Sabtu, 01 September 2018

Cinta di Kota Hujan




Suatu sore yang cerah, sepoi angin memaksaku keluar dan menikmati suasananya. Dan disinilah aku, di sebuah lapangan kebanggan kota Bogor, sedang berlari-lari kecil menggunakan sepatu sport yang baru saja kubeli bulan lalu. Dengan menggunakan earphone, kuputar playlist dari dalam smartphone ku. Intro lagu Bukti milik Virgoun mengisi ruang pendengaranku. Sembari meneruskan lari kecilku mengelilingi lapangan sempur ini, sesekali kuperhatikan hal-hal di sekelilingku.

Nampak para pedagang jajanan kecil berderet di pinggir jalan. Anak-anak sekolah dengan masih berseragam nampak mengelilingi penjual telur gulung. Laris. Seorang pengamen anak kecil laki-laki sedang sibuk bernyanyi di depan dua gadis yang sedang duduk. Di sudut taman nampak dua sejoli sedang memadu kasih, mungkin sibuk bercerita tentang impian masa depan.

Saat putaran ke limaku hampir selesai, tiba-tiba terdengar sebuah tangisan kencang di sebelahku. Pemilik tangisan itu adalah seorang anak kecil perempuan yang sedang merajuk. Nampak di sebelahnya seorang ibu-ibu panik dan sibuk menenangkan anak itu. Namun usahanya tidak berhasil. Tangisan anak itu semakin kencang. Aku terhenti dan memerhatikan, orang-orang sekitar juga ikut memerhatikan, nampaknya suara tangisan anak tersebut menjadi pusat perhatian.

Sudut mataku menangkap penjual balon keliling. Sedikit berlari kuhampiri penjual balon tersebut, kemudian kupilih sebuah balon karakter kartun berwarna pink. Setelah itu bergegas ku menuju anak kecil yang masih menenangis itu. Aku jongkok di depannya, menyapanya, lalu kuberikan balon pink dari tanganku padanya. Awalnya ia ragu, namun akhirnya ia ambil balon tersebut, dan tangisnya pun mereda. Setelah tangisannya benar-benar reda, kuelus kepalanya, kemudian berdiri. Sang Ibu yang sedari tadi melihat gerak -gerik kami akhirnya menyapaku.

"Haturnuhun kang," ujarnya seraya tersenyum.

Eh tunggu, nampaknya ia terlalu muda untuk disebut ibu.

"Sami-sami teh. Sudah diam anaknya ya," ujarku seraya tersenyum santun.

"Oh ini bukan anak saya hehe. Ini keponakan saya," jawabnya sambil tersenyum lebar.

*****

Setahun kemudian.

Lapangan Sempur sejuk. Udara sehabis hujan membuat sepasang kekasih itu harus merapatkan jaketnya. Keduanya duduk berdampingan di sebuah bangku. Tangan mereka saling menggenggam, berusaha memberikan kehangatan satu sama lain. Mengenang pertemuan mereka satu tahun yang lalu, di situ. Karena pertemuan sore itulah, saat ini mereka menjadi suami istri.

Kota hujan menjadi saksi cinta sederhana mereka.

#day10
#30dwc
#30dwcjilid14
#squad1
#naniashmenulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar