dik!" serunya.

Yaa Rabb, aku mencintainya! Mencintai ia yang dengannya syurga-Mu terasa semakin dekat. Aku cinta Mas Joko, tapi bukan Joko Widodo. Hehe.


Tegal, di atas kereta menuju Jakarta
Ahad, 26 Agustus 2018

#day5
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar